Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Cerai
Lana menyadarinya. "Mas, kita mau ke mana?"
"Oh, ada tempat yang ingin ku kunjungi. Kamu ikut saja," ujar Fian cepat. Wajahnya tampak datar.
Tak lama mobil memasuki halaman sebuah gedung. Sebuah perguruan silat. Fian mematikan mesin mobilnya. "Ayo turun." Pria itu membawa Lana masuk ke dalam gedung.
"Sensei!"
Beberapa orang yang sedang latihan, seketika menoleh. Mereka kaget melihat kedatangan Fian. Seorang pria mendatangi Fian. Pria itu memakai baju sebuah perguruan silat dan tersenyum lebar ke arah Fian. "Akhirnya ...."
"Bagaimana?"
"Sejauh ini lancar." Pria itu menyenggol lengan Fian. "Bagaimana kesehatanmu?" Ia memperhatikan Fian dari ujung rambut hingga ujung sepatu. "Sepertinya badanmu sudah fit lagi. Apa kamu mau mengajar lagi?"
"Tentu saja. Biar badan terus bugar."
Lana terkejut. "Jadi dia guru silat? Apa ini? Karate?"
"Eh, itu siapa?" Pria itu bertanya pada Fian.
Fian menoleh. "Oh, istriku."
"Istri?" Pria itu tampak bingung. "Bukankah istrimu ...."
"Ini istriku juga. Kenalkan. Lana."
Lana maju ke depan menganggukkan kepala. Ketika ia ingin menyambut tangan yang disodorkan pria itu, Fian malah menarik tangan istrinya dan menggenggamnya. Lana tampak bingung, begitu juga pria itu.
"Yudha, buatkan saja jadwalku seperti biasa. Kau mengerti 'kan?" Fian bicara dengan santai.
"Oh, iya."
"Kalau begitu, nanti tolong kirim jadwalnya ya."
"Eh, iya, Senpai."
"Ok, aku pergi dulu." Fian langsung menarik Lana bersamanya.
Yudha hanya melihat saja. Ia sebenarnya terkejut karena setahu dirinya Fian menikah dengan model terkenal, Lynda La Lune. Lalu, siapa wanita yang dibawanya sekarang ini? Istri keduanyakah? Istri pertamanya saja tidak pernah dibawa ke tempat ini, tapi kenapa wanita ini malah dibawa ke sini? Ia yakin wanita ini pasti punya tempat istimewa di hati Fian karena menyentuh tangannya saja dilarang.
Saat masuk ke mobil, Fian tak langsung menghidupkan mesin mobil. Ia melirik Lana di samping dengan pandangan sebal. "Kalau dibiarkan, lama-lama dia juga akan selingkuh. Aku tak boleh kecolongan lagi." "Apa kamu diluar selalu begitu?" Pria itu memperlihatkan wajah dinginnya.
"Mmh?" Lana menoleh dan menatap wajah suaminya. "Apa maksud Mas dengan, 'selalu begitu'?"
"Dengan gampangnya akrab dengan pria."
"Apa? Akrab?" Lana tampak bingung.
"Jangan pura-pura deh. Ngapain kamu nyodorin tanganmu ke juniorku tadi?"
"Ha? Maksud Mas apa sih? Kan Mas sendiri yang kenalin aku sama staf tadi." Lana jadi tidak mengerti maksud dari kemarahan Fian.
"Alah, jangan pura-pura deh! Kamu senang 'kan ketemu Robby dan Yudha tadi?"
Lana kaget mendengar tuduhan suaminya. "Ya Allah, Mas. Kan Mas sendiri yang bawa aku ke sana kemari, kenapa sekarang Mas yang marah? Kalo Mas gak mau aku ketemu orang ya ... seharusnya Mas gak ngajak aku dari awal, iya 'kan?" Ia gemas juga melihat kemarahan suaminya yang tanpa dasar, seakan sang suami sengaja mencari-cari kesalahannya. Padahal ia tidak berbuat yang aneh-aneh.
Fian tampak kesal, tapi tak diteruskan. Ia menyalakan mesin dan kemudian mengendarai mobil itu pulang.
***
Fian terkejut melihat Lana yang baru keluar dari kamar mandi, langsung pergi ke sofa dan berbaring di sana. Ia terduduk karena kesal. "Kenapa kamu di sana? Sudah malam. Ayo, tidur."
"Aku tidur di sini saja."
"Apa?" Wajah Fian tampak kesal. "Apa maksudmu tidur di sofa?"
"Kan Mas bisa ambil minum sendiri, iya 'kan?"
"Lalu, kenapa kamu tidur di sana?"
"Bukankah harusnya gitu?"
"Apa?" Fian makin dongkol saja. "Jangan aneh-aneh deh! Ayo, cepat ke sini!" Suaranya makin meninggi.
