NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Keesokan paginya, para prajurit mulai membersihkan seluruh penjuru kota. Semua benda yang diduga masih terpapar kabut racun dikumpulkan, lalu dibakar agar tidak lagi membahayakan warga.

Arina terbangun dalam kondisi yang jauh lebih baik. Setelah berganti pakaian dengan baju dan celana panjang putih yang bersih, ia melangkah keluar dari tendanya.

Sinar matahari pagi menyinari wajahnya. Arina sedikit menyipitkan mata birunya saat memandang ke depan.

Orion berjalan menghampirinya bersama Putri Vega dan Panglima Darius.

"Bagaimana keadaanmu, Arina?" tanya Putri Vega dengan lembut.

"Aku baik-baik saja, Yang Mulia," jawab Arina.

Tatapannya sempat beralih kepada Orion yang sejak tadi terus menatapnya, sebelum akhirnya berpindah kepada Panglima Darius.

Sikap pria itu kini jauh lebih sopan dibandingkan sebelumnya. Tampaknya, ia akhirnya mengakui kemampuan Arina.

"Apakah penawarnya sudah diberikan kepada semua pasien?" tanya Arina.

"Sudah," jawab Orion. "Kondisi mereka mulai membaik."

Meski sedang berbicara, tatapan hazelnya tidak pernah lepas dari wajah Arina. Sejak semalam, satu pertanyaan terus memenuhi benaknya.

Mengapa wanita sedingin Arina rela bersusah payah menyelamatkan warga Asterra?

Dan yang lebih membuatnya bingung… Mengapa Arina juga menyelamatkannya?

Saat Arina mengeluarkan racun dari tubuhnya, Orion sebenarnya tidak benar-benar pingsan.

Kesadarannya memang kabur, tetapi ia masih bisa merasakan kehadiran Arina yang tanpa henti menggunakan kekuatannya demi mengeluarkan racun Selene Bane dari tubuhnya.

Arina bahkan mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri.

Demi dirinya.

Dan demi seluruh warga Asterra.

Apakah... dia melakukan semua ini karena mencintaiku?

Itulah satu-satunya kesimpulan yang berhasil ditemukan Orion. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Kebetulan pada saat yang sama Arina menoleh ke arahnya. Keningnya langsung berkerut. Kenapa pria pemarah ini tiba-tiba tersenyum sendiri?

Ia benar-benar tidak mengerti isi kepala Orion.

"Namun, masih ada sekitar tiga puluh pasien yang semalam berada di ambang kematian," ujar Darius, mengalihkan perhatian mereka. "Mereka memang berhasil diselamatkan, Lady, tetapi kondisi organ dalam mereka masih sangat parah."

"Kemarin kau mengatakan bahwa kita harus membuat obat lain untuk memulihkan organ-organ mereka yang rusak," kata Putri Vega sambil duduk di kursi yang telah disiapkan di depan tenda. "Kau cukup menunjukkan cara pembuatannya. Biarkan kami yang meraciknya. Kondisimu belum memungkinkan untuk menguras tenaga lagi."

Arina menggeleng pelan. "Tidak perlu terburu-buru, Yang Mulia."

Semua orang menatapnya.

"Kita harus menunggu sekitar satu minggu hingga racun Basilyx benar-benar ternetralkan dari tubuh para pasien. Setelah itu, barulah pengobatan untuk memulihkan organ dalam dapat dilakukan. Jika dilakukan sekarang, hasilnya tidak akan maksimal.”

“Namun, kita memang harus mulai mengumpulkan bahan-bahannya dari sekarang.” Arina melanjutkan sambil ikut duduk tidak jauh dari Putri Vega. “Asterra memang merupakan penghasil tanaman obat terbesar di Elarion, tetapi sebelum kita memastikan ladang-ladang ramuannya tidak ikut terkontaminasi racun, kita tidak boleh menggunakan tanaman obat yang berasal dari sana.”

Orion dan Darius mengambil tempat duduk di hadapan mereka.

Pertemuan pagi itu dimulai tanpa kehadiran Edmund. Walikota Asterra itu masih berada di rumahnya untuk menemani putra semata wayangnya yang berhasil diselamatkan dari ambang kematian.

“Di istana juga ada ladang tanaman obat, meskipun tidak sebesar milik Asterra,” ujar Putri Vega. “Aku akan meminta orang-orang di istana mengumpulkan bahan-bahannya, lalu mengirimkannya ke sini.”

“Menurut saya, itu bukan langkah yang tepat, Yang Mulia,” sela Orion.

