Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Pagi itu baru jam masuk kantor, suasana belum sempat tenang. Aku baru saja duduk, membuka tas kerja, "klik" menyalakan komputer — pintu ruangan terbuka kasar. "Duk..!" Bunyi benturan gagang pintu terdengar nyaring, membuat beberapa orang menoleh kaget.
Pak Arif berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, tatapannya langsung tertuju ke arahku, tajam seperti mata pisau.
"Kamu, ikut saya ke ruangan sekarang," ucapnya singkat, nada rendah tapi penuh perintah, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Langkahnya berat, seolah lantai pun ikut tertekan.
"Huft" Aku menghela napas pelan, mengusap dada sebentar menenangkan detak jantung yang tiba-tiba memburu. Aku tahu ini bukan panggilan biasa. Tatapan itu penuh niat — niat yang sudah lama terlihat, makin hari makin tak disembunyikan. "Tap" Aku bangkit, melangkah mengikuti punggung Arif yang berjalan cepat ke ruangannya.
Di dalam ruangan, udara terasa lebih berat. Arif duduk di kursi kerjanya, tidak langsung bicara, melainkan menatap diriku dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah menilai sesuatu yang tidak berharga. "Swing" Lalu dia menunjuk tumpukan tebal berkas di meja samping — setinggi lengan orang dewasa, kertas-kertas yang sudah menguning, tersusun rapi namun menakutkan.
"Ini semua harus selesai hari ini..!" ucapnya datar, dingin memerintah.
Aku melirik tumpukan itu, lalu kembali menatap Arif.
"Maaf, Pak... ini laporan keuangan tiga cabang sekaligus. Ini tugas tim keuangan, bukan bagian administrasi umum. Bahkan tim keuangan butuh seminggu untuk menyelesaikannya." jawabku tegas.
Arif mencondongkan badan ke depan, "Sritt" suaranya meninggi. "Siapa yang mengatur tugas di sini? Saya atau kamu? Kamu pegawai atau saya yang pegawai?" tegas Arif.
"Bapak yang mengatur, Pak. Tapi saya hanya ingin menyampaikan kenyataan. Ini tidak mungkin diselesaikan sendirian dalam satu hari." jawabku menentang.
"Ah, alasan!" Arif membanting telapak tangan ke meja. "Brak..!". "Kamu sengaja menghindar! Kamu malas bekerja! Kalau begitu, sampaikan saja surat pengunduran diri sekarang juga! Saya tidak butuh pegawai yang tidak mau kerja!"
Aku terdiam.
"Kata-kata itu persis seperti yang kuduga. Bukan soal tugas. Bukan soal kemampuan. Ini hanya sebuah cara untuk membuatku pergi. Ini pasti gara-gara kejadian dengan Shella kemarin". gumamku dalam hati.
"Huuuuh" Aku menarik napas panjang, mengatur detak jantung yang mulai cepat, lalu menatap Arif dengan tenang.
"Saya tidak akan mengundurkan diri, Baiklah. Saya kerjakan." jawabku pelan sembari mengambil semua kertas dokumen di mejanya.
Arif terdiam, mulutnya sedikit terbuka, seolah tidak percaya mendengar jawaban itu. Dia sudah siap dengan berbagai bantahan, siap memancing kemarahan Maxy, siap memecatnya kalau dia berani membantah lebih lanjut. Tapi jawaban itu tenang, mantap, tak tergoyahkan.
"Baik..." ucapnya pelan, senyum tipis dan jahat muncul di bibirnya. "Kerjakan..! Jam pulang kantor jam lima sore. Kalau belum selesai, kamu tidak boleh pulang. Tidak peduli sampai jam berapa..! Dan tidak ada kata lembur..!"
Dia berhenti sejenak, menarik napas "Paham..?"
"Paham, Pak." Aku mengangkat tumpukan berkas itu. "Huh..!" Berat sekali, menekan kedua bahunya. Dia berjalan keluar ruangan, menutup pintu perlahan, berusaha tidak menampakkan beban di wajahnya.
Sesampainya di meja, "Bruk..!" Aku meletakkan tumpukan itu pelan-pelan. Suara kertas yang beradu terdengar jelas di ruangan yang mulai hening. "Sssttzz" Beberapa rekan kerja melirik, berbisik pelan satu sama lain. Semua tahu. Semua mengerti. Tidak ada yang berani bicara.
