Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Harsa-Sanessa
Sanessa... Mata wanita belasteran Tionghoa-Belanda itu seketika membola saat melihat siapa sosok yang berdiri di depan rumahnya. Menurut info dari pemuda di gang depan ada laki-laki yang menanyakan alamatnya. Hal yang membuat ia yang baru pulang kerja buru-buru memacu langkah agar cepat sampai ke rumah. Penasaran siapa yang mencari. Sebab, sudah lama sekali semenjak mereka terpuruk tak pernah ada seorang pun kerabat yang menyambangi.
“Bapak cari siapa?” Pertanyaan yang langsung ia lontarkan itu jelas terlalu buru-buru, bahkan tanpa kata permisi membuat ia ingin segera meralat ucapan karena merasa kurang sopan.
Namun, saat sosok laki-laki berkemeja itu menoleh. Ia mendadak terpaku.
“Ka--kamu ...?” Bibir wanita berusia 34 tahun itu mendadak kelu. Luka lama dan kenangan masa lalu yang coba ia kubur mendadak menyerbu, perasaannya jadi bergejolak tak menentu.
Dia ... Harsa ... Sosok yang masih Sanessa harapkan tak disangka muncul nyata dinhadapan, jauh-jauh mencarinya hingga ke sini.
“Kamu apa kabar, Ness?”
Suara favorit yang dahulu selalu membuatnya berdebar itu membuat air mata Sanessa menetes tak tertahankan kala ingatan tentang bagaimana mereka berpisah mulai terekam jelas di kepala.
Sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Mereka telah menjalin hubungan selama itu, bahkan mereka sudah pernah saling mengikat melalui sebuah pertunangan yang pada akhirnya kandas.
Sanessa akui ia salah. Masalah hidup yang tiba-tiba menjerat disertai rasa gengsi karena tak menerima kenyataan atas apa yang menimpa keluarganya membuat Sanessa ikut bertindak bodoh. Ia menyesal pernah memilih untuk mengakhiri semua dan sialnya Harsa malah lebih menggila dengan tak pernah lagi membujuk dan berusaha mempertahankan hubungan mereka.
Kabar yang paling membuatnya sakit adalah saat tahu Harsa telah menikah dengan wanita lain. Harsa lebih memilih menikahi perempuan muda di Kotanya sana–hal yang makin membuat ia memilih hilang–benar-benar tak terlihat dari radar Harsa. Ia pergi membawa luka bertubi yang dihadiahkan dunia.
Sudah hampir tiga setengah tahun berlalu. Dan setelah pria itu menikah, ia memilih hilang. Kini untuk pertama kalinya setelah sekian lama mereka kembali bertatap mata. Selama ini ia hanya mampu jadi pecundang dengan mengikuti istri Harsa menggunakan akun palsu hanya agar tahu bagaimana hidup mereka. Sakit? Tentu saja ,tapi ia tetap melakukannya.
“Bagaimana kamu bisa sampai ke sini?” Meski rasa sakit karena perpisahan itu masih ada, tetapi Sanessa berusaha tegar. Ia tak ingin terlihat rapuh di hadapan orang yang bukan lagi miliknya. Ia bertanya sambil mengusap pipi saat air matanya hampir saja lolos menetes. Sudah selama itu, tetapi rasanya bahkan tak pernah berubah.
“Ada urusan apa?” tanyanya dengan membuang pandangan ke arah lain.
“Keluarga kecil kamu gimana?”
Hati Sanessa sakit mengingat bagaimana tempat yang seharusnya miliknya dahulu itu telah digantikan oleh wanita lain. Rasanya ternyata sesakit itu melihat tatapan yang juga pernah menatapnya penuh cinta itu kini adalah milik orang lain yang seharusnya tetap miliknya jika takdir tak meluluh lantakkan hidupnya.
Sanessa meringis saat ingatannya tertuju pada kejadian di rumah sakit kemarin saat ia membawa ibunya melakukan chek-up rutin. Untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana Harsa dan keluarga kecilnya tampak bahagia, hal yang hanya bisa ia saksikan diam-diam lewat unggahan media sosial itu ternyata jauh lebih menyakitkan saat melihatnya secara langsung seperti kemarin.
