“Hatiku juga terluka parah karena ini. Setiap detik kau hadir dalam pikiranku." ~Serena Wang
Serena adalah seorang mafia, pembunuh bayaran tanpa belas kasih. Sebuah kecelakaan, membuat Serena melupakan dunia gelap yang ia miliki.
Kehidupan Serena yang baru di mulai, sejak ia menikah dengan CEO muda bernama Daniel. Pernikahan karena perjodohan sangat sulit menimbulkan rasa cinta.
Tapi takdir berkata lain. Serena berhasil meluluhkan hati Daniel. Di waktu yang sama, saat pria masa lalunya kembali muncul.
Hingga akhirnya, Serena kembali mengingat semua memori yang telah hilang.
Akankah Serena meninggalkan Daniel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali
“Kenzo?” tanya Serena yang melihat keberadaan Kenzo tepat dipinggiran jalan. “Pak, hentikan mobilnya,” perintah Serena cepat.
“Baik, Nona.” Mobilpun dihentikan mengikuti perintah Serena. Dua mobil di belakang ikut berhenti. Beberapa pengawal juga turun dari mobil saat melihat Serena turun dari mobil.
“Nona, anda mau kemana. Sebaiknya anda kembali masuk ke dalam mobil. Ini sangat membahayakan diri anda, Nona.” Seorang pengawal mendekati Serena dan melarang Serena untuk pergi menjauhi mobil.
“Saya hanya ingin menemui teman saya.” Serena kembali melihat keberadaan Kenzo, namun sudah tidak ada seorangpun yang terlihat di tempat Kenzo berada.
“Tidak ada siapapun, Nona. Sebaiknya anda segera masuk, Nona,” paksa seorang pengawal
Tanpa bisa protes, Serena menurut untuk masuk kembali ke dalam mobil.
“Dimana dia, aku yakin itu Kenzo,” ucap Serena pelan dengan pandangan masih terus mencari.
Sementara itu, di balik pohon. Kenzo memperhatikan serena dari jarak jauh. Dia berlari untuk bersembunyi ketika melihat Serena dan pengawal S.G. Group ada di sana.
“Serena, apa yang dia lakukan di sini? Kenapa pengawal S.G. Group ada bersamanya. Aku harus mengikutinya.”
Kenzo melangkah cepat, menuju sebuah motor yang telah terparkir di pinggir jalan.
“Aku belum menceritakan tentang Kenzo kepada Daniel. Kenapa aku bisa sampai lupa. Tapi untuk apa juga aku menceritakannya. Bahkan dia tidak perduli aku mau kemana dan memiliki seorang pacar sekalipun.”
Serena terus bergumam pelan sendirian, entah apa saja yang ia katakan.
Hingga beberapa saat kemudian, Serena telah tiba di rumah sakit tempat Diva di rawat. Wanita itu turun dari dalam mobil lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit.
“Kalian juga mau ikut?” tanya Serena yang melihat para pengawal berbaris mengikutinya dari belakang.
“Maaf, Nona. Tapi ini sudah menjadi tanggung jawab kami untuk menjaga Nona." Sebuah kata penjelasan yang dilontarkan salah satu pengawal.
“Ini rumah sakit, aku akan baik-baik saja di dalam.” Serena menghentikan langkahnya, sebelum melanjutkan kalimatnya, “Tapi, terserah kalian saja.” Serena kembali melangkah masuk hingga semua orang memandangnya. Dikawal oleh beberapa orang pengawal, menunjukkan bahwa Serena bukanlah orang biasa.
“Apa kalian bisa berpencar?” ucap Serena kembali menghentikan langkahnya.
Melihat pengawal hanya diam tanpa ekspresi Serena hanya bisa berbalik, lalu melanjutkan perjalanannya lagi, “Daniel dan Mama memang sama saja. Mereka berdua sangat menyebalkan”.
Kini Serena telah tiba di depan kamar yang menjadi tempat Diva di rawat. Serena masuk dengan hati-hati ke dalam.