Putri Vega menoleh kepadanya.

“Jika benar ada pihak yang sengaja menggunakan racun mematikan untuk melumpuhkan Asterra, saya curiga ada dalang yang memiliki pengaruh besar di balik semua ini.”

Arina diam-diam sependapat dengan Orion.

Mustahil Cultus Ophion menyerang Asterra secara acak. Pasti ada seseorang yang menyewa mereka. Dan orang yang mengetahui keberadaan kelompok itu jelas bukan orang biasa.

“Kau mencurigai orang dalam istana?” tanya Putri Vega dengan nada terkejut.

Orion mengangguk.

“Saya belum bisa memastikan siapa dalang sebenarnya di balik penyebaran racun ini. Namun, melihat betapa mematikannya Basilyx, mustahil ini hanya eksperimen sembarangan dari seseorang yang baru mempelajari racun.”

“Saya setuju dengan Jenderal Orion,” ujar Darius. “Basilyx bukan racun yang mudah dibuat. Selain itu, mereka menggunakannya dalam jumlah sangat besar untuk melumpuhkan seluruh Asterra. Hanya seseorang yang memiliki kekuasaan dan sumber daya besar yang mampu melakukan hal seperti itu.”

Putri Vega terdiam sejenak.

“Jadi, kita tidak akan mengambil bahan-bahan obat dari ladang ramuan istana?”

“Sebaiknya jangan, Yang Mulia,” jawab Arina. “Jika memang ada dalang yang berpengaruh, bukan tidak mungkin ia kembali menyusupkan sesuatu ke dalam bahan-bahan itu. Lebih baik kita mencegah kemungkinan terburuk.”

“Aku akan membawa beberapa prajurit menuju Lembah Valtheris untuk mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan,” kata Orion tanpa ragu.

Begitulah sifatnya. Jika satu jalan tertutup, ia akan segera mencari jalan yang lain.

“Baiklah,” ujar Putri Vega sambil mengangguk.

“Saya ikut, Jenderal,” kata Darius.

Orion menggeleng.

“Tidak, Darius. Kau tetap berada di Asterra. Jaga kota ini dan ambil alih komando jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.”

“Baik, Jenderal.”

Setelah itu, Arina menuliskan daftar tanaman obat yang harus dikumpulkan beserta jumlah yang diperlukan.

Pertemuan pun berakhir.

Masing-masing segera menjalankan tugas mereka demi mempercepat pemulihan Asterra.

Saat semua orang sibuk dengan tugas masing-masing, Arina menghampiri Saiph yang baru saja selesai membantu para warga.

“Saiph.”

“Ya, Nona.” Saiph segera mendekat dan memberi hormat.

“Aku ingin menemui orang yang pernah kau ceritakan sebelumnya. Kau mau ikut?”

Salah satu alasan Arina datang ke Asterra memang untuk menolong seseorang yang sangat penting bagi Saiph.

Kini, keadaan kota mulai terkendali. Orion juga sedang pergi ke Lembah Valtheris.

Ini adalah waktu yang paling tepat untuk pergi tanpa menarik perhatian siapa pun.

Saiph mengangguk. “Tentu, Nona. Mari saya antarkan.”

“Aku juga akan membawa Alhena,” ujar Arina. “Dengan begitu, jika ada yang melihat kita, mereka tidak akan menaruh curiga.”

“Baik, Nona.”

Saiph sama sekali tidak mempermasalahkannya.

Tak lama kemudian, Arina memanggil Alhena.

Setelah itu, mereka bertiga berjalan menuju salah satu sudut Kota Asterra yang cukup terpencil, dengan Saiph memimpin perjalanan di barisan paling depan.

Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan banyak prajurit yang sedang berpatroli dan membersihkan sisa-sisa benda yang diduga telah terpapar racun.

Begitu melihat Arina, para prajurit itu langsung menundukkan kepala memberi hormat.

Mereka terus berjalan hingga akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana.

Suasananya begitu sunyi.

Di sepanjang jalan hanya tampak beberapa tanaman hias yang tumbuh rapi, sementara rumah-rumah di sekitarnya terlihat kosong, seolah sudah lama tidak berpenghuni.

Tok... tok... tok...

Saiph mengetuk pintu itu tiga kali.

Tak lama kemudian, pintunya terbuka.

“Paman Saiph!”

Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di ambang pintu. Begitu melihat siapa yang datang, matanya langsung berbinar.

Tanpa ragu, ia berlari dan menubruk tubuh Saiph, lalu memeluknya erat.

...***...

...Like, komen dan vote...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!