Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 8
Waktu bergerak begitu cepat di balik tumpukan berkas audit. Jemari Senja menari lincah di atas kibor, menyusun ulang skenario efisiensi anggaran sesuai arahan Angkasa pagi tadi. Fokusnya begitu dalam hingga dering bel penanda jam makan siang di area perkantoran hampir tak dihiraukannya.
"Senja, yuk makan siang dulu! Aku udah lapar banget nih," ajak Anggi seraya berdiri dari kubikel sebelah.
Senja mendongak, menyapu keringat tipis di dahinya. "Kamu duluan aja deh, Ngi. Dikit lagi revisi aku kelar, nih. Nanti aku nyusul ke kantin."
"Beneran? Jangan telat makan lho, nanti maagmu kumat," pesan Anggi sebelum melangkah pergi menuju area lift.
Senja kembali menatap layar monitor. Namun baru beberapa menit berselang, perhatiannya teralih saat mendengar langkah sepatu tumit tinggi yang mengetuk lantai granit dengan ritme anggun dan penuh percaya diri.
Dari balik dinding kaca transparan yang membatasi area staf dengan koridor utama lantai eksekutif, tampak sosok wanita bergaun soft pink berjalan melintas. Rambut gelombangnya terurai sempurna, memancarkan aroma parfum jasmine-vanilla yang sangat dihafal Senja, aroma yang sama yang belakangan ini kerap menempel di baju kerja Adam.
Lyra.
Senja reflek merendahkan posisi duduknya, berpura-pura sibuk merapikan dokumen di meja. Matanya memperhatikan gerak-gerik wanita itu dari balik monitor. Lyra berjalan dengan dagu terangkat, tersenyum formal pada beberapa staf yang menyapanya, sama sekali tak menyadari bahwa wanita yang suaminya ia tiduri semalam sedang memperhatikan setiap jengkal langkahnya dari jarak hanya beberapa meter.
Lyra berhenti di depan pintu ruang kerja Angkasa, mengetuknya dua kali dengan manja, lalu langsung memutar gagang pintu tanpa menunggu izin.
"Sayang..." suara manja Lyra terdengar sayup-sayup sebelum pintu kayu tebal itu tertutup rapat.
Senja mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa mual dan amarah menyapu dadanya seketika. Di kantor ini, wanita itu berakting sebagai calon istri yang sempurna dan manis untuk sang CEO, sementara di luar sana, ia dengan tidak tahu malunya mengirimkan foto-foto mesra tanpa busana bersama Adam untuk menghancurkan hati Senja.
Di dalam ruangan berAC yang dingin itu, Angkasa mendongak dari balik meja kerjanya. Alisnya terangkat menatap kedatangan tunangannya yang tiba-tiba.
"Lyra? Ada apa ke sini? Aku sedang sibuk menyiapkan berkas ekspansi," kata Angkasa dingin, suaranya datar tanpa riak kejutan.
Lyra melangkah mendekat, mengitar meja kerja Angkasa lalu melingkarkan tangannya di bahu pria itu dari belakang.
"Kok ketus banget sih, Sa?" bisik Lyra lembut, mencium pipi Angkasa pelan.
"Aku kan cuma mau ngajak kamu makan siang bareng. Kan udah janji minggu lalu mau fiting baju pengantin sekalian?"
Angkasa melepaskan pegangan tangan Lyra di bahunya secara halus, lalu berdiri dari kursi. "Aku ada rapat anggaran lanjutan sore ini. Fiting bajunya ditunda dulu."
Lyra memiringkan kepalanya, memasang raut wajah cemberut yang dibuat-buat. "Kamu itu selalu aja sibuk sama kerjaan. Ingat lho, pernikahan kita tinggal satu bulan lagi. Nanti kalau ada yang kurang gimana?"
"Semua sudah diurus wedding organizer, Lyra. Kamu tinggal datang," jawab Angkasa tenang, menatap lurus mata tunangannya.
"Atau... ada hal lain yang membuatmu gelisah belakangan ini?"
Pertanyaan Angkasa yang bernada gantung itu membuat Lyra tersentak kecil, namun wanita itu dengan cepat menguasai diri dan tersenyum manis.
"Gelisah kenapa? Aku cuma mau yang terbaik buat pernikahan kita, Sayang."
