NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14: Ketakutan Terbesar Yoyo: Kehilangan Lagi

Undangan makan malam yang disampaikan Oliver pagi itu menyisakan debaran halus yang enggan pergi dari dada Viona.

Sepanjang siang, ia menghabiskan waktu dengan perasaan campur aduk—antara kegembiraan yang membuncah karena perhatian Oliver yang semakin nyata, dan rasa canggung yang menggelitik karena ini akan menjadi kali pertama mereka pergi berdua sebagai sepasang pria dan wanita, melepaskan sejenak status formalitas di dalam rumah.

Namun, di tengah persiapan hari yang manis itu, sebuah riak kegelapan yang tak terduga mendadak muncul di mansion keluarga Oliver.

Sore hari sekitar pukul empat, Viona sedang berada di kamar tamu lantai dua, memilah beberapa gaun sederhana yang sekiranya pantas untuk makan malam di restoran menara kota.

Pintu kamarnya yang terbuka sedikit mendadak didorong pelan.

"Krieeet."

Viona menoleh dan mendapati Yoyo berdiri di ambang pintu.

Berbeda dengan keceriaannya saat sarapan tadi, wajah gadis kecil itu tampak mendung.

Kedua tangan kecilnya meremas ujung piyama terusan bermotif bintang yang ia kenakan, dan matanya yang bulat tampak berkaca-kaca.

Goldie berjalan lambat di belakangnya, menyenggol pelan punggung Yoyo seolah sedang memberikan dorongan semangat untuk masuk.

"Yoyo? Ada apa, Sayang?"

 Viona segera meletakkan gaun di tangannya dan berlutut di atas karpet tebal, menyamakan tingginya dengan anak itu.

Yoyo tidak menjawab.

Ia langsung berlari kecil dan menubrukkan tubuh mungilnya ke dalam pelukan Viona.

Kedua lengan pendeknya memeluk leher Viona dengan cengkeraman yang sangat erat—begitu erat hingga tubuh kecilnya bergetar.

"Bibi Viona... Bibi mau pergi ya?"

bisik Yoyo, suaranya parau dan teredam di ceruk leher Viona.

Viona mengusap punggung Yoyo dengan lembut, mencoba menenangkan getaran di tubuh anak itu.

"Bibi hanya pergi sebentar nanti malam, Sayang. Menemani Ayah untuk makan malam di luar. Sebelum Yoyo tidur, Bibi pasti sudah pulang ke rumah. Memangnya ada apa? Hmm?"

Mendengar kata "pergi" dan "makan malam di luar", setetes air mata yang sejak tadi ditahan Yoyo akhirnya luruh.

Tangisnya pecah menjadi isakan kecil yang memilukan hati.

"Tidak mau! Bibi jangan pergi! Jangan naik mobil malam-malam!"

racau Yoyo di sela-sela tangisnya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mempererat pelukannya seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, Viona akan lenyap selamanya.

"Nanti... nanti kalau Bibi pergi naik mobil malam-malam seperti Ibu dulu... Bibi tidak akan pernah pulang lagi! Yoyo tidak mau kehilangan Ibu Peri! Yoyo takut sendirian lagi!"

"Deg."

Dada Viona terasa seolah dihantam oleh kenyataan yang menyakitkan.

Ia terpaku di tempatnya berlutut.

Segala pemahaman psikologis yang ia miliki seketika menyatu menjadi sebuah kesimpulan yang benderang:

ketakutan terbesar Yoyo bukanlah monster bayangan di bawah tempat tidur atau orang asing yang berteriak jahat.

Ketakutan terbesar anak berusia lima tahun ini adalah kehilangan figur ibu untuk kedua kalinya.

Trauma kecelakaan mobil dua tahun lalu yang merenggut nyawa ibu kandungnya ternyata belum sepenuhnya sembuh.

Selama ini, Yoyo mengurung diri karena takut bahwa kedekatan dengan dunia luar akan mendatangkan perpisahan yang menyakitkan.

Dan kini, setelah ia membuka hatinya sepenuhnya untuk Viona dan menganggapnya sebagai "Ibu Peri Pelindung", ketakutan itu bangkit kembali dengan kekuatan penuh begitu ia melihat Viona bersiap-siap untuk pergi keluar di malam hari.

Melihat anak itu menangis histeris karena ketakutan yang begitu nyata, Viona merasakan air matanya sendiri ikut menggenang.

Emosi keibuan di dalam dirinya bergejolak hebat.

Surat addendum kontrak berharga fantastis, vila mewah di pinggir kota, dan kencan romantis yang dinantikannya di menara kota seketika kehilangan artinya di hadapan air mata putrinya.

Viona melonggarkan pelukannya sedikit, menangkup kedua pipi gembil Yoyo yang kini basah oleh air mata dengan jemarinya yang hangat.

"Yoyo, dengarkan Bibi. Tatap mata Bibi, Sayang,"

ucap Viona dengan suara yang sangat lembut, stabil, dan penuh keyakinan.

Yoyo membuka matanya yang sembap, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Viona.

