Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Papan Misi Berdarah
Paviliun Misi Sekte Awan Ungu berdiri megah di Puncak Kedua. Bangunan berlantai lima itu terbuat dari kayu gaharu kuno yang menebarkan aroma penenang jiwa, dengan atap berlapis genteng emas yang berkilau di bawah sinar matahari sore.
Lin Tian melangkah masuk ke dalam aula utama paviliun yang luasnya menyamai sebuah kota kecil. Ribuan murid berseragam putih dan biru berlalu-lalang dengan tergesa-gesa. Di udara, ratusan gulungan perkamen melayang, memancarkan cahaya berisi teks deskripsi misi.
Aula ini dibagi menjadi empat area berdasarkan tingkat kesulitan: Papan Perunggu (Misi Rutin), Papan Perak (Misi Berbahaya), Papan Emas (Misi Elit), dan di sudut paling gelap dan sepi... Papan Darah (Misi Kematian).
Para murid sibuk berkerumun di area Perunggu dan Perak, sesekali ada Murid Dalam tingkat tinggi yang melirik ke area Emas. Namun, tidak ada satu pun yang berani mendekati Papan Darah. Aura di sekitar papan batu berwarna merah pekat itu memancarkan niat membunuh yang tertinggal dari para murid sekte yang tewas saat mencoba menyelesaikan misi-misi tersebut.
Tanpa melirik ke area lain, Lin Tian berjalan lurus membelah kerumunan menuju sudut Papan Darah.
Langkahnya yang mantap menarik perhatian beberapa murid di sekitarnya.
"Hei, lihat anak berseragam Murid Inti itu. Aku belum pernah melihatnya. Apa dia murid baru?"
"Dia berjalan ke Papan Darah! Apakah dia gila? Tingkat kematian misi di sana mencapai sembilan puluh persen! Bahkan Murid Inti sepuluh besar pun harus membentuk kelompok untuk mengambil misi dari sana."
Mengabaikan tatapan heran dan bisik-bisik, Lin Tian berhenti tepat di depan lempengan batu merah raksasa itu. Ia membaca deretan teks yang melayang di atasnya.
Misi Kematian memiliki bayaran yang fantastis. Rata-rata menjanjikan Batu Roh Tingkat Menengah—sumber daya yang kepadatan Qi-nya seratus kali lipat lebih murni daripada Batu Roh Tingkat Rendah. Bagi Lautan Qi Kehampaan Lin Tian, ini adalah makanan utama yang ia butuhkan.
Mata Lin Tian terkunci pada satu gulungan perkamen yang memancarkan cahaya merah menyala.
Misi Tingkat Darah: Panen Reruntuhan
Target: Memetik satu tangkai Teratai Api Neraka berumur tiga ratus tahun.
Lokasi: Reruntuhan Magma di kedalaman Lembah Abu Berdarah (Zona Netral, 500 mil ke arah selatan).
Ancaman: Dijaga oleh Kobra Api Bersisik Besi (Binatang Iblis Tingkat 2 Puncak - Setara tahap Pondasi Bumi Puncak). Bahaya gas beracun dan kemungkinan bentrok dengan faksi lain.
Imbalan: 100 Batu Roh Tingkat Menengah & 5.000 Poin Kontribusi Sekte.
"Sempurna," gumam Lin Tian. Bukan hanya imbalannya yang besar, tetapi Inti Binatang Iblis tingkat 2 puncak berelemen api adalah suplemen terbaik untuk memperkuat pertahanan fisiknya lebih jauh.
Lin Tian baru saja akan mengulurkan tangan untuk mengambil gulungan itu, ketika seberkas energi dingin setajam es tiba-tiba melesat melewati bahunya, berusaha meraih gulungan perkamen itu lebih dulu.
Tring!
Lin Tian bereaksi lebih cepat. Ia menjentikkan jarinya, melepaskan seutas benang Qi hitam yang langsung memotong energi dingin tersebut menjadi uap, lalu tangannya dengan mantap menggenggam gulungan Teratai Api Neraka.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh misiku?" suara wanita yang sangat dingin dan merdu terdengar dari belakangnya. Suhu di sekitar Papan Darah mendadak turun drastis hingga embun beku mulai terbentuk di lantai batu giok.
Lin Tian berbalik perlahan.
Di hadapannya berdiri seorang gadis muda dengan kecantikan yang luar biasa. Ia mengenakan gaun putih panjang berbahan sutra es, dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai menuruni punggungnya. Kulitnya seputih pualam, namun sepasang matanya memancarkan kedinginan abadi seperti gunung es yang tak tersentuh.
Ia memancarkan aura Pondasi Bumi Puncak, dan di kerah seragamnya terdapat sulaman tiga garis ungu—menandakan bahwa ia adalah salah satu dari Tiga Besar Murid Inti.
Melihat gadis itu, para murid di kejauhan langsung menahan napas dan menunduk hormat.
"Itu Kakak Senior Mu Qingxue! Peringkat kedua Murid Inti! Kenapa dia datang ke sini?"
"Teratai Api Neraka... kudengar Kakak Senior Mu berlatih Seni Hati Es Surgawi. Dia pasti membutuhkan elemen api murni yang ekstrem untuk menyeimbangkan Yin di tubuhnya agar bisa menerobos ke tahap Inti Emas!"
Mu Qingxue menatap Lin Tian dengan tatapan datar, seolah memandang sesuatu yang tidak signifikan. "Adik kelas, letakkan gulungan itu. Misi itu melampaui kemampuanmu. Dengan kekuatan Pondasi Bumi awal yang baru saja kau capai, mendekati Lembah Abu Berdarah sama saja dengan mengantar nyawa."
