Menjadi seorang model terkenal ternyata membuat Laluna Bachtiar menjadi sosok yang angkuh dan keras kepala. Luna, kembali ke Indonesia setelah lima tahun menetap dan menjadi model terkenal di Amerika, setelah memergoki sahabat dan kekasihnya berselingkuh.
Kehidupan hedonis yang terbiasa dijalani Luna selama berada di Amerika membuat Rafli Bachtiar (Ayah), marah dan cemas.
Giovanni Halim, supir pribadi kepercayaan Rafli akhirnya menugaskan Gio untuk menjaga Luna kemana pun anak gadisnya itu melangkah.
"Aku benci kamu!" Hardik Luna pada Gio setiap kali Gio berhasil menyeretnya pulang dari club malam.
Gio hanya menatap Luna dingin. Semakin hari keduanya malah semakin akrab. Hingga pada akhirnya, Luna menyadari ada yang mulai aneh dengan perasaannya pada supir pribadinya itu.
Giovanni tidak mampu menolak pesona Nona muda kesayangan Tuannya itu, sementara di kampung halaman, Gio telah bertunangan dengan Dewi.
Bagaimana akhir perjalanan cinta Gio dan Luna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Dia Dia
Suara gemercik air terjun menemani sore hari Gio saat ini. Di bawah sana, Dewi telah merendam sebagian tubuhnya ke dalam air. Kalau dulu, Gio akan dengan senang hati bergabung bersama Dewi, saat ini yang Gio lakukan hanyalah duduk di atas batu. Batu tempat Luna pernah berpijak saat ia tengah mencium Dewi di bawah sana.
Tak ada hasrat Gio untuk masuk ke dalam air. Ia mengabaikan Dewi yang sedari tadi menunggunya. Gio hanya melambaikan tangan, meminta Dewi untuk menikmati sejuknya air terjun itu sendirian.
"Kamu kenapa sih Mas?" Tanya Dewi setelah ia memaksa tubuhnya keluar dari air.
"Gak papa Wi. Mas cuma lagi gak enak badan. Gak minat main air." Ujar Gio santai. Tatapannya tampak menerawang, terbang tinggi bersama bayangan Luna dalam indahnya kenangan.
"Mas mau main apa? Main ini mau?" Dewi menarik tangan Gio, meletakkannya tepat diatas dadanya. Kerlingan nya nakal, Gio mengernyitkan dahi. Mengapa Dewi jadi genit begini?
"Kamu lagi kesambet apa, Wi?" Tanya Gio sembari menilik Dewi penuh selidik. Ia tidak mengenal Dewi yang sekarang tengah menatapnya penuh nafsu itu. Dewi yang ia kenal sangat pemalu.
"Aku bisa kasih Mas lebih dari sekedar dada." Dewi jadi blingsatan, ia mulai membuka bajunya satu persatu. Gadis itu juga mulai menciumi Gio penuh nafsu. Gio awalnya terhanyut, ia juga membalas pagutan Dewi yang sedang berada di atas tubuhnya, namun saat Dewi mulai mengarahkan jari Gio ke bagian terlarang itu, Gio tersentak.
Gio mendorong Dewi pelan, menatap gadis yang sedang terbakar gairah itu penuh tanda tanya.
"Pakai bajunya Wi. Kamu gak biasanya kayak gini. Dan kamu tau sendiri, Mas gak akan sentuh itu sebelum kita sah sebagai suami istri." Ujar Gio dingin. Ia juga menatap Dewi lelah.
"Aku cuma mau nyenengin kamu kok Mas, aku yakin kamu sama Luna juga udah pernah kan ngelakuin itu?!" Hardik Dewi penuh kemarahan. Ia sudah mulai memakai bajunya kembali.
"Kalau sama kamu aja aku gak berani, apalagi sama Luna." Gio berdiri, turun dari batu meninggalkan Dewi yang terduduk lesu.
Gio pulang ke rumah dengan hati yang tambah tak karuan. Ia sudah seharian ini terpikirkan Luna, lalu ditambah Dewi juga bertingkah aneh seperti tadi.
Gio masuk ke dalam rumah dengan wajah kusut. Ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Kembali meraih ponsel, Gio mencoba menelepon Luna lagi. Masih tidak aktif. Gio mulai membuka medsos, berusaha menghubungi Luna lewat sana dan hasilnya sama. Semua akun Laluna lenyap, hilang bagai ditelan bumi.
"Lun, kamu kemana sih?" Gumam Gio penuh kerinduan.
Luna sendiri masih berada di dalam pesawat, perjalanan dari Jakarta menuju London memakan waktu kurang lebih 14,5 jam.
Luna mencoba memejamkan mata. Lelah otak dan hatinya. Tapi cinta masih saja merajalela.
Semua akan baik-baik saja mulai besok.
