Diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang terbelenggu kebodohan cinta hingga hamil.
Namaku adalah Mia, seorang gadis yang beranjak dewasa merasa naluri ku berontak melihat yang terjadi di depan mata.Walau sebenarnya aku pun dari keluarga yang tak sempurna.
Sedangkan Kak Dinda adalah korban dari seorang lelaki yang memanfaatkan keluguan dan tubuhnya hanya untuk kesenangan sesaat.
Berbagai macam prahara ku hadapi bersama Kak Dinda untuk mencapai kebahagiaan semu.
Mampukah Aku dan Kak Dinda menghadapi hidup yang penuh lika liku ini.
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa like dan komen serta vote. Agar menulisnya lebih semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dice Mariyetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Hari jumat biasanya mata kuliah hanya sedikit. Jadi ku bisa pulang lebih cepat. Kebetulan Brandon hari ini tak masuk karena harus mengantar ibunya ke rumah sakit.
Aku bertemu Kak Dinda di persimpangan dekat rumahku. Saat itu Kak Dinda menggendong Upik yang semakin bertambah besar.
"Hai Kak Dinda. Hallo Upik, tambah imut aja. Gemesss tau, "sapaku mentowel towel pipi Upik yang tembem.
"Apa kabar, Mi. Tumben pulangnya cepat," balas Kak Dinda.
"Iya nih Kak"
"Jalan kaki lagi. Mana cowoknya yang suka diantarin itu tu"
"Lagi ada perlu katanya"
Sepertinya Kak Dinda pernah melihatku bersama Brandon.
"Ooo"
"Kak Dinda sendiri bagaimana? Lebih tenang kan sekarang. Nggak cekcok lagi dengan ayah Upik "
Wajah Kak Dinda berubah saat ku singgung tentang ayah Upik.
" Aku pingin curhat, Mi"
"Ada apa Kak Din, cerita aja sama aku"
"Sejak Pak Boy menyuruh kita jaga jarak. Hanya satu kali saja Pak Rahmat, Suruhannya datang. Setelah itu sampai sekarang tak ada lagi beritanya. Hiks, kasihan si Upik "
" Kak Dinda sudah tanya ke rumah Pak Udin. Kalau tak salah, Pak Rahmat kan adiknya Pak Udin"
"Sudah, Mi. Tapi kata Pak Udin sekarang Ia juga tak tahu keberadaan adiknya itu"
"Memang brengs*k lelaki itu. Sudahlah kita turutkan perintahnya malah kabur. Dasar buaya darat, "umpatku emosi.
" Kita tanya sama bang ojek aja, Kak. Mungkin Ia punya info tentang Boy, "ajak ku pada Kak Dinda.
Kami duduk dipangkalan ojek yang sepi. Sepertinya bang ojek lagi narik penumpang.
Tak lama kemudian bang ojek datang.
" Mau diantar kemana nih, "tanyanya padaku.
" Nggak bang, cuma boleh nanya nggak. Abang Rahmat kerja dimana? "
" Pak Rahmat siapa neng? Yang kita ikutin tempo hari"
"Iya"
"Nggak tahu. Udah lama nggak pernah lihat. Kayaknya udah pindah "
" Kira-kira pak Rahmat kemana ya bang"
"Tanya aja sama Dinda. Kan Pak Rahmat sering ke rumahnya "
"Justru itu kami ke sini, Kak Dinda juga nggak tahu keberadaan Pak Rahmat"
"Hufff," kuhembuskan nafas dengan keras. Rasa kecewa juga terpancar dari mata Kak Dinda.
Bagaimana kalau kerumah Pak Udin untuk mengorek informasi perihal Pak Rahmat.
"Kalau gitu kami pergi dulu, Bang,"kataku menarik tangan Kak Dinda.
"Kita kemana, Mi? "
" Ke rumah Pak Udin aja. Aku yakin dapat info lebih banyak dari saudaranya "
" Kemaren aku juga darisana, Mi. Tapi Pak Udin nggak tahu adiknya dimana "
"Kita coba lagi. Siapa tahu Pak Udin ingat sesuatu"
Aku dan Kak Dinda memasuki halaman rumah Pak Udin dan terlihat yang punya halaman sedang sibuk dengan kebun singkong yang sudah tinggi batangnya.