Kata-katanya terdengar seperti peringatan yang bermaksud baik, namun nada bicaranya penuh dengan kesombongan seorang jenius yang berdiri di puncak.
Lin Tian menatap lurus ke mata sedingin es itu tanpa terpengaruh sedikit pun.
"Terima kasih atas 'kepedulian' Senior," jawab Lin Tian datar. Ia menepuk debu dari gulungan perkamen itu dengan santai. "Tetapi di dunia kultivasi yang kupercayai, siapa yang memegang gulungannya, dialah yang mengambil misinya. Jika kau menginginkan Teratai Api Neraka, cari saja di tempat lain."
Mendengar penolakan terang-terangan itu, mata indah Mu Qingxue sedikit melebar. Selama ia berada di Sekte Awan Ungu, tidak pernah ada satu pun murid—bahkan peringkat pertama sekalipun—yang berani berbicara tidak sopan kepadanya.
"Kau tidak mengerti, Bocah Sombong," suara Mu Qingxue sedikit menajam. Hawa dingin di sekitarnya membentuk kristal-kristal es kecil di udara. "Kobra Api Bersisik Besi bukan tandingan kultivator Pondasi Bumi biasa. Sisiknya tidak bisa ditembus oleh senjata spiritual tingkat menengah. Aku menyelamatkan nyawamu dengan mengambil misi ini."
"Nyawaku milikku sendiri. Dan ular kecil itu... akan menjadi makan malamku," balas Lin Tian sambil berbalik, meninggalkan Mu Qingxue yang membeku karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Lin Tian melangkah ke meja registrasi di mana seorang Tetua sedang bertugas. Tetua itu telah melihat perdebatan kecil tadi, dan kini menatap Lin Tian dengan tatapan rumit.
"Namamu Lin Tian? Murid Inti baru dari Utusan Zhao?" tanya Tetua itu sambil menerima gulungan dan pelat ungu Lin Tian.
"Benar, Tetua."
"Apakah kau yakin dengan ini? Kematian di Lembah Abu Berdarah tidak akan ditanggung oleh Sekte. Pihak sekte tidak akan mengirim siapa pun untuk mengumpulkan tulangmu jika kau gagal."
"Saya mengerti."
Tetua itu menghela napas panjang. Ia menempelkan stempel Qi pada pelat giok Lin Tian, secara resmi mendaftarkan misi tersebut atas namanya. "Hati-hati, Nak. Jenius yang mati muda bukanlah jenius. Mereka hanya sejarah yang dilupakan."
"Sejarah hanya akan mengingat mereka yang menelan langit," jawab Lin Tian pelan. Ia mengambil kembali pelat dan gulungannya, lalu berjalan keluar dari Paviliun Misi tanpa menoleh ke belakang lagi.
Di sudut Papan Darah, Mu Qingxue memandangi punggung Lin Tian yang menjauh. Ia menggigit bibir bawahnya perlahan. Teratai Api Neraka itu adalah kunci mutlak baginya untuk menerobos ke tahap Inti Emas bulan ini. Jika ia melewatkannya, ia harus menunggu puluhan tahun lagi untuk menemukan benda yang sepadan.
"Bodoh dan arogan. Dia akan mati dalam sekejap saat melihat Kobra Api itu," gumam Mu Qingxue pada dirinya sendiri. Namun, matanya berkilat penuh tekad. "Tetapi aku tetap membutuhkan Teratai itu. Aku akan mengikutinya. Saat monster itu membunuhnya, aku akan maju dan membasmi monster itu. Setidaknya, aku bisa membantunya mengubur mayatnya nanti sebagai balas budi karena dia 'membawakan' misinya."
Dengan satu kepakan lengan bajunya yang memancarkan aura es, Mu Qingxue melesat keluar dari paviliun, membayangi jejak Lin Tian dari kejauhan bagaikan peri salju yang tak kasat mata.
Menuju Lembah Abu Berdarah
Lin Tian tidak menggunakan Bangau Roh atau tunggangan apa pun. Setelah menuruni gerbang pegunungan Sekte Awan Ungu, ia segera mengerahkan Tiga Langkah Hantu Kehampaan.
Sosoknya berubah menjadi bayangan buram hitam yang melesat melintasi dataran, menembus hutan, dan melompati tebing-tebing curam dengan kecepatan yang mengerikan. Berkat Lautan Qi Kehampaan yang sangat besar, ia tidak perlu khawatir kehabisan stamina. Qi di dalam tubuhnya secara otomatis menyedot energi alam di sekitarnya saat ia bergerak.
Lima jam berlalu dengan cepat. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, memancarkan cahaya merah darah yang mencekam.
Di depan Lin Tian, lanskap hijau yang subur tiba-tiba menghilang, digantikan oleh hamparan tanah gersang berwarna hitam kemerahan. Udara di tempat ini panas menyengat, membawa bau belerang dan darah yang tajam. Retakan-retakan besar di tanah mengeluarkan asap tebal berwarna keabu-abuan.
Ini adalah perbatasan Lembah Abu Berdarah, sebuah wilayah tanpa hukum tempat para kultivator gelap, pemburu harta karun independen, dan Binatang Iblis bersaing memperebutkan sumber daya.
Lin Tian berhenti di atas sebuah batu karang hitam, menatap ke dalam lembah. Mutiara Kehampaan di dalam dirinya berdenyut pelan, seolah merespons aura kekerasan dan pembantaian yang menyelimuti tempat ini.
"Tempat ini... berbau seperti surga," Lin Tian menyeringai.
Tanpa ragu, ia melompat turun ke dalam lembah.