“Diva, apa kau sudah baikan?” tanya Serena pelan, saat melihat Diva terduduk dengan bersandar di sebuah bantal.
“Nona Serena, saya sudah mulai membaik, Nona,” ucap Diva yang masih dengan suara lemah.
“Hai Angel, apa kau tidak rewel tadi malam.” Serena mengambil Angel dari gendongan Luna.
“Dia anak yang baik, Nona. Angel sangat mengerti keadaan ibunya yang sedang sakit,” ucap Luna pelan, mengambil sebuah bangku untuk Serena duduk, “Silahkan, Nona”.
“Terima kasih, Luna”.
Tunggu, kenapa Nona sendirian masuk ke dalam, apa dia sendirian datang ke rumah sakit ini.
Diva berkata di dalam hati, sambil mencari-cari.
“Nona, apa anda sendirian ke sini?” tanya Diva yang mulai khawatir.
“Ya, aku sendirian masuk ke dalam kamar ini.”
Serena mengedipkan matanya sebelah kanan.
“Apa di luar ada satu pengawal yang menemani, Nona?” tanya Diva yang khawatir dengan keselamatan Serena.
“Satu?" jawab Serena menahan tawa, "Bahkan ada beberapa di luar sana, Diva. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku”.
Diva menarik napas lega, karena Serena tiba di rumah sakit dengan didampingi beberapa pengawal yang dapat melindunginya.
“Nona, siapa pria yang mendekati Nona waktu itu? Apa dia orang yang berniat jahat pada Nona?” tanya Diva lagi sambil mengingat kembali kejadian di taman. Masih terbayang jelas di dalam pikirannya, saat ada seorang pria yang mendekati Serena secara tiba-tiba.
“Pria? Oh, itu Kenzo,” ucap Serena singkat
“Kenzo? Apa dia teman Nona? Apa dia tidak menyakiti Nona?”
Diva yang penasaran terus memberi pertanyaan kepada Serena, bahkan melupakan status dirinya yang hanya seorang pelayan. Dia lebih mengkhawatirkan Serena seperti sahabat terbaiknya.
“Hei, sudah kubilang jangan terlalu mengkhawatirkanku seperti itu.” Serena berdiri dan memberikan Angel yang telah tertidur kepada Luna.
“Maafkan saya, Nona. Saya sudah sangat lancang,” ucap Diva sambil menundukkan kepala merasa bersalah.
“Diva, kenapa sekarang kau jadi merasa sedih seperti itu. Baiklah, aku akan jelaskan semuanya”, ucap Serena membuka cerita tentang kejadian penembakan di taman semalam, “Kenzo pria yang menolongku untuk menghindari penembak itu. Tetapi aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya waktu itu.” Mengakhiri ceritanya.
“Dia pria baik, Nona. Tuan Kenzo bahkan mau menolong Nona, sebelum ia mengenal Nona,” puji Diva saat mendengar penjelasan Serena dalam peristiwa penembakan itu.
“Ya, kau benar. Dia terlihat begitu mengkhawatirkan aku.”
“Nona, apa anda sudah makan siang. Luna akan membelikan makanan untuk anda,” ucap Diva penuh senyuman.
“Jangan Diva, aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Tidak, Nona. Saya akan sangat senang jika Nona mau menerima pemberian saya.”
“Baiklah, jika kau memaksa. Tapi aku harus menelepon Daniel agar ia tahu kalau aku akan pulang terlambat,” Serena berdiri dan keluar dari ruangan tempat Diva di rawat.
Di depan kamar. Serena lagi-lagi disambut dengan beberapa pengawal yang bertugas menjaganya.
“Maaf, Nona. Apa anda sudah selesai?” ucap seorang pengawal yang berdiri tegak di depan pintu kamar Diva.
“Aku hanya ingin menelepon Daniel, setelah itu akan masuk lagi.” Serena berjalan ke arah toilet. Wanita itu ingin mencuci mukanya di dalam kamar mandi.