Pintu ruang kerja Angkasa mendadak terbuka dengan sentakan kasar. Lyra melangkah keluar dengan raut wajah keruh dan napas terengah menahan kekesalan. Gaun soft pinknya melambai anggun, namun kibasan langkah kakinya yang menghentak keras menunjukkan betapa gusarnya wanita itu setelah ditolak oleh sang tunangan.
"Pekerjaan melulu yang diurus!" gerutu Lyra setengah berbisik saat melintasi koridor.
Tanpa menoleh kanan-kiri, Lyra terus berjalan cepat menuju area lift eksekutif. Ia melintasi kubikel Senja begitu saja tanpa menyadari bahwa mata Senja menatapnya dingin dari balik tumpukan dokumen. Senja hanya diam mematung, memperhatikan wanita itu hingga pintu lift tertutup rapat.
Waktu bergulir hingga menjelang sore. Suasana kantor mulai sedikit tenang saat para staf fokus menyelesaikan pekerjaan harian. Pukul 15.30 WIB, Senja baru saja selesai merapikan revisi berkas audit yang akan diserahkan ke meja Angkasa.
Tiba-tiba, ponsel Senja yang tergeletak di atas meja bergetar hebat secara bertubi-tubi. Denting notifikasi perpesanan berdengung beruntun, menyedot perhatian Anggi yang duduk tak jauh dari sana.
"Senja, HP kamu rame banget dari tadi. Nggak diangkat atau dicek?" tanya Anggi seraya menunjuk layar ponsel Senja yang terus menyala.
"Iya, Ngi. Bentar aku cek," jawab Senja tenang, walau firasat buruk mulai merambat ke dadanya.
Senja menggeser layar ponselnya. Seperti dugaannya, deretan pesan itu datang dari nomor asing yang sama, nomor Arum.
Sebuah berkas video berdurasi tiga puluh detik muncul di layar, diikuti oleh deretan pesan singkat yang dipenuhi nada ejekan.
'Calon suamiku sok sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Tapi untungnya, suamimu selalu punya waktu luang untuk menghiburku.'
'Lihat ini, Senja. Adam langsung datang menjemputku begitu aku meneleponnya. Dia bahkan tidak ragu menciumku di mobil hanya untuk membuat mood-ku kembali bagus.'
Dengan tangan bergetar, Senja menekan tombol play pada berkas video tersebut.
Layar memperlihatkan suasana di dalam mobil mewah Adam yang terparkir di sebuah area basement. Suara gelak tawa Lyra terdengar manja, menyandar di bahu Adam yang sedang mengemudi. Adam, suami yang semalam menghindarinya dan tak pulang hingga pagi tampak tersenyum manis, membelai pipi Lyra sebelum mendaratkan ciuman mesra di bibir wanita itu. Kamera ponsel Lyra merekam setiap detik adegan itu dari dekat, mengabadikan kemesraan yang begitu nyata dan tanpa canggung.
Air mata Senja berkaca-kaca di sudut matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak menetes di tengah kubikel kantor. Rasa sakitnya kini telah berganti menjadi kemarahan yang membeku.
Senja meremas ponselnya erat-erat. Jemarinya bergerak mengetik balasan singkat untuk pertama kalinya ke nomor tersebut:
“Terima kasih videonya. Simpan tenaga dan kebahagiaanmu baik-baik, Arum. Karena sebentar lagi, kamu dan Adam akan membutuhkannya.”
Setelah menekan tombol kirim, Senja mengunduh video tersebut dan menyimpannya di folder rahasia bersama bukti-bukti sebelumnya. Ia menarik napas panjang, mengusap wajahnya, lalu berdiri tegak seraya memeluk map revisi anggaran.
Senja memegang map hitam di dadanya, berusaha menetralkan gemuruh di dada yang makin menjadi-jadi. Ibu jarinya meremas pinggiran map hingga kertas di dalamnya sedikit terlipat. Di satu sisi, bayangan omelan tajam Angkasa soal tiga menit keterlambatannya pagi tadi masih membekas. Di sisi lain, video perselingkuhan di dalam mobil yang baru saja dikirim Arum membakar sisa kesabarannya.
Senja mengetuk pintu kayu berukir itu tiga kali.
"Masuk," suara bariton Angkasa terdengar dari dalam, dingin dan tanpa kompromi.