"Bibi berjanji, Bibi tidak akan pernah pergi meninggalkan Yoyo,"

bisik Viona, ibu jarinya bergerak perlahan menghapus air mata di pipi Yoyo.

"Bibi ada di sini karena Bibi ingin menjaga Yoyo. Kecelakaan yang menimpa Ibu dulu... itu adalah takdir yang menyedihkan, tapi Bibi berjanji akan selalu berhati-hati. Bibi tidak akan membiarkan monster bayangan atau apa pun menjauhkan Bibi dari Yoyo."

"Tapi... tapi di luar sana gelap kalau malam. Ibu dulu juga bilang mau pulang sebentar, tapi Ibu tidak pernah kembali..."

Yoyo masih sesenggukan, ketakutan batinnya begitu dalam mengakar.

Viona mengecup dahi Yoyo dengan penuh kasih sayang, mencoba menyalurkan seluruh rasa aman yang ia miliki.

"Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini Bibi tidak jadi pergi?"

Yoyo tertegun, tangisnya mereda sedikit.

"Bibi... Bibi tidak jadi pergi dengan Ayah?"

"Iya. Bibi akan tetap di rumah, di sini, menemani Yoyo bermain dan membacakan dongeng sampai Yoyo tertidur lelap,"

jawab Viona tanpa keraguan sedikit pun.

Baginya, menyembuhkan retakan terakhir di jiwa Yoyo jauh lebih penting daripada makan malam mewah mana pun di dunia.

Goldie yang sejak tadi memperhatikan dengan cemas mendadak mendekat, menyurukkan kepalanya ke bawah tangan Viona dan Yoyo, seolah ikut mengonfirmasi bahwa mereka semua aman di dalam rumah.

Yoyo akhirnya mulai tenang, meski tangannya masih memegang erat ujung lengan baju Viona.

Pukul setengah enam sore, suara deru mobil Rolls-Royce milik Oliver terdengar memasuki halaman depan mansion.

Pria itu sengaja pulang lebih awal untuk bersiap-siap menghadiri makan malam perayaan yang telah ia rancang secara khusus untuk Viona.

Ketika Oliver melangkah masuk ke lobi utama dengan kemeja yang masih rapi, ia mendapati suasana rumah yang teramat sunyi.

Pak Pelayan mendekatinya dengan wajah yang memancarkan ekspresi serba salah.

"Tuan Besar,"

sapa Pak Pelayan sambil membungkuk sopan.

"Di mana Viona? Apakah dia sudah bersiap?" tanya Oliver datar, matanya melirik ke arah tangga menuju lantai dua.

"Nyonya Viona sedang berada di kamar Nona Kecil Yoyo, Tuan. Dan... saya mohon maaf, tetapi tampaknya rencana makan malam Anda berdua malam ini harus ditunda,"

jawab Pak Pelayan hati-hati.

Ia kemudian menceritakan secara singkat tentang serangan panik emosional yang dialami Yoyo sore tadi mengenai trauma kehilangan ibunya, serta keputusan spontan Viona untuk membatalkan kepergiannya demi menjaga anak itu.

Mendengar laporan tersebut, rahang Oliver mengeras sejenak.

Gurat kecemasan dan luka lama kembali membayang di sepasang mata elangnya. Ketakutan Yoyo akan kehilangan adalah sesuatu yang selalu ia takuti juga.

Pria itu menarik napas panjang, melepaskan jam tangan mewahnya, dan melangkah tegap menaiki tangga menuju kamar putrinya di lantai dua.

Saat Oliver mendorong pintu kamar Yoyo yang terbuka sedikit, pemandangan di dalam ruangan langsung meruntuhkan seluruh kebekuan di hatinya.

Di atas kasur, Yoyo sudah tertidur pulas karena kelelahan setelah menangis, dengan posisi memeluk sebuah boneka kelinci.

Di samping ranjang, Viona duduk di atas lantai marmer yang dilapisi karpet, bersandar pada tepi tempat tidur.

Kepalanya terkulai lemas ke samping, ikut terlelap karena kelelahan emosional setelah menenangkan Yoyo sepanjang sore.

Tangan kanan Viona masih berada di bawah selimut Yoyo, digenggam erat-erat oleh jemari kecil putrinya bahkan dalam tidur.

Goldie, sang ksatria setia, perlahan mengangkat kepalanya saat melihat Oliver masuk.

Ekor tebal anjing itu bergerak lambat di atas karpet, memberikan sambutan sunyi.

Oliver melangkah sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Ia berlutut di samping Viona yang sedang tertidur.

Di bawah temaram lampu kamar yang mulai meredup karena sore berganti malam, Oliver mengamati wajah pucat Viona.

Wanita ini baru saja mengorbankan momen perayaan pertamanya, sebuah kencan yang mungkin ia nantikan, hanya untuk menjadi jangkar pelindung bagi ketakutan putrinya.

Ketulusan Viona begitu murni, hingga membuat dada Oliver berdenyuk oleh rasa kagum dan rasa bersyukur yang tak terhingga.

Oliver mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh.

