Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Di Pilih
Sore datang tanpa pengumuman tidak ada hujan deras atau matahari terbenam yang dramatis. Langit Jakarta hanya berubah warna perlahan—abu kemerahan yang pekat, membuat lampu-lalan menyala lebih awal. Kota ini bersiap menutup hari, tak peduli siapa yang belum siap ditinggal sendirian.
Andi berdiri di balik jendela ruang kerjanya, tangan menyentuh kaca yang dingin. Gedung-gedung di seberang tampak seperti barisan orang asing, acuh pada yang terjadi di balik jendela mereka. Dasi telah ia lepas dan letakkan sembarangan di meja bersama tumpukan kertas yang belum selesai. Kancing kemejanya terbuka satu, memberinya ruang untuk bernapas lega—untuk pertama kalinya sejak pagi, ia benar-benar berhenti.
Ia hanya berdiri, menatap pantulan samar wajahnya: seorang lelaki dewasa dengan alis berkerut dan garis halus di sekitar mata. Terlihat utuh dari luar, bagai patung yang kokoh. Namun di dalam, ada ruang yang sengaja dikosongkan, menunggu diisi sesuatu yang lebih nyata.
Pikirannya yang selalu berpacu, kini berhenti pada satu titik: kehilangan yang ia pilih sendiri.Baru sore ini ia benar-benar merasakannya. Tidak ada langkah ringan membuka pintu, dikamar kos yang kecil, senyum manis yang tulus menarik kursi dan aroma kopi instan yang dulu ia anggap sepele, namun kini terasa seperti bagian hidupnya yang hilang.
Selama ini ia mengira semuanya hanya bagian dari kontrak kerja. Padahal, tanpa disadari, itu telah menjadi ritme harian yang membuatnya terbiasa akan sentuhan sederhana tapi bermakna.
Ponselnya tergeletak di meja, layarnya gelap. Tak ada notifikasi berkedip, getaran yang memecah kesunyian. Kali ini, Andi tidak mengeceknya berulang seperti biasa. Tak ada harapan kecil yang ia sangkal diam-diam.
Ia tahu—dan untuk pertama kalinya menerimanya sepenuh hati: beberapa jarak harus dibiarkan menjadi jarak. Karena jika ia terlalu peduli untuk memaksakan kedekatan bisa merusak semua yang telah dibangun dengan susah payah dan kejujuran.
Jarinya mengetik satu kalimat yang terasa lebih berat dari segala kontrak yang pernah ia tanda tangani: “Nay… lu dimana? Gue kangen, benar benar kangen."
Pesan itu tinggal di kotak penyimpanan, tak pernah terkirim.
\=\=\=
Di halte bus tak jauh dari kos lamanya, Nayla berdiri dengan tas kecil di bahu, Isinya hanya beberapa baju ganti, buku catatan, dan botol mineral air yang hampir habis. Cukup untuk membawanya berpindah dalam kota yang sama. Ia tidak pergi jauh—hanya menjauh dari kebiasaan, dari rute yang terlalu sering ia lalui bersama seseorang yang tak lagi boleh ia dekati dan cintai.
Angin sore menyibak ujung rambutnya. Ia merapatkan jaket tipis warnanya mulai pudar, matanya menatap jalanan yang semakin ramai. Dunia terus bergerak, tak peduli pada yang ia rasakan atau pilihan hidup
Hari ini, Gadis berwajah lembut itu menyadari satu hal perasaan tidak selalu datang untuk dimenangkan tapi diperjuangkan.
Terkadang ia hanya datang untuk dikenali, diakui tanpa dipaksakan ke dalam bentuk yang diinginkan. Lalu dilepas dengan lembut, sebelum berubah menjadi beban bukan untuk dirinya tapi orang lain.
Ia tidak marah tidak juga menyesali semua yang terjadi. Ada sedih, tentu—tapi rasa sedih yang menggenang, tanpa tumpah karena ia mengerti apa yang harus dilakukan.
Bus datang dengan desis pelan. Pintu terbuka. Nayla naik tanpa menoleh ke belakang tak ada yang ingin ia lihat atau ucapkan karena ia tahu beberapa perpisahan tak membutuhkan tatapan terakhir yang bisa menggoncang keputusan.
\=\=\=
Malam itu, Andi pulang lebih cepat dari kantor, ia menyelinap sebelum Dio datang menanyakan hal penting menurutnya harus disimpan dulu.
Apartemen menyambut dengan kebisuan yang akrab—terlalu rapi, terlalu sempurna, seperti ruang transit pesawat. Ia duduk di sofa tanpa menyalakan televisi atau musik lembut. Sunyi menyebar ke setiap sudut ruangan juga hatinya.
Ia akhirnya membuka laptop bukan untuk bekerja hanya membuka file file lama.
Folder terbuka, menampilkan foto-foto masa SMA. Wajah-wajah tertawa tanpa beban, tanpa pikiran tentang kontrak atau konsekuensi yang akan di tanggung.
Ia berhenti pada satu foto, dirinya sendiri—masa remaja. Senyum terbuka, mata cerah, belum belajar berhitung terlalu jauh sebelum melangkah. Anak lelaki yang memilih hanya karena ia menginginkannya.
Dadanya sesak sejenak karena pengakuan yang terlambat—bahwa ia sudah lama tak mengenali dirinya sendiri dalam foto itu.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya jujur pada dirinya "kapan terakhir kali aku memilih sesuatu hanya karena itu benar untuk diriku, tanpa takut kehilangan segalanya?
Pertanyaan itu menggantung di udara sepanjang malam tanpa memaksa jawaban, hanya ingin diakui.
Di kamar kos baru, Nayla duduk di tepi ranjang.Tempat ini lebih kecil dan sederhana, tapi jendelanya menghadap langsung ke langit—sepetak langit yang utuh dan luas.
Ia meletakkan ponsel di samping bantal. Tak membuka aplikasi chat, tak menghapus riwayat percakapan. Semua yang perlu dikatakan telah diucapkan dengan jelas malam itu. Sisanya adalah kejujuran yang harus dijalani masing-masing.
Ia tak menyesali pilihannya untuk menjauh.
Karena ia tahu:cinta yang meminta pengorbanan prinsip, impian, atau martabat—bukan cinta yang ingin ia pertahankan selamanya.
Ia ingin mencintai dengan cara yang membuatnya merasa lengkap.Tanpa harus menghapus dirinya sendiri pelan-pelan.
Nayla berbaring, menatap langit-langit yang polos tidurnya datang tanpa kecemasan.
Dan malam itu, di dua tempat yang dipisahkan jarak pilihan mereka,
dua orang dewasa belajar hal yang sama—tanpa perlu berpesan bahwa mencintai tidak selalu berarti harus bersama setiap hari, menjaga diri sendiri adalah bentuk peduli yang lain.
Hanya berarti…saatnya belum tiba sekarang. Dan mungkin—ini hanya jeda, menunggu waktu yang lebih jujur, ketika semuanya bisa dimulai kembali dengan cara yang seharusnya.