Shella berdiri tak jauh, memegang berkas di tangan, tapi tidak bergerak pergi. Matanya tertuju ke punggungku, cemas bercampur marah. "Tap..tap.." Dia melangkah mendekat saat rekan lain sedang sibuk.
"Maxy..." panggilnya pelan, hampir berbisik. "Itu tidak adil. Kamu tahu itu kan?"
Aku mengangguk pelan, mulai menyusun berkas sesuai tanggal. "Saya tahu."
"Kalau kamu kerjakan, dia akan memberi lebih banyak lagi besok. Dia sengaja. Dia ingin kamu menyerah." ucap Shella khawatir.
"Saya tahu, Shella." Aku berhenti sejenak, menatap mata Shella.
"Tapi kalau Aku pergi sekarang, siapa yang jaga kamu di sini?" jawabku pelan.
"Dia tidak akan berhenti. Dia akan terus menekan kamu, mengatur kamu, memaksa kamu menerima pilihannya" suaraku tercekat.
"Aku tidak mau kamu sendirian menghadapi dia." lanjutku penuh kasih sayang.
Shella terdiam, bibirnya sedikit bergetar.
Dia menatapku lekat-lekat, seolah baru benar-benar menyadari mengapa Aku tetap bertahan. Bukan demi gaji. Bukan demi jabatan. Tapi demi menjaganya.
"Kamu..." suaranya lembut, "kamu tidak perlu melakukan ini semua untukku, Maxy." ucap Shella dengan nada bergetar.
"Bukan untuk siapa-siapa," jawabku pelan, kembali menunduk ke berkas.
"Tapi aku tidak mau pergi dengan rasa takut. aku mau pergi karena disini memang sudah selesai, bukan karena diusir." jawabku tegas.
Shella menatapku dengan mata berkaca-kaca sembari mengatupkan kedua tangannya kemulut, lalu berjalan cepat, dan kembali ke meja nya.
Sejak pagi itu, aku tidak beranjak dari kursi. Aku menyusun, memeriksa, mencatat, membandingkan angka. Mataku perih menatap layar, punggung kaku, dan leher terasa berat.
Aku tidak makan siang. Hanya minum setengah gelas air yang tersisa di botol, karena diriku tahu setiap menit berharga.
"Tap..tap..tap.." suara langkah Arif berjalan berkali-kali lewat mejaku. Setiap kali lewat, dia berhenti sebentar, menatap tumpukan berkas yang makin menipis, lalu tersenyum sinis.
"Masih lambat sekali," ucapnya lewat jam dua siang.
"Mungkin memang kemampuanmu hanya segini." lanjutnya sambil melangkah pergi.
Jam empat sore: "Belum selesai juga? Kamu mengerjakan apa saja seharian?" tanya Arif dengan nada tinggi.
Jam lima tepat, "Ding" bel berbunyi.
"Ah, jam sudah habis. Kalau belum selesai, jangan harap bisa pulang." ancam Arif.
Aku tidak menjawab sekali pun. Tidak menoleh, tidak membantah, tidak mengeluh. hanya bekerja.
Rekan kerja pulang satu per satu. Mengucapkan selamat tinggal dengan tatapan kasihan. Ruangan makin sepi. "klik" Lampu sebagian dimatikan. Hanya mejaku dan meja Shella yang masih terang.
Shella tidak pulang. Dia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, lalu duduk menunggu, sesekali melirik ke arahku.
Dia melihat bagaimana tanganku yang lelah masih mengetik dengan teliti. --Bagaimana aku memeriksa ulang setiap angka, tidak ingin ada satu kesalahan pun. Bagaimana aku mengusap keringat di dahi dengan lengan baju, dan tidak berhenti sejenak pun--
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hening. "Tak..tak..!" Hanya suara ketikan keyboard dan detak jam dinding yang terdengar.
Pintu ruangan Arif terbuka. "Tap..tap...!" Dia berjalan mendekat, langkahnya berat, wajahnya tidak senang melihat tumpukan berkas yang sudah tersusun rapi di sisi meja — semua sudah selesai, ditandai, diberi catatan, siap diperiksa.
"Sudah selesai?" suaranya kasar, tidak percaya.
"Sudah, Pak," jawabku pelan, menyerahkan berkas terakhir. "Silakan periksa. Kalau ada yang salah, saya perbaiki sekarang juga." ucapku sambil menahan rasa nyeri disekujur tubuh.
