NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Bukit Terakhir dan Hadangan Gagak Merah

Dua hari telah berlalu sejak kereta kuda Tuan Harun bergulir meninggalkan perbatasan hutan liar. Sepanjang perjalanan itu, ketegangan yang sempat membayangi benak sang pedagang tambun perlahan-lahan terkikis, digantikan oleh rasa takjub yang teramat sangat kepada pengawal tunggalnya. Jalur berbatu yang mereka lalui memang tidak sepenuhnya sunyi; beberapa kali ketenangan mereka dirobek oleh kemunculan monster hutan yang kelaparan. Namun, setiap kali ancaman itu datang, Askara menyelesaikannya dengan cara yang membuat rahang Harun hampir jatuh ke lantai kereta.

Harun ingat betul bagaimana kemarin sore seekor Babi Hutan Berduri Sihir berukuran raksasa menerjang dari balik semak, memuntahkan rentetan duri tanah berpendar magis ke arah mereka. Bukannya menghindar, Askara justru melangkah maju, merentangkan tangannya, dan membiarkan seluruh sihir tanah itu terhisap lenyap ke dalam telapak tangannya tanpa menyisakan goresan sedikit pun di jubah hitamnya. Detik berikutnya, Askara membalikkannya menjadi gelombang hantaman yang menghancurkan monster tersebut dalam sekali serang.

"Demi dewa perdagangan... Aku sudah keliling benua selama dua puluh tahun, Bocah," ujar Harun sembari membetulkan posisi duduknya di kursi kemudi, matanya melirik kagum ke arah Askara yang berjalan konstan di samping kereta. "Tapi aku belum pernah melihat seorang penyihir yang bisa menelan mantra musuh mentah-mentah seperti yang kau lakukan. Kemampuanmu itu... benar-benar di luar akal sehat. Lima pengawal penakut yang kabur kemarin tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu!"

Askara yang wajahnya masih tersembunyi di balik tudung jubah hitam misteriusnya hanya menanggapi dengan dehaman rendah. "Fokus saja pada jalan di depan, Tuan Harun.

Pujianmu tidak akan membuat kereta ini berjalan lebih cepat."

Harun terkekeh pelan, suasana hatinya sangat baik.

"Hahaha! Kau benar. Tapi jujur saja, melihat kemampuanmu, aku merasa taruhan bisnisku kali ini adalah keuntungan terbesar dalam hidupku. Kita tinggal melewati satu bukit berbatu di depan itu, dan di baliknya, gerbang Kota Perbatasan sudah menyambut kita."

Kereta kuda itu perlahan mulai mendaki jalanan menanjak yang membelah sebuah bukit gersang. Kiri dan kanan jalan kini dipenuhi oleh dinding tebing batu kapur yang curam, menciptakan jalur sempit yang sangat rawan untuk dijebak.

Udara di tempat tinggi ini terasa lebih kering dan angin berembus cukup kencang, membuat jubah hitam Askara berkibar pelan. Insting Askara yang tajam perlahan mulai menangkap perubahan atmosfer di sekitarnya. Udara di sini terasa berat, penuh dengan hawa permusuhan yang tertahan.

Srak! Ctar!

Sebuah anak panah berpendar sihir petir mendadak melesat dari atas tebing, menghantam tanah tepat satu jengkal di depan kaki kuda penarik kereta. Ledakan listrik kecil itu membuat kuda-kuda Harun meringkik histeris, memaksa sang pedagang menarik tali kekang dengan kuat hingga kereta berhenti mendadak di tengah jalan sempit.

"Ugh! Apa-apaan ini?!" teriak Harun panik, wajah tembemnya seketika memucat.

Dari balik bongkahan batu besar di depan dan atas tebing, belasan pria melompat turun dengan gesit. Mereka mengenakan zirah ringan berlapis kain merah tua, dengan lambang seekor burung gagak mencengkeram belati di pundak mereka. Wajah mereka tertutup topeng setengah lingkaran, dan masing-masing dari mereka memancarkan hawa mana yang sangat padat dan teratur—jauh lebih kuat daripada kelompok bandit yang dihadapi Askara di Desa Boa w. Ini adalah kelompok perampok Gagak Merah yang ditakuti.

