PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
BAB 8 — KENANGAN PERTAMA
Cahaya bulan menerobos masuk melalui jendela kamar yang sedikit terbuka.
Kuning pucat. Dingin.
Suasana terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara jam dinding dan napas Eiri yang tidak beraturan.
Eiri masih duduk di tepi tempat tidur. Gaun putihnya sudah ia ganti dengan piyama sederhana.
Tapi tangannya masih memegang kepalanya.
Bayangan anak laki-laki yang tersenyum sambil memberikan lolipop itu terus berputar di dalam pikirannya.
Suaranya. Tawanya. Caranya mengacak rambutnya.
Semuanya terasa begitu nyata, tapi juga begitu jauh.
"Siapa dia...?"
gumamnya pelan. Air matanya hampir jatuh. "Kenapa aku merasa... mengenalnya?"
Mahendra yang berdiri di sampingnya tampak khawatir. Jasnya sudah ia lepas. Tinggal kemeja putih dengan lengan digulung.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanyanya. Suaranya rendah, tapi ada nada panik di dalamnya.
Eiri mengangguk pelan. "Sedikit... pusing."
Tanpa menunggu jawaban, Mahendra segera berjalan ke meja dan mengambil segelas air hangat.
"Minumlah." Ia menyodorkannya.
"Terima kasih."
Eiri menerima gelas itu.
Saat jemarinya tanpa sengaja menyentuh tangan Mahendra, keduanya langsung terdiam.
Kulit Mahendra hangat. Kulit Eiri dingin.
Entah mengapa... jantung mereka berdegup lebih cepat. Bersamaan.
Mahendra segera menarik tangannya seperti tersengat listrik.
"Aku akan memanggil dokter."
"Tidak perlu." Eiri tersenyum kecil. Memaksakan. "Mungkin aku hanya kelelahan. Hari ini panjang sekali."
Mahendra mengangguk pelan. Matanya menelusuri wajah Eiri, memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun sebelum keluar kamar, ia sempat menoleh di depan pintu.
"Kalau ada apa-apa, panggil aku. Kapanpun."
"Baik, Tuan."
Pintu pun tertutup perlahan.
Di balkon rumah lantai 3.
Mahendra berdiri seorang diri. Jasnya berkibar tertiup angin malam.
Angin meniup pelan rambut maroon miliknya.
Ia mengeluarkan sebuah lolipop rasa stroberi dari sakunya. Plastiknya ia remas pelan.
Senyum pahit terukir di wajahnya.
"Dulu..." bisiknya pada langit. "Kamu selalu meminta dua lolipop."
"Satu untukmu."
"Satu lagi untukku. Katanya biar adil."
Ia menggenggam lolipop itu erat sampai buku jarinya memutih.
"Apa benar..." suaranya bergetar. "Kamu benar-benar melupakanku, Eiri? 10 tahun menunggu... sia-sia?"
Keesokan paginya.
Jam 7 pagi.
Eiri turun ke ruang makan. Hari ini rumah tampak lebih ramai dari kemarin.
Beberapa pelayan sibuk membersihkan sisa-sisa pesta pernikahan semalam. Bunga-bunga yang layu dibuang.
"Selamat pagi, Nona."
"Pagi." Eiri tersenyum ramah pada pelayan.
Di meja makan panjang sudah duduk tiga orang.
Mahendra, dengan wajah dingin seperti biasa, sedang membaca koran.
Melveri, dengan dress pastel dan senyum cerah.
Dan Marchel, yang langsung melambaikan tangan begitu melihat Eiri.
"Pagi, Nyonya Axlarta!" sapa Marchel sambil jahil.
Eiri langsung tersipu. "Pagi..."
Melveri tersenyum hangat. "Bagaimana tidurmu semalam, Sayang?"
"Cukup nyenyak, Kak." Eiri duduk di kursi yang ditarik pelayan.
Mahendra tidak berkata apa-apa. Ia hanya memperhatikan mereka dari balik koran.
Namun diam-diam, bahunya yang tegang sejak semalam akhirnya sedikit rileks.
Melihat Eiri baik-baik saja... itu cukup.
Setelah sarapan.
Melveri mengajak Eiri berjalan-jalan di taman belakang. Matahari pagi hangat.
"Kamu suka bunga?" tanya Melveri sambil memetik satu kelopak mawar.
"Suka. Apalagi lili." jawab Eiri.
