Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah.
Didekat taman Elea duduk sendirian, dari jauh pria asing itu membelikannya es krim. Beruntung mood lelaki itu tak sejelek cuaca hari ini karena ia diajak untuk menenangkan diri.
Tak lama ia sudah berjalan menghampirinya, wajahnya memang tak setampan Rajendra tapi ia masih terlihat muda usianya, mungkin kurang 30 tahun. Sedangkan suaminya umurnya saja sudah menginjak 34, perbandingan dua pria itu cukup jauh.
"Dia cukup tampan," puji Elea dalam hati, otaknya yang berantakan itu tak bisa berpikir jernih hingga setan mudah untuk menghasutnya.
Jika suaminya saja bisa berselingkuh, apa ia juga boleh berselingkuh?
Saat angin menerpa rambut tebal pria asing itu, separuh ketampanannya begitu silau. Walau tak setampan suaminya, setidaknya ia bisa dicintai secara gila-gilaan itu sudah cukup dari pada dianggap patung.
"Aduh, apa yang kau pikirkan Elea?" gumam Elea dalam hati, ia merutuki diri karena dengan mudahnya terpesona oleh pria asing itu.
Ya, siapa yang tak tersentuh oleh perhatian hangat seorang pria. Jika dirumahnya saja ia tak pernah diperlakukan begitu.
"Ini, makanlah. Katanya setelah makan es krim, hati dan pikiranmu bisa kembali dingin," ujar pria itu menawarkan Elea es krim berbentuk cup kecil rasa strawberry.
Dengan ragu Elea mengambilnya, perhatian seperti ini belum pernah Rajendra lakukan. Pria itu sangat berbanding terbalik dengan pria disampingnya yang sudah duduk sambil menikmati es krim.
"Ng, anu ... Apa aku boleh memakannya?" tanyanya benar-benar ragu.
Lelaki itu tersenyum, "Apa kau selalu meminta ijin pada suamimu?" tanyanya membuat Elea membulatkan matanya.
"Apa?! I–itu ...." Elea bingung untuk menjawabnya.
"Dari cara bicaramu, sepertinya iya," ujar lelaki itu menggelengkan kepalanya, ia merasa bahwa wanita satu ini sangat bodoh dan rentan terhadap patah hati. Dari wajahnya saja sudah terlihat, wanita itu sudah disakiti oleh pasangannya.
"Bagaimana kau tahu aku punya suami? Aku belum cerita apapun," tanya Elea kepo, melirik lelaki itu dengan kening berkerut.
"Kau memakai cincin dijari manis itu artinya kau sudah bertunangan atau menikah," jawab lelaki itu dengan jelas.
Elea melihat kedua jemari tangannya sambil memegang es krim, memang benar hanya cincin kawin yang ia gunakan sekarang. Ia tak berpikir panjang tentang hari ini, yang ada hanyalah ingin tahu semua yang ada dibelakangnya.
"Jangan jadi wanita bodoh! Sesekali menjadi wanita egois itu tidak masalah," ucap lelaki itu membuat Elea kembali melirik padanya.
"Karena menjadi bodoh itu memalukan, bukan," lanjut pria itu melirik Elea.
Tatapan dua insan itu begitu lekat, namun detik berikutnya mereka kembali pada pikiran masing-masing. Pria itu menikmati es krimnya. sementara Elea malah melihat makanan tersebut yang masih terbungkus utuh.
Kalimat yang dikatakan pria itu tak ada yang salah, memang benar ia tak pernah memikirkan dirinya dan selalu berfokus pada orang lain hingga semua ini terjadi.
Pikirannya melayang pada makanan dingin ditangannya. Jka suaminya saja selalu bersikap dingin, apa ia boleh seperti itu juga?
Selama ini kalau ia marah tak pernah dibujuk, jika ia menangis, ya menangis sendirian diruang sepi. Jika ia menghubungi tak pernah dijawab, sedangkan jika suaminya yang menghubungi duluan ia harus selalu cepat mengangkatnya.
"Aku ingin menjadi seperti es krim ini," ucap Elea dalam hati.
Hatinya tak pernah terbuka untuknya, lalu apa yang ia harapkan dari Rajendra?
Cukup sudah baginya untuk menjadi istri yang patuh, ia ingin menjadi dirinya yang dulu. Ceria, apa adanya, dan tak pernah ragu dalam bertindak. Pernikahan itu sudah membuatnya banyak berubah.
Elea membuka penutup es krimnya kemudian menyendoknya dengan sendok kayu dan menikmatinya, seakan semua beban itu terjawab oleh kalimat lelaki itu.
pria asing itu tersenyum melihatnya, ia lega melihat wanita yang tengah patah hati ini. Walau tidak saling mengenal setidaknya ia bisa memberinya semangat.
**
Elea masih mengingat apa yang dikatakan pria asing itu, bahkan setelah ia sampai dirumah suaminya yang megah nan luas ini. Kini ia tengah berada dikamar mereka, yang menjadi saksi bagaimana kebenaran pernikahan mereka. Luka-luka itu tak bisa ia sembuhkan tapi setidaknya bisa ia pendam dan menganggapnya angin lalu.
Ia lihat barang-barang mewah yang ia beli sendiri, meski memakai uang suaminya semuanya tak pernah dianggap cantik oleh Rajendra. Kepala rumah tangga dan beberapa asistennya sedang membersihkan barang-barang tersebut, dengan begitu hati-hati layaknya berlian yang sangat langka nan mahal. Mereka menghargainya dan selalu memujinya, tapi kenapa Rajendra tidak?
