Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Api unggun di tengah gubuk berderak pelan. Krek... krek... Bayangan tiga orang yang duduk di sekelilingnya tampak menari-nari, terproyeksi pada dinding bambu yang kusam.
Ki Resa masih memandangi Jangkrik tanpa berkedip. Sorot matanya yang semula tenang kini berangsur-angsur berubah sendu. Tatapan itu perlahan membuat Jangkrik merasa tidak nyaman.
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" tanya Jangkrik memecah keheningan.
Ki Resa tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir."
"Tentang apa?"
"Tentang betapa anehnya garis takdir."
Jangkrik mengernyitkan dahi. "Aneh bagaimana?"
Ki Resa menghela napas panjang, seolah sedang melepaskan beban ingatan yang berat. "Dulu, aku pernah mengobati ayahmu."
Jangkrik seketika membeku. Ruangan mendadak terasa sunyi senyap. Warok yang saat itu sedang menambahkan kayu bakar ke dalam tungku menghentikan gerakannya sesaat, namun ia memilih tetap diam dan mendengarkan.
"Kau... mengenal ayahku?" suara Jangkrik mendadak bergetar dan terdengar jauh lebih pelan.
Ki Resa mengangguk pasti. "Ayahmu orang yang sangat baik. Suatu ketika, iring-iringan dagangnya diserang oleh penyamun. Lengannya terluka cukup parah, dan akulah yang menjahit luka tersebut."
Jangkrik mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia berusaha menggali memorinya, namun bayangan masa kecilnya sudah terlalu samar untuk diingat kembali.
"Beliau sering bercerita tentangmu padaku," lanjut Ki Resa.
"Tentang aku?"
Ki Resa tersenyum hangat. "Katanya, anaknya sangat menyukai suara jangkrik."
Jangkrik terdiam seribu bahasa. Dadanya mendadak terasa sesak. Semenjak orang tuanya tiada, baru kali ini ada orang lain yang mengingat keberadaan mereka. Orang tua itu mengenang mereka bukan sebagai korban pembantaian yang mengenaskan, namun sebagai sosok manusia yang utuh dan berharga.
Ki Resa meneruskan ceritanya, "Setiap kali selesai bepergian untuk berdagang, ayahmu selalu membawakan pulang wadah bambu berisi jangkrik hanya untukmu."
Sepasang mata Jangkrik mulai berkaca-kaca. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Tangannya bergetar hebat menahan gejolak emosi. Warok memperhatikan perubahan itu dari sudut matanya, tetap memilih untuk tidak menyela.
Ki Resa tersenyum pahit, tatapannya menerawang. "Ibumu juga pernah berkata padaku... 'Selama anakku masih mendengar suara jangkrik, dia pasti akan pulang ke rumah sebelum malam tiba.' "
Kalimat sederhana itu menghantam telak lubuk hati Jangkrik, jauh lebih menyakitkan daripada ledakan cambuk Samandiman. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ingatan-ingatan kecil yang selama bertahun-tahun ini terkubur paksa, mendadak meluap ke permukaan. Suara tawa renyah ibunya, pelukan hangat sang ayah, halaman rumah mereka yang asri, serta riuh suara jangkrik di setiap senja.
Lama sekali tidak ada yang berani berbicara. Kesunyian itu seolah mengizinkan Jangkrik menuntaskan kerinduannya.
Setelah berhasil menguasai diri, Jangkrik bertanya dengan suara lirih, "Kenapa... kau tidak datang saat mereka dibunuh?"
Ki Resa menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa bersalah. "Aku terlambat. Aku baru tiba di desa kalian keesokan harinya. Saat itu, aku hanya sempat menguburkan jasad mereka dengan layak."
Jangkrik menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga hampir berdarah. "Jadi... makam mereka..."
Ki Resa mengangguk pelan. "Aku yang membuatnya."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh membasahi pipi Jangkrik. Tangisan itu tumpah bukan karena ia lemah. Sekian lama hidup dalam ketidakpastian, ia akhirnya tahu bahwa kedua orang tuanya tidak ditelantarkan begitu saja setelah kematian menjemput mereka.
Ki Resa kemudian merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Itu adalah sebuah seruling bambu pendek yang permukaannya sudah kusam dimakan usia.
"Ayahmu menitipkan benda ini kepadaku," ujar Ki Resa sambil menyodorkannya.
Jangkrik menatap lekat benda tersebut. "Ini milikku?"
"Bukan. Ini pusaka pribadi milik ayahmu. Beliau berpesan... suatu hari nanti, jika waktunya tepat, berikan benda ini kepada anakku."
Tangan Jangkrik gemetar hebat saat menerima seruling itu. Ia mengusap permukaan bambu yang halus tersebut secara perlahan, seolah-olah sisa kehangatan tangan ayahnya masih tertinggal dan memeluk jemarinya.
Warok tiba-tiba bangkit berdiri dari dekat perapian. "Cukup."
Ki Resa mengangguk maklum. "Aku memang sudah terlalu banyak bicara malam ini."