“Mereka di rumah.” Jawaban Harsa kian membuatnya teriris. Kenyataan menampar telak, membuatnya memilih bungkam.
“Kamu ke mana aja selama ini?” tanya pria itu dengan wajah serius. Sudah taka da lagi sorot cinta yang terpancar seperti dulu.
“Kenapa kalian sekeluarga menghilang?”
“Kamu dan keluarga baik-baik aja, kan?” Beruntun Harsa menyampaikan tanya yang selama ini membuatnya penasaran dan sibuk mencari. Sementara Sanessa, ia masih saja diam sambil terus menatapnya dengan mata yang kian memerah. Ah, sial. Harsa jadi merasa tak enak jika sudah seperti ini.
Harsa menghela napas pelan sambil melempar tatapan ke arah lain hanya untuk berusaha sesantai mungkin di tengah suasana yang mendadak canggung begini.
“Kenapa kamu cari aku, Sa?” tanya Sanessa langsung ke intinya. Hal yang sejak tadi mengusik dalam hati tentang apa yang membawa sang mantan mencarinya hingga sejauh ini.
“Bukannya kamu udah punya istri dan keluarga kecil, kenapa harus nyari aku?” tanyanya lagi saat Harsa belum sempat memberikan jawaban apa pun.
“Aku kira kamu udah lupa sama aku.” Sungguh Sanessa tak bisa menahan diri untuk tak berterus terang menyampaikan hal yang selama ini juga ingin ia sampaikan. Untuk pertama kalinya mereka kembali bertemu dan berbincang tatap muka secara langsung.
Harsa menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan. Melihat Sanessa emosi seperti ini, ia bisa menyimpulkan satu hal jika wanita itu masih saja menyalahkannya atas pilihannya menikahi orang lain. Padahal jelas Sanessa lah yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, tetapi entah mengapa ia pula yang paling tak terima saat ia menyampaikan undangan pernikahannya dan bahkan mereka sempat cekcok hanya karena hal itu.
“Bagaimana pun aku gak akan pernah lupain kebaikan keluarga kamu ke aku. Aku gak akan lupa siapa orang-orang yang pernah bantu aku pas masa sulit.”
Harsa ingat, ia tak lupa siapa yang membantunya saat dulu Ayahnya memutus semua akses keungannya hanya lantaran ia berani melawan segala sikap buruk sang Ayah yang membuat almarhumah ibunya terluka entah untuk yang kesekian kalinya. Hal yang hingga kini membuat hubungan Ayah dan anak sulung itu rentan.
“Tapi aku yang gak baik-baik aja karena kehadiranmu, Sa!” pungkas Sanessa apa adanya. Air matanya sudah menetes saat ia tak dapat lagi membendung perasan yang masih sama besarnya pada Harsa.
“But why, Nessa, why? Isn't that your choice? Semua keputusanmu,” sergah Harsa tak habis pikir. Dari dulu hingga kini Sanessa masih saja terjebak pada masa lalu. Padahal yang terjadi pada mereka adalah hal yang Sanessa pilih sendiri, tapi kenapa yang selalu disalahkan hanya ia sendiri? Tidak bolehkah Harsa memulai hidup baru saat Sanessa tak lagi menginginkannya hari itu? Sebenarnya apa yang diinginkannya? Harsa bertanya heran.
“Kamu mau tahu apa alasan kenapa aku mutusin kamu sepihak waktu itu? Kenapa aku tiba-tiba berubah padahal aslinya aku sakit banget?”
Sebenarnya Harsa sangat penasaran pada hal yang dahulu selalu ia pertanyakan. Tentang apa dan kenapa Sanessa sampai setega itu padanya. Akan tetapi Harsa lebih memilih mengubur rasa penasaran itu, mengingat hubungan mereka telah lama usai, juga ia yang sudah memiliki keluarga kecil dan tak seharuanya menyampaikan hal dan bereaksi seperti tadi. Rasanya tak pantas terlalu penasaran yang kesannya membuat ia tampak masih ada rasa dan belum bisa move on, toh semuanya hanya masa lalu.