Apa yang salah dari dirinya?
"Apapun yang melekat darinya, bagiku ia tetap jelek!"
Kalimat yang Rajendra ucapkan kala itu terngiang begitu saja, memanaskan telinga dan juga hatinya. Tentu jelek karena matanya selalu dipenuhi oleh Erika, sehingga wanita lain dimata Rajendra semuanya buruk termasuk dirinya.
"Bibi halim!" panggil Elea.
"Iya nona," sahut wanita paruh baya dengan dandanan formal itu.
"Pindahkan semua barang-barangku ke ruang kenangan, mulai malam ini aku tak akan tidur dikamar ini," kata Elea berupa perintah, dengan tegas ia mengatakannya.
Bi Halim terkejut, ini perintah biasa namun bukan hal yang biasa, ini adalah yang pertama kalinya. Karena seberapa hebat pun mereka bertengkar, sang nona tak pernah menyuruhnya melakukan semua itu. Namun ia merasa pertengkaran kali ini sangat buruk, hingga memilih untuk tidur terpisah.
"Tapi nona—" belum selesai bibi Halim menyelesaikan kalimatnya, Elea sudah mengatakan perintah lain.
"Setelah itu jangan pernah membersihkan kamar kenangan, aku sendiri yang membersihkan kamarku mulai sekarang. Ingat juga, jangan pernah mengijinkan siapapun masuk ke ruang kenangan, termasuk suamiku," kata Elea dengan tegas.
Mata bibi Halim melebar, mana bisa ia melarang tuannya masuk ke kamar istrinya. Itu adalah larangan yang tak biasa, ia sendiri bingung bagaimana menanggapinya.
Namun ia tak punya pilihan lain, sang kepala asisten rumah tangga tersebut akhirnya mengiyakannya dan tanpa menunggu lagi mereka langsung membereskannya tanpa satu pun barang yang terlewat.
Jika ia bukan salah satu dari hidup suaminya, artinya ia hanya kenangan yang tak berarti. Itulah kenapa ia memilih kamar kenangan diantara kamar lainnya.
*
Malam yang indah ini, Elea memakai pakaian yang tak biasa. Lekukan tubuhnya begitu terlihat, dan aroma parfum sangat menyengat disetiap sudut tubuhnya.
Ia bersolek dengan begitu cantik, make up yang biasa natural kini menjadi lebih berani. Ia poles dengan tebal sehingga terlihat bak gadis muda dua puluh tahunan. Sepatu hak tinggi menghiasi kaki jenjangnya, rambut panjang yang biasa diikat rapi ia uraikan dengan bebas.
Ia butuh pelampiasan untuk menghilangkan rasa sakit dan air mata yang sudah ia tumpahkan sejak kemarin malam. Ia ingin bebas, seperti elang yang terbang dilangit tinggi.
"Tak perlu mengantarku, malam ini aku ingin berkendara sendirian," ucap Elea pada supir yang biasa mengantarkannya, ia mengambil kuncinya dan mulai mengendarai mobil yang mewah tersebut.
Bukan ke tempat perkumpulan temannya, karena ia tak punya teman dekat selain Erika. Malam ini ia justru membawa dirinya ke sebuah klub, tempat semua orang mencari kesenangan dan ketenangan.
Ia tersenyum merekah, ia tak pernah pergi ke tempat seperti ini namun entah kenapa ia sangat ingin menghabiskan malam disini.
.
.
Sementara ditempat lain, tepatnya di kediaman Rajendra.
Lelaki itu pulang lebih cepat, ia menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai tiga. Saat ia membuka pintu dan masuk kedalam kamar, ia merasa ada yang berubah dengan kamar itu, malam ini terasa dingin dan sunyi.
Tapi karena ia lelah, ia mengabaikannya dan berlalu ke kamar mandi. Disaat ia mengambil pakaiannya ia melihat lemarinya begitu luas dan beberapa kosong, biasanya itu tempat pakaian milik istrinya.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh?" ucap Rajendra bertanya pada dirinya sendiri.
Ia melihat ke sekitar, etalase yang biasanya penuh dengan tas mewah dan sepatu milik istrinya, semuanya kosong. Rak aksesoris yang biasanya ada perhiasan istrinya, semuanya pun tampak melompong. Semua diruang walk-in closet hanya ada barang miliknya saja.
Rajendra bergegas mengenakan pakaian santainya, ia mengambil sebuah benda untuk menghubungi orang rumah. Ia juga belum bertemu istrinya sama sekali, biasanya jam segini ia selalu disambut hangat seperti biasanya semarah apapun dan dalam keadaan apapun.
"Bibi Halim ke kamar ku sekarang!" perintah Rajendra lewat telepon rumah.
Tak butuh waktu lama, kepala asisten tersebut sudah berdiri dihadapannya.
"Dimana Elea?" pertanyaan pertama yang ia lontarkan pada orang yang selalu mengawasi setiap sudut rumah dan gerak-gerik istrinya.
Bibi Halim menelan ludahnya, "Nona pergi mengendarai mobilnya sendirian," jawabnya dengan ragu.
"Apa?!" mata Rajendra membelalak, Elea tak pernah keluar malam jika pun ingin itu pasti harus meminta ijin padanya. Namun istrinya itu tak sedikitpun berkata padanya, pesan atau pun telepon.