18+🔥
Sekuel dari suamiku anak SMA 1.
disarankan membaca suamiku anak SMA 1 dulu ya, biar nggak bingung😊
Menikah diusia muda, bukanlah sebuah keinginan atau bahkan cita-citanya.
Namun, pertemuannya dengan seorang sahabat dari neneknya, membuat Kinar mau tidak mau harus menikah dengan cucunya yang masih berstatus pelajar SMA.
Bagai mana kedua insan muda itu menjalani kehidupan rumah tangganya.
Simak kisahnya ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang
"Ayo pada makan dulu, temenin Oma!" Oma menggiring kedua cucunya itu berjalan menuju meja makan.
"Tapi Kinar tadi udah ngemil bareng El ditaman Oma." ujar Kinar jujur.
"Itu kan ngemil, bukan makan kan?" Oma bersikukuh.
"Udah, Ayo kita makan lagi aja, kalau nggak di turutin nanti Oma suka nangis-nangis!" ujar El, lalu ngeloyor menuju meja makan terlebih dahulu.
"Ck! anak itu, kalau ngomong emang nyebelin banget!" gerutu Oma.
"Opa kemana?" tanya El, sembari menarik kursi meja makan.
"Biasa, kalau hari minggu kan dia suka mancing bareng engkongnya pudin."
El pun mengangguk.
..
"Kinar makin hari makin cantik aja, iya kan El?" ujar Oma kembali membuka suara, untuk mencairkan suasana dimeja makan, yang kini terasa begitu hening.
El mendongak, menatap sang Oma, lalu beralih menatap istrinya.
"Cantik kan El, tinggal jawab iya, apa susahnya sih?"
"Hmmm!" gumam El menunduk, memfokuskan kembali untuk melanjutkan memakan makanannya.
"Ham hem, ham hem aja doang, susah emang ya kalau ngomong sama orang irit suara, plus gengsian!" ujar Oma sembari menggerutu.
"Ck, iya Oma iya, Kinar cantik!" sahut El, yang membuat wajah Kinar merona.
"Awas aja, kalau kamu nggak berbuat baik, dan nyakitin Kinar, Oma nggak akan segan-segan ambil Kinar lagi dari kamu." Ancam Oma Sarah, sontak El pun kembali mendongakan wajahnya.
"Oh iya, Kalian berdua jangan nunda-nunda buat punya momongan ya, biar kaya ayah sama bunda kalian."
"Uhukk.. uhukk..!" Kinar tersedak makanan yang sedang di kunyahnya.
"Minum!" El menyodorkan gelas yang berisi air putih pada Kinar, hal sederhana yang berhasil memancing Oma untuk tersenyum, dengan hati yang menghangat.
"Kinar nggak apa-apa nak?"
"N-nggak kok Oma, nggak apa-apa."
"Gimana El, kamu udah siap jadi seorang ayah kan?" Oma tak mau menyerah.
"El siap-siap aja sih, tapi nggak tahu kalau Kinar.!" jawabnya, santai dan terlihat acuh.
"Gimana Nar, sama kamu, si El udah siap tuh katanya!"
Blush!...
Wajah Kinar merona seketika.
"Gimana Nar?"
"Eh, ngg.. El-el kan masih sekolah Oma!" dengan sedikit gelagapan, Kinarpun mencoba mencari alasan.
"Itu kan soal gampang Nar, lagian si El kan tinggal 7 bulan lagi juga udah mau lulus."
"Mau ya, Oma bakalan senang sekali, jika mempunyai cicit dari kalian."
"Ehmz I-iya Oma!"
...
Sepulang dari rumah Oma, Kinar dan El pun langsung pulang untuk beristirahat.
Dan kini keduanya sedang berada di dalam kamar, El yang sibuk membolak-balikan buku pelajarannya, sedangkan Kinar sibuk berbalas pesan dengan teman di grup chatnya, sesekali ia menutup mulutnya menahan tawa, agar suaminya tidak terganggu.
"Ck, lo chattan sama siapa sih, senyum-senyum nggak jelas!"
El meletakan bukunya di tempat semula.
"Eh?"
"Chattan sama siapa?"
"T-temen El!"
"Coba gue lihat." El pun mengambil alih benda pipih tersebut dari tangan Kinar, ia sempat menoleh pada Kinar, sebelum melihat semua isi pesan chat istrinya.
"Dio siapa?" tanyanya dengan ekpresi tak suka.
"Oh, eh itu tetangga yang deket kontrakan dulu, kenapa?"
"Dia siapanya elo sih,?"
"T-temen."
"Emang ada ya temenan cewek-cowok, kata-katanya begini?" El menyodorkan ponsel tersebut tepat didepan wajah Kinar, yang seketika membuat Kinar menggigit bibirnya bingung.
"Tapi kan saya nggak gitu El, saya juga udah larang dia manggil gitu kok, lagian itu kan udah lama, jauh sebelum saya nikah sama kamu."
"Gue nggak peduli, pokoknya lo harus hapus nomor itu, gue kagak mau tahu!"
"Iya iya!"
"Gitu dong, gue seneng punya istri penurut gini!" El mengusap kepala Kinar lembut, hal sederhana yang lagi-lagi menimbulkan rona merah, diwajah Kinar, kemudian ikut merebahkan tubuhnya, yang diikuti oleh Kinar.
