Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Bahaya
Yasmin terus melangkah, terus melangkah tanpa arah. Kakinya terasa berat dan perih, namun ia tak berani berhenti. Bayangan Selina yang mengamuk masih terus menghantui pikirannya, membuatnya terus berlari meski ia sendiri tidak tahu ke mana tujuan kaki ini membawanya.
Hujan turun dengan sangat deras, seolah langit ikut marah. Air dingin itu membasahi seluruh tubuhnya hingga gamis dan kerudungnya basah kuyup, menempel ketat di kulit. Angin malam bertiup kencang, membuat tubuh kecilnya menggigil hebat.
"Brrr... De-de-dingin..." cicitnya pelan, gigi nya bergemeretak.
Beberapa kali ia ingin berhenti dan bertanya pada orang yang lewat, "Maaf Pak, jalan ke Apartemen Pak Baskara lewat mana?"
Tapi setiap kali mulutnya terbuka, rasa takut justru muncul lebih dulu.
"Tidak... tidak boleh... Kalau aku tanya, nanti mereka curiga. Atau jangan-jangan mereka tahu Pak Baskara? Kalau sampai tahu aku istrinya, nanti dikira aku gila..." batinnya panik.
Apalagi ia sadar, ia bahkan tidak hafal alamat lengkapnya. Ia hanya tahu nama gedungnya, itu pun samar-samar. Bagaimana kalau ia salah sebut? Bagaimana kalau justru tersesat makin jauh?
"Ti-tidak bisa... Aku tidak berani..."
Akhirnya, Yasmin memilih diam. Ia membiarkan dirinya tersesat di tengah kota besar yang asing dan dingin ini. Hujan tak kunjung reda, jalanan mulai lengang, dan malam semakin larut.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyeret kakinya menuju sebuah halte bus yang tampak sepi dan gelap. Ia duduk meringkuk di sudut paling pojok, memeluk lututnya erat-erat, berusaha menahan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Brrr... Hikss..."
Air mata bercampur air hujan mengalir di pipinya. Suasana di halte itu sunyi senyap, hanya terdengar suara rintik hujan yang memukul atap seng dan suara kendaraan yang sesekali lewat dengan cepat, memercikkan air lumpur.
"Pa... Pak Baskara..." rintihnya lirih. "Maafkan Yaya... Yaya tersesat..."
Ia menundukkan kepalanya di antara kedua lututnya, tubuhnya gemetar hebat bukan hanya karena kedinginan, tapi juga karena rasa takut yang luar biasa.
"Kenapa jalanannya semua sama... Yaya tidak tahu jalan pulang..." isaknya pelan.
Pikirannya kalut. Ia membayangkan Baskara pasti sudah menunggu di rumah. Pasti suaminya itu sudah marah besar. Pasti sudah menghitung jam berapa ia pergi. Tiga jam? Empat jam? Atau mungkin sekarang sudah tengah malam?
"Pasti Pak Baskara marah sekali... Pasti beliau bilang Yaya pembohong... Yaya tidak menepati janji..." tangisnya semakin pecah. "Tapi Yaya tidak sengaja... Yaya dikejar Selina... Yaya takut..."
Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh sendiri. Gamisnya basah, dingin, dan berat. Rasanya ia ingin sekali tidur dan tak bangun lagi, atau berharap tiba-tiba ada malaikat yang datang membawanya pulang.
"Di mana aku sekarang...? Kenapa tempat ini sepi sekali...?" bisiknya ketakutan saat melihat sekeliling halte yang gelap dan kosong melompong.
Hanya ada dirinya, hujan, dan ketakutan.
*****>>>{}<<<*****
Di Dalam Mobil
Brm... brm...!
Mesin mobil mewah itu menderum kencang membelah jalanan kota yang mulai basah oleh hujan. Wiper bergerak cepat menyapu air yang menimpa kaca depan, namun tidak secepat pandangan mata Baskara yang terus mengedar gelisah ke kiri dan kanan.
Wajahnya datar, namun alisnya terangkat tegas membentuk garis kemarahan. Tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dasar Gadis tidak tahu diri! Sudah dibilangin baik-baik, langsung pulang! Ini sudah jam berapa hah? Sore sudah berganti malam! Bahkan hujan sudah turun deras begini!" gerutunya keras pada dirinya sendiri, suaranya terdengar marah di dalam kabin mobil yang sunyi.
Ia melirik jam di dasbor. Pukul delapan malam. Sudah hampir delapan jam Yasmin pergi. Delapan jam! Padahal hanya untuk membeli obat di apotek yang dekat.
"Aneh sekali! Apa yang dikerjakannya sampai selarut ini? Jalan-jalan? Melamun? Atau memang otaknya sudah tidak waras sehingga lupa jalan pulang?" umpatnya lagi, sambil menekan klakson panjang pada motor yang memotong jalan seenaknya.
Teeettttt!!!
"Tuh kan! Lihat saja nanti kalau sudah ketemu! Tidak akan ada ampun! Aku akan marahi habis-habisan! Akan aku kunci di kamar seminggu! Tidak akan kubiarkan dia melangkah keluar selangkah pun lagi! Dasar pembuat masalah!"
Baskara menginjak rem mendadak saat lampu lalu lintas berubah merah. Ia mendengus kasar, kepalanya bersandar ke kursi sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Di balik kemarahan dan omelan yang terus meluncur dari mulutnya, sebenarnya ada rasa cemas yang menggerogoti hati pria itu perlahan. Sejak sore tadi, saat jam menunjukkan pukul empat dan Yasmin belum juga pulang, perasaan tenangnya mulai hilang.
Awalnya ia berpikir wanita itu cuma mampir duduk-duduk di taman, menikmati angin seperti yang diucapkannya tadi pagi. Tapi menunggu sampai sore, menunggu sampai maghrib, menunggu sampai malam datang dan hujan turun begini... itu sudah di luar batas kewajaran.
"Jangan-jangan dia kenapa-napa? Atau dia tersesat? Dia kan orang desa, baru sebulan di sini, pasti belum hafal jalan..." bisik suara kecil di hatinya.
Tapi segera ia tepis pikiran itu dengan keras.
"Ah! Tidak mungkin! Dia kan sudah besar! Pasti dia sengaja! Pasti dia main-main! Gadis itu memang suka cari perhatian!" hardiknya dalam hati, berusaha meyakinkan diri bahwa Yasmin cuma nakal dan akan pulang-pulang juga.
Namun kakinya terus menginjak gas, memacu mobilnya menjelajahi jalanan sekitar apartemen, menyusuri trotoar, melihat ke dalam halte-halte, dan memeriksa setiap apotek yang ada di sekitar sana.
"Yasmin... kalau kau berani buat masalah, jangan harap kau selamat..." gumamnya pelan, tapi matanya terus memindai setiap sudut jalan dengan intens.
Hatinya tidak tenang. Bayangan wajah Yasmin yang polos, takut-takut, dan tadi pagi terlihat begitu bahagia saat diizinkan keluar, terus berputar di kepalanya.
*****>>>{}<<<*****.