Namun, sayangnya pemikiran dan pilihannya itu hanya sebatas angan, sebab Sanessa malah memilih mengungkapkan semua yang kian membuatnya diterpa rasa bersalah.
“Cause you never want to try for me, Harsa!”
“You never want to see my heart, what I want, what i mean? Kamu gak pernah ngerti!”
“Aku cuma mau kamu usahakan dan yakinkan, aku butuh kamu perjuangkan.”
“Tapi sayangnya kamu dengan sikap cuek abis kamu yang selalu ngerasa semua udah sesuai jalannya malah ....”
Belum Sanessa menyelesaikan ucapannya, Harsa sudah memotong lebih dulu. Kedatangannya bukan untuk membahas hal yang sia-sia seperti ini. Walau sebenarnya Sanessa telah berhasil membuatnya merasa bersalah dengan ingatan tentang masa-masa indah saat bersama mulai memenuhi kepala, hendak menggoyahkan perasaan. Namun, ingatan tentang Anin dan Azura membuat ia segera mengendalikan kewarasan.
“Udahlah, Ness. Gak usah dibahas lagi soal itu. Kita udah gak hidup di sana!” pungkasnya mutlak yang mana membuat Sanessa lantas bungkam.
“Aku datang bukan buat bahas masa lalu kita. Aku ke sini karena mau tau kabar kamu sekeluarga.”
“Kalian benar-benar ngilang setelah aku nikah. Kalian ke mana?” Harsa bertanya dengan suara yang berusaha ia rendahkan. Ia berusaha mengontrol emosi agar tak meluapkannya pada sosok yang tampak sangat tak berdaya ini.
Sanesaa yang awalnya diliputi emosi yang masih belum usai itu pun ikut berusaha mengendalikan diri saat melihat bagaimana Harsa berusaha untuk tetap menjaga batasan. Lagi-lagi ia terharu melihat bagaimana sosok yang ia sia-siakan ini memanglah sosok yang sangat menjaga komitmen dan batasan dalam hubungan, Harsa adalah sosok yang setia. Kini Sanessa akhirnya kembali sadar jika Harsa memang tak sepenuhnya salah seperti yang ia katakan, semua jelas adalah andilnya yang membuat Harsa menjauh.
“Kamu pasti tahu berita soal Papa waktu itu, kan?” tanya Sanessa saat mengingat tentang kejadian yang membuat hidup mereka berubah drastis menjadi seperti sekarang.
Harsa mengangguk. Ia tahu, Papa Sanessa terlibat sebuah kasus, tapi ia tak menyangka hidup mereka benar-benar berubah separah ini. “Iya, aku turut prihatin soal itu. Makanya pas tahu, aku berusaha nyari kamu, aku mau tau kabar kalian. Meski gak bisa bantu banyak, tapi aku tulus mau bantu.”
Air mata Sanessa kembali menetes. Sama seperti Harsa, ia pun tak menyangka bahwa kehidupan ia dan keluarga akan berputar drastis seperti ini. Dari yang dulu di atas, kini benar-benar jatuh dan berada di bawah.
“Papa meninggal setelah setahun vonis.”
Harsa mengangguk mengiyakan saat Sanessa nampak terpukul dalam menyampaikan hal itu.
“Erland pergi tanpa mau peduli sama Mama dan aku. Kami terbuang, gak ada yang menganggap keluarga.”
Kasus dugaan suap yang menjerat Soebagiyo–ayah Nessa yang kala itu menjabat sebagai Kepala Kejaksaan tinggi tempat Harsa bekerja. Masalah yang membuat keluarga Sanessa hancur, tak ada lagi keluarga yang mengakui. Setelah Soebagyo meninggal, ia dan ibunya terkucilkan. Bahkan Kakak kandungnya pun melakukan hal yang sama hanya karena tak ingin terbebani saat tahu ibu mereka sakit.
