"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 | DEMAM DAN RESTU SANG IBU
Aleeza Wira membuka matanya perlahan. Seketika itu juga, rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya hingga ia meringis kesakitan.
Ia hendak memijit pelipisnya, namun gerakan matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya nyaris copot. Di sampingnya, Austin Vanderbilt tengah terlelap dalam posisi membelakanginya dengan tubuh bagian atas yang terekspos tanpa sehelai benang pun, sementara tubuh bagian bawahnya hanya tertutup selimut tebal putih.
Ya Tuhan apa yang sudah kulakukan dengannya?! batin Aleeza histeris, menggigit bibirnya ketakutan.
Pikiran-pikiran buruk berkecamuk di kepalanya. Namun, saat ia meraba pakaiannya sendiri, ia bernapas lega mendapati dirinya masih mengenakan pakaian lengkap seperti semalam tanpa ada satu pun yang berkurang.
"Kau sudah bangun?" suara serak bariton Austin mengalun malas. Pria itu membalikkan tubuhnya, menatap Aleeza dengan mata setengah terpejam.
"Bangun kau! Dasar El Oso sialan! Kenapa aku bisa tidur di ranjangmu?!" pekik Aleeza panik, mengguncang tubuh tegap Austin tanpa memedulikan kepalanya yang berdenyut parah.
"Jadi, panggilannya masih bastard bahkan setelah aku menggendongmu yang pingsan kelelahan dari mobil tadi malam, Mi Amor?" gumam Austin dengan mata masih tertutup.
Sebelum Aleeza sempat melontarkan protes lanjutan, Austin menarik pinggang Aleeza dengan satu tangan, menjatuhkan tubuh gadis itu kembali ke atas dadanya yang bidang.
"Diam dan tidur lagi, aku masih mengantuk," bisik Austin posesif, mengunci pergerakan Aleeza dalam dekapannya.
Belum sempat Aleeza membalas perlakuan itu, suara ketukan pintu mendadak disusul oleh terbukanya pintu kamar secara lebar-lebar.
Ceklek!
"Austin, Norman mencarimu di ba—Oh, Ya Tuhan ! Maafkan Mommy ! Mommy tidak tahu kalau Aleeza ada di sini!" suara seorang wanita paruh baya berambut pirang elegan langsung menggelegar di ambang pintu.
Olivia Vanderbilt.
Aleeza membelalak ngeri. Ia langsung membeku di tempat, berharap dirinya bisa tembus pandang atau setidaknya terselip di balik selimut tebal. Tertangkap basah bergelung di atas ranjang bersama sang billionaire di pagi hari adalah tingkat kemaluan tertinggi dalam hidupnya!
Namun, reaksi Austin di luar dugaan. Pria itu justru tersenyum geli, melambaikan tangan santai pada ibunya.
"Tidak apa-apa, Mommy. Tolong suruh Norman pulang saja. Aleeza masih tidur, aku tidak mau dia bangun karena kau menggeser posisi tidurnya," tukas Austin terang-terangan, membuat wajah Aleeza memerah padam hingga menyerupai kepiting rebus.
Olivia tertawa renyah. "Baiklah Tapi, Austin, sampaikan pada Aleeza ya, kalau dia sudah bangun dari Pura-puranya, suruh dia segera turun ke bawah. Mommy ingin meminta pendapatnya mengenai gaun pesta pertunangan kita minggu depan!"
Selepas kepergian Olivia yang diiringi tawa penuh arti, pelukan Austin di pinggang Aleeza mengendur. Aleeza langsung membalikkan badan dan menghujani lengan Austin dengan pukulan bertubi-tubi.
"Dasar bastard sialan! Ibumu pasti berpikir yang aneh-aneh tentang kita!" geram Aleeza malu setengah mati.
Austin terkekeh, lalu dengan gerakan kilat membalikkan posisi mereka hingga kini Aleeza berada di bawah kurungan tubuhnya.
" Memangnya apa yang salah dengan pikiran Mommy? Toh, kita memang akan bertunangan minggu depan,"*bisik Austin menggoda.
Aleeza mendelik kesal. Namun, tepat saat jemari hangat Austin menyentuh pipinya untuk merapikan helaian rambut, ekspresi pria itu mendadak berubah serius.
Austin terdiam sejenak, lalu mendaratkan telapak tangannya di kening, pipi, dan leher Aleeza secara bergantian. Alis tebal pria itu menukik tajam.
"Kau demam," ucap Austin datar, helaan napas kesal keluar dari bibirnya. "Begitu saja demam. Dasar manja."
"Apa kau bilang?! Kapan aku manja padamu?!" protes Aleeza sengit meski suaranya terdengar parau dan lemah.
Austin mengabaikan protesan itu. Pria itu melirik jam dinding mewah di kamar yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Padahal aku harus terbang ke Dubai jam dua nanti untuk urusan tender. Tapi kau malah ck! Menyusahkan sekali!"
Meski bibirnya melontarkan kata-kata protes, Austin beranjak turun dari ranjang, menyambar ponsel dari atas nakas, dan bergegas keluar kamar untuk menghubungi dokter Pribadi keluarga Vanderbilt.
Aleeza kembali membaringkan tubuhnya, menarik selimut hingga ke dada. Kepalanya memang terasa berat dan berdenyut nyeri akibat kelelahan ekstrem semalam. Namun di balik rasa sakit itu, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat tipis.
Dasar pria arogan batin Aleeza dalam hati sebelum akhirnya kesadarannya kembali hanyut dalam tidur yang lelap.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!