Kisah seru sepasang sahabat dari Masa Sekolah, Kuliah, hingga bekerja saat ini, Tidak ada yang tau jodoh seseorang, hingga akhirnya mereka di satukan dalam ikatan perjodohan oleh kedua orang tuanya
Munculah kisah-kisah seru dan kocak di perjalanan hidup keduanya, setelah liku-liku percintaan yang kandas di tengah jalan, Teman dan sahabat yang saling mendukung dengan semua kehebohanya hingga akhirnya keduanya bersatu dalam sebuah ikatan
Percikan Asmara dan cinta akhirnya tumbuh diantara keduanya, namun mampukah mereka menghadapi badai ujian yang datang menghantam hubungan yang di jalaninya sampai ke pelaminan?
Yuk ikuti Cerita selanjutnya
Kisah ini merupakan lanjutan dari karya Author yang pertama yaitu "POWER OF WOMAN"
Salam dari Sinho
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 (Kawin)
Tampak di depan pintu Apartemen Satria, seorang wanita cantik yang tak lain adalah Imelda, dengan pakaian yang sedikit terbuka
"Imelda?"
"Hai Sat, sorry, aku kesini gak telpon dulu"
"Oh iya, ada perlu apa kamu kesini?"
"Ini, aku bawa sesuatu, mama tadi masak dan menyuruhku membawakan mu makanan"
"Minggir, aku masuk ya, ini masakan aku pindahin dulu deh" ucap Amelia sudah nylonong masuk ke dalam Apartemen Satria
"Eh, Mel!"
Teriak Satria berusaha menghentikan Imelda namun terlambat
Imelda langsung menuju ke dapur dan memindahkan masakan yang dia bawa ke sebuah tempat, saat sedang sibuk menata makanan bawaannya, Imelda tersadar kalau di atas meja makan sudah ada masakan yang tertata rapi dan ada sebuah lampu lilin hingga terlihat sangat romantis
"Ehem, kamu sedang menunggu seseorang Sat?"
"Iya Aku dan Ira janjian makan malam di sini, sekalian permintaan maaf ku"
"Oh, jadi kalian udah baikan?"
Sebelum Satria menjawab, tiba-tiba saja Ira sudah nongol dan berdiri melihat mereka berdua, Ira langsung menjawab pertanyaan Imelda
"Iya, kami berencana baikan, Apa aku mengganggu?"
"Ira!" Ucap Satria dan langsung menghampirinya
"Oh, jadi kalian berencana makan malam, kebetulan sekali aku membawa makanan juga untuk satria, apa aku bisa bergabung?" Ucap Imelda
"Mel, kita_" ucap Satria tertahan saat Ira langsung memotong ucapannya
"Tentu saja, silahkan ikut bergabung nona Imelda, aku tidak keberatan sama sekali" ucap Ira sambil berjalan dan duduk di kursi makan
"Dasar wanita ******, kau ingin bermain-main denganku rupanya, jangan harap kali ini kau akan menang" batin Ira
Sedangkan Satria merasa kepalanya makin pening menghadapi dua wanita dalam satu meja makan, tampak Ira dengan santai mengatur duduknya, sedangkan Satria mengambil satu kursi lagi untuk Imelda, kini Satria di dampingi oleh dua wanita yang tentu saja siap berperang di meja makan
Satria merasa sangat kalut hingga dirinya tidak bisa tenang sama sekali, akhirnya dia pun menemukan cara untuk segera mengatasi masalahnya
"Maaf, kalian silahkan melanjutkan makan, aku mau ke toilet sebentar" ucap Satria dan langsung melesat ke dalam kamarnya untuk mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang
"Halo sat, ada apa, dah kangen loe ma gue?" Ucap Andre
"Anjir, tolongin gue, cepetan ke apartemen, gue tunggu secepatnya, jangan pakek lama, penting!"
"Penting gimana?"
"Diem dah loe, cepetan, atau nyawa loe taruhannya"
"Bang*sat, kenapa jadi nyawa gue taruhannya" kata Andre
"Udah buruan, kambing!"
"Enak saja, dasar loe Sapi!"
