Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Aula utama Rumah Sakit Herman Medika telah disulap menjadi ruang perawatan darurat. Puluhan ranjang pasien berjejer rapi di atas lantai pualam. Suara monitor detak jantung yang tadinya tidak beraturan memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang mencekam.
Di tengah ruangan, Bima berdiri tegak dengan lengan kemeja tergulung sampai siku. Nafasnya diatur secara teratur, mengalirkan energi hangat dari dantian ke seluruh jalur meridian tubuhnya.
Dokter Hendra dan puluhan perawat berdiri di pinggir ruangan dengan nafas tertahan. Mereka hanya bisa menonton, karena intervensi medis modern terbukti memperburuk keadaan. Kini, seluruh harapan hidup puluhan pasien itu diserahkan sepenuhnya kepada seorang pemuda berusia dua puluh tahun.
"Clara, berdirilah di dekat pintu. Jangan biarkan siapa pun masuk atau mengganggu konsentrasiku," perintah Bima dengan suara tenang tapi berwibawa.
Clara mengangguk mantap. Ia menatap Bima dengan sorot mata penuh cinta dan kepercayaan mutlak. "Hati-hati, Bima."
Bima mengambil nampan berisi seratus batang jarum perak murni yang telah disterilkan. Dengan gerakan secepat kilat, kedua tangannya bergerak lurus ke depan. Sepuluh batang jarum perak terjepit di sela-sela jarinya, berkilau di bawah lampu sorot bedah.
Wush!
Bima melangkah ke ranjang pasien pertama. Tanpa ragu, ia menancapkan jarum perak tersebut ke titik-titik akupunktur vital di dada, leher, dan punggung pasien dengan kedalaman yang sangat presisi.
Teng! Teng! Teng!
Suara dengungan halus terdengar dari ujung jarum-jarum perak tersebut, bergetar hebat akibat aliran Tenaga Dalam murni yang disalurkan oleh Bima.
"Formasi Penarik Jiwa, Buka!" gumam Bima pelan.
Begitu tenaga dalam Bima meresap ke dalam tubuh pasien pertama, urat-urat hitam yang tadinya berdenyut di leher pasien itu mendadak berhenti. Racun Parasit Bayangan Kematian yang terkurung di paru-paru seolah tertarik oleh magnet tak kasat mata.
Uhuk!
Pasien pertama tiba-tiba memuntahkan setetes darah pekat berwarna hitam legam ke lantai. Darah itu langsung mengeluarkan bau busuk yang menyengat sebelum menguap di udara.
Monitor detak jantung yang tadinya berada di garis merah kritis tiba-tiba berbunyi stabil: Beep... beep... beep...
"I-itu...!" Dokter Hendra membelalakkan matanya, mulutnya menganga lebar hingga hampir menyentuh lantai. "Detak jantungnya kembali normal dalam waktu kurang dari satu menit?!"
Bima tidak berhenti. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia melesat ke ranjang kedua, ketiga, hingga kesepuluh dengan kecepatan bayangan. Gerakannya begitu elegan, bagaikan seorang maestro kaligrafi yang sedang menari di atas kanvas kematian. Ratusan jarum perak menancap dan berdengung serentak, membentuk jaring energi yang menyelamatkan seluruh pasien di aula tersebut.
Uhuk! Uhuk!
Satu per satu pasien memuntahkan darah hitam pekat yang sama. Warna kebiruan di wajah mereka berangsur-angsur pudar, berganti dengan rona kemerahan layaknya orang yang baru saja bangun dari tidur nyenyak.
Dalam kurun waktu tepat dua puluh menit, seluruh puluhan pasien di aula itu telah disembuhkan dari cengkeraman racun maut. Monitor menunjukkan grafik vital yang sepenuhnya normal.
Suara keheningan yang tegang seketika pecah oleh jeritan kelegaan dan tangis haru dari para keluarga pasien yang menyaksikan mukjizat tersebut dari luar kaca pembatas.
Dokter Hendra melangkah lunglai mendekati ranjang pertama. Ia memeriksa denyut nadi dan memeriksa kondisi pasien menggunakan stetoskopnya. Hasilnya membuatnya terduduk lemas di lantai. Racun itu telah hilang sepenuhnya tanpa meninggalkan efek samping apa pun!
"Ini... ini adalah keajaiban medis! Ilmu akupunktur dan tenaga dalam ini melampaui seluruh hukum kedokteran modern di dunia!" gumam Dokter Hendra dengan air mata berlinang, lalu ia merangkak mendekati Bima dan membungkuk dalam-dalam hingga dahinya menyentuh lantai. "Tuan Bima! Saya memohon maaf atas keangkuhan saya sebelumnya. Anda adalah dewa penyelamat yang sesungguhnya!"
Bima menarik nafas panjang, sedikit butiran keringat tampak di dahinya. Ia menyarungkan kembali kantong jarumnya. "Bangkitlah, Dokter Hendra. Tugas seorang tabib adalah menyembuhkan, bukan menerima sembahan."
Jauh dari rumah sakit, di dalam sebuah mobil van hitam yang terparkir di sudut jalan sepi, seorang pria berkerudung hitam menatap layar tablet yang menampilkan siaran langsung dari kamera tersembunyi di dalam aula rumah sakit.
Pria itu memegang sebuah alat pengendali jarak jauh dengan tangan yang bergetar hebat.
"Sialan... Sialan! Racun tingkat tinggi itu dihancurkan begitu saja?!" geram pria tersebut dengan mata merah menyala. Ia adalah utusan tingkat tinggi dari Asosiasi Medis Gelap wilayah ibukota.
Ia menekan tombol merah pada alatnya, berniat memicu mekanisme peledakan sisa racun yang tersisa di sampel medis. Namun, layar tablet tiba-tiba menjadi gelap total, diikuti oleh suara korsleting listrik dari perangkatnya.
Bum!
Alat pengendali di tangan pria itu meledak kecil, membakar telapak tangannya dan membuatnya berteriak kesakitan.
Dari balik kegelapan kabin mobil, suara dingin yang tidak berwujud tiba-tiba bergema di telinganya.
"Mencoba bermain-main dengan racun di wilayah kekuasaanku, dan bersembunyi seperti tikus got?"
Pria berkerudung itu menoleh dengan ngeri, namun ia tidak sempat melihat apa pun sebelum sebuah jarum perak kecil melesat menembus kaca jendela mobil dan menancap tepat di lehernya.
Matanya mendelik lebar, tubuhnya kaku seketika, dan ia jatuh pingsan tanpa suara.
Di atap gedung seberang, Bima menarik kembali tangan kanannya yang terulur samar. Ia menatap ke arah mobil van hitam di bawah dengan tatapan dingin setajam es.
"Asosiasi Medis Gelap... Jika kalian ingin berperang, datanglah langsung padaku. Jangan libatkan orang yang tidak bersalah."