"Hahaha! Akhirnya sebuah tangkapan besar di penghujung hari!" seru seorang pria bertubuh tegap yang tampaknya adalah kapten dari barisan depan ini. Ia melangkah maju sembari memutar-mutar sebilah belati panjang yang dialiri sihir angin tipis.

Kelompok perampok itu segera membentuk formasi mengepung kereta kuda Harun dan Askara, menutup seluruh akses jalan keluar maupun mundur. Jumlah mereka tidak kurang dari lima belas orang, dan dari cara mereka berdiri, Askara tahu mereka semua memiliki pelatihan fisik dan sirkulasi mana yang setara dengan kesatria resmi kerajaan.

"Selamat datang di wilayah kekuasaan Gagak Merah, Tuan-Tuan yang Terhormat," ucap sang kapten perampok dengan nada suara yang penuh kemenangan dan kepuasan. Matanya yang licik menatap muatan penuh di dalam kereta Harun, lalu beralih pada sosok Askara yang berdiri diam tak bergemir di samping roda.

Harun gemetar hebat, tangannya yang memegang tali kekang basah oleh keringat dingin. "A-apa yang kalian inginkan? Kami hanya pedagang yang ingin melintas menuju kota perbatasan!"

Kapten perampok itu mendengus geli, melangkah lebih dekat dengan sapaan yang intimidatif. "Jangan pura-pura bodoh, Gendut! Aturan di tempat ini sangat sederhana. Jika kalian masih ingin melihat matahari esok hari, turunlah dari kereta itu sekarang juga! Serahkan seluruh barang berharga yang kalian miliki! Muatan kereta, koin emas di dompet kalian, permata di jarimu, bahkan jubah hitam bagus yang dikenakan oleh pengawal tunggalmu itu!"

Ia menjeda kalimatnya, mengarahkan ujung belati beranginnya tepat ke arah dada Askara. "Jangan mencoba bertingkah bodoh atau melawan. Pengawal berjubah hitam... aku tidak merasakan aliran mana sedikit pun dari tubuhmu. Kau hanyalah seorang Nirmala yang salah memilih pekerjaan, kan? Sekali saja kalian mencoba merapalkan sihir atau bergerak mencurigakan, anak buahku di atas tebing akan memastikan tubuh kalian dipenuhi oleh lubang sihir!"

Para perampok lainnya tertawa riuh, mengencangkan genggaman pada senjata mereka yang mulai memancarkan pendaran sihir elemen yang bervariasi—mulai dari api, petir, hingga tanah murni. Mereka sangat percaya diri bahwa satu gertakan ini cukup untuk membuat korbannya berlutut pasrah.

Harun melirik ke arah Askara dengan tatapan penuh harap dan ketakutan yang mendalam. "Askara... bagaimana ini? Mereka... mereka semua adalah penyihir tingkat kesatria!" bisik Harun dengan suara bergetar di balik kursi kemudi.

Di bawah tudung jubah hitamnya, Askara perlahan menarik napas dalam-dalam. Bukannya takut karena diancam oleh belasan penyihir tingkat kesatria, sepasang mata hitamnya justru berkilat penuh dengan kalkulasi yang dingin. Di dalam jiwanya, wadah kosong miliknya kembali bergejolak hebat, merespon padatnya energi sihir yang mengapung di udara sekitar para perampok tersebut.

"Tuan Harun, tetaplah berada di dalam kereta dan pegang tali kekang kudamu dengan erat," ucap Askara dengan nada suara yang teramat tenang, hampir menyerupai bisikan yang memotong keriuhan tawa para perampok.

Askara melangkah maju satu langkah ke depan kereta, memposisikan tubuh tegapnya sebagai benteng utama yang menghalang jalur sang kapten perampok. Kedua tangannya perlahan keluar dari balik lipatan jubah hitam misteriusnya, membuka jemarinya dengan rileks menghadap ke arah kepungan musuh. "Kalian menginginkan barang berharga kami?" tanya Askara dengan senyuman tipis yang tersembunyi di balik kegelapan tudungnya. "Silakan maju dan ambil jika kalian merasa sanggup menanggung harganya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!