TAHAP REVISI.
Pria idaman seluruh wanita adalah, kaya dan tampan. Seluruh kehebatan itu ada dalam diri seorang Davin sang Trillioner tampan dengan sejuta karisma. Pengusaha muda terkaya di Dunia. Tidak ada apapun yang tak bisa ia dapatkan dalam genggamannya. Tak hanya di luar, di dalampun pria ini sangat-sangat menakutkan.
Namun apa yang terjadi jika seorang Davin, dibuat resah dan kebingungan oleh seorang gadis sekolah menengah yang pertama kali ia temui dan langsung menarik perhatiannya. Seorang gadis dengan surai rambutnya yang panjang, terurai dengan indah di tengah kerumunan siswa yang sedang tawuran.
Peringatan : percayalah kalian tidak akan bisa berhenti memikirkan cerita ini setelah kalian membacanya. 😏
SEGALA BENTUK PLAGIAT DILARANG MENDEKAT💣💥
Ayok mampir 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 - Hurt
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania berbaring di atas ranjangnya dengan pandangan kosong. Setelah dari perusahaan Dave, ia memutuskan untuk pergi ke rumah Sam, namun harapannya harus pupus karna Joe memaksanya dan para pengawal berjaga ketat di luar kamarnya. Bahkan makan malam yang diantarkan pelayan sama sekali belum ia sentuh.
Hatinya sakit setiap mengingat betapa bodohnya dia mempercayai semua sikap yang Dave berikan padanya. Ingin menangis, namun air matanya sudah terlanjur habis untuk menangis pria itu seharian ini.
Cklek.
Vania terdiam saat mendengar pintu terbuka. Entah kenapa Vania tau kalau yang memasuki kamarnya adalah Dave.
"Baby."
Vania muak mendengar suara Dave bahkan kata-kata Dave yang memanggilnya dengan begitu lembut.
"Jangan mendekat! Aku tidak sudi dekat denganmu." Ujar Vania marah. Air matanya sudah habis menangisi pria tersebut, jadi jangan harap ia akan menangis kali ini.
"Vania dengar!" Ucap Dave mulai menaikkan nadanya.
"Kau pikir aku ingin mendengarmu?" Tanya Vania dengan nada mencemooh. Bahkan ia sama sekali tak membalikkan tubuhnya menatap Dave.
"Lihat aku!" Titah Dave masih mencoba bersabar.
"Kau tidak pantas untuk kulihat lagi bajingan." Ujar Vania. Amarah Dave memuncak, lalu melangkah mendekati Vania dan menarik wanita tersebut dari tidurnya, alhasil Vania terduduk di atas ranjang.
"Jangan mengumpat!" Ujar Dave marah sambil meremas pergelangan Vania kuat, seakan mengancam wanita di depannya bahwa dia tidak cukup sabar saat ini.
"Kau sangat tidak pantas mengatakan hal itu." Ucap Vania menatap Dave tajam.
"Jangan memancing emosiku!"
"KALAU BEGITU PERGI DARI HADAPANKU SIALAN."
Plak..
Wajah Vania menoleh ke kanan dengan tamparan Dave di pipi kirinya. Vania berusaha untuk tidak mengeluarkan isakannya, namun matanya tetap saja memerah merasakan sakit di pipinya. Selama ini Dave lembut padanya, bahkan sangat jarang memainkan tangannya bila sedang marah.
Matanya memerah merasakan panas di pipi kirinya, namun ia lebih merasakan sakit di dadanya. Hatinya seakan diremas kuat, membuat ia tak sanggup untuk bernafas. Vania menatap Dave tajam dengan menahan segala kesedihannya, menekannya dalam-dalam agar ia tak menangis di depan pria bajingan ini.
"Sudah puas menamparku Tuan Revano?" Tanya Vania dengan nada bergetar menahan tangis. Matanya memancarkan kebencian pada pria dihapannya ini. Sedangkan Dave seakan tak percaya dengan tangannya yang melayang begitu mudah menampar kekasihnya.
"Aku muak melihat wajahmu yang seakan tak berdosa setelah aku memergokimu dengan kekasihmu yang lain. Aku benci melihat tanganmu yang menyentuh tubuhku. Aku benci mengingat aku mencium bibir pria bekas wanita lain yang berstatus masih sebagai kekasihku. Jadi jangan menyentuhku berengsek." Vania berteriak marah dan menghempaskan tangannya dari genggaman Dave.
Dave terdiam menatap Vania yang menatapnya dengan penuh kebencian. Vania bangkit dari atas ranjang, namun tangannya lagi-lagi dicekal oleh Dave.
