NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Setibanya di rumah sakit, Laila melangkah cepat menyusuri koridor dengan lengan kiri yang sudah terbalut perban rapi di balik baju taktis hitamnya.

Yusuf berjalan beberapa langkah di belakang, memandu Musdalifah yang masih lemas dan terguncang menuju ruang perawatan keluarga.

Belum sempat Laila sampai di depan pintu ruang perawatan intensif, Umi Sinta yang menunggu di luar langsung berlari menghampirinya dengan raut wajah panik bercampur haru.

"Laila! Ya Allah, Nak. Kamu dari mana saja?!" seru Umi Sinta memegang kedua bahu Laila.

"Musa sudah sadar! Tapi dia emosi sekali, berteriak-teriak melepas selang infus dan terus-menerus memanggil namamu!"

Mendengar hal itu, jantung Laila berdegup kencang.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia membuka pintu ruangan dan menerobos masuk.

Di dalam, suasana tampak kacau.

Beberapa perawat terlihat kewalahan menahan Musa yang berusaha bangkit dari brankar.

Wajah Musa pucat pasi, matanya memerah liar penuh kepanikan, dan dada kirinya yang terbebat kasa tebal naik-turun menahan rasa sakit akibat pergerakan kaku.

"Lepaskan! Laila, di mana istriku?! Laila!!" teriak Musa parau, menepis tangan perawat yang mencoba menenangkannya.

"Musa!" panggil Laila dengan suara lembut namun bergetar.

Musa membeku seketika. Pendengarannya menangkap suara yang sangat ia kenali.

Pandangannya berputar, menangkap sosok wanita berbalut pakaian hitam yang berdiri di ambang pintu dengan pendar mata berkaca-kaca.

"L-Laila.?" bisik Musa, napasnya tersengal.

Laila setengah berlari mendekati brankar, mengabaikan rasa perih di tangannya sendiri, dan langsung merengkuh tubuh tegap suaminya ke dalam pelukan erat.

Ia membenamkan wajahnya di dada Musa, menyalurkan seluruh rasa rindu, kecemasan, dan rasa syukur yang membuncah.

"Aku di sini, Musa. Aku di sini, Sayang," bisik Laila di sela isak tangisnya yang pecah.

Musa membalas pelukan itu dengan begitu posesif dan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Laila, menghirup aroma tubuh istrinya yang menjadi penenang jiwanya.

Emosi gila yang tadi membakar dirinya seketika surut total, berganti dengan kehangatan yang mendekap erat mereka berdua.

Laila mengelus lembut rambut suaminya, mencoba meredakan sisa-sisa kepanikan yang masih membakar dada Musa.

"Tenang dulu, Sayang. Jangan banyak bergerak, nanti jahitan di dadamu bisa terbuka lagi," bisiknya penuh kehangatan.

Musa menarik napas panjang, perlahan mengatur deru napasnya yang sempat memburu, membiarkan sentuhan jemari Laila menenangkan jiwanya yang terombang-ambing.

Laila kemudian menoleh ke arah perawat yang berdiri ragu di dekat pintu.

"Suster, tolong bantu siapkan makanan dan nutrisi untuk suamiku, ya."

"Baik, Dokter Laila," jawab perawat itu sigap sebelum pamit keluar ruangan.

Laila berbalik menatap keluarga besar yang berdiri membisu di dekat pintu.

Tatapannya menetap lembut pada Kyai Adam, Umi Sinta, Kyai Adi, dan Umi Mina.

"Abah, Umi. Musa sudah tenang. Lebih baik Abah dan Umi pulang dulu untuk istirahat," ucap Laila sopan.

Kyai Adam dan Umi Sinta menganggukkan kepala mereka, merasa lega luar biasa melihat Musa yang kini sepenuhnya luluh di dalam pelukan Laila.

Laila lalu mengalihkan pandangannya pada Kyai Adi yang tampak dipenuhi rasa bersalah.

"Abah, Mbak Musdalifah ada di depan. Dia sudah selamat. Dan tolong, mulai sekarang jangan pernah ganggu rumah tangga Laila dan Musa lagi."

Kyai Adi menundukkan kepala dalam-dalam, matanya berkaca-kaca menatap putri yang selama ini dibesarkannya.

