Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILLOW TALK
Bellinda menghapus airmata yang meleleh di kedua pipinya. Mendadak Bellinda ingat kehangatan dalam keluarganya sebelum sang papa dan sang mama meninggal. Bellinda merindukan semuanya, termasuk juga Clarissa. Sejak perseteruan dirinya dengan Clarissa, Bellinda hampir tidak pernah lagi menghubungi adiknya itu. Meskipun diam-diam Bellinda masih mengawasi Clarissa selama gadis itu ada di Paris.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam saat pintu kamar dibuka sedikit dari luar. Terlihat Devan yang menyelinap masuk ke kamar Bellinda.
Bellinda yang memang belum tidur, segera menghapus sisa airmata di wajahnya dengan kasar, sebelum berbalik dan membelakangi pintu masuk.
"Bell, kau sudah tidur?" Tanya Devan hati-hati.
Ada setengah bagian ranjang Bellinda yang kosong, namun Devan merasa ragu untuk menempatinya. Apakah itu memang untuk Devan?
Belum ada jawaban dari Bellinda. Mungkinkah gadis itu memang sudah tidur?
Devan masih berdiri di tempatnya semula. Pria itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang cukup luas tersebut. Mencari-cari barangkali ada tempat yang pas untuknya tidur selain di atas ranjang.
Namun sepertinya tidak ada.
Bellinda membalik tubuhnya dan kini menghadap ke arah Devan yang masih mematung.
"Kau sedang apa di situ?" Tanya Bellinda sedikit galak.
Devan mengendikkan bahunya,
"Apa aku boleh menumpang tidur di atas ranjangmu malam ini, Nona Bellinda?" Tanya Devan dengan nada berlebihan.
Bellinda memutar bola matanya.
"Memangnya kau mau tidur dimana? Kalau bukan di atas ranjangku?" Sahut Bellinda ketus.
Devan menghela nafas sebelum akhirnya pria itu duduk lalu merebahkan dirinya di samping Bellinda.
"Kau akan jatuh, kalau tidur terlalu di pinggir begitu!" Omel Bellinda yang melihat posisi Devan terlalu ke pinggir. Sepertinya setengah badan pria itu tidak berada di tempat yang pas.
Devan menggeser posisinya agak ke tengah.
"Apa aku perlu mengikat kedua tangan dan kakiku agar tidak berkelana kemana-mana?" Kelakar Devan yang kini menatap langit-langit kamar Bellinda.
"Masih ada jarak yang cukup luas di antara kita, jadi tidak perlu berharap kau akan bisa menyentuhku malam ini," jawab Bellinda yang masih berbaring miring menghadap ke arah Devan.
Nona direktur itu memperhatikan dengan seksama wajah Devan.
Meskipun bukan seorang pria kaya, namun wajah Devan terlihat terawat. Wajah persegi dengan tulang pipi yang tegas dan hidung yang sedikit mancung, membuat siapapun yang baru bertemu dengannya pasti akan menyangka jika pria ini adalah seorang tuan direktur juga.
Devan menoleh sekilas ke arah Bellinda yang masih menghadap ke arahnya dan menatapnya dengan lekat.
"Eheeem!" Devan berdehem kaku. Detak jantungnya terasa lebih cepat dari yang seharusnya.
"Kenapa kau terus saja menghadap ke arahku sedari tadi?" Tanya Devan yang kembali melempar pandangannya ke langit-langit kamar.
"Aku hanya sedang mengawasimu, agar tidak berbuat macam-macam malam ini," jawab Bellinda dengan nada datar.
Devan terkekeh,
"Apa kau akan terus terjaga dan mengawasiku sepanjang malam?"
"Mungkin iya mungkin tidak," jawab Bellinda sekenanya.
Devan memiringkan tubuhnya dan kini wajahnya dan wajah Bellinda saling berhadapan. Mereka saling bertukar pandang.
"Tidurlah, Bell! Ini sudah larut," nasehat Devan lembut.
Bellinda tak menjawab dan masih menatap lekat ke arah Devan.
"Kau sudah berhasil menghubungi Riana?" Tanya Bellinda selanjutnya.
Devan menggeleng lemah,
"Nomornya masih tidak aktif,"
"Berapa lama kau dan Riana berpacaran?" Tanya Bellinda lagi yang tiba-tiba merasa penasaran.
Devan menarik nafas panjang, lalu mengangkat satu tangannya untuk ia gunakan sebagai tumpuan kepalanya. Masih menatap lekat ke arah wajah Bellinda, Devan mulai bercerita.
