Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGHILANG LELAH ERWIN
Di ruang kantornya yang pribadi, Erwin menatap sekeliling dengan rasa lega. Semua pekerjaan hari itu sudah selesai; berkas-berkas tersusun rapi di rak, dokumen yang harus ditandatangani sudah ditangani, dan layar komputernya sudah dimatikan. Meja kayu besar di depannya kini tampak bersih, hanya tersisa agenda harian dan beberapa alat tulis yang tertata rapi.
Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung di kursinya, lalu mulai merapikan tas dan jas hitam kantornya.
Dari jendela besar, sinar mentari sore hangat memasuki ruangan, menandai akhir hari yang produktif. Begitu ia hendak melangkah pergi menuju pintu, langkahnya mendadak terpaku.
Seorang wanita cantik, muda, dan anggun tiba-tiba melangkah masuk ke ruang pribadi Erwin tanpa permisi. Tubuhnya bergerak luwes di antara aura percaya dirinya yang terpancar dari setiap gerakannya. Setelah masuk, ia menutup pintu di belakangnya dengan tenang, bahkan memutar kunci di yang bergerak di bawahnya.
"Ma-Manda..." Lirih Erwin dengan rasa keterkejutannya. Bukan karena seseorang yang tiba-tiba masuk secara mendadak, melainkan cara wanita itu hadir dengan membawa kejutan.
Secangkir kopi dalam genggaman dengan balutan mini dress yang sederhana namun tetap memancarkan pesona dan keanggunan alami—potongan baju yang pas di tubuh idealnya, warna yang lembut, dan kain yang jatuh rapi menambah kesan elegan tanpa berlebihan.
Ya. Manda, mantan sekretaris Erwin—kini berjalan mendekat. Begitu mereka saling berhadapan, ia tersenyum sambil menyerahkan cup kopi yang sedari tadi ia bawa untuk Erwin. Pria yang tidak lagi ia segani, melainkan telah berhasil ia miliki.
Jemarinya sengaja menyentuh tangan Erwin sekilas. Namun, Erwin membalasnya lebih dari sekedar sentuhan. Ia meraih pinggul Manda, menariknya lebih dekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. "Tadinya aku akan datang ke rumahmu hari ini."
Manda, wanita yang usianya jauh lebih muda dari Erwin, melemparkan senyum tipis sementara jemarinya bergerak perlahan di garis dadanya. "Sayang..." Dengernya manja. "Sekali-kali... pacar kamu ini kasih kejutan gak apa-apa, kan?"
Erwin tersenyum sambil menyeruput kopinya pelan. Detik berikutnya, ia mengangguk. "Aku justru semangat lagi. Capek aku jadi hilang."
Manda tersenyum sipu. "Jadi... gimana, Mas? Salma gak curiga, pas kamu pulang sempat pulang kemarin?"
Erwin menggeleng sambil membelai lembut helai rambut Manda. Jarinya kemudian turun ke bahu Manda yang terbuka, mengusapnya lembut di antara kulitnya yang mulus tanpa cela. "Dia gak curiga apa-apa. Kamu gak usah mikirin dia, itu urusan aku sayang."
"Terus... kita jadi liburan dong besok lusa?"
"Iya sayang." Angguk Erwin. "Setelah aku mengambil kartu ATM ku yang tertinggal di rumah... kamu bebas pilih tempat liburan yang kamu mau."
Manda tersenyum sambil memegang kerah kemeja Erwin yang kini nampak kusut. "Makasih ya, sayang." Lirihnya lembut. "Dari dulu kamu gak pernah berubah."
"Andai waktu itu kamu gak pergi, sayang." Kata Erwin menatap penuh kekasihnya. "Tapi aku gak nyangka... pada akhirnya, takdir mempertemukan kita lagi."
Manda terdiam. Senyumnya perlahan memudar, berganti sorot mata yang lebih dalam. Tangannya yang tadi memegang kerah kemeja Erwin kini turun perlahan. “Sayang…” Suaranya bergetar. “Kamu bahagia sama dia?”
Erwin menghela napas panjang. Matanya beralih, menatap lantai sejenak sebelum kembali menatap Manda. “Aku menikahi Salma… bukan karena cinta,” Ujarnya lirih, jujur, tanpa berusaha membela diri. “Aku capek nunggu kamu. Aku marah. Aku kosong. Dan Salma ada di saat aku paling lemah.”
“M-maafin aku…” Lirih Manda dengan nada penuh kecewa. Bibirnya terkatup rapat, menahan getir yang memenuhi dadanya.
Belum sempat kata itu benar-benar mengendap di udara, Erwin sudah meraih wajah Manda. Pria itu menunduk, lalu menangkap bibir kekasih lamanya dengan bibirnya sendiri—sebuah ciuman yang sarat penyesalan, rindu, dan kesalahan yang tak pernah benar-benar selesai.
"Jangan di sini, sayang." Kata Manda.
"Kenapa?" Balas Erwin dengan nada setengah kecewa.
"Kalau di rumah, kita bebas. Aku akan memakai lingerie yang baru aku beli tadi siang. Kamu pasti suka." Jelas Manda.
Erwin tertawa kecil, garisnya setengah nakal sambil mencubit pucuk hidung kekasihnya. "Kamu selalu tahu cara untuk buat aku bahagia. Makasih ya, sayang."
****