Karna ini adalah novel pendek jadi babnya gak terlalu panjang ya..
Mengandung cerita 21+
Ayunanda saputri harus terima kalau, mama yang ia cintai harus rela memilih lelaki yang baru saja menikahinya. Lelaki itu bernama Thomas Killer dia adalah sahabat papanya dahulu.
Dengan penuh perjuangan dia hidup sebatang kara, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Suatu hari dia bekerja di sebuah Bank swasta dan terpaksa menjadi simpanan CEO untuk membalas dendam kepada lelaki yang sekarang menjadi suami mamanya.
Adakah cinta di antara keduanya, simak terus kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Luna?
Setelah berhasil menidurkan Yuna, Arya kembali ke kantornya. Dia mencari tahu kenapa Ellena meminta Lian untuk melakukan kecurangan pada perusahaannya, Arya meminta bantuan Diego untuk menyelidiki Ellena di luar sana.
"Ikuti Ellena kemanapun ia berada, laporkan apa yang ia lakukan di luaran sana." Arya tersenyum smirk, ia yakin kali ini ia akan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.
"Baik Ar, aku akan mengikuti kemana saja dia pergi." Diego juga tidak terlalu suka dengan Ellena, selain licik di juga seorang yang pintar memutar balikkan fakta.
Hari itu juga Daichi berusaha menghubungi kembali Rendi, ia ingin meminta maaf karena sudah hampir melecehkan salah satu karyawannya. Rendi mengatakan perihal Daichi kepada Arya, kali ini ia tidak mau melakukan kesalahan lagi.
"Apa saja pekerjaan kamu Ren?."
"Banyaklah Ar, masa aku harus mengatakan semua yang ku kerjakan padamu. Di sini aku Direkturnya dan bukan kamu." Rendi tau kalau sebenarnya ia kembali ke kantor karena mamanya yang meminta, Rendi tidak begitu menyukai pekerjaannya di bidang yang ia geluti sekarang. Karna Rendi menyukai dunia kesenian, ia sengaja menyembunyikan ini dari mamanya. Dan ia tak mau mamanya kecewa jadi terpaksa harus kembali ke bisnis yang ia benci sekarang ini. Karena bisnis inilah papanya meninggal, karena persaingan yang begitu kerasnya.
"Jadi jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku Ren, aku tau apa yang kamu lakukan di galeri yang tadi sempat kau datangi." Arya menatap tajam Rendi, sambil sesekali melebarkan senyumannya.
"Kau tau dari mana kalau aku punya galeri musik Ar?." tanyanya penuh selidik.
"Tidak perlu kaget seperti itu, aku tau sedari kecil kau memang menyukai dunia senikan?."
"Tolong jangan katakan semua ini kepada mamaku Ar ku mohon!!." Rendi memegang tangan Arya.
"Baiklah aku tidak akan mengatakannya kepada mamamu, asal kau jawab pertanyaanku!!."
"Apa itu?." Rendi mentap Arya dengan kerutan di dahinya.
"Kau tau siapa yang mengubah proposal Yuna, dan apa motifnya?." Arya berubah dalam mode seriusnya.
"Maaf Ren kalau itu aku tidak tau."
"Jangan bohong dariku?!."
"Demi Tuhan aku tidak tau menau tentang masalah itu, sebenarnya apa yang terjadi kepada Yuna?. Apa dia baik-baik saja?."
"Ck.. kau malah bertanya padaku!. Kau tau Yuni hampir di perkosa oleh orang Jepang itu!!."
Seketika Rendi melototkan matanya, ia terkejut saat Arya mengatakan tentang apa yang terjadi kepada sekretarisnya.
"Sudahlah berbicara denganmu membuatku jengah, bukannya menjawab pertanyaanku kau malah balik bertanya!!." Arya meninggalkan Rendi di ruangannya dan pergi ke ruangannya, ia ingin menemui Ellena. Arya ingin tau apa motif Ellena yang memanipulasi dokumen Yuna.
Arya terlihat cemas saat memikirkan langkah apa yang ia tempuh untuk menuntaskan masalah ini, sedangkan Diego yang ia suruh untuk mengawasi Ellena belum memberi kabar apa pun kepadanya.