"Kami sudah berteman sejak kecil."
"Dan saat duduk di bangku SMA kami semakin dekat. Semua orang mrngira kami berpacaran, tapi aku selalu mawas diri tentang kedudukanku yang tidak pernah sepadan dengan Riana." Devan menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Aku tidak mengerti," sela Bellinda sebelum Devan kembali melanjutkan ceritanya.
"Riana adalah putri dari seorang juragan di kampung kami. Sangat jauh berbeda dari diriku yang hanya anak dari petani. Jadi sejak awal menjalin hubungan dengan Riana, aku sebenarnya tidak mau terlalu berharap," Devan kembali menghela nafas dan mengerjap.
"Tapi ternyata Riana menaruh perasaan yang sangat besar kepadaku. Riana intens mendekatiku bahkan membantuku dalam berbagai hal. Saat itu aku sedang menganggur, lalu Riana datang dan menyuruhku menjadi salah satu pekerja di toko milik saudaranya." Mengerjap lagi, sebelum pandangan Devan menerawang.
"Riana terus saja menbantuku dengan hal-hal kecil semacam itu, dan membuatku menjadi tak enak hati untuk tidak membalas cintanya." Devan menarik nafas panjang.
Bellinda masih setia menyimak dan mendengarkan cerita dari pria dihadapannya tersebut.
"Hingga suatu hari, Riana datang dan menangis padaku. Riana mengatakan kalau dirinya akan dijodohkan oleh anak dari seorang tuan tanah. Riana tidak mau dan terus membujukku agar aku melamarnya dan segera menikahinya."
"Dan kau langsung menurutinya?" Sela Bellinda menampilkan raut wajah tak percaya.
Devan menggeleng seraya tersenyum kecut,
"Tadinya aku menolak keinginan Riana itu karena aku sadar dengan kedudukanku tapi Riana terus saja menangis meraung-raung dan mengancam akan bunuh diri jika aku tak segera melamarnya," Devan kembali menghela nafas dengan berat.
"Gadis keras kepala," gumam Bellinda sebelum Devan melanjutkan ceritanya.
"Jadi aku memberanikan diri datang ke rumah Tuan Cokro untuk melamar Riana. Dan seperti dugaanku, Tuan Cokro langsung menolakku mentah-mentah." Devan kembali menerawang.
Ingatannya tentang penghinaan dan kata-kata pedas Tuan Cokro kembali berkelebat di benaknya.
"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Bellinda semakin penasaran. Nona direktur itu mengeratkan pelukannya pada guling yang ada di depannya. Netranya masih menatap lekat pada wajah teduh Devan.
"Riana kembali mengancam akan bunuh diri jika Tuan Cokro tak memberiku kesempatan."
"Aku melihat wajah putus asa Riana, lalu semua kebaikan Riana mendadak berkelebat di benakku saat itu. Jadi saat Tuan Cokro menantangku, aku dengan lantangnya mengatakan kalau aku akan bisa menjadi seorang wirausaha dalam waktu satu tahun."
"Dan detik selanjutnya aku merasa menyesal karena sudah mengatakan itu." Devan kembali tersenyum kecut.
Pria itu kembali tidur telentang dan menghadap langit-langit kamar. Kedua tangannya ditumpukan diatas dada.
"Jadi sebenarnya kau hanya ingin menyelamatkan Riana dari perjodohan itu karena merasa iba dan karena hutang budi?" Tebak Bellinda seraya menautkan kedua alisnya.
Devan mengusap wajahnya sendiri,
"Entahlah! Aku juga merasa bingung dengan perasaanku pada Riana," lirih Devan yang masih menatap ke langit-langit kamar.
"Kau akan langsung menikahi Riana saat pulang nanti?" Tanya Bellinda sekali lagi.
"Ya!" Jawab Devan seraya menoleh ke arah Bellinda.
Devan menatap lekat pada wajah nona direktur itu, berusaha menelisik apa ada raut kecemburuan di sana.
Tidak ada!
Tentu saja tidak ada.
Kenapa Devan sangat berharap Bellinda cemburu saat mendengar dirinya yang akan menikahi Riana?
Memangnya Devan siapa?
Hanya seorang suami bayaran dari nona direktur kaya.
Sesaat suasana hening.
Bellinda dan Devan masih saling bertukar pandang seolah sedang berbicara lewat tatapan mata.
.
.
.
Hmmm kira-kira adegan selanjutnya mereka ngapain?
Masih ada guling diantara mereka. 😅
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