"El?"
"Hmm!" balas El, dengan mata terpejam.
"Bunda sama ayah kebandung kerumah siapa?"
"Oma Indri, mamanya ayah."
"Kemarin, pas kita nikah nggak ada ya?"
"Nggak, Oma lagi dirawat!"
"Sakit apa?"
"Biasalah kecapean!"
"Kasian ya!"
"Dia udah sembuh kok sekarang, kapan-kapan nanti mau kesini katanya, mau lihat dan kenal sama elo!"
"Kaya apa sih El, dia orangnya?"
"Kagak beda jauh sih sama Oma, tapi dia masih punya anak, om Natthan namanya, seumuran Satya sama Satria, cuma beda beberapa bulan aja sih kalau nggak salah!"
"Kamu beruntung banget ya El,"
"Hah?" El pun membuka kembali matanya lebar-lebar.
"Iya, kamu itu beruntung banget, punya adik, punya sodara, yang sayang sama kamu, coba kalau saya, nggak punya siapa-siapa, karena ibu saya anak tunggal!"
"Elo jangan ngomong gitu dong, ada gue sekarang!" El meraih tangan Kinar, kemudian digenggamnya lembut.
"Beda lah, kamu kan nggak sayang sama saya!" repleks Kinar pun menutup mulutnya, dan merutuki kebodohannya sendiri, entah dari mana kata-kata itu ia dapat, karena keluar begitu saja.
El menoleh, memandang dalam wajah Kinar, dengan tatapan berbeda.
"Kalau gue sayang sama elo gimana, lo percaya?"
"Nggak!"
"Kenapa, apa yang bikin lo nggak percaya sama gue?"
"Ya karena, saya nggak yakin aja, cowok kaya kamu bisa sayang sama saya."
"Cowok kaya gimana maksudnya?" El menegakan tubuhnya menjadi duduk.
"Datar, jutek, cuek!"
El terkekeh, "Segitu buruknya gue di dalam pandangan lo ternyata."
"Emang kenyataannya gitu kan?"
"Cowok jutek, bukan berarti nggak punya rasa sayang buat orang di sekitarnya Nar, beneran gue sayang sama lo sumpah!" El berkata serius.
"Lihat gue!" El, menarik tubuh Kinar agar duduk dihadapannya.
"Lo tahu, kenapa gue nggak suka lo deket sama cowok manapun selain gue,?"
Kinar menggeleng..
"Itu semua karena gue sayang sama elo!"
"Gimana sama lo Nar, lo sayang juga nggak ke gue?" lanjut El, susah sekali rasanya bagi seorang El, merangkai kata yang romantis.
"S-saya, N-ngga_"
"Ok ok, gue ngerti, nggak usah diterusin, gue bakal nunggu terus kok!"
"Maksud saya_"
Tok.. tok.. tok..
Suara pintu di ketuk, mengalihkan fokus keduanya.
"Biar gue aja yang buka!" ujar El, dan bergegas membuka pintu kamarnya.
"Bang lo ngapain sih ngamar mulu, masih siang tahu!" cerocos Satria yang menyembul di balik pintu.
"Ngiri aja lo, bocah!"
"Maen dulu yuk, BT gue! Satya belum pulang."
"Maen apaan?"
"Biasa!"
El berpikir sejenak, lalu kemudian menganggukan kepalanya.
"Yaudah lo duluan kesana, 5 menit lagi gue nyusul!"
"Ok deh,!"
Setelah kepergian Satya, El pun menutup pintu kamarnya, dan kembali menghampiri Kinar.
"Gue tinggal dulu, nggak apa-apa?"
"Kemana?"
"Maen game sama si Satria, di ruang sebelah!"
Kinar pun mengangguk dan tersenyum, dan senyum itu membuat El repleks menarik wajahnya, dan mempertemukan bibir mereka.
Mel umatnya dengan dalam dan lembut, mencecap rasa manis, yang bagi El tidak ada duanya.
Hingga suara ketukan pintu, membuat El terpaksa menyudahi aksinya.
"Bang, ini udah lebih dari 10 menit!" ujar seseorang dari arah luar, yang terdengar kesal.
.
mampir Thor 🙋
Langgeng selamanya ya El dan Kinar
Gerem banget sama sikap EL
Lagian masih bocah ingusan udah kepengen jadi ayah di kira gampang banget kali jadi sosok ayah wkwkka
Kinar belum siap hamil dan kamu EL jangan memaksakan kehendak kamu yg dimana kamu menginginkan Kinar hamil
Kalo Kinar belum siap ya udah tunggu dia siap hamil
Nada cuma bisa marahin anak anak doang tapi masak kaga tau 🤣🤣🤣🤣🤣
Like Father like son wkwkwk
Ando masih SMA udah menikah lalu EL masih SMA pun malah menikah wkwkwk kocak
Kinar kaga siap jadi ibu muda nich
Jangan bilang kalo Andra suka sama Kinar
Kinar harus bisa jadi nyonya bos okeh
Bos muda wkqkwkkq
Gawat Agung bisa di pecat EL kalo suka Kinar wkwkkqkw
Kasian banget ya Kinar harus di tinggal ayah kandungnya dan kini Kinar di sayang sama Ando