°°°°°°°
Di sebuah cafe, jauh dari tempat kediaman Ellena. Ada seorang wanita cantik berambut hitam lekat, panjang sebahu sedang duduk termenung seorang diri dengan di temani minuman segar di hadapannya. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang, karna sedari tadi dia sibuk melihat jam di pergelangan tangannya.
"Lama sekali, sudah hampir malam. Kalau aku pulang telat pasti bibi akan menanyaiku dengan sejuta pertanyaan, lalu papa juga akan menghakimiku dan membenarkan perkataan istri barunya itu."
Jam menunjukkan pukul enam malam, terlihat Ellena turun dari mobil yang baru saja membawanya ke tempat tujuannya.
"Lama sekali, hampir dua jam aku menunggumu!!. Kalau tidak penting akan ku tinggal saja kau, mana mau aku menunggu orang sepertimu. Kau selalu lelet dari dulu sampai sekarang!!." Luna menggerutu kesal.
"Sudah ngomelnya, sekarang biarkan aku duduk dulu. Aku akan segera memberikan kabar baik untukmu." Ellena segera mendudukkan tubuhnya, dan memposisikan dirinya agar bisa duduk dengan nyaman.
"Cepat katakan ada kabar baik apa?." Luna sudah tak sabar mendengar berita yang di bawa oleh Ellena.
"Aku berhasil menyuruh Lian, untuk memanipulasi dokumen yanga akan di bawa Yuna untuk bertemu dengan orang bawahan papaku."
Di balik tembok dekat Luna duduk, di sana sudah ada Diego yang sedari melihat bahkan memvideo pertemuan antara Ellena dan Luna.
Tanpa sadar mereka berdua berbicara tindakan apa yang akan di lakukan selanjutnya kepada Yuna.
Karna di rasa rekaman itu sudah cukup menjadi bukti kalau merekalah dalang di balik percobaan pemerkosaan Yuna dengan kliennya yang berasal dari Jepang itu. Diego bersiap untuk kembali ke kantor untuk menemui Arya, dan akan menunjukkan hasil rekaman itu kepada Arya.
Tanpa di sangka Diego bertabrakan dengan Luna saat mereka berdua akan sama-sama pulang. Memang dasar Luna yang berwatak sombong, bukannya meminta maaf dia malah memaki Diego dengan kasar.
Karna di sini Diego yang memang menabrak Luna, akhirnya ia meminta maaf dan berlalu meninggalkannya. Walaupun Luna masih tetap tidak terima kalau di tinggalkan sendiri, padahal ia belum selesai memaki laki-laki yang tadi menabraknya.
Diego segera memberi kabar ke Arya karna ia sudah mendapat video rekaman percakapan antara Ellena dan Luna. Arya yang penasaran menunggu hasil rekaman itu dengan setia menunggu Diego di ruangannya.
Setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya Diego datang di kantor. Walaupun keadaan kantor sudah mulai sepi dan lampu sudah banyak yang menyala, tak memperhambat hasil penyelidikannya sore tadi.
"Selamat malam Ar, maaf kalau aku lama sekali mendapatkan informasinya."
"Duduklah Ed, kita mengobrol santai. Coba lihat mana videonya." Arya mengulurkan sebotol minuman bersoda kepada Diego.
"Ini Ar.." Diego memberikan hasil rekaman itu lalu beralih mengambil minuman soda itu dari tangan Arya.
Sambil menunggu Arya melihat video yang di bawanya, Diego dusuk santai sambil menikmati minuman bersodanya.
Arya sedikit mengernyitkan keningnya saat melihat ada keberadaan wanita muda di sana, sepertinya dia juga dendam sekali kepada Yuna. Terlihat sekali kalau dia tidak menyukai Yuna.
"Apa kau tau siapa wanita ini Ed?." Arya menunjuk ke arah Luna.
"Namanya Luna Ar, aku tidak tau siapa wanita cantik itu." Diego menaikkan pundaknya saat Arya bertanya.
"Apa kira-kira Yuna kenal atau tau dengan wanita ini, coba kirimkan video ini ke ponselku. Aku akan menanyakannya langsung kepada Yuna."
Diego langsung mengirimkan video tersebut kepada Arya, karna hari sudah malam mereka berinisiatif untuk pulang. Arya dan Diego berpisah di parkiran kantor menuju kediaman masing-masing.
Dasar Mak lampir...
ngga bisa lihat orang bahagia.
visualnya thort