Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12 - Kebangkrutan Keluarga Alamsyah
Pada Senin pukul sembilan pagi, Farah Lestari Azzahra sudah berada di ruang rapat dengan tiga map terbuka ketika telepon aman berdering. Suara di seberang masih sama seperti biasa, tenang, objektif, tanpa nama.
"Farah, saya perlu Anda menjalankan audit formal atas kontrak Alamsyah Engineering. Semua yang masih aktif dengan grup. Gunakan klausul kualitas yang tercantum dalam adendum pembaruan."
"Audit internal atau eksternal?"
"Eksternal. Kontrak BDO atau Grant Thornton. Saya mau laporan teknis independen. Tenggat: sepuluh hari."
Farah mencatat tanpa bertanya. Ia sudah belajar bahwa instruksi dari pengendali anonim itu selalu datang dengan alasan di belakangnya, meski alasan itu baru ia ketahui belakangan.
"Ada lagi?"
"Ya. Kalau laporan mengonfirmasi penyimpangan, saya mau pemberitahuan pemutusan siap dikirim. Tenggat tiga puluh hari, sesuai kontrak. Tanpa negosiasi."
"Dimengerti."
Sambungan terputus. Farah menatap map-map di meja. Ia membuka map Alamsyah Engineering, membalik beberapa laporan pengiriman terakhir, lalu mengernyit.
Laporan audit selesai dalam delapan hari.
Tujuh belas halaman. Tiga lampiran foto. Kesimpulannya tegas: mark-up 14 persen pada material finishing, dua pengiriman melewati tenggat kontrak, dan satu lot penuh baja struktural dengan sertifikasi kedaluwarsa. Auditor mengklasifikasikannya sebagai "pelanggaran material atas kewajiban kontraktual".
Farah menyusun surat pemberitahuan itu sendiri. Pada Rabu pukul sebelas pagi, ia menelepon kantor hukum grup dan mengesahkan pengiriman.
Pukul dua siang, tanda terima sampai di kantor Alamsyah Engineering di Cilandak.
Satria Alamsyah membaca surat itu tiga kali. Pada bacaan pertama, ia mengira itu kesalahan. Pada bacaan kedua, ia mencari celah hukum, satu koma yang salah tempat, satu tenggat yang mungkin dilanggar Imperial sendiri sehingga pemutusan itu batal. Pada bacaan ketiga, tangannya sudah gemetar dan ia tahu tidak ada celah apa pun. Laporannya dari Grant Thornton. Itu bukan jenis dokumen yang bisa dibantah dengan satu telepon.
"Grup Imperial memutus semua kontrak." Ia melempar kertas ke meja dan menatap putra sulungnya, yang mengelola proyek-proyek lapangan. "Semua. Tiga kontrak aktif. Ditambah prakualifikasi gedung pusat baru yang bahkan belum dimulai."
"Pa, Imperial itu 60 persen omzet kita. Kalau ini berjalan, kita tidak akan menutup kuartal."
"Aku tahu angkanya. Aku tahu artinya."
Kantor itu berbau kopi basi dan kertas tua. Di dinding, bingkai berisi izin operasi pertama Alamsyah Engineering, tertanggal 2004, dua puluh dua tahun lalu, ketika Satria memulai usaha dengan satu truk mixer sewaan dan tiga tukang.
Satria meraih telepon. Ia menekan nomor Bu Ratih. Tiga nada sambung. Empat. Lima.
"Ratih?"
"Satria." Suara perempuan itu dingin, terkendali seperti biasa. "Ada apa?"
"Grup Imperial memutus kontrak kami. Pemutusan dengan alasan sah. Audit eksternal. Mereka bilang kami melakukan mark-up dan mengirim material di luar spesifikasi."
Sunyi di seberang.
"Ratih, kamu harus bicara dengan seseorang di dalam sana. Kamu punya kontak. Kamu selalu punya kontak."
"Satria, aku tidak punya kontak di Imperial. Tidak pernah punya. Itu urusan Robert."