Harsa ikut prihatin, tak bisa ia bayangkan bagaimana sulitnya jadi Sanessa. Namun tak ada yang bisa ia lakukan selain hanya mengangguk, turut menyayangkan apa yang telah terjadi.
“Sebenarnya aku udah tahu lama soal sejauh apa keterlibatan Papaku dalam kasus itu."
“Aku malu sama kamu, belum lagi saat itu Papa maksa aku buat jalin hubungan dengan anak salah satu petinggi yang terlibat untuk menutupi kasus itu.”
“Siapa?” sergah Harsa yang tampak lebih penasaran dengan orang yang dimaksud. “Dityo?” tebaknya dengan menyebut nama anak dari salah satu petinggi yang terlibat kasus dengan Pak Soebagyo kala itu.
Harsa tak menyangka bahwa Sanessa akan memilih skenario terburuk itu untuk mengakhiri hubungan mereka, menuruti keinginan Papanya dengan membuatnya terluka karena mengira telah dikhianati dan kini ia baru tahu kebenarannya.
“Aku malu dan gak tau harus ngadepin kamu gimana, makanya meski harus sakit aku lebih milih jauhin kamu.”
Harsa tampak terkekeh mendengar alasan Nessa yang baginya agak konyol. Jika itu dia, tentu ia tak akan mengorbankan diri hanya karena hal seperti itu, hal yang tak ia lakukan dan harus mengorbankan perasaan sendiri. Tapi mau di kata apa, sekali lagi toh itu cuma masa lalu. Ia sudah tak tertarik dan tak lagi memikirkannya. Yang Harsa tahu ia hanya ingin tahu kabar keluarga yang pernah baik padanya.
“Kamu kenapa ketawa? ” Sanessa heran melihat reaksi yang Harsa berikan, tak sesuai dengan harapannya.
Memangnya apa yang Sanessa harapkan? Apakah Harsa harus bereaksi sedih dengan menangis menyesali semua. Prihatin lalu meminta mereka untuk kembali bersama? Itukah yang Sanessa harapkan? Jika iya, maka ia salah. Jelas itu tak pernah ada di pikiran dan rencana seorang Harsa. Sebab, sekali lagi, satu-satunya tujuannya mencari dan datang adalah karena ia hanya ingin tahu tentang kabar dan berniat melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk membalas budi atas kebaikan keluarga mereka dahulu.
“Lucu aja sih kalau itu alasan kamu. Agak konyol, tapi ya mau gimana lagi. Semua cuma masa lalu yang udah berlalu. Aku juga udah lupa.” Harsa masih terkekeh simpul seraya mengusap alis dengan telunjuk. Senyumnya masih mengembang samar.
Namun, melihat reaksi Nessa justru membuat Harsa mengernyit. Sang mantan malah menggeleng dengan wajah sendu–air matanya seperti akan menetes.
Wanita yang kerap disapa Nessa itu berkata, “iya, aku tahu kamu mungkin udah lupa, tapi aku sama sekali nggak, Sa. Aku gak pernah sedikitpun lupa tentang kita. ”
Dan suasana itu seketika kembali canggung. Harsa tiba-tiba dibayang-bayangi wajah Anin. Ia datang tanpa sepengetahuan sang istri, dan jika Anin tahu, itu jelas tak akan baik–perang besar jelas tak terhindarkan. Sementara kini suasana mulai berubah, tak sesuai yang ia harapkan. Awalnya ia kira Nessa sama seperti dirinya yang sudah lupa dan tak lagi berada di masa lalu, dan ia juga datang hanya untuk bersilaturahmi, tapi Nesaa? Ia malah seperti ini. Harsa kembali mengutuk keadaan saat suasana terasa seperti di atas rollercoaster.
Harsa bahkan tak menjawab saat Nessa tampak menunggu jawabannya.
