Xiao Yi adalah seorang puteri komandan penjaga perbatasan yang tinggal di tepi sungai Yalu
Gadis cantik ini diperalat oleh Gubernur Qian lie dengan menjadikannya selir persembahan untuk mengambil hati raja Yan Yue yang berhati dingin.
Raja Yan Yue sendiri memiliki 9 orang selir yang dikawinkan karena alasan politik.
Kerajaan Yanzhie tidak memiliki ratu karena raja tidak pernah mengangkat seorang permaisuri sejak wanita yang di cintai raja, Jiu Fei memilih menjadi biarawati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22 PERJALANAN KE LUAR ISTANA
Hampir semalaman, Xiao Yi tidak bisa tidur. Kalaupun matanya terpejam, kegelisahan akan apa yang terjadi besok membuat dirinya kembali terjaga. Terbayang selir Yuan yang gemetaran di hadapan Yang Mulia. Dia merasa bersalah kepada temannya itu.
Pagi-pagi benar, Chu Cu sudah masuk ke dalam ruangan majikannya itu. Jemarinya yang dingin menyentuh bahu majikannya itu dengan lembut.
"Nyonya...sudah hampir pagi," panggil Chu Cu dengan suara pelan.
Xiao Yi menggeliat dan membuka matanya dengan enggan. Mendekati pagi, dia malah merasa nyaman menyusup dalam selimut tebalnya yang hangat.
"Sebentar lagi, Chu Cu...aku masih mengantuk"
"Bangunlah, nyonya. Tandu yang dikirim kasim Chen sudah tiba" Chu Cu menggoyang sedikit lengan majikannya itu, karena dilihatnya mata sang nyonya hendak terpejam kembali.
Sejenak kepala Xiao Yi yang terasa berat menjadi seringan kapas, dengan cepat di sibaknya selimut yang membungkus badannya dan duduk dengan wajah kesal.
"Apakah menghukum orang harus sepagi ini?" gumam Xiao Yi dengan mata yang memicing dengan serius. Lalu mengucak kedua matanya, memaksa mata indah itu terbuka dengan sempurna.
Xiao Yi merapikan rambut panjangnya yang berantakan, wajah mulus itu merona dalam raut masam.
Dia tidak gentar menerima hukuman apa saja dari Yang Mulia, malah dia lebih takut jika Yang Mulia mengurungnya dalam kamar, hanya berdua saja dengan Raja yang menurut Xiao Yi, kadang berperangai aneh dan tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri itu.
Dipeluk oleh Yang Mulia Yan Yue lebih menakutkan daripada dicambuk dengan cemeti.
Yang membuatnya resah adalah nasib selir Yuan. Gadis baik itu pastilah menangis sepanjang malam karena ketakutan.
Dengan segala keengganannya Xiao Yi turun dari tempat tidurnya dan tanpa banyak bicara mengikuti Chu Cu ke ruang mandi.
Tidak berapa lama dia sudah kembali dengan tubuh segar bugar setelah masuk kedalam bak mandi hangat yang telah disiapkan oleh Chu Cu pagi-pagi benar.
Xiao Yi mematut wajahnya didepan cermin, dia mengenakan baju dan perhiasan yang dikirimkan oleh yang Mulia Yan Yue dalam kotak kayu melalui kasim Chen tadi malam.
Jubah yang dipakainya itu berwarna kuning pastel dengan lipatan tangan berwarna cokelat tawny tanpa corak dari bahan kain katun biasa yang sederhana bahkan terkesan murahan.
Xiao yi menyisir rambut Xiao Yi, menarik beberapa bagian ke atas dan menggulungnya membentuk cepol dan menyisipkannya tusuk konde dari kayu persik dengan motif lotus yang di berikan oleh Yang Mulia Yan Yue di malam mereka mengunjungi kuil Sunyen, beberapa pekan yang lalu.
"Aku pilihkan tusuk konde yang lain..." rasa kesal Xiao Yi membuatnya keberatan mengenakan tusuk konde pemberian yang Mulia itu.
"Nyonya harus memakai ini, itu adalah pesan yang disampaikan kasim Chen dari Yang Mulia." sahut Chu Cu dengan cepat.
Xiao Yi mengernyit dahinya dengan mimik tidak senang tapi dia urung menjulurkan tangannya kedalam kotak perhiasan dimeja cerminnya.
Sisa rambutnya yang panjang di ikat oleh Chu cu menggunakan tali pita berwarna kuning pastel yang sama dengan warna gaunnya.
Sejenak Xiao Yi mencermati penampilannya di depan cermin, dandanannya serupa dengan gadis penjual teh di kedai Tiancha di kota Youwu. Xiao Yi tersenyum geli tapi dia senang dengan penampilan barunya itu.
Tidak sampai sepeminum arak, Xiao Yi sudah berada di dalam tandu, Diiringi tatapan cemas Chu Cu yang sekali lagi tidak diperbolehkan mengikuti majikannya itu.