"Robert tidak memegang apa-apa dan kita sama-sama tahu itu."
Sambungan membisu selama tiga detik. Ketika Bu Ratih kembali bicara, suaranya turun satu nada.
"Aku akan lihat apa yang bisa kulakukan."
Ia tidak bisa melakukan apa pun. Dan ia tahu itu. Grup Imperial sudah berpindah tangan beberapa bulan lalu. Ia mendengar rumor, tetapi tak pernah berhasil memastikan siapa pengendali barunya. Ada yang bilang dana asing. Ada yang bilang holding dari Jakarta. Tidak ada yang tahu pasti. Dan orang yang tidak tahu siapa yang berkuasa, tidak tahu harus bernegosiasi dengan siapa.
Satria menutup telepon dan memandangi gagang itu seolah benda itulah yang bersalah. Putra sulungnya menunggu instruksi. Satria tidak punya satu pun.
"Telepon kantor hukum. Minta mereka analisis klausul pemutusan. Peluang putusan sela, argumen apa pun, aku mau di mejaku besok."
Putranya keluar. Satria tinggal sendirian. Ia membuka laci meja, mengeluarkan kalkulator tua, kalkulator elektronik dengan gulungan kertas cetak, lalu mulai menghitung. Gaji karyawan. Sewa alat berat. Cicilan gudang. Asuransi. Pemasok. Angkanya tidak menutup. Sama sekali tidak menutup.
Kabar itu menyebar di pasar dalam empat puluh delapan jam. Grup Imperial adalah konglomerat konstruksi dan infrastruktur terbesar di wilayah itu. Ketika sebuah perusahaan kehilangan kontrak sebesar itu, bank memperhatikan. Perusahaan asuransi memperhatikan. Para pesaing memperhatikan.
Pada Jumat, BCA meminta dokumen tambahan untuk memperbarui fasilitas kredit Alamsyah. Mandiri menurunkan limit. Seorang pemasok semen menelepon dan meminta pembayaran dipercepat.
Satria Alamsyah mencoba menelepon Bu Ratih dua kali lagi. Ia tidak menjawab.
Pada minggu kedua, Alamsyah Engineering memberhentikan empat puluh karyawan. Putra sulungnya mulai mencari calon pembeli untuk alat-alat berat. Seorang sepupu yang mengurus cabang di Bandung menutup kantor begitu saja dan menghilang.
Imperium keluarga Alamsyah, dibangun selama dua puluh tahun dari bantuan, kontrak titipan, dan uang yang dialihkan, hanya butuh dua minggu untuk mulai runtuh.
Bu Ratih berada di ruang kerja rumah ketika ia mendengar detailnya. Bukan dari keluarga Alamsyah, melainkan dari seorang sepupu yang bekerja di bank investasi dan menelepon "hanya untuk memberi tahu".
Ia menutup telepon dan menatap ke luar jendela. Taman rumah besar itu sempurna. Rumpun mawar dipangkas rapi. Rumput hijau. Semua tertata.
Semua tertata, kecuali dunia di sekitarnya.
Pertama Bagas. Bisnisnya dihancurkan dari dalam ke luar. Sekarang keluarga Alamsyah, sekutu dua dekadenya, diputus dari Grup Imperial tanpa peringatan, tanpa negosiasi, tanpa kesempatan membela diri.
Bu Ratih tidak percaya pada kebetulan.
Ia mengambil ponsel. Mencari nomor Surya, penyelidik swasta.
"Surya. Kasus yang kusuruh kamu tutup itu."
"Ya, Bu."
"Buka lagi. Dan kali ini, jangan berhenti saat sampai di Jakarta. Ikuti sampai akhir."
Ia menutup sambungan. Bersandar ke kursi. Matanya menyipit, rahangnya terkunci.
"Pertama Bagas, sekarang Alamsyah," gumamnya kepada ruangan kosong. "Ada yang sedang mengepungku."