Warok melangkah lebar keluar dari gubuk. Jangkrik memperhatikan punggung gurunya yang menjauh. Langkah kaki itu terasa berbeda; pria itu tampak sengaja memberi mereka ruang pribadi untuk menyendiri—sebuah sikap tenggang rasa yang hampir tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Di luar gubuk yang dingin, Warok berdiri tegap memandang hamparan langit malam yang pekat. Suara jangkrik bersahutan dari segala penjuru hutan Pegunungan Sewu. Di tengah kegelapan itu, ia bergumam sangat pelan, nyaris menyerupai bisikan angin.
"Maaf..."
Entah kepada siapa kata sakral itu ia tujukan. Apakah kepada keluarga tak berdosa yang pernah ia bantai dulu, ataukah kepada murid di dalam gubuk yang kini sedang ia bentuk dengan metode paling kejam yang ia ketahui.
Sementara itu, di dalam ruangan yang temaram, Jangkrik menggenggam erat seruling bambu peninggalan ayahnya. Sepanjang ingatan yang ia miliki, rasa dendam yang selama ini memenuhi dadanya kini mulai bercampur dengan kerinduan yang teramat mendalam. Dan campuran perasaan itu rupanya terasa jauh lebih menyiksa daripada seluruh luka cambuk yang pernah merobek kulitnya.
Malam terus merambat larut. Kobaran api di dalam tungku perapian mulai mengecil, kini hanya menyisakan bara merah membara yang sesekali memercikkan bunga api ke udara.
Jangkrik masih setia menggenggam seruling bambu peninggalan almarhum ayahnya. Jemarinya yang kasar mengusap perlahan setiap guratan pada permukaan bambu tua itu, seakan berusaha merekam dan merasakan kembali sentuhan seseorang yang telah lama berkalang tanah.
Ki Resa memecah keheningan yang sempat tercipta. "Cobalah tiup, Nak."
Jangkrik perlahan mengangkat wajahnya, menatap ragu. "Aku... sudah sangat lama tidak memainkannya."
"Kalau begitu, ingat dan rasakan kembali."
Secara perlahan, Jangkrik mengangkat seruling itu mendekati bibirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu meniupnya dengan lembut. Namun, nada pertama yang keluar terdengar sangat sumbang. Ia mencoba lagi, tetapi nada kedua justru nyaris tidak terdengar sama sekali.
Jangkrik menurunkan seruling tersebut dengan gurat kekecewaan yang kentara di wajahnya. "Aku sudah lupa caranya."
Ki Resa tersenyum lembut, menggelengkan kepala. "Bukan jiwamu yang lupa. Hanya saja, kedua belah tanganmu sekarang sudah terlalu keras."
Jangkrik tertegun mendengar ucapan itu.
Tabib tua itu melanjutkan dengan suara tenang, "Dulu, tanganmu itu digunakan untuk memegang lembut sebatang seruling. Sekarang, tanganmu hanya dipaksa mengenal gagang kapak, bilah golok, dan kerasnya batang pohon jati."
Pernyataan tersebut seketika menuntun pandangan Jangkrik jatuh pada kedua telapak tangannya sendiri. Di sana hanya ada kapalan tebal, bekas luka yang tumpang-tindih, serta kulit yang mengeras kapalan. Sulit dipercaya bahwa tangan sekasar ini dulunya pernah dipakai untuk menciptakan nada-nada yang indah.
Di luar gubuk, Warok yang masih berdiri memandang kegelapan hutan mampu mendengar seluruh rentetan percakapan itu dengan jelas. Namun, pria perkasa itu tetap memilih bergeming dalam diam.
Menjelang tengah malam, Ki Resa bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Aku harus segera melanjutkan perjalanan."
Jangkrik ikut berdiri dengan tergesa. "Kenapa tidak bermalam di sini saja? Hutan terlalu berbahaya saat gelap."
Ki Resa menggelengkan kepala dengan tegas namun ramah. "Ada orang-orang penting yang harus segera kucari."
Warok melangkah masuk kembali ke dalam gubuk, memecah kepedian perpisahan. "Kau tetap saja keras kepala seperti dulu."
Ki Resa terkekeh parau. "Kalau aku tidak sekeras kepala ini, jiwaku sudah lama melayang sejak bertahun-tahun lalu."
Warok berjalan ke rak bambu, mengambil sebuah kantong kain kecil berisi rempah-rempah obat langka, lalu menyodorkannya. "Bawa ini."
Ki Resa menerimanya tanpa banyak retorika. Sebelum benar-benar membalikkan badan menuju pintu keluar, ia menatap lurus ke dalam manik mata Jangkrik sekali lagi. "Jangan biarkan dendam kesumatmu mengikis habis semua kenangan indahmu."
Jangkrik mengernyitkan dahi, tidak paham. "Apa maksudmu?"
