Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.Reruntuhan
Sebelum aroma antiseptik UGD menjadi bagian dari napas kesehariannya, ingatan Lentera selalu dipenuhi oleh bau tanah basah setelah hujan dan hamparan hijau tanaman padi.
Jauh sebelum dia menginjakkan kaki di kota besar ini, Tera hanyalah seorang gadis remaja sederhana dari sebuah kota kecil di Jawa Timur.
Di sana, hidupnya dikelilingi oleh kehangatan sejati yang diberikan oleh kedua orang tuanya, Pak Hasyim dan Bu Sulis.
Pak Hasyim dikenal sebagai petani yang sangat ulet. Sifatnya tenang, bicaranya pelit, tetapi pundaknya sekeras baja demi menghidupi istri dan anak tunggalnya.
Sementara Bu Sulis adalah cerminan ibu rumah tangga yang lemah lembut, wanita yang selalu memastikan bahwa meskipun mereka hidup dari hasil bumi, rumah mereka tidak pernah kekurangan tawa.
Kehidupan ekonomi mereka tergolong berkecukupan untuk ukuran kota kecil. Pak Hasyim memiliki beberapa petak sawah yang subur dan kebun buah yang luas.
Di tengah ketenangan itu, Tera tumbuh sebagai mutiara paling berkilau. Dia tidak hanya mewarisi kebaikan hati ibunya, tetapi juga kecerdasan yang luar biasa.
Sejak bangku sekolah dasar hingga lulus SMA, meja belajar di sudut kamarnya selalu dipenuhi oleh piala dan piagam penghargaan.
Peringkat pertama seolah sudah menjadi nama tengah bagi Lentera. Gurat kecerdasan itu terpancar jelas setiap kali dia berbicara dengan tutur kata yang santun namun tegas.
Puncak kebanggaan keluarga kecil itu terjadi pada suatu siang yang terik, ketika sebuah surat resmi berlogo universitas negeri ternama tiba di rumah mereka.
Lentera dinyatakan lulus seleksi masuk Fakultas Kedokteran melalui jalur prestasi.
"Anak kita akan jadi dokter, Pak," ucap Bu Sulis hari itu, air matanya menetes haru di atas kertas pengumuman.
Pak Hasyim tidak menangis, tetapi pelukan eratnya pada Tera dan binar di matanya menceritakan segalanya.
Sawah-sawah yang bergoyang ditiup angin sore itu seolah ikut merayakan masa depan Tera yang cerah.
Namun, mendung hitam datang tanpa mengetuk pintu.
Badai itu tidak berasal dari gagal panen atau bencana alam, melainkan dari darah daging mereka sendiri.
Cakra, adik kandung laki-laki Pak Hasyim, adalah benalu yang nyata.
Pria itu sudah lama terjerumus dalam lingkaran setan judi, mulai dari judi sabung ayam di pinggiran kampung hingga judi online yang menguras habis seluruh akal sehatnya.
Cakra yang dikejar-kejar oleh para penagih utang berdarah dingin mulai gelap mata.
Dia tahu kakaknya, Pak Hasyim, memiliki beberapa sertifikat tanah yang disimpan di dalam lemari jati kamar utama.
Memanfaatkan momen saat Pak Hasyim dan Bu Sulis sedang menghadiri acara syukuran di desa tetangga, Cakra menyelinap masuk ke dalam rumah.
Dengan tangan gemetar karena ketakutan dan keserakahan, dia membongkar lemari dan menggasak seluruh aset berharga milik kakaknya, sertifikat rumah tinggal, tiga sertifikat sawah, dan satu sertifikat kebun buah.
Semua itu digadaikannya kepada rentenir kelas kakap demi melunasi taruhan judinya yang kalah bertubi-tubi.
Ketika Pak Hasyim menyadari hilangnya surat-surat berharga tersebut, semuanya sudah terlambat.
Sawah dan kebun mereka telah beralih kepemilikan.
Malam itu, di rumah kakek Tera, Pak Hasyim mencoba mencari keadilan.
Dia mengumpulkan seluruh keluarga besar, berharap mereka akan membantu menekan Cakra atau setidaknya membantu mencari solusi hukum untuk merebut kembali tanah mereka.
Namun, apa yang didapatkan oleh keluarga kecil itu justru sebuah tamparan yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan materi.
"Hasyim, kamu ini kakak tertua. Masa tidak ada belas kasihan sama adik sendiri?" cetus bibi Tera dengan wajah dingin.
"Benar, Kang Hasyim. Kalau perkara ini dibawa ke polisi, nama baik keluarga besar kita di kota ini akan hancur. Kita mau ditaruh di mana muka kita?" timpal paman yang lain, dengan nada menyalahkan.
