Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Jay menelepon Nadia, karena istrinya itu tak ad kabar sama sekali setelah ia masuk ke sekolah hari ini, Jay merasa khawatir karena ia telah mendapatkan kabar jika Kevin telah di bebaskan oleh seseorang.
Jay takut jika Kevin akan kembali menyerang Nadia atau bahkan melakukan hal di luar nalar mereka karena tak terima jika dirinya Jay jebloskan ke dalam penjara tempo lalu.
Perasaan Jay semakin tak karuan karena panggilannya tak juga terhubung dengan Nadia.
"Kemana sih dia?" Gumam Jay yang langsung menelepon pihak sekolah untuk bertanya.
Setelah Jay mendapatklan kabar bahwa Nadia di jemput oleh mobil mewah, Jay merasa sedikit lega, ia berpikir bahwa supir rumah yang telah menjemputnya.
"Lagi mandi kah? Kok telepon gue nggak di angkat jug," monolog Jay.
Tok tok tok.
Suara ketuka pintu terdengar, membuat fokus Jay jadi terbagi.
"Masuk," kata Jay tanpa mengalihkan netra dari layar ponsel miliknya.
Nadia berjalan dengan perlahan, ia merasa Jay menyebalkan karena tak sadar dengan kehadiran dirinya di ruang kerjanya itu.
"Ada yang perlu bapak tanda tangani pak," tukas Nadia yang tak membawa berkas apapun
"Letakan saja disitu, nanti saya tanda tangani," fokus Jay masih ke layar ponselnya.
"Tapi ini penting pak, dan harus sekarang! Soalnya tanda tangannya bukan di atas kertas," kini Jay sadar jika suara tersebut mirip dengan Nadia.
Kini Jay menoleh dan betapa terkejutnya dia sekaligus bahagia saat melihat Nadia ada di depannya.
"Sayang!" seru Jay yang langsung menghampiri istrinya. "Bikin khawatir aja tahu ngak?" Jay memeluk badan Nadia dengan sangat erat.
"Iya tapi jangan kenceng - kenceng juga meluknya, aku ngak bisa nafas nih," keluh Nadia yang tehimpit
"Hehe... habis kangen," Jay cengengesan.
"Khawatir kenapa? takut aku pergi ama cowok lain ya?"tanya Nadia dan Jay malah diam. "kok malah diem?" tanya Nadia lagi..
Jay maish belum bisa memastikan bahwa laporan yang ia terima itu akurat, walau Jay tahu bahwa Arnold tidak akan berbohong tentang hal itu, hanya saja Jay belum memastikan semuanya dengan detail.
"Nggak jadi! Siapa suruh tadi nggak peka!" Nadia mendorong badan Jay agar menjauh.
Tapi bukan Jay namanya jika dia tak berhasil mengukung Nadia lagi, dan baru saja Jay akan mendaratkan bi birnya, tiba-tiba terdengar suaranya kruyukan darik perut Nadia.
"Hehe..." Nadia cengengesan sambil memegangi perutnya.
"Dede bayinya mau makan nih," rengeknya mengikuti tingkah Jay saat mengatakan bahwa Nadia hamil.
"Aku juga laper sayang, tapi pengen makan kamu, gimana dong?"
"Aku-nya isi tenaga dulu, biar nanti tambah kuat dan tahan lama," merasa ucapan Nadia ada benarnya, Jay menuruti keinginan Nadia untuk makn terlebih dahulu.
"Makam disini aja ya, kita pesen makan."
Brak! Tiba-tiba pintu ruangan kerja Jay terbuka oleh Arnold.
"Nggak usah pesen! Udah gue pesenin nih!" Arnold masuk bersam Jesica dan Arga, membawa beberapa makanan di tangan mereka.
"Apa-apaan ini?" Jay protes karena merasa terganggu. "Kalian tahu nggak kalau kalian ganggu suami istri yang lagi mau mesra- mesraan berdua?" Tegas Jay bertanya.
"Enggak!" Spontan mereka bertiga menjawab secara bersamaan.
Nadia yang melihat sahabatnya Jay begitu kompak tapi juga kocak itu kini malah tersenyum dan ikut nimbrunh, "sini sayang, kan udah ada inj makanannya, dede di dalam perut keburu laper nih."
"Bos nggak ada harga dirinya amat sih gue," gumam Jay yang akhirnya mau tak mauikut nimburng bersama mereka.
Tling.
Suara notif ponsel Nadia berbunyi, cewek itu meregoh saku seragamnya dam meliht pesan yang di kirim dari papanya.
Ekpresi wajah Nadia tampak serius, membuat ketiga orang yang di sana kini salah fokus.
"Apa?" Tanya Nadia bingung karena semua menatapnya.
"Ada masalah?" Tanya Jay kemudian.
"Nggak ada," Nadia kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. "Chat dari papa," imbuhnya menjelaskan.
Tak terasa hari mulai sore, semua karyawan dan para staf untuk pulang bekerja, dan masih ada beberapa orang yang masih lembur.
Jau mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, ia ingin menikmati langin yang mulai gelap dan berwarna orange itu.
"Nggak ada yang kamh sembunyiin kan dri aku?" Tanya Jay tiba - tiba.
Nadia menggeleng, "sembunyiin apa?" Nadia malah terlihat bingung dengan pertanyaan Jay.
Jay menarik jemari Nadia dan menautkan ke dalam genggamannya, memberikan kecupan hangat di punggung tangan Nadia.
"Nyetir yang bener Jayden!!" Ketus Nadia yang kemvali ke setelah awal.
"Isshh.. galak lagi aja sih," bukanya melepaskan, Jay malah mengigit jari Nadia karena gemas.