Luna membatin sesaat sebelum matanya terpejam.
...****************...
Malamnya, karena bayangan Luna yang semakin menjadi-jadi, Gio memutuskan keluar. Ia menyusuri jalanan kota Bandung dengan perasaan hampa.
Namun, setelah itu ia berbalik arah. Bukannya kunjungannya ke Bandung adalah untuk bertemu orang tua Dewi. Gio akhirnya meneruskan laju mobil menuju rumah Dewi.
"Nak Gio?" Ibu Tanti, ibu dari Dewi menyambutnya dengan pandangan bertanya.
"Dewi mana bu?" Tanya Gio setelah duduk di dalam.
"Lho, bukannya Dewi sama kamu? Katanya tadi izin keluar sama Nak Gio."
Gio menggeleng, ia tidak kemana-mana sejak sepulang dari air terjun sore tadi. Lalu kemana Dewi?
"Mungkin, Dewi ada urusan di luar bu, gak papa aku tunggu disini."
Setengah jam berlalu, langkah kaki Dewi terdengar. Gadis itu tampak sedikit terkejut, namun ia secepat mungkin menguasai keadaan.
"Aku tadi ke rumah kamu Mas, kamu gak ada. Ternyata kamu ke sini." Ujar Dewi sembari meletakkan tas tangannya di atas meja.
"Oalah, Jadi kamu ke rumah Mas Gio, Gio ke sini cari kamu. Kalian itu lucu." Bu Tanto tertawa renyah. Gio hanya tersenyum menimpali. "Kalian ngobrol aja ya, Ibu mau ke belakang."
Selepas kepergian Bu Tanti, suasana antara Dewi dan Gio jadi kaku. Perdebatan sore tadi masih terbayang dan membekas di hati keduanya.
"Mas, besok jadi balik ke Jakarta?" Tanya Dewi memecah keheningan.
"Iya, balik sore, Wi. Harusnya Lusa, tapi Mas ada kerjaan di Jakarta." Sahut Gio setelah suasana mulai mencair.
"Hmmmmm, hati-hati aja Mas pulang ke sana nya. Duduk di luar aja yuk." Ajak Dewi mengajak Gio untuk duduk di sebuah ayunan di samping rumah.
"Mas, maaf ya sore tadi." Dewi berujar lirih. Gio tersenyum, lalu mengangguk.
"Aku juga minta maaf, Wi. " Sahut Gio sama lirih.
Hening.
"Mas aku pengen kita baik-baik aja, aku bener pengen menikah sama kamu."
"Aku kan udah sanggupin itu Wi, dan pernikahan itu memang akan tetap berjalan, kan?"
Hening lagi.
"Aku pulang ya Wi." Ujar Gio setelah ia rasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Dewi memeluk Gio erat, Gio yang tadinya terpaku akhirnya menepuk-nepuk pundak Dewi lembut. Berusaha menenangkan gadis itu, juga menenangkan dirinya sendiri.
Cukup lama Dewi memeluk Gio hingga akhirnya ia melepaskan pelukan itu. Gio pamit pada Bu Tanti, lalu mantap meninggalkan rumah itu juga Dewi.
Di sepanjang perjalanan, Gio masih memikirkan Luna. Ia benar-benar sudah pasrah pada keadaan ini. Luna bukan hanya telah mengambil alih semua isi pikirannya, tapi juga membuat hatinya serba salah.
Lun, Mas besok pulang.
Pesan itu terkirim, tapi hanya satu centang. Tanda nomor Luna memang masih belum aktif.
"Mas Gio, kenapa ya aku selalu deg-degan setiap kali dekat sama Mas Gio?" Tanya Luna saat mereka sedang berduaan waktu itu. Ke beberapa bulan setelah kejadian Luna diseret keluar dari club malam.
"Gak tahu, Tapi ... Mas juga gitu." Sahut Gio sambil mengelus pipi Luna lembut.
"Aku jatuh cinta deh kayaknya sama Mas." Ujar Luna lugas. Luna memang seperti itu. Ia pribadi yang apa adanya, apa yang ia rasa, akan ia bilang sejujurnya.
"Kalo gitu Mas beruntung dong, bisa bikin kamu jatuh cinta." Gio menjawil hidung mancung berhias tindik itu lalu mengecup bibir Luna mesra.
"Mas, peluk Luna sampe pagi ya." Pinta Luna pada Gio, Gio mengangguk, membiarkan Luna tidur dalam pelukannya hingga pagi menjelang.
Luna, Mas gak bisa lupain kamu. Batin Gio nelangsa.
...****************...
Aku pernah berpikir, hidupku sudah sangat sempurna,
Aku Laluna,
Gadis yang punya segalanya
Jabatan, Harta, Tahta.
Hanya satu yang aku tidak punya.
.
.
.
Cinta.
- Elegi Laluna.