Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV: Satoshi
Aku tidak pernah percaya bahwa seseorang bisa kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah dianggapnya berharga.
Bagiku, pernikahan hanyalah sebuah ikatan yang dipaksakan oleh Kakek Mahito Katagiri. Aku tidak pernah menginginkan Lili Valley menjadi istriku. Aku tidak pernah meminta seorang perempuan dari desa terpencil untuk memasuki kehidupanku, apalagi berharap dapat mencintainya.
Sejak awal, aku telah memutuskan bahwa perempuan itu tidak akan pernah mendapatkan tempat di hatiku.
Hatiku sudah menjadi milik seseorang yang lain.
Perempuan yang kucintai sejak kecil, yang kemudian pergi ke Nederland dan meninggalkanku bersama kenangan yang tidak pernah benar-benar mampu kuhapuskan. Sejak kepergiannya, aku bersumpah tidak akan membiarkan perempuan lain menguasai perasaanku.
Lalu, Kakek datang membawa keputusan yang mengubah segalanya.
Aku harus menikahi Lili.
Aku membenci keputusan itu. Aku membenci kenyataan bahwa semua orang mengharapkanku menerima perempuan yang tidak pernah kupilih. Dan, yang paling kubenci, aku tidak memiliki keberanian untuk menentang Kakek secara terbuka.
Maka, aku melampiaskan seluruh kebencianku kepada Lili.
Aku menganggapnya sebagai penyebab kehancuran hidupku, meskipun jauh di dalam hati aku tahu bahwa perempuan itu tidak pernah meminta semua ini terjadi.
Namun, mengetahui kebenaran tidak membuatku berhenti menyakitinya.
Selama tiga tahun, aku membiarkan Lili hidup dalam pernikahan yang tidak layak disebut pernikahan. Aku menghinanya, membentaknya, mengabaikan keberadaannya, dan membawa perempuan lain ke rumah kami seolah-olah Lili hanyalah perabot yang tidak memiliki perasaan.
Aku bahkan tidak pernah memberinya kesempatan untuk menjadi seorang istri.
Ketika ia memanggilku dengan sebutan suamiku, aku menghukumnya. Ketika ia memasakkan makanan, aku memberikannya kepada para pekerja bangunan. Ketika ia berusaha mendekat, aku justru mendorongnya menjauh.
Aku selalu berpikir bahwa semua itu tidak berarti apa-apa.
Bagaimanapun juga, Lili akan tetap berada di sana.
Ia akan tetap menungguku pulang. Ia akan tetap memasak untukku. Ia akan tetap menundukkan kepala ketika aku membentaknya. Dan, pada akhirnya, ia akan tetap mencintaiku, meskipun aku tidak pernah membalas perasaannya.
Aku begitu yakin bahwa kesetiaannya tidak memiliki batas.
Ternyata, akulah yang tidak pernah memahami batas kesabarannya.
---
Hari ini, untuk pertama kalinya, aku melihat Lili tertawa bersama pria lain.
Namanya Tyson.
Seorang pekerja bangunan dengan rambut pirang keriting dan mata hijau. Pria itu tidak mengenakan setelan mahal, tidak memiliki jabatan tinggi di perusahaanku, dan tidak membawa kekuasaan yang bisa membuat orang-orang menundukkan kepala.
Namun, ia memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah kuberikan kepada Lili.
Perhatian.
Aku melihatnya sendiri dari balik jendela ruang kerjaku. Tyson duduk di samping Lili sambil menikmati bekal yang dibawakan istriku. Sementara itu, Lili menatapnya dengan senyum yang tidak pernah kulihat selama beberapa waktu terakhir.
Senyum itu membuatku marah.
Aku bahkan tidak memahami alasan kemarahanku sendiri.
Bukankah selama ini aku selalu mengabaikan bekal yang dibuatnya? Bukankah aku sengaja memberikannya kepada para pekerja agar tidak perlu menyentuh makanan yang disiapkan perempuan yang kubenci itu?
Lalu, mengapa aku merasa tidak rela ketika makanan tersebut dinikmati orang lain?
Mengapa aku merasa terganggu ketika Lili tersenyum kepada Tyson?
Dan mengapa aku tidak bisa berhenti memperhatikan cara pria itu memandangnya?
Ketika aku menghampiri mereka, aku berharap Lili segera menjauh dari pria tersebut. Aku berharap ia akan menjelaskan dirinya, meminta maaf, atau setidaknya menunjukkan bahwa keberadaanku masih lebih penting daripada siapa pun.
Namun, yang kulihat justru sesuatu yang membuatku kehilangan kendali.
Lili berdiri di hadapan Tyson, berusaha melindungi pria itu dari kemarahanku.