Lentera yang saat itu duduk di sudut ruangan, mengepalkan tangannya erat-erat.
Air matanya menetes bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang membakar dada.
Dia menyaksikan bagaimana paman dan bibinya bersekongkol, memutarbalikkan fakta, dan justru menuduh Pak Hasyim sebagai orang yang egois karena mementingkan harta daripada keselamatan Cakra yang diancam akan dibunuh oleh para penagih utang jika tidak membayar.
Keluarga besar yang selama ini sering mencicipi hasil panen Pak Hasyim, mendadak berbalik buta dan tuli.
Mereka dengan tega membela Cakra, si penjudi, dan mengorbankan masa depan keluarga Pak Hasyim.
"Cakra itu khilaf, Hasyim. Sudahlah, ikhlaskan saja. Sawah kan bisa dicari lagi," ucap sang kakek, memberikan keputusan mutlak yang memutus seluruh harapan mereka.
Pak Hasyim terdiam. Bahunya yang biasa tegak, malam itu tampak runtuh. Dia memandang wajah-wajah saudaranya satu per satu, menyadari bahwa ikatan darah yang selama ini dia agungkan ternyata tidak lebih berharga daripada selembar kertas taruhan judi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Pak Hasyim berdiri, menggandeng tangan Bu Sulis dan Tera, lalu berjalan keluar dari rumah besar itu tanpa menoleh ke belakang.
Hari eksekusi pun tiba. Beberapa mobil hitam besar datang berhenti di depan rumah mereka.
Sekelompok pria berbadan kekar dengan wajah beringas turun, membawa surat penyitaan resmi yang sah di mata hukum karena tanda tangan palsu Cakra yang digarap rapi.
Warga kampung hanya bisa menonton dari kejauhan dengan tatapan iba saat barang-barang keluarga Pak Hasyim dikeluarkan satu per satu ke halaman.
Rumah masa kecil Lentera, tempat dia belajar, tempat ibunya memasak, dan tempat ayahnya melepas lelah setelah seharian di sawah, kini disegel dengan rantai besi yang dingin.
Mereka kehilangan segalanya dalam waktu semalam—tanah kebun, sawah, pekerjaan, dan tempat berteduh.
Di tengah reruntuhan hidup mereka, di atas tikar tipis yang mereka gelar di sebuah pos ronda malam itu, Bu Sulis memeluk Tera yang menangis terisak-isak.
"Maafkan Bapak dan Ibu, Nduk, kami tidak bisa menjagamu dengan baik," bisik Bu Sulis dengan suara parau.
Namun, Pak Hasyim menatap anak tunggalnya dengan tatapan yang paling tajam dan penuh tekad yang pernah Lentera lihat.
Pria paruh baya itu mencengkeram kedua pundak Tera.
"Tera, dengarkan Bapak," suara Pak Hasyim terdengar berat namun sangat bertenaga.
"Mereka boleh mengambil sawah Bapak. Mereka boleh merampas rumah ini. Tapi mereka tidak akan pernah bisa mencuri isi kepalamu. Mereka tidak akan bisa merampas kecerdasanmu."
Pak Hasyim menjelaskan rencana nekatnya.
Dia telah memutuskan untuk menjual satu-satunya aset yang tidak terendus oleh Cakra, yaitu sebuah petak tanah warisan kecil dari garis ibu Bu Sulis yang letaknya terpencil.
Uang hasil penjualan itu tidak akan digunakan untuk membangun rumah baru di kampung ini.
"Kita pergi ke kota besar, semua uang ini, akan Bapak simpan di bank hanya untuk biaya kuliahmu sampai kamu memakai baju dokter," tegas Pak Hasyim.
"Jangan pernah berpikir untuk menyerah. Langkahmu tidak boleh terhenti di lumpur sawah yang sudah hilang ini. Kamu harus jadi dokter, Tera. Biar Bapak dan Ibu yang jadi bentengmu."
Lentera menatap kedua orang tuanya bergantian. Di dalam hati gadis remaja itu, rasa sedih yang mendalam mendadak mengkristal menjadi sebuah ambisi dan tekad yang luar biasa kokoh.
Dia bersumpah demi air mata ibunya dan demi keringat ayahnya, bahwa dia akan menaklukkan kota besar itu.
Dia tidak akan membiarkan pengorbanan orang tuanya menjadi sia-sia, dan dia akan membuktikan kepada keluarga besar mereka bahwa Lentera yang mereka padamkan hari ini, akan kembali sebagai cahaya yang menyilaukan mata mereka di masa depan.
Yuk sebelum lanjut komen ya.
sean anaknya siapa ini?