"Aku tidak mau. Nanti dianggap aku cari-cari kesempatan, lagi." Lana berkeras. Mulutnya mengerucut sambil tangannya memainkan karet rambut.
"Ada apa lagi ini? Apa dia ngambek karena aku marahi tadi?" "Tidak akan. Kan biasanya juga kamu tidur di sampingku. Tidak ada aneh-aneh yang terjadi. Ayo, jangan bikin aku kesal deh! Aku mau tidur, ini!" Pria tampan itu mulai menurunkan nada suaranya.
"Tidur aja. Kan gak ada masalah."
Dahi Fian berkerut. "Lana! Ke sini! Ini perintah!"
Lana melirik suami otoriternya dengan mulut masih mengerucut. Dengan malas ia berdiri dan menghampiri sang suami.
Baru saja naik ke ranjang, tiba-tiba pria itu menarik tangan Lana hingga wanita itu jatuh ke pelukannya. "Ah!"
"Ingat. Jangan lagi-lagi bikin aku kesal." Fian berusaha menahan emosi. Pikiran warasnya menahannya karena takut wanita itu pergi. Iya. Entah kenapa.
"Iyaa ...." Lana bergeser dan berbaring di tempatnya. Baru saja ia merapikan selimut, terdengar dering di ponselnya. Ada pesan masuk. Lana mengambilnya di meja nakas dan membacanya.
'Lana, apa aku bisa minta tolong agar salah satu dari kami tidak dipecat?'
"Siapa itu?" Fian tidak hanya bertanya tapi juga merampasnya dari tangan Lana. Ia kaget melihat siapa yang mengirim pesan. "Robby lagi ... apa kamu sering berhubungan dengannya di belakangku, hah!?" Ia menatap istrinya dengan mata penuh amarah.
"Lho, kenapa sih Mas dari tadi nuduh terus? Coba cek sendiri, apa aku sering berhubungan dengan Robby?" Lana kesal, kenapa suaminya marah setiap melihat dan bertemu Robby.
Fian memeriksanya. Tidak ada jejak digital kecuali sebuah telepon yang tanggalnya sudah lama. Juga tidak ada pesan sebelum hari ini. "Kamu bisa saja mengirim pesan seperti sekarang dan jejak yang sebelumnya sudah dihapus!" Teorinya.
Lana hanya bisa menghela napas. Ia tidak bisa menjawab lagi karena sanggahannya masuk akal.
Terdengar lagi bunyi pesan masuk. Fian melihat pesan Robby berikutnya.
'Lana.'
"Brengssek ini orang!" Pria itu langsung menghubungi Robby.
Lana tampak cemas.
"Robby!! Berani-beraninya kamu menelepon istriku! Kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi siang, hah!? Apa kalian berdua ingin aku pecat!?"
"Eh, Pak. Jangan ... maafkan aku, Pak. Maafkan aku. Iya, nanti ... eh, besok akan kami berikan."
"Ya sudah. Masalah selesai!" Fian menutup telepon dan melemparnya ke kaki ranjang.
"Mas ... itu hapeku ...." ujar Lana mengulurkan tangan. Ia kemudian mengambil ponselnya yang jatuh di dekat kakinya.
"Awas, sekali lagi kamu berhubungan dengan dia!" Fian membaringkan tubuh membelakangi istrinya dengan menarik selimut dengan kasar.
Lana cemberut. "Kenapa sih marah-marah? Kamu sudah gak butuh aku lagi 'kan, karena udah sehat. Lagi, untuk apa marah-marah karena kita sebentar lagi juga akan cerai," ucapnya dengan wajah sedih.
Fian tertegun. Benar, ia sudah sehat. Sudah tidak ada alasan baginya untuk menahan Lana, tapi ia masih membutuhkan Lana untuk balas dendam dengan istrinya, Lynda. Namun, Lynda masih di Paris. Mungkin sibuk beradu peluh dengan selingkuhannya. Seketika tangan Fian mengepal mengingat itu. Ia akan membalas semua pengkhianatan Lynda, tapi bagaimana caranya?
Tiba-tiba sesuatu di bawahnya menegang. Sejak sembuh dan masih tidur di samping Lana, adik kecil itu bisa tiba-tiba menegang setiap tanpa sengaja kulitnya bersentuhan dengan kulit Lana. Ini membuat Fian bingung. Sebagai pria yang sehat, itu adalah hal yang wajar.
"Kenapa lagi begini, dia banyak tingkah? Hh ...." Fian merapatkan selimut. Pikirannya kembali menerawang ke kejadian barusan. Dirinya sudah sembuh, tapi ia tak ingin melepas Lana, tapi bagaimana caranya? "Ah, selama dia tak minta ...."
"Aku ingin cerai, Mas ...."
"Apa?"
"Aku tidak mau ...." Tiba-tiba Lana terkejut saat suaminya mendekat.
Pria itu memeluk tubuhnya dan mulai mencumbu lehernya.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp