"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengajuan Proposal.
Semalaman Kiara tak bisa tidur karena berpikir keras untuk membuat proposal yang menarik minat Kaisar Julian sang CEO di tempatnya bekerja.
“Kira-kira apa ya, yang membuat Pak Kaisar mau menerima proposal dan lamaranku?” gumam Kiara.
Saat sedang berkonsentrasi menulis proposal, tiba-tiba Kiara di kejutkan oleh suara mobil yang parkir di halaman rumahnya.
“Pasti si kutu kupret!” kesal Kiara. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara lelaki yang sangat Kiara benci, menggema di rumah mungilnya.
“Om ku itu menyebalkan sekali!” kesal Fero sambil menghempaskan bokongnya di sofa ruang TV. Dia sudah menganggap rumah Kiara seperti rumahnya sendiri, sehingga tak perlu meminta ijin untuk masuk ke ruang TV atau bahkan ke kamar Mona.
“Kenapa sih, Sayang?” tanya Mona dengan manja.
Kiara mendekat ke arah lubang loteng untuk tangga yang menyambung ke ruang TV, dia mengintip sekedar ingin tau obrolan Fero karena tadi dia mendengar Fero menyebut ‘Om’nya yang berarti adalah Kaisar.
“Aku minta di belikan mobil baru, yang lebih besar. Tapi dia menolak!” ketus Fero.
“Padahal uangnya banyak! Kenapa dia pelit sekali sih!” lanjutnya.
“Sabar yank, mungkin waktunya saja yang belum tepat. Coba kamu ulang lagi saat Om kamu itu sedang happy. Dia pasti mau belikan apapun yang kamu mau,” ucap Mona menyarankan sambil tangannya menggelanyut manja di bahu kekar Fero.
“Om-ku itu nggak pernah happy! Tertawa aja nggak pernah! Susah emang kalau laki-laki nggak tertarik sama perempuan! Sifatnya jadi kaku!”
Mona menatap Fero dengan penuh rasa penasaran, “memangnya Om-mu… gay? Kok nggak tertarik sama perempuan?” Tanya Mona penasaran.
Fero mengedikkan bahunya, “Siapa yang tahu? Mungkin saja! Soalnya selama sepuluh tahun ini aku nggak pernah lihat dia jalan sama perempuan. Kalau ke club juga nggak pernah nyewa cewek buat nemenin dia. Entahlah, mungkin dia mau melajang seumur hidup!”
“Serius? Jangan-jangan Om-mu itu beneran gay? Astaga sayang sekali, padahal dia ganteng banget,” ucap Mona sambil mendesah.
“Apa kau bilang!” Fero menarik Mona ke dalam pelukannya, “coba bilang sekali lagi!” kesalnya sambil meremas salah satu bukit padat sebesar melon yang terus menggoda Fero sejak tadi.
“Aah! Sayang1 tangannya nakal iihh…” rintih Mona dengan manja.
“Siapa suruh kamu bilang Om-ku ganteng! Memangnya aku kurang ganteng buatmu? Huh?” geram Fero sambil dengan kasar mengeluarkan salah satu bukit kenyal itu dari sarangnya hingga tumpah keluar dari blouse mini yang di pake Mona.
“Aah! Sayang! Jangan di sini dong!” pekiknya lirih sambil menutup buah da*a nya yang terekspose itu.
“Ayo ke kamar,” pinta Fero lirih dengan mata yang sudah memerah karena tertutupi kabut gairah.
Mona tersenyum lalu bergegas menuju kamarnya dan menarik tangan Fero untuk mengikutinya.
Dari loteng, Kiara semakin geram melihat tingkah dua orang gila itu. Berani sekali dia berbuat mesum di rumahnya ini!
“Woy! Ke O*o sana! Modal dong jadi laki! Katanya kaya, tapi maunya gratisan aja Lu!” teriak Kiara sambil melempar sandal rumahnya ke arah pintu kamar Mona. Namun sepertinya mereka tengah tenggelam dalam lautan gairah sampai tak peduli pada keluhan Kiara.
“Emangnya rumah gue hotel melati! Bikin dosa aja lu di rumah orang! Pergi sono!” kesal Kiara. Namun tiba-tiba Karina yang dari tadi ada di teras, masuk dan menatap tajam ke arah Kiara.
“Bisa diem nggak! Gue usir juga lu, lama-lama! Gangguin orang aja!" geramnya.
“Ini rumah aku! Rumah orang tuaku! Kalian lah yang harusnya pergi! Enak saja!” kesal Kiara tak mau mengalah.
“Lu!” Karina bergegas menaiki tangga loteng, namun dengan cepat Kiara menutup lobang loteng itu sehingga Ibu tirinya itu tak bisa masuk ke dalam ruang pribadi Kiara yang sangat sempit dan pengap.