"Aaaaa.... Sakit dong Jayden!!"
"Sayang!!! Bukan Jayden!" Tegas Jay protes.
"Kan emang nama kamu Jayden, nggak salah dong aku," Nadia membela dirinya sendiri.
Singkat cerita.
Matahari terbit membawa semangat baru di hari kelulusan Nadia.
Sekolahnya dipenuhi dengan deretan murid yang berpakaian seragam hitam putih, rapi dan bersinar, simbol kesuksesan dan harapan baru.
Nadia dan Mela, dengan gaun seragamnya yang tercetak nama sekolah dengan rapi di saku kiri, berjalan di antara kerumunan, rasa bangga menggema di dalam dadanya.
Wajah-wajah bahagia orang tua dan guru memenuhi halaman sekolah, memberikan selamat kepada para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan mereka. Suara tawa dan ucapan selamat berpadu menjadi simfoni kegembiraan.
Nadia mencari-cari orang tuanya di kerumunan, dan ketika matanya bertemu dengan sosok papa dan mamanya, senyum lebarnya semakin merekah,
Kepala Sekolah mengambil tempat di podium, memulai upacara dengan pidato yang menginspirasi. Nadia mendengarkan dengan penuh perhatian, kata-kata itu menambah berat dan makna pada hari yang sudah begitu penting baginya.
Setelah pidato, satu per satu nama dipanggil, dan setiap siswa berjalan ke atas panggung untuk menerima ijazah mereka. Ketika nama "Nadia Safira terdengar melalui pengeras suara, jantungnya berdegup kencang.
Langkahnya mantap menuju ke podium, sambil matanya tidak lepas dari sorotan bangga di wajah orang tuanya.
Nadia menerima ijazahnya, dan tepuk tangan memenuhi udara, merayakan pencapaian besar dalam hidupnya. Ini bukan hanya akhir dari sebuah bab.
tetapi awal dari banyak kisah baru yang menanti
Netra Nadia fokus pada Jayden yang baru saja datang, pria itu sedikit terlambat karena urusan pekerjaan yang tidak bisa di tunda.
Langkah Nadia begitu mantab mendeka ke arah Jay.
Bugh.
"Aaww.. sakit sayang, kok di pukul sih?" Protes Jay pura-pura kesakitan.
"Tadinua kalau kamh sampe nggan dateng, aku nggak bakal pulang ke rumah kamu!" Kesal Nadia dan Jay benar-benar minta maaf.
"Iya sayang, maaf telat."
Kedua orang tua Nadia mendekati Nadia dan Jayden, di saat bersamaan, datangnya Jodi Mahendra bersama Jams Mahendra.
Jay memutar bola matanya malas, dan menggenggam erat tangan Nadia.
"Selamat ya Nadia, papa ikit bangga," kata Jodi Mahendra dengan membawa buket bunga untuk Nadia.
"Makasih pa," sahut Nadia kemudian melepas genggaman Jay untuk menerima buket dari Jodi. Yang tak lain adalah mertuanya.
Jams yang datang juga membawa buket untuk Nadia. "Hai adik cantik, ini dari kakak, jangan kaget kalau aku lebih tampan dari suami mu," ujar Jams hang langsung dapat lirikan tajam dari Jayden.
"Te-terimakasih kak," sahut Nadia tapi cewek itu malah semakin menempel dengan Jay. "Tapi bagaimana pun menurut ku suami ku lebih tampan dari siapapun kak," imbuh Nadia kemudian.
Perkataan Nadia yang tegas dan mendominasi membuat Jams tersenyum, ia tak menyangka jika istri yang di pilih Jayden mempunyai aura yang kuat juga.
"Haduh.. kok jadi tegang gini sih, gimana kalau kita makan bersama untuk merayakan kelulusan Nadia?" Bramasta memberi ide.
"Ide yang bagus, kita juga sudah lama tidak mengobrol dan berkumpul," tukas Jodi menyahut.
"Senyum nggak!?" Pekik Nadia berbicara pada suaminya yang terlihat dengan ekspresi wajah yang datar.
"Hii!" Sekilas Jay memperlihatkan giginya dengan cengiran.
"Kalau kamu senyum, nanti malam aku kasih jatah," bisik Nadia yang langsung membuat ekspresi wajah Jay berubah 180°.
"Alu suka kalau imbalanua begini," Jay merangkul pinggang Nadia dan berjalan melewati Jams.
"Eh... Bentar, Mela ketinggalan," Nadia ingat jika Mela kini tak berada di sampingnya.
"Halah, dia udah sama Arga tuh," tukas Jay.
"Waah... Pak dokter beneran serius kan? Awas aja kalau cuma mainin sahabat aku."
"Itu urusan mereka sayang, kita nggka perlu ikut campur."
Semua orang bubar dan masuk ke dalam mobil masing-masing, Jay sengaja berada di urutan paling belakang, untuk memastikan bahwa semua aman terkendali.
Tapi diam-diam Jay juga memperketat penjagaan di kediamanya nanti dengan menelepon Arnold, menitah Arnold untuk menyiapkan lebih banyak bodyguard untuk berjaga-jaga di rumahnya.
"Harus seketat itu? Dia kan papa sama kakak kamu," kata Nadia ketika telepon dengan Arnold baru saja berakhir.
"Kamu belum tahu bagaimana mereka sayang, aku hampir beberapa kali mati di tangan papa ku sendiri, oh. Bukan papa lagi sekarang!" Tehas Jayden dengan mantab yang tak mau lagi mengakui Jodi sebagai papanya.
Nadia terdiam, pikirannya terbayang dengan luka yang Jay alami waktu lalu, sayatan yang membuat hati Nadia ikut sakit saat melihatnya.