Ia membelanya.
Perempuan yang selama tiga tahun selalu menerima perlakuan buruk dariku justru mengkhawatirkan perasaan seorang pria yang baru dikenalnya.
Aku ingin mengatakan bahwa ia tidak berhak melakukan itu. Aku ingin memerintahkannya agar menjauh dari Tyson. Aku ingin mengingatkannya bahwa ia masih istriku.
Namun, saat kalimat itu keluar dari mulutku, aku melihat sesuatu di wajahnya.
Bukan rasa bersalah.
Bukan pula ketakutan seperti yang biasa kulihat setiap kali ia melakukan kesalahan kecil.
Melainkan kelelahan.
Lili tampak begitu lelah menghadapiku.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa mungkin selama ini aku bukanlah seseorang yang ingin ia dekati.
Aku justru menjadi orang yang ingin ia hindari.
---
Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak dapat berhenti memikirkan perkataannya.
Karena dia menghargainya.
Kalimat itu terus terngiang di telingaku.
Aku tahu persis apa yang dimaksud Lili. Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Aku tahu bahwa selama tiga tahun, aku telah membuang sesuatu yang dibuatnya dengan penuh perhatian.
Aku juga tahu bahwa aku tidak pernah memberinya alasan untuk merasa dihargai.
Namun, mendengar kebenaran itu langsung dari mulutnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan.
Aku menggenggam kemudi lebih erat.
Mengapa ia tidak lagi berusaha membuatku bahagia?
Mengapa ia tidak menangis ketika aku menyindirnya?
Mengapa ia justru terlihat lebih tenang ketika berada di samping pria lain?
Aku meliriknya sekilas.
Lili duduk di kursi penumpang dengan wajah menghadap jendela. Rambut hitam panjangnya jatuh melewati bahu, sementara gaun hijau sage yang dikenakannya tampak sederhana di bawah cahaya sore.
Aku baru menyadari betapa cantiknya perempuan itu.
Kesadaran tersebut terasa memalukan.
Ia telah berada di rumahku selama tiga tahun. Aku telah melihatnya setiap hari. Namun, aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya, kecuali ketika ingin mencari alasan untuk menyalahkannya.
Aku tidak tahu makanan kesukaannya.
Aku tidak tahu warna favoritnya.
Aku bahkan tidak tahu apa yang dilakukannya ketika aku tidak berada di rumah.
Aku hanya tahu bahwa ia selalu menungguku.
Setidaknya, itulah yang selama ini kupercayai.
Kini, ketika ia tidak lagi berusaha menarik perhatianku, aku justru merasa kehilangan sesuatu yang tidak pernah kusadari keberadaannya.
Aku ingin bertanya apakah ia masih mencintaiku.
Namun, pertanyaan itu terdengar begitu tidak masuk akal bahkan sebelum sempat kuucapkan.
Bagaimana mungkin aku meminta kepastian cinta dari seseorang yang telah kuhancurkan hatinya berkali-kali?
---
Sesampainya di rumah, Lili langsung turun dari mobil.
Ia bahkan tidak menoleh kepadaku.
Aku mengikutinya dengan pandangan hingga sosoknya menghilang di balik pintu.
Biasanya, aku tidak akan peduli ke mana ia pergi. Aku akan langsung menuju kamar, membuka minuman, lalu menghubungi perempuan yang ingin kutemui malam itu.
Namun, kali ini aku tetap duduk di dalam mobil.
Aku menatap tanganku sendiri, tangan yang beberapa saat sebelumnya telah kugunakan untuk menarik Lili mendekat dan menyentuhnya tanpa memedulikan keinginannya.
Aku masih mengingat wajahnya ketika ia memintaku berhenti.
Aku masih mengingat bagaimana tubuhnya menegang ketika aku mendekat.
Dan aku masih mengingat kalimat yang diucapkannya.
Dahulu, saya sangat ingin Tuan menyentuh saya. Sekarang, saya tidak menginginkannya lagi.
Aku memejamkan mata.
Entah mengapa, kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan yang pernah dilontarkan orang lain kepadaku.
Dahulu, Lili menginginkan sesuatu yang tidak pernah ingin kuberikan.
Sekarang, ketika aku mulai menyadari keberadaannya, ia justru tidak lagi menginginkannya dariku.
Aku terlambat.
Pikiran itu membuat dadaku terasa sesak.
Namun, aku segera menolaknya. Aku tidak mungkin memiliki perasaan terhadap Lili. Tidak mungkin aku mulai mencintai perempuan yang selama ini kuanggap sebagai kesalahan terbesar dalam hidupku.
Mungkin aku hanya tidak menyukai kenyataan bahwa ia mulai memberikan perhatian kepada pria lain.