Kiara mengepalkan tangannya, dia berjanji pada dirinya sendiri, dia harus bisa mendapatkan Kaisar! Agar bisa membalas kelakuan menjijikan Fero di rumahnya ini.
Tiba-tiba Kiara mendengar suara desahan Mona dan Fero yang bersahut-sahutan dan semakin naik pitam.
“Gila ya! benar-benar dunia mau kiamat! Mereka berbuat hina tanpa merasa malu sama sekali!” geram Kiara sambil memasang headset di telinganya agar suara-suara menjijikan itu tak terdengar lagi.
“Semoga Ayah sudah tidur, supaya nggak dengar suara menjijikan ini,” lirih Kiara sambil menghela napas.
…
Pagi ini, Kiara sudah menyiapkan proposal yang akan dia berikan pada bosnya.
Dengan jantung berdebar kencang, Kiara sengaja menunggu kedatangan sang bos di lobi.
“Sepertinya Pak Kaisar belum datang,” lirih Kiara sambil menatap jam tangan murah yang melingkar di lengan kirinya.
Saat sedang merasa gugup menunggu kehadiran sang bos, Kiara malah jadi kesal karena berpapasan dengan pasangan mesum yang semalam membuatnya tak bisa tidur karena terlalu berisik. Dan herannya lagi, mereka malah terlihat sangat bugar di pagi hari ini. Padahal Kiara yang hanya mendengar suara desahan dan suara ranjang yang terus berdecit –malah nggak bisa tidur karena perutnya terasa sangat mual.
“Huh! Lagi gugup tambah badmood!’ geram Kiara. Kiara berusaha memalingkan wajah saat dua pasangan mesum itu melewati dirinya yang tengah berdiri seorang diri di tengah area lobi.
“Ngapain Lu? Kaya orang ilang aja!" celoteh Fero sambil menatap sinis ke arah Kiara.
“Bukan urusan Lu! Sana gih cepat pergi! Pengen muntah gue liat kalian berdua!” ketus Kiara.
“Jangan mentang-mentang Lu mantan gue, Lu berani kurang ajar sama gue! Gue laporin Om, bisa di pecat Lu! Tau nggak!” geram Fero sambil menatap tajam mata Kiara.
Bukannya takut, Kiara malah balas melototi Fero.
“Yank, sudah yuk. Kita ke kantor. Jangan di gubris cewek aneh itu!” ajak Mona sambil menarik tangan Fero.
“Awas Lu! Jangan macam-macam sama gue dan Kiara!” ancam Fero sebelum meninggalkan Kiara. Dengan sengaja Fero menabrakan bahunya ke bahu Kiara hingga Kiara terdorong ke belakang.
Kiara hanya mendengus kesal menatap kepergian dua manusia yang sangat dia benci itu.
“Aku pasti akan membalas kalian berdua!” geram Kiara lirih.
“Pak Kai! Stt ada Pak Kai!” gumam karyawan-karyawan yang sedang berada di Lobi.
Kiara yang mendengar, seketika merasa gugup. “Akhirnya dia datang…” lirihnya sambil menoleh dan menatap sosok tinggi besar yang sedang berjalan dengan gagahnya memasuki lobi.
Kaisar tampak sangat tampan dengan balutan jas berwarna charcoal grey dengan dalaman kemeja berwarna hitam. Celana kain warna hitamnya pun tampak menempel sempurna di kaki jenjang yang sangat panjang itu. Saat sedang tertegun pada ketampanan sang bos, Kiara dikejutkan karena tiba-tiba orang yang sedang dia amati itu menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Kiara, lalu memutar tubuhnya 45 derajat agar bisa berhadapan dengan wanita yang tampak bengong menatap dirinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Kaisar menatap Kiara sambil menaikkan sebelah alisnya. Matanya tertuju pada amplop coklat yang di pegang Kiara. “Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?” ucapnya dengan suara yang berat dan dalam.
“Sa- Saya ingin menyerahkan proposal…” ucap Kiara dengan tangan yang sedikit gemetar.
Terlihat samar, tapi Kiara melihat senyum tersungging di bibir tipis dan seksi itu.
“Ikut aku,” ucapnya singkat sambil berjalan, melanjutkan lagi langkahnya menuju lift.
“Ba-baik!” Kiara segera berjalan mengikuti bos tampannya itu, hingga mereka masuk ke dalam lift. Namun saat asisten Kaisar ingin ikut masuk, tiba-tiba Kaisar menahannya.
“Kau masuk lift selanjutnya saja!” ucapnya lebih seperti perintah bukan permintaan.
Kiara menelan salivanya, jantungnya berdebar makin kencang apalagi sekarang mereka hanya berdua saja di ruang sempit ini.
“Astaga, jantungku! Please berhenti berdetak, eh? Mati dong aku nanti!”
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