"Assalamu'alaikum, Pak"
"Waalaikumsalam "
" Siap panen singkong, Pak, "sapaku membuka pembicaraan.
"Iya nih lumayan lah dapet gede - gede umbinya"
"Alhamdulilah "
" Mau beli sekilo sepuluh ribu saja"
"Boleh Pak,buat di kolak, "kataku.
Pak Udin dengan semangat mencabut tanaman singkongnya satu persatu.
" Daunnya bisa dijual juga tuh pak. Habis masih muda dan segar "
"Apa mau daunnya juga? "
" Mau ya Kak Dinda, buat di jadikan urap juga enak. Lima ribu aja pak"
Aku memeriksa dompetku. Kalau tidak salah tadi masih sisa lima puluh ribu rupiah. Alhamdulillah, ternyata masih disana.
"Tak usah Mi. Aku tak punya uang. Buat kamu aja. Semalam Bu warung pinjamin beras sekilo. Jadi hari ini kami masih bisa makan kok"
"Lauknya pake apa, Kak. Pake ubi di goreng balado tambah daun ubi hmmm maknyus. Biar bayarnya pake uangku saja. Ada kok "
" Nggak usah, Mi. Kamu kan belum kerja "
" Nanti ku pinjam lagi sama Anthony. Tenang aja"
"Oalah kasihan si Upik cuma makan nasi ama ubi. Gitulah kalau tak bisa memilih laki-laki. Mau saja di hamilin terus kabur. Kamu jangan mau seperti Dinda ini, "kata pak Udin menunjuk Kak Dinda tapi matanya melihat ke arahku.
" Bagaimana lagi pak. Nasi udah jadi bubur. Memang pak Rahmat tak pernah cerita tentang orang yang bernama Boy sama Bapak, "kataku pada Pak Udin yang masih sibuk membersihkan ubi-ubinya.
" Boy,, tunggu sebentar. Pernah lihat amplop coklat yang ada nama Boy,"kata pak udin mencuci tangannya dengan air dari selang lalu masuk ke dalam rumah.
Pak Udin muncul lagi sambil membawa amplop coklat.
"Coba baca ini. Ada nama Boy dan alamatnya"
"Benar pak. Pasti ini pak Boy ayahnya si Upik. Tak salah lagi."kataku senang bukan main. Akhirnya masih ada petunjuk untuk menemukan pak Boy.
Begitu pula dengan Kak Dinda. Ia sampai berontak kegirangan . Seakan masalah yang sedang menghimpitnya telah hilang dengan sekejap.
"Ayo, Mi. Kita ke sana sekarang "
" Oke. Terima kasih banyak, Pak. Ini duit Ubi dan sayurnya, "kataku menyerahkan uang lima puluh ribu yang ada di dompet tadi.
" Kembaliannya buat Bapak saja, "kataku sambil melangkah pergi bersama Kak Dinda.
Kami menaruh barang belanjaan tadi di rumah Kak Dinda. Setelah itu langsung ke alamat Pak Boy. Di tengah jalan kami bertemu dengan Yani.
" Waduh kalian jalannya cepat amat. Dari tadi ku kejar dan panggil. Tapi tak ada yang dengar. Tetap aja kalian jalan terus"
"Hai Yani. Apa kabar, "kataku tak menyangka bakal ketemu Yani.
" Udah sombong nggak kenal lagi sama suaraku"
"Serius aku tak dengar ada yang manggil. Sombong? Bukannya kamu yang sombong, nggak pernah main ke rumahku lagi. Di samperin kek barang semenit dua menit, "kataku tersenyum.
" Daripada tuduh menuduh begini biar aku yang ngalah deh. Sekarang kan udah aku samperin. Kalian mau kemana? Buru-buru banget keliatannya"
"Biasalah, Yan. Mau cari alamat Pak Boy yang kabur lagi.Kamu mau ikut? "tanyaku.
" Aku ikut yah. Mumpung hari ini tak ada kegiatan "
" Ayo, "kataku.
Ingin sekali rasanya aku bertanya tentang Roy padanya. Tapi pertanyaan itu kusimpan dalam hati. Nanti Yani juga cerita sendiri tentang hubungannya dengan Roy.
Alamat rumah Pak Boy yang ini agak jauh. Harus menggunakan angkutan umum selama tiga puluh menit.
Alamatnya tak sulit untuk ditemukan karena terletak pada sebuah perumahan elite di kota ini.
