Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Bayang-Bayang yang Mendekat
Sekolah mulai terasa berbeda bagi Josh sejak hari itu. Koridor yang dulu terasa ramai dan hangat kini menyimpan sudut-sudut gelap yang membuatnya waspada, dan setiap kali bel istirahat berbunyi, ia mendapati dirinya secara refleks memeriksa jam tangannya, memastikan masih jauh dari pukul yang selalu menghantuinya. Hari-hari berikutnya, penampakan sosok pria berjas hitam semakin sering terjadi, tidak lagi terbatas pada malam hari. Josh mulai melihatnya di siang bolong berdiri di seberang jalan saat ia berjalan pulang sekolah, atau berdiri diam di antara pepohonan di halaman sekolah, teramati hanya oleh dirinya seorang, meski kini Brandon mulai merasakan gejala fisiknya setiap kali sosok itu berada dalam jarak tertentu.
"Lo yakin nggak ada orang lain yang liat dia?"
tanya Gibran suatu sore, saat mereka berjalan pulang bersama, langkah mereka lebih rapat dari biasanya, saling menjaga jarak aman satu sama lain tanpa perlu diucapkan.
"Gue udah coba nunjuk-nunjuk, tapi kalian nggak pernah liat apa-apa," jawab Josh frustrasi.
"Kayaknya cuma gue yang bisa liat dia secara langsung. Tapi Brandon bisa ngerasain kehadirannya, dan Veron bisa ngeliat lewat mimpi. Kita kayak punya bagian masing-masing dari puzzle yang sama.
" Veron, yang sejak awal menyimpan berbagai catatan dan kliping, menyodorkan satu lembar kertas fotokopi baru yang ia temukan di arsip sekolah, tangannya sedikit gemetar saat menyerahkannya.
"Gue nemu ini tadi pas ngobrol sama penjaga perpus soal sejarah sekolah kita. Katanya, sekolah kita dulu dibangun di atas lahan bekas kebakaran besar, puluhan tahun lalu."
"Kebakaran apa?"
tanya Brandon, penasaran sekaligus waswas, tubuhnya sudah mulai terasa dingin hanya dengan mendengar kata itu.
"Katanya, ada beberapa siswa yang meninggal dalam kebakaran itu, dan salah satu dari mereka nggak pernah ditemukan jasadnya,"
jawab Veron, menatap Josh dengan ekspresi khawatir. "Kejadiannya... Dua tiga pagi."
Josh merasa seluruh tubuhnya membeku mendengar fakta itu. Semua potongan mulai terhubung perlahan jam yang selalu sama, sosok misterius yang tak pernah teridentifikasi sepenuhnya, wajah remaja yang ia lihat sekilas dalam kilatan cahaya, serta pola menghilangnya para siswa yang seakan terjebak dalam siklus yang terus berulang tanpa henti.
"Berarti dia... arwah siswa yang meninggal itu?"
tanya Brandon, suaranya nyaris berbisik, matanya menatap sekeliling dengan waspada seolah sosok itu bisa muncul kapan saja mendengar mereka membicarakannya.
"Gue nggak tahu pasti," jawab Veron.
"Tapi kalau benar, mungkin dia lagi nyari sesuatu. Atau nyari seseorang buat gantiin posisinya. Atau... nyari kita bertiga, karena kita punya kemampuan yang sama kayak dia dulu."
Kalimat itu membuat suasana semakin mencekam. Josh menatap teman-temannya satu per satu, menyadari bahwa waktu yang ia miliki mungkin semakin menipis, dan bahwa ancaman ini kini tidak hanya mengincar dirinya seorang.
Sepanjang sore itu, mereka duduk berkumpul di taman belakang sekolah yang biasanya sepi, mencoba menyusun kembali semua kepingan informasi yang telah mereka kumpulkan sejauh ini. Gibran mencatat semuanya di buku tulisnya sendiri, membuat garis waktu sederhana dari kejadian-kejadian yang telah mereka alami, mencoba mencari pola yang mungkin masih terlewat di antara semua kekacauan yang terjadi.
Angin sore itu berhembus lebih kencang dari biasanya, menerbangkan beberapa halaman catatan Gibran hingga harus dikejar Brandon yang refleks berlari mengejarnya di antara rerumputan. Momen kecil yang seharusnya lucu itu justru terasa aneh, karena begitu Brandon berhasil menangkap kertas tersebut, ia berdiri mematung sejenak, matanya menatap kosong ke arah gedung sekolah yang tampak biasa saja, sebelum menggeleng pelan dan kembali bergabung dengan yang lain tanpa penjelasan apa pun tentang apa yang baru saja ia rasakan.
Malam itu, ketika ia kembali ke rumah, ia mendapati sesuatu yang membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak jam dinding tua peninggalan neneknya, yang sejak awal cerita ini bergerak normal di siang hari, kini menunjukkan angka 02.02 meski hari baru menunjukkan pukul tujuh malam.
Jam itu tidak lagi hanya menunjukkan waktu. Ia mulai memanggilnya, semakin sering, semakin berani.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Veron.
"Josh, gue baru mimpi lagi. Kali ini bukan cuma soal lo. Gue liat Brandon juga. Kita bertiga ada di suatu tempat gelap, dan ada sesuatu yang nungguin kita di sana. Gue takut, Josh. Gue takut banget."
Belum sempat Josh membalas, pesan kedua masuk, kali ini dari nomor yang tidak ia kenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing.
"Waktunya semakin dekat. Bawa mereka berdua ke tempat aku menghilang."
...****************...