Mungkin aku hanya tidak terbiasa kehilangan kendali.
Ya, itulah penjelasannya.
Aku mengulang keyakinan tersebut berkali-kali, tetapi semakin sering kuulangi, semakin sulit bagiku mempercayainya.
---
Malam itu, aku tidak langsung masuk ke kamar.
Aku berdiri di lorong lantai atas, tepat di depan pintu kamar Lili yang berada di dekat gudang.
Aku masih ingat ketika pertama kali menyuruhnya tidur di sana pada malam pernikahan kami.
Saat itu, ia berdiri di hadapanku dengan gaun pengantin putih, menggenggam ujung kainnya sambil berusaha menahan air mata.
Ia bertanya apakah aku benar-benar ingin membiarkannya tidur di gudang.
Aku menjawab tanpa keraguan.
Aku bahkan tidak menoleh ketika ia berjalan pergi.
Selama tiga tahun, aku tidak pernah merasa perlu menyesali keputusan tersebut.
Namun, malam ini, aku berdiri di depan pintu yang sama dan berharap bisa mendengar suaranya.
Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.
Lalu, aku mendengar Lili berbicara melalui telepon.
“Saya tidak ingin tinggal di rumah ini lebih lama lagi.”
Tanganku membeku di udara.
Aku menatap pintu itu tanpa berkedip.
Ia ingin pergi.
Bukan mengancam. Bukan mencoba menarik perhatianku. Bukan pula menunggu agar aku berubah pikiran.
Ia benar-benar ingin pergi.
Tiba-tiba, aku merasa seolah-olah seluruh rumah yang selama ini kukenal berubah menjadi tempat asing.
Aku seharusnya merasa lega. Bukankah aku selalu membenci pernikahan ini? Bukankah selama tiga tahun aku berharap suatu hari nanti Lili akan berhenti menggangguku dengan cintanya?
Namun, ketika keinginanku itu akhirnya menjadi kenyataan, aku justru tidak sanggup menerimanya.
Aku ingin membuka pintu dan memintanya mengulangi perkataannya.
Aku ingin bertanya ke mana ia akan pergi.
Aku ingin memerintahkannya agar tetap tinggal.
Namun, untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku tidak memiliki hak untuk melakukan semua itu.
Selama tiga tahun, aku telah memperlakukannya seolah-olah ia tidak memiliki pilihan. Kini, ketika ia akhirnya memilih dirinya sendiri, aku tidak berhak merampas keputusan itu hanya karena aku mulai merasa kehilangan.
Aku menurunkan tanganku perlahan.
Di balik pintu tersebut, Lili sedang mempersiapkan kehidupannya tanpa diriku.
Sementara aku berdiri di lorong, seorang pria yang memiliki kekayaan, kekuasaan, dan segala sesuatu yang diinginkan banyak orang, mendadak merasa tidak berdaya menghadapi satu kenyataan sederhana.
Aku mungkin mampu membeli hampir semua hal di dunia ini.
Namun, aku tidak dapat membeli kembali tiga tahun yang telah kuhancurkan.
Aku tidak dapat menghapus air mata yang pernah ditumpahkannya.
Aku tidak dapat memaksanya mencintaiku lagi.
Dan aku tidak dapat memerintahkannya untuk tetap tinggal jika hatinya telah benar-benar pergi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut.
Bukan takut kehilangan kekayaan. Bukan takut kehilangan perusahaan. Bukan pula takut mengecewakan Kakek.
Aku takut kehilangan Lili Valley.
Perempuan yang tidak pernah kupilih, tetapi selama tiga tahun selalu memilihku.
Perempuan yang telah kusingkirkan berkali-kali, tetapi tetap kembali.
Perempuan yang dahulu menungguku dengan penuh harapan, dan kini sedang bersiap pergi tanpa meminta apa pun dariku.
Aku menundukkan kepala.
“Lili,” bisikku, begitu pelan hingga suaraku sendiri hampir tidak terdengar.
Aku ingin memanggilnya sekali lagi.
Aku ingin mengatakan bahwa ia tidak boleh pergi.
Namun, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara meminta seseorang untuk tinggal setelah bertahun-tahun membuatnya merasa tidak diinginkan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa penyesalan tidak selalu datang ketika seseorang telah pergi.
Terkadang, penyesalan dimulai ketika kita menyadari bahwa orang yang selama ini selalu berada di sisi kita akhirnya berhenti berharap.
Dan aku takut, ketika esok pagi tiba, Lili tidak akan lagi menjadi perempuan yang menungguku.
Ia akan menjadi perempuan yang memilih pergi.
Sementara aku akan menjadi pria yang baru belajar menghargainya ketika kesempatan untuk memilikinya hampir berakhir.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