Adelia itu cuma murid biasa, menurutnya.
Namun siapa sangka, justru banyak yang mengincar pacar Vero itu. Tapi, kedatangan dari yang namanya mantan memang merusak kisah pacaran.
Ditambah lagi kehadiran Ravi sebagai pangeran kesiangan, justru berhasil membuat seorang Adelia Morva Agustina si cewek kasar jatuh ke dalam pelukannya.
Tapi, cinta monyet itu memang ngeri-ngeri sedap sensasinya. Apalagi, kalau penunggu di penantian mereka justru akhir tak terduga.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Sabina
Pelajaran pertama dari wali kelas pun berakhir tanpa hambatan, kami mengerjakan tugas dari materi yang di ajarkan tanpa kendala. Kami itu sebenarnya cuma aku saja, kan aku yang sedang bercerita.
Aku mengerjakan tugas bahasa inggris dengan lancar, hanya saja aku merasa kesepian tanpa adanya Ria di sisiku, sampai pada akhir pelajaran kedua aku tak mengalami kendala seperti mencontek kesana-kemari.
Jam istirahat pun datang, yang membuat para anak-anak bahagia karena waktunya isi perut yang sangat di tunggu-tunggu.
Seperti biasa, aku dan si kembar kopi susu bertiga saja melangkah ke kantin untuk makan soto yang jadi idaman kami di sekolah, selain lezat perkedelnya juga gemuk dan enak, lumayanlah ya buat hemat si saku-saku.
Tapi di perjalanan ke kantin kami berpapasan dengan duo labil kelas sebelah yaitu Andin dan Mega, tentu saja suasana jadi tambah ramai.
“Hai!” sapa Mega pada kami.
“Hmm,” balas Riri sambil memukulnya.
“Ke kantinkan? Bareng yuk!” ajak Andin.
“Oke,” tukasku mengiyakan ajakan Andin.
Di perjalanan mata kami menelusuri kelas-kelas lain lewat jendela, seolah seperti singa betina sedang mengintai rusa jantan. Memang seperti itu kenyataannya, karena kami ini kumpulan perempuan jadi wajar sajakan.
Jika masalah kepolosan, kami ini anak-anak yang polos hanya saja mata kami sedikit liar menatap kesana-kemari untuk cuci mata, lagi pula cowok juga pasti begitu, setidaknya itulah yang kami pikirkan saat masih junior di SMA.
Kami sampai di kantin dan memilih duduk di tepian agar si Mega bisa makan sambil bersandar, enak banget ya kayak bos dianya.
“Bu De, kita pesan soto tiga, siomay satu, sama bakso satu, semuanya pedas kecuali satu soto,” begitulah pesanan yang di ucapkan Andin pada ibu kantin setelah kami selesai berdiskusi soal santapan yang akan dilahap saat istirahat itu.
“Iya, tunggu sebentar ya.”
“Iya bu De,” lalu Andin berjalan kembali menuju tempat kami yang sedang duduk-duduk di tepian.
“Jadi gimana hubungan kamu sama kakak supir kemarin?” tanya Rere memulai kembali rundingannya yang terputus pagi tadi.”
“Kakak supir?” tanya Mega dan Andin secara bersamaan.
“Iya, si Adel kemarin di jemput kakak supir ganteng, tapi lupa siapa namanya ya Del?!” oceh si Rere.
“Kak Tommy,” sahutku dengan tatapan malas pada mereka.
“Kak Tommy? Tommy... Tommy... Mmm... Namanya gak asing, kok kayak kenal yah rasanya. Hmmm... Hah! Tommy?! Tommy si Tomjerry?!” celoteh Andin kaget dan hampir ngeces.
“Anj*r Ndin! Hampir saja kena gue tahu gak!” pekik Mega sambil memukulnya tertawa, kami pun juga ikutan tertawa karenanya.
“Sudah ketawanya! Kayak gak pernah ngeces saja kalian!” Andin pun membela diri.
“Iya-iya, kita maklum kok, santai beb. Kita juga pernah ngeces, tapi pas minumnya masih asi loh ya!” sindir Riri meledek Andin.
“Iiihhh!” Andin semakin kesal dengan ocehan Riri dan memukulnya tapi tak sampai.
“Jadi siapa supir Tomjerry yang sedang di gosipin sekarang nih?!” ungkit Mega mengulangi pembahasan yang hampir saja terlupakan.
“Siapa lagi kalau bukan TTM (teman tapi mesra) si Adel zaman bocah SMP labil?!” jelas Andin. “Apaan sih Ndin!” sergahku agar tak ditertawakan.
Riri pun memukulku, “gimana sih Del! Satu-satu dong, si Vero atau si kakak TTM?”
“Iya nih, kemarin pulang sama kak Tomjerry, nah sekarang pergi bareng Vero, jelas-jelas dong status biar gak di gantung!” oceh Rere menambahkan.
“Apaan sih kalian! Satu-satu gak ada yang benar ocehannya,” sahutku membela diri.
“What! Lu kemarin pulang bareng Tomjerry dan sekarang pergi bareng Vero! Kok bisa?!” tukas Andin sambil mengulangi perkataan Rere.