Tut Tut Tut
Saluran telepon di matikan oleh Satria dan langsung kembali lagi ke arena meja makan, dan disana sudah ada kedua wanita yang saling beradu pandang seakan siap menyerang
"Baik, ayo kita mulai makan malamnya" ucap Satria dengan nada yang dibuat se wibawa mungkin untuk menutupi kekhawatirannya
"Sat, inget nggak makanan kesukaanku?" Ucap Imelda
"Rawon kan?" Ucap Satria tanpa sadar menjawab pertanyaan Imelda dan tentu saja hal itu membuat Imelda tersenyum
"Masih ingat ya kamu, kita dulu sering di warung makan dekat tempat kamu kuliah, sama mbok siapa Sat?"
"Mbok Minah" jawab Satria lagi
"Oh iya, itu kamu masih ingat juga ya, padahal aku dah lupa Lo, hehe" ucap Imelda sambil tersenyum menang
Sementara Ira masih fokus dengan makanannya, suap demi suap Ira berusaha tenang dan cuek sambil mengamati interaksi Satria yang masih makan sambil menjawab semua pertanyaan Imelda, Hingga akhirnya Ira bisa menyelesaikan makannya lebih cepat dari yang lain
Saat Ira sudah menyelesaikan makanan terakhirnya datanglah Andre dan langsung di sambut oleh Satria di depan pintu
"Ngapain sih gue suruh ke sini?" Ucap Andre
"Gawat!"
"Gawat kenapa, loe ketangkep lagi ngeloni bini orang?"
"Bang*sat, gue gak sebe*jat itu ya ndre" ucap Satria jengkel
"Lalu apa?"
"Ada dua wanita di dalam, takut ada tawuran gue"
"Hah, emang siapa?"
"Imelda ma Ira"
"Sapi loe emang, ngapain ngundang wanita bersamaan, mau ngajak ribut loe"
"Dasar kambing, siapa yang ngundang, gue cuma ngajak Ira doang, eh si Imelda ikutan datang"
"Kayak jaelangkung tu si Imelda, datang gak diundang"
"Brisik, yok ah masuk"
"Berasa mau ikutan Smackdown gue Sat"
Akhirnya Andre segera duduk di meja makan di samping Imelda, tampak kedua wanita itu menatap aneh kedatangan Andre yang langsung ikutan makan sambil senyum-senyum gak jelas
"Acara kita malam ini makan malam kan Sat?" Ucap Ira
"Iya, tentu saja, ini kita sedang makan malam Ir"
"Okey, aku dah selesai makan malam, jadi bereskan, aku bisa pulang"
"Apa!, Apa maksudmu Ir?" Tanya Satria kaget mendengar perkataan Ira
"Kan acara kita makan malam, berhubung makan malam sudah selesai dan rasanya lumayan enak, kita dah baikan, dan aku akan segera pulang"
"Tapi mana bisa begitu, tunggu kitalah" ucap Satria menahan Ira
"Gak usah di tahan Sat, kalau mau pulang, sepertinya Ira gak betah ada di sampingmu, beda sama aku yang selalu senang saat bisa ngobrol sama kamu"
Uhuk uhuk
Andre langsung tersedak mendengar perkataan Imelda, Ira langsung mengambilkan air minum untuk Andre
"Sorry ya Mel, kamu dari tadi ngomongnya kok gak enak banget ya?" Ucap Ira mulai naik satu oktaf
"Maksudnya?, Aku mengatakan kenyataan lo, ya nggak Sat, kelihatan banget kan kalau Ira dari tadi pengen pulang"
"Okey, aku malam ini tidur sini, puas loe, habisin makanan loe, dan segera pulang, aku tidak suka tunangan ku dekat dengan wanita lain!"
BRAK
Tangan Ira menggebrak meja hingga makanan yang ada di piring Andre melesat ke mana-mana, setelah itu Ira langsung duduk di depan Tv sambil mengontrol emosi nya
Satria menghela nafas dan menyusul Ira di depan TV
"Ini minum dulu Ir"
"Ngapain kamu kesini, dah selesai makan sambil cerita masa lalu kamu sama mantanmu itu?" Ucap Ira
"Aku gak cerita, cuma jawab Ir, lagian kamu juga tadi yang ngijinin Imelda ikutan gabung makan malam, jadi rame kan urusannya"
"Kamu juga gak nolak" ucap Ira
"Udah hampir lo tadi aku tolak"
"Nolak kamu gak iklhas, kelihatan noh dari muka kamu" ucap Ira
"Apaan sih ngomongnya, Imelda dah sama Andre tu"
"Hemh, lihat saja cewek Andre tau kalau lakinya buat tumbal kamu, yakin nih, kamu bakalan di rukiyah"
"Emang gue kesurupan?"