"Aku juga." Keduanya berjalan santai di antara jalan setapak.
Tanpa sadar mereka berhenti di depan sebuah pohon mangga besar. Batangnya kokoh. Akarnya menjalar.
Melveri menatap pohon itu cukup lama. Alisnya berkerut.
"Aneh..." gumamnya.
"Kenapa, Kak?"
"Aku merasa... pernah bermain di bawah pohon seperti ini. Dulu. Waktu kecil."
Eiri ikut mengernyit. Kepalanya sedikit nyut-nyutan lagi.
"Aku juga... rasanya pernah dikejar-kejar seseorang di bawah pohon."
Keduanya saling menatap.
Lalu tertawa kecil bersamaan.
"Mungkin hanya kebetulan." kata Melveri.
Padahal...
Bertahun-tahun yang lalu.
Eiri kecil umur 8 tahun dan Melveri kecil umur 10 tahun memang sering bermain petak umpet di bawah pohon mangga di halaman rumah panti asuhan mereka.
Hanya saja... kecelakaan 10 tahun lalu membuat ingatan mereka terkunci.
Tak satu pun dari mereka mengingatnya.
Sementara itu.
Di ruang kerja Mahendra.
Tok.
Asisten 01 masuk dengan wajah serius dan map hitam.
"Tuan."
Mahendra menutup laptopnya. "Ada apa?"
"Kami menemukan seseorang yang diam-diam mengawasi pesta pernikahan kemarin dari luar pagar."
Mahendra langsung berdiri. Kursinya terdorong ke belakang.
"Siapa?" Suaranya dingin dan berbahaya.
"Identitasnya belum diketahui, Tuan. Dia profesional."
Asisten itu menyerahkan sebuah foto hasil cetak kamera pengawas. Gambarnya buram.
Mahendra memperhatikan foto tersebut.
Seorang pria bertopi hitam. Wajahnya tertutup bayangan.
Namun di tangannya... ada sebuah foto keluarga lama yang dipegangnya erat.
Mahendra mengerutkan dahinya. Ada firasat buruk.
"Terus selidiki. Kerahkan semua orang. Jangan sampai orang itu mendekati Eiri sejengkal pun."
"Baik, Tuan."
Sore harinya. Jam 4.
Eiri sedang duduk sendirian di gazebo taman.
Angin sepoi-sepoi. Ia kembali membuka bungkus sebuah lolipop rasa stroberi yang ia ambil dari kamar.
Baru satu gigitan...
DUG.
Bayangan lain muncul. Lebih jelas. Lebih sakit.
Seorang remaja laki-laki umur 16 tahun berdiri di depan toko kecil. Rambut maroon. Senyum lebar.
"Kalau ulang tahunmu nanti..." katanya sambil menyodorkan bungkusan. "Aku akan membelikanmu seratus lolipop. Biar kamu gak sedih lagi."
Laki-laki itu tertawa.
Sementara seorang gadis umur 14 tahun menjawab sambil tersenyum malu.
"Kalau begitu, aku akan memakan semuanya. Biar kamu bangkrut."
"Ah...!"
Lolipop di tangan Eiri terjatuh ke tanah.
Napasnya memburu. Kepalanya sakit sekali.
"Kenapa..."
"Kenapa bayangan itu muncul lagi? Kenapa terasa sakit?"
Air matanya perlahan menetes.
Namun kali ini...
Di tengah sakit itu, ia berhasil menangkap satu hal.
Satu nama. Satu suku kata.
"...Mah..."
"Hah?"
"Apa? Siapa?"
Ia memegang kepalanya.
Nama itu menghilang lagi sebelum sempat ia ingat sepenuhnya. Tertelan oleh rasa sakit.
Dari balik jendela lantai dua ruang kerja.
Mahendra melihat semuanya. Melihat Eiri memegang kepala dan menangis.
Ia mengepalkan tangan di kusen jendela sampai sakit.
"Sedikit lagi..."
"Eiri."
"Aku yakin... kamu akan mengingat semuanya. Ingat aku."
Namun...
Di balik pagar rumah yang tinggi.
Pria misterius bertopi hitam kembali muncul. Bersembunyi di balik mobil.
Ia memandang rumah keluarga Axlarta dengan tatapan tajam penuh kebencian.
Lalu ia tersenyum. Senyum yang mengerikan.
"Lama tidak bertemu..."
"Eirina Karamyka Aldrick."
"Permainan kita baru dimulai."