“Iya bisalah! Pasti sudah janjian ini anak! Ah! Jangan-jangan gara-gara itu si Sabina ngamuk saja bawaannya tadi di kelas ya!” Mega menambahkan.
“Ngamuk? Ngamuk ngapain?” tanyaku heran.
“Iya dia ngamuk-ngamuk marah gak jelas, nanyain si Vero berangkat ke sekolah bareng siapa, kita kira itu cuma sekedar gurauan si Ravi the geng kalau si Vero berangkat ke sekolah bareng kamu," tukas Mega.
Apalagi setelah itu si Vero juga nolak buat ikut karaokean pulang sekolah. Sudah tahu orangnya gak mau, pakai di paksa-paksa lagi ya jelas disemprotlah si Sabina jadinya,” jelas Andin.
“Disemprot?” tanyaku dan Rere bersamaan.
“Iya, tahu gak si Vero bilang apa ke Sabina,” Mega malah balik bertanya pada kami yang tak tahu apa-apa atas ucapannya.
“Ya gak tahulah! Kalau tahu gak mungkin kita nanya!” oceh Rere. “Iya nih, sudah tahu beda kelas, gimana sih,” Riri juga menambahkan hujatannya, walau cuma sekedar candaannya.
“Kamu keras kepala banget sih, kan aku sudah bilang gak bisa, berarti ya enggak. Kurang paham apalagi kamu sama bahasa manusiaku itu?” pungkas Mega menirukan kalimat dan nada bicara Vero pada Sabina.
“Serius si Vero bicara kayak begitu?” tanya Riri seolah tak percaya.
“Iya, dia memang bicara kayak begitu kok dan juga dia...” kalimat Andin mendadak terpotong, matanya agak terbelalak ke depan, ke belakang aku dan Rere.
Spontan kami yang lain pun ikut menoleh ke arah yang dilihat Andin, tampak Sabina dan temannya sedang mengarah ke kantin. Mataku dan mata Sabina saling berpapasan dan ia malah menatap tajam padaku, seolah-olah ingin memakanku dengan matanya itu.
Aku pun berpura-pura mengalihkan pandangan ke arah lain secara tak kentara agar tak ketahuan kalau aku memang sengaja menoleh ke belakang untuk menatapnya.
“Wah, lihat matanya, kayak mau nusuk orang saja iya gak?” oceh Mega.
“Iya, aku juga gak nyangka, memangnya ada yang salah sama kita?” tanya Andin seolah lupa alasan Sabina membelalakkan matanya pada mereka.
“Sudah jelas itu mata laser buat si Adel, pakai nanya lagi!” celetuk Riri. Aku tak mempedulikan itu dan lebih memilih menatap panjang pada soto yang sudah di antarkan bu De alias bu Denda kemeja kami.
“Sudah yuk makan, dari pada gosipin yang gak jelas ujungnya kayak Sabina, kayak gak ada cewek cantik lain saja buat kita gosipin,” tukas Mega sambil menyeruput kuah baksonya.
Kami pun makan dengan lahap sambil tetap mencomot isian mangkuk tetangga teman lain dalam semeja, aku pun memakan bakso si Mega dan kentang si Andin. Masa-masa makan bersama dan saling mencicipi punya satu sama lain adalah yang terbaik di masa-masa SMA.
“Eh iya, si Ria kemana? Kok gak kelihatan,” tanya Mega baru menyadari ketidak hadiran Ria.
“Dia lagi sakit,” tukas Rere sambil mengambil bakso di mangkuk Mega. “Sakit? Sakit apa?” tanya Andin penasaran. “Gak tahu, wali kelas cuma bilang dia sakit,” ocehku menjelaskan. “Sudah kuhubungi hp nya juga mati.”
“Kasihan juga, pasti kesepian dia, ya sudah gimana kalau pulang sekolah nanti kita jenguk dia?” ajak Andin bicara asal tentang perasaan Ria.
“Pulang sekolah?” tanya si kembar kopi susu bersamaan.
“Iya, kapan lagi kita main ke rumahnya? Mumpung dia sakit mari kita meramaikan suasana,” oceh Andin makin tak jelas.
“Terus ada yang tahu rumahnya?” tanya Riri. Aku pun menoleh dan menjawabnya, “ya... Aku tahu sih, cuma kendalanya ya kendaraan kesana.”
“Iya juga ya! Jadi siapa saja yang bawa motor?!” tanya Andin sambil menatap ke sekelilingnya. Perlahan-lahan dua orang mulai menunjuk pertanda bahwa mereka bermodal buat pergi ke sekolah yaitu si Rere dan si Riri yang sudah jelas boncengan berdua ke sekolah karena mereka kembar bersaudara.
Lalu nasib kami bertiga yang hanya modal numpang dan di antar bagaimana?
💙💙💜💜❤️❤️💜💜🌷🌷💜💜💕💕💕💜💜💜♥️♥️♥️💜💜💜💙💙💜💜💜
beli jaringan aja 🤣🤣🤣♥️♥️♥️💕💕❤️❤️🌷🌷💕💕♥️♥️
🤣🤣🌷🌷🌷💙💙💜💜♥️♥️♥️💕💕💕❤️❤️🌷🌷💙💙💜💜
♥️♥️♥️🌷🌷🌷💜💜💜💜💜