"Nggak, tapi kemasukan setan gila"
"Hus, ngomongnya, kalau setan lagi denger kamu katain gila, awas lo ya, marah dia nanti, ngintilin kamu kemana-mana"
PLAK
Ira langsung mukul Satria dengan keras
Satria terkikik saat Ira langsung menggeser duduknya mepet ke Satria karena takut, hingga sesaat kemudian ada nada panggilan dari Ronald, dan Ira langsung mengangkatnya di samping Satria yang sudah memasang wajah juteknya
"Halo pak, iya saya baik-baik saja" ucap Ira
"Ya sudah, kamu lagi dimana Ir"
"Saya, emh, saya lagi Apartemen pak"
"Ok, jangan keluyuran malam-malam, jaga kesehatanmu, pekerjaan mu makin banyak untuk satu Minggu ke depan, jangan sampai kamu sakit"
"Siap pak"
Akhirnya perbincangan di handphone terputus, sementara itu Satria sudah melotot mengerikan ke arah Ira
"Ngapain natap aku kayak gitu?"
"Kenapa gak ngomong jujur kalau lagi di Apartemen ku!" Ucap Satria emosi
"Siapa yang gak jujur, aku dah ngomong di Apartemen kan"
"Tapi nggak di Apartemen ku, pasti si Ronald mikirnya kamu lagi di Apartemen kamu"
"Ya terus kenapa?"
"Oh gitu ya, ada rasa kamu sama si Ronald?"
"Jangan mulai ya Sat"
"Kamu yang mulai, sikap kamu itu menunjukkan kalau kamu ngasih harapan ke Ronald" ucap Satria
"Loe sendiri gimana, sikap kamu ke mantan kamu lebih menunjukkan kalau loe masih ngasih harapan ke dia" Jawab Ira
Keduanya saling cemburu dan emosi tidak terima dengan kedekatan dengan lawan jenis masing-masing
"Jadi gimana, mau di terusin apa kita sudahi sampai disini, capek gue marahan Mulu sama kamu Ir?" Ucap Satria
"Ya terserah kamu lah, gue apa aja oke"
"Elah, ada sesuatu kan loe sama tu laki-laki mangkanya gak berani nerusin pertunangan ini" ucap Satria
"Ih, siapa bilang, aku cuma berteman ya, sesuai komitmen kita dulu, selama masa percobaan, aku gak pernah dekat sama cowok lain" jawab Ira
"Bohong kan loe" ucap Satria
"Beneran kok, kamunya yang bohong, sekarang dekat kan loe sana mantan kamu itu"
"Heh, sembarangan, mana ada, aku dah jelasin kita gak ada apa-apa ya" kata Satria
"Terus?"
"Ya sudah kita Kawin!"
"Oke, loe kira gue takut?" Ucap Ira
"Ya udah, kita telpon orang tua masing-masing, Sekarang!" Sahut Satria
Akhirnya mereka pun menelpon orang tua masing-masing dan mengatakan kalau setuju untuk dilangsungkan pernikahan segera dengan emosi yang masih penuh sesak di dada
Bersambung
Kisah ini kelanjutan dari Karya Author yang pertama "POWER OF WOMAN"
Masih bisa Up sekali sehari 1 Episode
Jangan lupa berikan dukungan Author
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
FAVORIT FAVORIT FAVORIT
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
Imanmu setipis kulit bawang di belah 1000 bang Sat.. 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
Pantes mereka cocok karena karakternya sama!
Sama2 ngga bisa tegas ke perempuan!
Satria yang paling fatal!
Ntar klo sampe kehilangan perusahaan n Ira baru nyesel..
Makanya jadi laki2 kudu punya sikap!
Katanya pemilik perusahaan tapi ngga ada bijak2nya! 🤦🏻♀️
Menurutku Satria ini kurang tegas sebagai laki2 apalagi laki2 yg sudah punya istri
Tapi dari awal sebelum nikah pun Satria ini terlalu baik hingga lupaa batasan dg mantan
Bahkan setelah nikah pun masih ajaa ngga tegas.. seolah masih ngasu harapan dan mauu ajaa di bego2in sama Imelda
Harusnya sebagai laki2 yg sudah punya istri bisa ngasi batasan tegas sama Imelda 😤🤦🏻♀️