Sequel SALAH NIKAH
Rico menikahi Layyana karena sebuah dendam.
Demi menuntaskan dendam yang sudah lama dia pendam, Riko rela menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang dia benci. Tujuannya satu, membalaskan dendam.
Layyana yang notabene adalah wanita kaya raya dan berpendidikan tinggi, selalu berpenampilan sederhana demi mencari cinta sejati yang mendekatinya bukan karena materi, melainkan karena cinta yang tulus. Sayangnya pria yang mengucap ijab qobul di sisinya pada hari pernikahan bukanlah Rendi, tapi sosok pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manis Sekali
“Bunda!” panggil Rico.
Kulihat interaksi antara Rico dan Bunda Aisyah tidak seakrab anak dan ibu lainnya, mereka terlihat jauh.
Bunda Aisyah menatap wajahku lalu beralih menatap wajah Rico. “Masuk!” Bunda Aisyah balik badan lalu melenggang masuk.
Aku mengikuti Rico memasuki rumah. Pria itu meletakkan koper. Lalu duduk di sofa, tepat berhadapan dengan Bunda Aisyah yang sudah lebih dulu duduk di sana.
Aku sengaja duduk di sisi Rico, sedikit menyembunyikan wajahku di balik pundak pria bertubuh gagah itu. wajah bunda Aisyah lumayan serem, dingin dan tidak ada senyum-senyumnya. Berbanding terbalik dnegan namanya, organ tubuhku jadi menegang dibuatnya. Walah.
“Bunda, aku membawa istriku pulang ke rumah ini. bunda ijinkan kami sementara tinggal di sini?” Tanya Rico santai, sedikit pun tampak rileks menghadapi bundanya yang sejak tadi memasang wajah dingin.
“Aku yang memintamu supaya menikahi Layyana, maka semenjak itu aku menganggapmu sebagai putra di sini. Terserah kau mau menempati rumah ini atau tidak. Toh, aku di sini hanya sendiri,” jawab bunda Aisyah yang menurutku sedikit ketus.
“Layyana akan menemani bunda saat aku pergi bekerja nanti,” ujar Rico.
“Layyana, tanpa kutanya, aku percaya kau bisa menerima Rico sebagai suamimu.” Pandangan bunda Aisyah tertuju ke arahku.
“Ya, Bunda. mungkin karena memang Rico yang pintar mengambil hatiku,” jawabku dengan kepala menunduk. Hati ini tidak sanggup menatap sorot tajam mata budna Aisyah.
“Perlu kau tahu satu hal Layyana, Rico adalah putra keduaku setelah Rendi. Awalnya mungkin kau mengenal Rendi sebagai calon suamimu, tapi kuharap jangan lagi kau mengingatnya.”
Aku hanya diam mendengarkan saja.
“Seharusnya Rico memiliki tiga adik perempuan, tapi ketiganya sudah tiada. Dan sekarang Rico menjadi satu-satunya putra di rumah ini,” lanjut Bunda Aisyah sambil mengusap air matanya yang seperti tanpa dia sadari sudah menetes. “Kau jalanilah rumah tanggamu bersama Rico. Dia suamimu.”
Aku mengingat tiga gadis kecil serta seorang ayah yang meninggal di dalam mobil itu, dan mereka semua adalah adik-adiknya Rendi, yang tentu saja juga adik-adiknya Rico serta ayah Rico. Membayangkan itu, wajahku sontak memucat dan kulitku meremang. Ya, ayah dan ketiga adik Rendi sudah tiada dan aku tahu mengenai hal itu sejak lama.
“Kau baik-baik saja?” Rico menyentuh tanganku saat kusadari tubuhku bergetar mengingat empat nyawa melayang dalam satu peristiwa. Dan pastinya Rico turut merasakan getaran tubuhku hingga pandangnnya kini terpusat ke arahku. “Kau pucat sekali. Kenapa?”
“Enggak apa-apa. Aku hanya ikut sedih mendengar cerita bunda,” jawabku.
“Bawa istrimu masuk dan beristirahat. Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian! Disana!” bunda Aisyah menunjuk salah satu pintu kamar lalu melenggang pergi membawa wajah sedihnya.
“Ayo, kuantar ke kamar!” Satu tangan Rico memegangi lenganku dan membimbingku memasuki kamar. Sementara satu tangan pria itu menyambar koper dan menariknya.
Rico membuka pintu kamar dan memasukinya.
“Duduklah!” titahnya sambil membimbingku duduk di sisi ranjang. Lalu ia keluar sebentar dan kembali membawa segelas air mineral. “Minumlah! Kau terlihat shock setelah mendengar tentang kabar ayah dan adik-adikku, Layyana.”
Aku meneguk segelas air yang disodorkan oleh Rico lalu meletakkan gelas ke meja. Entahlah, aku tidak kuasa membayangkan darah. Trauma rasanya. Sedangkan hidup ayah dan tiga adik Rico berakhir dalam situasi yang sulit dibayangkan.
“Istirahatlah! Aku keluar dulu sebentar.” Rico membimbingku untuk terbaring. Kemduian melenggang keluar kamar.
Kupandangi punggung pria itu hingga hilang dari pandangan.
Tuhan, manis sekali hubungan ini. Kau hilangkan Rendi dari hadapan mataku dan Kau ganti dengan pria yang luar biasa. Terima kasih.
Mataku pun terpejam.
***
TBC
Makasih cintah... Kalian udah baca sampai sini. Love segede gunung deh buat kalian yg ikuti cerita ini. ❤️❤️
selamat berkarya semoga sukses mencerdaskan anak2 bangsa melalui tulisan
bahaya niih