Langkah Serena terhenti, saat melihat dua orang pengawal mengikuti langkahnya.
“Apa kalian juga akan mengawasiku di toilet? Berhenti di sini atau akan aku laporkan pada Mama.”
Kalimat ancaman Serena memang cukup berhasil siang itu. Semua pengawal itu menghentikkan langkahnya dan memilih untuk menunggu Serena di tempat mereka berdiri saat ini.
Ternyata mereka takut dengan Mama, kenapa tidak dari tadi saja aku gunakan nama Mama
Serena tersenyum penuh kemenangan.
Belum sempat masuk ke dalam toilet, Serena dikagetkan dengan kedatangan Kenzo. Serena berhenti melangkah masuk dan menunggu kehadiran Kenzo yang terlihat melangkah mendekatinya.
“Kenzo? Kau ada disini?” tanya Serena penuh bahagia, karena sosok yang baru saja ia harapkan kehadirannya kini ada di depan matanya.
“Aku pernah bilang padamu Serena. Kalau aku pasti akan menemuimu,” jawab Kenzo santai.
“Darimana kau tahu, jika aku berada di sini?”.
“Tentu saja mudah, karena di sini Diva di rawat. Dan pasti kau akan kesini untuk menemuinya.” Kenzo mengacak rambut Serena.
“Kenzo, aku ingin mengucapkan terima kasih. Karena kau sudah menyelamatkan nyawaku semalam.”
“Kau akan menyesal karena sudah mengatakan itu Serena.” Kenzo mengukir senyuman manis.
“Menyesal?” ucap Serena mulai bingung.
“Ayok kita pergi dari sini, aku ingin membawamu ke suatu tempat.” Kenzo menarik tangan Serena.
“Tapi, Kenzo tunggu.”
Serena melepas paksa tangannya dari genggaman Kenzo.
“Bukannya kau bilang ingin berterima kasih? Ayo temani aku ke suatu tempat.”
“Lalu bagaimana dengan pengawal-pengawal itu?” Serena menatap ke arah pengawal yang tidak menyadari kepergian Serena.
“Ayo, ikut denganku dan semua akan baik-baik saja. Mereka tidak akan mengetahui jika kau sudah bersamaku.” Kenzo kembali menarik tangan Serena.
“Baiklah, kau harus mengembalikanku pulang ke rumah sebelum malam tiba,” ancam Serena.
“Baik, Tuan Putri.” Kenzo kembali mempercepat langkahnya.
Kenzo membawa Serena ke arah parkiran motor. Serena yang mulai bingung hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Kenzo. Semua ini ia lakukan sebagai balasan atas kebaikan yang telah Kenzo lakukan untuknya.
“Apa kau tidak keberatan jika aku hanya bisa membawamu dengan menggunakan motor yang ku punya Serena.”
“Tidak Kenzo, aku sudah terbiasa menaiki Sepeda motor waktu Papa masih ada.” Serena kembali mengingat memori bahagia yang ia lewati bersama Tuan Wang.
“Baiklah, ini bukan saatnya untuk berlama-lama. Atau mereka akan menemukan kita,” ucap Kenzo sambil memberikan sebuah helm kepada Serena.
Tanpa menjawab perkataan Kenzo, serena menerima helm itu dan memakainya.
“Kita mau kemana Kenzo?” tanya Serena yang masih penasaran dengan ajakan Kenzo.
“Kau tenang saja Serena, aku akan membawamu ke tempat yang sangat indah.”
“Baiklah, awas saja jika kau berani macam-macam Kenzo,” ancam Serena lagi.
Kenzo terus melajukan motornya menuju sebuah tempat yang menjadi tempat favorit baginya.
“Kenzo, kenapa kau membawaku ke sini?” mata Serena masih tidak percaya saat melihat sebuah tempat yang selama ini ingin ia kunjungi ada dihadapannya.
cerita gak pernah bikin bosen
bahkan bab yg mengandung bawang tetep bikin nangis meski sudah di baca berkali2
saking bagus nya novel ini
tak bisa move on