Dengan sangat hati-hati, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Viona, lalu mengangkat tubuh rapuh wanita itu ke dalam gendongannya.

"Deg."

Gerakan mendadak itu membuat Viona sedikit terusik dari tidurnya.

Mata jernihnya terbuka perlahan, mengerjap bingung saat menyadari dirinya sudah berada di dalam dekapan dada bidang Oliver yang hangat.

Aroma kayu cendana yang maskulin langsung menyeruak, memenangkan kesadarannya yang baru kembali setengah.

"Oliver...?"

bisik Viona parau, suaranya terdengar sangat lemas. Ia mencoba bergerak untuk turun, teringat pada Yoyo.

"Yoyo... aku harus menjaga Yoyo..."

"Yoyo sudah tidur, Viona,"

bisik Oliver tepat di dekat telinga wanita itu, suaranya rendah, berat, dan begitu lembut.

Ia terus melangkah keluar dari kamar Yoyo, membawa Viona kembali menuju kamarnya sendiri di koridor sebelah.

"Pak Pelayan dan Goldie akan menjaganya di dalam. Sekarang, giliranmu yang harus dirawat."

Oliver mendorong pintu kamar Viona dengan kakinya, melangkah masuk, lalu merebahkan tubuh rapuh Viona di atas ranjang king-size yang empuk dengan sangat perlahan, seolah sedang meletakkan sepotong porselen yang paling berharga.

Pria itu kemudian menarik selimut tebal hingga ke batas dada Viona.

Viona menatap Oliver dengan tatapan bersalah yang nyata.

"Maafkan aku, Oliver... aku merusak rencana makan malam kita di menara kota. Uang yang kau keluarkan untuk memesan tempat itu—"

"Jangan pernah meminta maaf untuk hal seperti ini, Viona,"

potong Oliver tegas namun tanpa kemarahan sedikit pun.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap Viona dengan sepasang mata elangnya yang kini memancarkan ketulusan yang mutlak.

"Restoran itu bisa kupesan kapan saja. Uang sama sekali bukan masalah bagiku. Tapi ketulusanmu untuk memprioritaskan ketakutan terbesar putriku di atas segalanya... itu adalah hal yang tidak bisa kubeli dengan seluruh saham Oliver Group."

Oliver meraih jemari tangan Viona yang dingin, menggenggamnya erat-erat di atas selimut, menyalurkan kehangatan yang instan.

"Pak Pelayan menceritakan semuanya padaku,"

lanjut Oliver, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen tirani bisnisnya yang kejam.

"Yoyo takut kehilanganmu karena baginya, kau bukan lagi sekadar bibi pengasuh atau istri kontrakku. Kau adalah ibunya sekarang. Dan melihat bagaimana kau mengorbankan malam ini demi dia... aku sadar bahwa kau memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jiwa rumah ini."

Mendengar pengakuan jujur Oliver, air mata kebahagiaan perlahan mengalir di sudut mata Viona.

Rasa lelahnya seolah menguap begitu saja.

Di dalam kamar yang mulai gelap ini, genggaman tangan Oliver terasa seperti jangkar yang paling kokoh, melindunginya dari segala iblis masa lalu.

"Terima kasih, Oliver..." bisik Viona tulus.

"Aku hanya... aku tidak sanggup melihat Yoyo menangis karena takut ditinggalkan. Aku tahu persis bagaimana rasanya dibuang dan ditinggalkan sendirian di kegelapan."

Oliver terdiam selama beberapa saat, menatap wajah Viona dengan emosi yang semakin bergejolak di lubuk hatinya.

Dorongan untuk melindungi wanita di depannya ini kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah rasa kepemilikan dan rasa cinta yang perlahan mulai meretakkan seluruh dinding kebekuannya.

"Makan malam kita di luar memang batal,"

ucap Oliver tiba-tiba, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di wajah tampannya.

"Tapi siapa bilang kita tidak bisa merayakannya di sini?"

Oliver melepaskan genggaman tangannya sejenak, berdiri, dan berjalan menuju pintu kamar.

Sebelum keluar, ia menoleh kembali ke arah Viona.

"Tetaplah di tempat tidur. Aku akan meminta Chef untuk memindahkan seluruh menu perayaan restoran ke dapur kita. Malam ini, kita akan makan malam di sini, di kamarmu, bertiga dengan Yoyo jika dia terbangun nanti. Kita akan membuktikan pada anak itu bahwa tidak akan ada perpisahan di rumah ini."

Viona tersenyum manis di bawah kehangatan selimutnya, menatap punggung tegap Oliver yang melangkah pergi.

Ketakutan terbesar Yoyo tentang kehilangan mungkin telah membawa badai emosional sore tadi, namun tindakan nyata dari sang tirani dingin malam ini telah mengubah badai tersebut menjadi sebuah jaminan keselamatan yang mutlak, menegaskan bahwa di bawah atap mansion ini, mereka bertiga bukan lagi orang asing yang terikat kertas kontrak—melainkan sebuah keluarga utuh yang siap saling menjaga dari segala bentuk kehilangan di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!