Rata-rata rumah di sini bertingkat semua.satu persatu kulihat nomor dan blok nya.
Alamat yang tertera merupakan alamat sebuah kantor marketing properti perumahan itu sendiri. Karena sudah sore tentu saja kantor itu sudah tutup.
"Bagaimana, Mi?sia-sia kita datang kesini"
"Iya Kak. Masih ada besok atau senin aku datang lagi. Saat kantornya masih buka. Besok kamu ada waktu nggak, Yan. Temenin aku ke sini lagi. Kak Dinda biar di rumah saja. Kasihan si Upik harus ikut bolak balik"
"Maaf kalau besok aku nggak bisa. Secara besok kan malam minggu saatnya Roy ngapel ke rumah, "kata Yani tersenyum.
Ternyata Yani masih seperti yang dulu. Masih bisa ketebak jalan fikiran nya.
" Yaaaah jangan di harapin yang lagi dimabuk asmara. Iya deh kami ngerti. Besok aku sendirian juga nggak apa apa kok "
" Hihihi, "tawa Yani seakan mengiyakan tuduhanku padanya.
"Kenapa alamatnya di sini. Apa Pak Boy yang punya developernya," tanya Kak Dinda kembali kepada pokok permasalahan.
"Entahlah. Mungkin saja.Ah,ternyata Upik anak orang kaya. Tapi sayang nasibnya masih belum jelas. Kak Dinda jangan putus asa ya. Kita harus berjuang terus demi si Upik"
"Makasih, Mi. Hiks kalau nggak ada kamu, aku tak tahu harus mengadu sama siapa hiks"
" Jangan nangis, Kak. Nanti si Upik ikut nangis juga. Lihat dari tadi Upik natap ke maknya mulu, "kataku mengalihkan perhatian ke gadis kecil dalam gendong Kak Dinda itu.
Kak Dinda menghapus airmatanya lalu mendekap kepala si Upik ke dadanya.
"Sekarang kita pulang. Sudah mulai gelap" kata Yani menyadarkan aku dan Kak Dinda yang mulai kebingungan.
Kami pulang dengan rasa kecewa. Terlebih Kak Dinda. Sebelum berangkat tadi, Kak Dinda sempat berangan - angan, Ia akan mengambil resiko jika bertemu dengan pak Boy beserta keluarganya.
"Aku akan melabrak Boy di depan keluarganya.Bilang Boy harus bertanggung jawab terhadap anaknya.Aku tak peduli nanti Istrinya yang sah akan memaki maki aku"
Namun yang terjadi saat ini. Lagi-lagi kami tak berhasil menemui Pak Boy.
"Sabar Kak Dinda, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu titik terang, "kataku selalu memberikan semangat.
Tiba di rumah, aku kembali berfikir dalam renungan. Apakah sebaiknya aku menghubungi mama. Bukankah mama juga seorang marketing sama dengan usaha yang sedang pak Boy geluti.Siapa tahu mama juga mengenal pak Boy.
Tiba-tiba ponselku bergetar.ada sebuah notifikasi whatsapp dari Brandon.
'Apa kabar. Lagi ngapain '
' Baik. Kamu sendiri bagaimana? Kondisi Ibu sudah pulih'
'Alhamdulilah sudah mulai membaik. Hanya tadi tensinya naik lagi. Hingga pingsan karena kepalanya mendadak pusing dan tak sanggup menahannya'
'Syukurlah. Sekarang mamamu dimana? Masih di rumah sakit kah? '
' Enggak lah. Sekarang sudah di rumah'
'Hmmm.Semoga Mamamu cepat sembuh. Yang perlu diperhatikan adalah makanannya. Usahakan menjauhi makanan yang berlemak seperti daging'
'iya....kok aku jadi kangen sama kamu nih'
'Hmmm'
'Besok kalau kondisi mama sudah aman. Kita jalan yuk. Tapi belum pasti, lihat kondisi dulu. Sebab disini nggak ada yang jagain mama'
'Hmmm'
'Bye... Sampai jumpa besok '
' Bye'
Sebenarnya aku masih bingung dengan perlakuan Brandon terhadap ku. Brandon memperlakukanku layaknya aku adalah kekasihnya. Tapi seingatku Brandon belum pernah menyatakan cintanya padaku. Tak mungkin aku yang bertanya duluan.