Pria itu lebih memilih menghembuskan napas dengan ekspresi agak risih. Harsa berdecak resah. Lalu berkata, “gimana ya Nes? ... Aku lagi gak mau bahas itu karena bagiku yang berlalu ya memang sudah seharusnya berlalu.”
“Gak ada gunanya juga kita bahas yang udah lewat. Mau gimana pun itu, toh dulu itu juga murni keputusanmu.”
“Dan seperti yang kamu tahu aku udah punya keluarga, aku gak mau istriku salah paham kalau sampai dia tahu soal pembahasan ini.”
Nessa terkekeh tak habis pikir. Kini balik ia yang merasa perkataan Harsa agak konyol.
“Kalau kamu gak mau dia salah paham, terus kenapa kamu dateng ke sini? ”
Harsa menyerngit mendengar pertanyaan Nessa yang agak ketus. Raut wajahnya juga tampak kesal dan sedih. Seakan jawaban yang ia beri tak sesuai harapan.
“Ya, aku ke sini mau ketemu kamu, mau tau kabar Mama kamu. Gak ada salahnya, kan, menjalin sila.... ”
Uhuk uhuk...
Belum Harsa menyelesaikan kalimatnya, suara batuk dari dalam membuat perhatiannya teralih. Ia hendak mengintip dari celah pintu rumah yang sedikit terbuka itu.
“Ness ... ” Suara lemah wanita dari dalam terdengar memanggil. Yang kian membuat Harsa penasaran, ia semakin memajukan langkah untuk melihat. Namun, Nessa justru menghadang dan langsung menutup pintu tepat saat wajahnya nyaris menyelinap di antara celah pintu yang sedikit terbuka.
Bruak... Suara pintu yang tertutup dan tatapan Nessa yang menghujam adalah combo peringatan yang nyata. Membuat Harsa lantas memilih mundur.
Sepertinya Nessa tak senang dengan keberadaannya. Ia menatap tangan gadis itu yang menggenggam gagang pintu erat-erat.
“Itu tante Linda, kan? ” tebak Harsa dengan wajah serius. “Dia sakit? ” tanyanya lagi yang kian mengundang tatapan menghujam Nessa.
“Bukan urusan kamu, Sa!”
Harsa mendesah pelan, heran melihat sikap mantannya yang tiba-tiba ketus dan dingin begini.
“Boleh aku ketemu beliau?“ Harsa masih berusaha, ia benar-benar penasaran. Sungguh, ia prihatin melihat kondisi keluarga Nessa yang sekarang, tinggal di gang sempit yang padat penduduk. Semua harta yang dulu ada lenyap tak bersisa. Ia tahu yang dihadapi Nessa jelas sangatlah berat, tapi mau dikata apa–mungkin Tuhan hanya ingin membersihkan harta yang pernah mereka dapat dengan cara ini, apalagi kasus yang menyeret ayahnya bukan kasus biasa.
“Beliau sakit apa?” tanya Harsa lagi, mendengar suara serak dan batuk itu ia bisa menebak bagaimana kondisi wanita paruh baya yang pernah baik dan memperlakukannya seperti anak sendiri.
“Aku bilang bukan urusan kamu! Kamu jangan lancang!” Nessa tegas memperingati. Mengingatkan Harsa batasan yang tak boleh ia langgar.
“Aku cuma mau liat.”
Nessa menarik napas dalam “Lebih baik kamu pergi. Aku gak butuh kamu di sini.”
“Aku tahu kamu ke sini cuma mau datang ketawain kejatuhan yang menimpa keluarga kami, kan?”
“Gak ada aku bermaksud begitu.” Harsa menggeleng meyakinkan.
“Aku bilang pergi!”
Namun, Nessa yang terlanjur marah membuat Harsa mau tak mau harus pergi. Ia tak ingin mengundang keributan yang akan membuatnya bisa saja berada di posisi tersudutkan.
“Oke, oke ... Aku pergi!” Harsa mengangkat tangan layaknya orang yang menyerah, langkahnya perlahan mundur meninggalkan Nessa yang terus menatapnya dengan tatapan tajam.