Dengan suara bergetar, ia menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih, Nak. Maafkan Abah yang sudah membohongimu selama ini."

Laila mengulas senyum tipis yang tulus, lalu menganggukkan kepalanya perlahan, menandakan ia telah mengikhlaskan segala ketidakjujuran di masa lalu.

Setelah keluarga besar pamit dan meninggalkan ruangan, Laila menarik kursi lalu duduk di samping brankar sembari menunggu Perawat Tika membawakan makanan.

Musa menatap istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan dahi berkerut heran.

"Bidadariku, itu pakaian apa? Kamu seperti ninja," kekeh Musa parau, mencoba bercanda di tengah rasa lemasnya.

Laila tertawa kecil, suara renyahnya menghangatkan ruangan yang dingin itu.

"Aku sudah menyelesaikan semuanya, Musa. Dan, sekarang, aku ingin kita hidup tenang seperti orang biasa."

Laila mendekatkan wajahnya, memasang raut wajah manja yang jarang ia perlihatkan.

"Aku juga ingin bulan madu dan merasakan malam pertama." rengek Laila polos.

Tawa Musa meledak pelan, meski ia harus meringis menahan nyeri di dadanya.

Sorot matanya membias kebahagiaan yang tak terkira.

"Tentu, Sayang. Setelah aku sembuh total, aku akan mengajakmu bulan madu ke mana pun kamu mau."

Saat Musa mengelus jemari Laila, matanya mendadak tertuju pada perban tipis yang merembeskan sedikit noda darah di lengan kiri istrinya. Pendar matanya seketika berubah cemas.

"Sayang, ini luka apa?" tanya Musa—yang di dalam kebingungan dan kekhawatirannya tanpa sadar mengucap nama lamanya, Lucas.

Laila tersenyum menenangkan, mengusap pipi suaminya agar tidak panik.

"Tadi cuma tergores sedikit saat duel dengan Zafar. Luka kecil. Kamu tidak usah khawatir."

Musa menghela napas panjang, pandangannya menerawang jauh menembus langit-langit ruangan.

Ada duka dan kerinduan mendalam yang membayang di mata tegapnya saat mengingat kembali sosok pria yang baru saja menjadi musuhnya itu.

"Zafar," bisik Musa parau, suaranya sarat dengan kenangan masa lalu.

"Dulu dia bukan cuma sahabat, Laila. Dia sudah seperti saudara kandungku sendiri. Kami merintis semuanya bersama dari bawah, saling menjaga dada satu sama lain di tengah kerasnya jalanan. Saat dia menghilang dan dikira tewas malam itu, aku mencari keberadaannya tanpa henti di tengah hujan peluru, berharap bisa menyelamatkannya. Aku tidak pernah tahu kalau selama belasan tahun ini, dia menyimpan dendam dan rasa benci setebal itu padaku karena sebuah kesalahpahaman."

Laila mendengarkan dengan penuh empati. Ia mengusap lembut jemari Musa, menyalurkan kehangatan yang perlahan mengikis beban berat di dada suaminya.

"Sudah, Musa." potong Laila lembut sembari menatap dalam-dalam pendar mata suaminya.

"Kesalahpahaman itu sudah selesai. Kamu sudah berjuang sebaik mungkin, baik dulu maupun sekarang. Sekarang giliran kita untuk fokus pada masa depan kita. Sekarang kita harus bahagia."

Musa menatap wajah cantik istrinya yang terbalut cadar, merasakan kedamaian luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Rasa possessif dan kecemasannya seketika meluruh, berganti rasa syukur yang begitu membuncah.

Ia menarik jemari Laila ke bibirnya, menciumnya dengan penuh kelembutan dan rasa hormat.

"Iya, Bidadariku." sahut Musa mengulas senyum tulus yang amat tampan.

"Hari ini dan seterusnya, hanya ada kamu, aku, dan kebahagiaan kita."

Kemudian perawat Tika masuk kedalam sambil membawa nampan berisi bubur.

"Dokter, waktunya pasien untuk makan." ucap Tika

"Iya, Tika. Terima kasih." ujar Laila sambil menganggukkan kepalanya dan mengambil mangkuk berisi bubur.

Dengan sabar ia menyuapi suaminya yang baru saja sadar.

"Pelan-pelan saja, Musa. Nanti kamu tersedak."

Musa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!