Aileen Grizelle Azalea atau biasa disapa Aileen ini kabur dari rumahnya karena tak mau dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
Saat kabur dari rumah,entah kenapa ia selalu bertemu dengan cowok yang selalu membuat moodnya down.
Hingga pada suatu hari ia tak sengaja bertemu dengan kedua orang tuanya dan orang tua cowok yang akan dijodohkannya dengannya.Dan mereka kaget karena Aileen kabur tapi malah ditemukan berdua dengan cowok yang akan dijodohkannya.
Setelah itu apakah yang akan terjadi?
Yukkk simak ceritanya...
p.s. Jangan terlalu dianggap serius ceritanya. Ini hanya sebuah fiksi. So, enjoy aja! but, cerita ini masih banyak kekurangan. Dan bagi yang gak suka pernikahan dini, gak usah baca daripada baca tapi berkomentar yang gak enak! Okay?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RiniAngraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah dari suami
Budayakan like sebelum baca...
Happy Reading
.
.
.
"Kok berhenti? Udah sampai?" Tanya Aileen heran memandang sekitar. Pasalnya Vano menghentikan mobilnya di tempat yang sepi.
Ia tak takut Vano akan macam-macam. Yakali Vano meminta haknya di sini. Ada kamar yang luas, ranjang ukurun king di rumahnya. Tapi tunggu, di rumahnya. Bisa saja Vano tidak mau di rumahnya karena ada orang tuanya 'kan? Takit didengar atau diganggu?
Aileen segera menatap horor ke arah Vano. Vano mengangkat kedua alisnya balas menatap Aileen. Ia bingung kenapa Aileen menatapnya seperti itu?
"Apa?" Tanya Vano yang sedang memgang sebuah kain yang lebar dan panjangnya seperti dasi.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Aileen balik.
"Aku mau nutup mata kamu. Gpp 'kan?"
"Kenapa harus ditutup?"
"Biar surprise aja gitu. Mau ya?" Bujuk Vano.
"Kamu mau ngasih surprise? Yaudah ayo tutup cepetan!" Aileen memajukan tubuhnya ke arah Vano tak sabaran.
"Ayo cepetan!" Lanjut Aileen saat Vano masih bergeming menatapnya. Sebenarnya jantung Aileen saat ini kembali berdangdut ria. Jedag jedug gimana gitu. Tapi ia tak mau kelihatan gugup. Ingatlah Aileen dengan segala kegengsiannya.
"Iya." Vano segera mengikatkan kain itu melingkara kepala Aileen.
"Eh ini longgar tau. Ntar aku ngintip gimana? Hayooo sia-sia 'kan. Gak seru," protes Aileen saat ia merasa ikatan kain di kepalanya kurang erat.
Vano langsung mengeratkan ikatan kain itu hingga Aileen merasa pas. Setelah itu Vano segera melajukan kembali mobilnya hingga sampai tujuan. Ia menuntun Aileen turun dari mobil dan berjalan menuju tempat tujuan.
"Sebenarnya kita dimana sih? Masih lama nyampenya? Kok kek adem gini? Kamu ngajak aku ke danau ya? Kayak di film After? Kamu gak lagi main ToD kek Hardin 'kan? Aku gak mau nasib aku kayak Tessa. Meskipun Hardin ganteng sih. Tetep aja gak mau kalau cuman dijadiin mainan," cerocos Aileen hingga ia tak menyadari bahwa ia sudah tak berjalan lagi.
Sedangkan Vano tak berniat menghentikan istrinya yang sibuk mengoceh tentang film kesukaannya. Biarlah seperti itu. Nanti juga akan berhenti sendiri. Dan benar saja. Kini Aileen sudah berhenti.
"Udah sampai ya?" Tanya Aileen pelan saat dia sudah tersadar.
"Iya. Aku bukain ya. Tiga.... dua.... satuuu!"
Aileen mengerjapkan matanya hingga pandangannya tidak buram. Ia menutup mulutnya takjub melihat rumah di depannya. Ia berbalik menatap suaminya yang tersenyum.
"Kamu suka?" Tanya Vano menyelipkan rambut nakal Aileen yang menutup wajah istrinya itu.
"In-- ini? Rumah siapa?" Tanya Aileen ingin memastikan. Ia tak mau lompat-lompat dengan girangnya jika dugaannya salah.
"Ini rumah kita. Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu suka nggak?" Tanya Vano yang segera dijawab anggukan oleh Aileen.
Tentu saja ia suka. Rumah ini adalah rumah pilihan Aileen sendiri. Pantas saja Vano akhir-akhir ini selalu bertanya-tanya bagaimana rumah yang diinginkan Aileen.
"Aku suka. Jadi karena ini kamu selalu tanya-tanya sama aku rumah yang aku inginkan? Kok gak bilang-bilang sih. Pasti kamu repot ngurusnya. Beli ini itu. Harusnya aku bantuin."
"Sengaja. Harusnya sejak kita awal menikah aku nyediain rumah untuk kita tinggali dan tidak menumpang di rumah orang tua kita lagi. Tapi baru bisa sekarang," jelas Vano.
"Bukannya aku nggak seneng tapi rumah 'kan mahal. Pasti kamu terbebani,"balas Aileen merasa tidak enak.
"Hey! Lihat aku. Aku emang sedari dulu ingin melakukan ini. Kalau kamu senang, aku juga senang. Anggap aja ini hadiah pernikahan kita," balas Vano menangkup wajah Aileen.
Aileen langsung menubruk tubuh Vano dengan pelukannya yang langsung dibalas sang suami.
"Makasih ya, kamu itu emang suami idaman. Untung aja aku yang dapetin kamu. Gak keduluan cewek lain," ucap Aileen menggelamkan wajahnya di dada Vano.
"Anything for you, my Wifey," balas Vano.
"Eh tapi kamu nggak ngontrak rumah ini 'kan?" Tanya Aileen melepaskan pelukannya dan menatap manik mata Vano.
Vano dibuat tertawa oleh pertanyaan Aileen. Yang benar saja, mengontrak? Buang-buang saja mengontrak rumah sebesar ini. Lebih baik uangnya ia tabung hingga uangnya cukup beli rumah. Tapi alhamdulillah sih dia bisa membeli rumah ini. Cash pula.
Aileen sampai terpana. Baru kali ini Vano tertawa lepas. Dan sungguh kadar ketampanannya meningkat. Hal itu membuat Aileen semakin merasa beruntung jadi istri Vano. Tapi di satu sisi ia justru Vano itu sial mendapat istri sepertinya. Namun Aileen segera menepis pikirannya itu. Mungkin ini memang keberuntungan anak yang baik dan rajin menabung sepertinya.
"Tenang aja. Rumah ini gak dikontrak kok. Aku beli pake uang aku yang aku hasilkan selama ini. Ayo kita masuk," balas Vano menyadarkan Aileen dari keterpanaannya.
"Ah iya. Yuk. Aku nggak sabar," balas Aileen yang kini sudah loncat-loncat kegirangan memasuki rumah baru mereka. Tak peduli pada Vano yang menatapnya dengan senyum geli.
Vano senang jika Aileen senang. Sesederhana itu.
-TBC-
di hp dulu x ya... 🤗🤗🤗
padahal disini dy yg paling nyebelin