"Jika suatu hari nanti kau hanya mengingat orang tuamu sebatas alasan untuk membantai musuh..." Ki Resa menjeda kalimatnya sejenak, "...kau lambat laun akan melupakan alasan dan tujuan mengapa mereka dulu hidup dan menyayangimu."
Jangkrik terdiam, terpaku meresapi kalimat yang begitu berat itu.
Ki Resa tersenyum tipis. "Lupakan saja celotehan orang tua bangka sepertiku ini jika kau belum bisa mencernanya." Ia kemudian memanggul kembali keranjang rotannya, lalu melangkah mantap keluar dari gubuk. Kabut malam yang pekat perlahan-lahan menelan siluet tubuhnya, hingga akhirnya sosok tabib misterius itu benar-benar lenyap dari pandangan.
Beberapa saat berselang, Warok menutup rapat pintu kayu gubuknya. Ia berjalan mendekat lalu duduk bersila tepat di hadapan Jangkrik.
"Mulai besok, kita akan memulai tahapan latihan yang baru," ujar Warok membuka suara.
Jangkrik mengangguk patuh. "Latihan apa lagi?"
Warok menjangkau sebuah kantong kain panjang yang tersimpan di sudut ruangan gelap. Begitu ikatan kain itu dibuka, puluhan pisau lempar kecil berwarna hitam legam bergemerincing nyaring.
"Tangkap!"
Warok melemparkan sebilah pisau secara mendadak. Mengandalkan insting refleksnya yang tajam, Jangkrik berhasil menangkapnya dengan tepat. Pisau itu terasa sangat ringan, namun memiliki keseimbangan yang sempurna antara gagang dan bilahnya.
"Mulai besok pagi, kau akan belajar ilmu melempar senjata," tegas Warok.
Jangkrik memutar-mutar bilah pisau hitam itu di sela jarinya. "Untuk membunuh musuh?"
Warok menggelengkan kepala. "Untuk bertahan hidup."
Melihat keraguan di mata muridnya, Warok bangkit sejenak untuk mengambil sebatang ranting kecil dari luar. Ia menancapkan ranting tersebut di atas tanah gubuk, berjarak sekitar lima belas langkah dari posisi mereka duduk.
"Coba lempar," perintah Warok.
Jangkrik menguji kemampuannya, mengayunkan tangannya dengan cepat. Wus! Tak! Pisau hitam itu memang menancap kuat pada dinding kayu gubuk, namun posisinya melesat jauh dari sasaran ranting.
Warok menggeleng pelan melihat hasil itu. "Kau melempar dengan hanya mengandalkan pandangan matamu."
"Lalu, bagaimana yang benar?"
"Pendekar sejati melempar dengan menyelaraskan napasnya."
Warok mengambil sebilah pisau lagi dari dalam kantong. Tanpa sekali pun mengarahkan pandangannya ke posisi ranting kecil di depan mereka, ia hanya menarik napas pendek secara terukur. Lengan kekarnya bergerak sekelebat mata.
Sret!
Pisau itu melesat begitu cepat hingga gerakannya nyaris tidak kasat mata. Crak! Ranting kecil yang tertancap itu seketika terbelah menjadi dua bagian yang sama persis tepat di bagian tengahnya.
Jangkrik membelalakkan mata, takjub dengan presisi yang mengerikan itu.
Warok menoleh, menatapnya dengan senyum penuh tantangan. "Mulai besok, targetmu adalah seribu lemparan setiap hari."
Jangkrik menghela napas panjang, membayangkan lelahnya latihan tersebut. "Seribu lemparan lagi..."
Warok menyeringai lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Itu baru menu permulaan."
Melihat tantangan itu, Jangkrik ikut menyeringai tipis, membalas tatapan gurunya. "Baik. Kalau begitu... siapkan juga seribu cara agar kau sendiri tetap bisa hidup saat aku menyelesaikan latihan ini."
Tawa menggelegar Warok seketika kembali pecah, mengguncang seisi gubuk tua itu. "Hahaha! Justru hal itulah yang sedang kulakukan sekarang, Jangkrik!"
Di luar gubuk yang sunyi, angin malam bertiup semakin kencang, menggoyang dedaunan tua. Di balik rimbunnya pepohonan yang gelap, sepasang mata misterius ternyata kembali mengawasi gubuk mereka dari kejauhan.
Akan tetapi, kali ini sosok itu jelas bukan bagian dari Kelompok Gagak Hitam. Ia mengenakan jubah lusuh berwarna cokelat tua dengan sebuah tongkat kayu kokoh di genggamannya. Pria misterius itu memandangi gubuk Warok dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya bergumam lirih dengan suara yang sarat akan teka-teki.
"Jadi... pada akhirnya kau memutuskan untuk mewariskan seluruh puncak ilmumu pada bocah itu."
Sosok berjubah cokelat itu kemudian membalikkan badannya. Langkah kakinya perlahan melebur dan menghilang di balik kepekatan kabut malam, membawa serta sebuah pertanda bisu bahwa lembaran masa lalu kelam Sang Warok kini telah bangkit dan mulai datang untuk mencarinya.