Rombongan kecil itu terdiri dari 4 orang pemikul tandu, dua orang pengawal teman-teman Jian jie yang biasanya di samping raja dalam pakaian orang biasa dan seorang kasim muda yang menjadi bawahan kasim Chen.
Perjalanan rombongan itu menembus pagi yang dingin dan sedikit berkabut, dengan agak tergesa seperti menghindari penghuni istana itu sadar dengan kehadiran mereka, terus bergerak menuju arah gerbang selatan kota.
Mereka hanya bertemu dengan beberapa prajurit dan pengawal yang berlalu lalang, mungkin dalam pergantian jaga.
Di pintu gerbang kota itu telah berdiri Kasim chen, menunggu.
Dia berbicara sebentar dengan seorang dari penjaga pintu gerbang kemudian mengatakan beberapa hal kepada para pengawal ang menjemput Xiao Yi.
Xiao Yi duduk dengan tak sabar di dalam tandu, sempat terbersit pikiran jahatnya untuk melarikan diri jika ada kesempatan baik saat berada di luar lingkungan istana.
Tapi pikiran itu diusirnya jauh-jauh ketika dia mengingat wajah ibunya yang meskipun nampak selalu tegar tapi dia tahu sangat rapuh, kadang wanita itu didapatinya menangis sendiri ketika dalam keadaan sedih. Begitu pula wajah ayah dan kakak-kakaknya yang begitu menyayanginya.
Melakukan kejahatan itu, tentu saja membahayakan keluarganya. Tidak perlu yang Mulia melakukannya, tapi gubernur Qian Lie akan melakukannya sendiri.
"Nyonya, turunlah..." Suara kasim Chen menyadarkan lamunan Xiao Yi.
Xiao Yi turun, di pinggir sebuah pos kecil di luar gerbang istana. Di situ telah tertambat tiga ekor kuda warna cokelat mengkilat.
"Silahkan naik keatas kuda, nyonya...pengawal Cun dan pengawal Xiu akan mengantarmu ketempat yang dituju" lanjut kasim Chen.
Mata Xiao Yi menyapu tempat itu seperti mencari sesuatu,
"Selir Yuan dimana?" tanya Xiao Yi kepada Kasim Chen.
"Dia belum tiba?"tanyanya lagi ketika dilihatnya wajah kasim chen mengerut seperti bingung.
"Bukankah dia dihukum bersama-sama denganku?"
"Mungkin Nyonya selir Yuan di hukum secara terpisah" Jawab kasim Chen asal.
Xiao Yi menaikkan alisnya masih belum puas dengan jawaban kasim Chen. Tapi dia berharap dalam hati hukuman selir Yuan tidak akan terlalu berat diberikan. Gadis malang itu, baru mendengar kata hukuman saja sudah ketakutan setengah mati. Apalagi Jika di hukum dengan berat.
Diam-diam dalam hati Xiao Yi berjanji, dia akan berusaha memohon pengampunan untuk selir Yuan jika bertemu dengan Yang Mulia Yan Yue hari ini.
"Segera lah berangkat nyonya, sebelum hari menjadi terlalu siang" Kasim Chen melepas ikatan kuda dari tiang pos kecil itu.
Xiao Yi melompat keatas kudanya, untunglah gaun yang dikirim Yang Mulia ini, bagian dalam bawahan longgarnya itu adalah celana panjang semata kaki sehingga tidak kesulitan untuk menunggangi seekor kuda.
Seorang pengawal menarik kekang kudanya lebih dahulu, di ikuti Xiao Yi dan pengawal lainnya di belakang gadis itu.
Tidak berapa lama, mereka tiba di tengah pemukiman kota yang mulai ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Kota Yubei memang selalu ramai dan begitu hidup meskipun di pagi hari seperti ini.
Senyum Xiao Yi merekah, betapa menyenangkan menghirup udara kota yang begitu segar dan nyaman ini.
Pengawal di depan memberi isyarat untuk berhenti di depan sebuah kedai makan, yang sepertinya baru saja buka.
"Nyonya, kita akan sarapan pagi di sini, sebelum melanjutkan perjalanan" Kata Pengawal Cun sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh hormat.
Xiao Yi menyambut ide itu dengan wajah riang, telah lama dia tidak merasakan masakan di luar istana, tentulah pasti lebih enak dan kaya cita rasa dibanding dengan makanan yang di sajikan oleh dapur istana.
Pengawal Cun membawa Xiao Yi Masuk ke dalam kedai. Baru saja melangkah melewati pintu, seseorang telah menarik tangannya membuat tubuhnya melayang dan hampir terjengkang.
Tangan kekar itu dengan sigap memeluk pinggangnya.
"Ternyata tubuhmu lebih ringan dari kapas, seharusnya seorang selir tidak sekurus ini..."
...Hai, sahabat-sahabatku,...
...readers "Selir Persembahan" yang tersayang....
...Kalau UP dua episode sekaligus setiap hari setuju gak ya?...
...Tolong jawab di kolom komentar ya......
...Jangan lupa jejak like nya yang sudah baca, untuk semangat author menulis lagi💪...
...🤗🥰❤️🥰🤗...