"Jangan berani untuk pergi!" Ujar Dave dingin dan mencengkram kuat tangan Vania.
"Kau tidak punya hak, ini adalah hidupku." Ujar Vania kesal dan berontak untuk melepaskan cekalan Dave.
Vania tersentak saat tubuhnya terdorong ke tembok dan lehernya dicekik oleh Dave. Tanpa sadar Vania telah membangunkan iblis dalam tubuh Dave, iblis yang tak kenal ampun dan tak kenal menyerah.
Mata Vania memerah merasakan nafasnya yang tersengal seiring cekikan Dave yang semakin kuat. Tangannya meronta ingin melepaskan tangan Dave di lehernya. Tenggorokannya sakit dan wajahnya semakin pucat karna peredaran darahnya yang terhambat.
Vania menatap mata Dave yang memancarkan aura kematian. Kakinya meronta dan tangannya menggenggam lengan Dave yang mencekiknya. Paru-parunya menyempit karna ia tak bisa menghirup udara. Tenaganya semakin melemas, matanya semakin mengatup dan kakinya seakan mati rasa.
"Eghh..."
Dave melepas cekikannya dan tubuh Vania terjatuh begitu saja di atas lantai. Vania buru-buru mengirup udara sebanyak-banyaknya dan air mata jatuh begitu saja. Selain berengsek Dave bahkan tega ingin membunuhnya. Sedikit lagi Dave tidak melepasnya, maka dipastikan saat itu juga Vania menemui ajalnya.
Tubuh Vania terkulai lemas di atas lantai dengan nafas tersengal. Ia menarik nafas sedalam mungkin sambil terbatuk. Matanya memanas merasakan paru-parunya yang menyempit. Sakit di pipinya seakan tak cukup dan menambah ingin membunuhnya. Vania menoleh manatap tajam Dave yang berdiri dan menatapnya lekat.
"Pembunuh, berengsek, bajingan, sialan, iblis." Desis Vania dengan nafas tersengal.
"Sudah kukatakan jangan berani untuk pergi meninggalkan ku." Ucap Dave marah sambil menatap Vania tajam.
"Aku mau kita putus. Kau benar-benar pembunuh sialan." Ujar Vania marah dan tangisnya pecah saat itu juga. Dave merasakan nyawanya seakan dicabut begitu saja mendengar ucapan kekasihnya. Tubuhnya berdiri kaku dan menatap Vania dengan wajah terdiam.
"Jangan lupa kau telah dijual oleh ayahmu." Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut Dave dan berhasil membuat hati Vania semakin sakit. Air matanya keluar dengan deras dan tangisnya semakin kencang tak tertahan.
"Hiks....Hahhmh.. Aku membencimu Davin." Tidak ada lagi panggilan sayang 'Dave' untuknya. Davin sudah kehilangan Vania saat ini juga.
"Jangan pernah menunjukkan sikap penuh cintamu padaku. Bersikaplah seperti aku tak ada di rumah ini. Ayahku tak akan menjualku jika kau tidak membeliku bukan? Sejak awal aku yang bodoh menghadapi sifatmu yang hanya pura-pura. Aku bukan lagi kekasihmu. Layaknya benda yang kau beli dan bisa kau mainkan sepuasmu, bersikaplah seperti itu." Ucap Vania dengan air mata tak berbendung. Vania melepas cincin di jari manisnya, lalu melemparnya entah kemana.
Cling
Dave terdiam merasakan kesakitan yang sama. Mengapa ia bisa begitu bodoh membiarkan kekasihnya yang amat ia cintai menangis karna dirinya sendiri. Davin tak tau harus melakukan apa, ia memutuskan keluar dari kamar Vania, membiarkan mereka berdua untuk berfikiran jernih. Meninggalkan Vania yang masih tersungkur sambil menangis tersengguk-sengguk.
Bersambung....
Hay.. hay.. hay..
Kembali lagi, gimana part yang ini semoga kalian suka yah😘💕
Ihhh... abang dave kejam banget😩maunya dia diapain biar setimpal? 😏
Lihatlah kau dave, hidupmu tak akan tenang 😈😈
Jangan lupa share, like, dan komen.
bye.. 😘💕
Sebenarnya cerita ini udah dua hari yang lalu aku up cuman 2 hari setelahnya ini belum di acc sama pihak mangatoonnya, biasanya ku kirim malam jam 12 gitu, paginya udah dia acc tapi ini udah dua hari jadi aku bingung ada masalah apa?
Akhirnya aku refresh lagi deh cerita ini dan tambahin penjelasan yang baru ini, semoga cepat ter acc oleh pihak mangatoon.
bye lagi... 😘💕