Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALTING
Bel berbunyi panjang menandai dimulainya jam istirahat, tapi bukan untuk bersantai. Sebaliknya, suara Salma terdengar tegas di seluruh kelas.
“Waktunya habis, silakan dikumpulkan ke depan! Ayo, cepat...!"
Secepat kilat, meja-meja yang tadi riuh dengan obrolan ringan dan tawa murid-murid berubah menjadi arena sibuk. Murid-murid merapikan kertas ulangan mereka, ada yang melipat rapi, ada pula yang buru-buru menulis nama di pojok lembar. Bahkan, ada satu dua murid yang mendesak meminta jawaban temannya.
"Putraaaa!" Pekik Salma, saat tahu salah satu murid yang di maksud.
Putra hanya menyengir tipis, kertas tugas di tangannya dilipat asal-asalan seolah urusan itu tidak terlalu penting baginya. Tanpa terburu-buru, ia bergerak kembali ke bangkunya, langkahnya santai di tengah riuhnya murid-murid yang keluar kelas. Sesampainya di bangku, ia merogoh sebuah kantung plastik dari bawah meja, matanya menyapu kelas dengan pandangan santai, memastikan semua murid telah keluar kelas kecuali dirinya.
Salma menatap Putra dengan mata setengah kesal, setengah heran. “Putra, ayo cepat kumpulin… kenapa kamu malah diem?!” Protesnya, suaranya terdengar agak tegang di tengah kelas yang mulai sepi.
Putra hanya menyengir ringan, kemudian mengangguk pelan. Dengan langkah santai tapi pasti, ia maju ke depan meja guru. Tangan kanannya menggenggam lembar ulangan yang sudah dilipat asal, tangan kirinya membawa keresek hitam itu. Saat berdiri di depan guru, ia membuka kereseknya sedikit dan berkata santai, “Ini kertas ulangannya, dan ini baju kemarin.” Suaranya datar, tapi ada nada cuek yang sulit diabaikan. "Maaf ya Bu, bajunya gak sempet aku cuci. Tapi masih wangi, kok."
"Jadi kamu nunggu yang lain keluar hanya karena ingin ngasih baju ini supaya anak-anak gak curiga?" Tebak Salma.
Putra menjentikkan jari. "Ibu emang cerdas!" Katanya.
Di saat yang sama, mata Putra tak lepas dari Salma. Hari ini, ia tampak berbeda—lebih cerah, lebih anggun, seolah setiap gerakan kecilnya memancarkan pesona yang sulit diabaikan. Rambutnya yang biasanya tergerai biasa saja kini jatuh dengan rapi, menutupi sedikit bahu, membuat wajahnya terlihat lebih lembut namun tegas. Matanya bersinar, bibirnya yang sedikit mengerucut saat menahan senyum membuat Putra seketika merasa jantungnya berdegup lebih cepat.
"Gak cuma cerdas... Ibu juga ternyata sehati denganku!" Celetuk Putra.
Sudah cukup. Batin Salma bergejolak. Hanya dengan tatapan Putra, tubuhnya terasa hangat dan jantungnya berdetak lebih cepat. Apalagi ketika mendengar celotehannya, entah mengapa, ada gemetar tipis merayap ke ujung jarinya, seolah setiap hela napasnya dikunci oleh perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Matanya menatap ke bawah, menahan senyum yang nyaris lepas. Tapi sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Terkejut, dan serius—ketika matanya mengunci kaki Putra, “Ka-kaki kamu… kenapa?”
Putra terkejut mendengar pertanyaan itu. Sejenak, pikirannya melayang, kembali ke pagi tadi, detik-detik ketika tubuhnya terbentur keras oleh mobil yang menabraknya. Ingatan itu masih segar. Seorang pria, suami Salma muncul bersama wanitanya.
Hatinya bergejolak, antara marah, prihatin, dan rasa ingin melindungi. Matanya sesaat memicing, bibirnya menutup rapat seakan mencoba menahan emosi yang ingin lepas. Tapi di sisi lain, ia menyadari tatapan Salma yang menunggu jawabannya, gemetar, penuh kecemasan. Semua itu membuat Putra menelan napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya menatap Salma dengan ekspresi yang lebih lembut, "Ah... ini. Jatuh, Bu." Jawabnya singkat. "Cuma luka kecil. Nanti juga sembuh."
"Luka kecil gimana?! Itu lumayan parah, ada darah kering. Kalau infeksi, gimana?!" Tandas Salma. Tak berhenti di situ, ia refleks menarik lengan Putra keluar kelas.
"I-Ibu mau bawa saya kemana?"
"UKS!" Jawab Salma sambil terus menuntun Putra ke tempat yang ia tuju.
"Yaaaa... kecewa!" Celetuk Putra dengan nada berpura-pura memelas, hingga membuat wanita itu berhenti dan berbalik.
"Kecewa kenapa?!" Tanya Salma mengernyitkan sebelah alisnya serius.
"Aku kira Ibu mau bawa aku ke KUA, taunya cuma UKS doang!" Tandas Putra sambil tertawa kecil, senyumnya cengengesan, dan sedikit menyindir tapi tetap ringan.
Salma menatap Putra sejenak, pipinya memerah tanpa sadar. Hatinya masih bergejolak, detak jantungnya terasa cepat, dan ucapan Putra itu membuatnya tersadar betapa dekatnya mereka dalam momen sederhana itu. Namun, ia mencoba menutupi rasa gemetar dan perasaannya yang campur aduk itu dengan menepuk pundak Putra dengan gerakan cepat, seolah kesal. Lalu, ia menarik lengan anak itu untuk kembali berjalan bersamanya.
Sementara, Putra, di sisi lain, merasakan campuran perasaan yang aneh—senang sekaligus prihatin. Senang karena bisa berada dekat dengan Salma, melihatnya tersenyum, merasakan kehangatan yang sederhana tapi menenangkan. Namun, hatinya juga ikut prihatin, karena wanita sebaik dan setulus Salma tidak pantas menghadapi kesulitan atau kekecewaan yang datang dari orang-orang di sekitarnya.
****