Arif mengambilnya, "Srak.." membalik halaman dengan kasar. Matanya bergerak cepat mencari kesalahan. Tapi tidak ada. Semua rapi, lengkap, akurat. Bahkan catatan penjelasan di sela-sela angka tertulis jelas dan mudah dipahami. Dia mengerutkan kening, tidak bisa menemukan satu celah pun.
"Ini... belum tentu benar," geramnya, suaranya meninggi. "Kamu mungkin menyalin sembarangan!" ucap Arif curiga, terlihat sekali dia sedang mencari-cari alasan.
"Bapak periksa saja, Pak. Saya tunggu di sini. Kalau ada satu kesalahan, saya kerjakan ulang sekarang juga." Aku menatapnya tenang, tidak mundur sedikit pun.
"Saya tidak akan pergi sampai Bapak bilang ini sudah benar." lanjutku.
Arif diam. Dia tidak bisa memeriksa ratusan halaman itu dalam waktu singkat. Dia juga tahu, kalau dia menuduh tanpa bukti, itu akan terlihat jelas sebagai ketidakadilan. "Srak..!" Dia meletakkan berkas itu ke meja dengan bunyi keras.
"Besok lanjut. Masih banyak lagi yang harus dikerjakan," ucapnya, lalu berjalan pergi dengan langkah tergesa-gesa, seolah tidak tahan berada di ruangan yang sama denganku.
"Dukk..!" Pintu utama tertutup bunyinya keras.
Suasana kembali hening.
"Huuft" Aku menghela napas panjang, bersandar ke kursi, menutup mata sebentar. "Kretek" Merenggangkan tubuh perlahan, beban seharian akhirnya sedikit terlepas.
Tangan kecil menyentuh lengannya pelan. "Tap.." Aku membuka mata. Shella berdiri di sampingku, matanya basah, menatapku dengan pandangan yang sulit dijelaskan — campuran kagum, haru, dan sayang yang dalam.
"Kamu hebat sekali, Maxy..." suaranya bergetar pelan. "Dia berusaha bikin kamu hancur hari ini... tapi kamu malah berdiri lebih tegak dari sebelumnya." ucap Shella penuh kasih.
Aku tersenyum tipis, "Srak.." mengusap wajah Shella dengan tisu agar air matanya tidak jatuh.
"Saya cuma tidak mau kalah sebelum berjuang, Shella." jawabku tegas.
"Dia pikir dia bisa mengusir kamu dengan kerjaan berat dan kata-kata kasar..." Ucap Shella sambil menunduk, suaranya makin lembut. "Tapi dia tidak tahu, semakin dia menekan kamu, semakin aku melihat siapa kamu sebenarnya, Maxy." lanjutnya.
Dia mengeluarkan kotak makan kecil dari tas, membukanya di depan Maxy — nasi hangat, telur dadar, dan sedikit tumis sayur.
"Aku beli tadi sore. Tahu kamu belum makan. Makanlah, selagi masih hangat." ucap Shella sembari menyodorkan kotak kecil itu.
Aku menatap makanan itu, lalu ke wajah Shella. Hatiku terasa hangat, lebih hangat dari apa pun yang pernah kurasakan.
"Makasih, Shella..."
"Makan pelan-pelan ya. Jangan buru-buru." Shella menarik kursi, duduk di hadapannya. "Saya tunggu kamu."
Saat Aku makan, Shella memperhatikan dengan tenang. Dia melihat bagaimana aku makan dengan sederhana, bagaimana aku menunduk sedikit, bagaimana aku tersenyum kecil setiap kali menatapku.
Di hati Shella, sesuatu yang samar perlahan menjadi jelas.
Dia tidak butuh kemewahan. Tidak butuh penampilan yang memukau. Dia butuh seseorang yang tetap berdiri di sisinya meski dunia menekan. Seseorang yang bertahan bukan karena paksaan, tapi karena peduli. Seseorang yang apa adanya — dan justru karena itulah, itu begitu berharga.
Pandanganku sedikit berkedip. Notifikasi muncul samar, tanpa suara.
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Hubungan dengan Maxy: 56% (+4%)
Hubungan dengan Roxy: 51% (Tetap)
Sumber: Shella menyadari perjuangan diam-diam Maxy. Bertahan di bawah tekanan, bekerja dengan jujur, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetap lembut meski diperlakukan tidak adil. Kesetiaan yang tenang terasa jauh lebih nyata daripada kemewahan yang memukau. Shella mulai membandingkan secara sadar — dan pilihannya perlahan menguat.
Aku menatap angka itu. Naik lagi. Perlahan. Nyata. Tanpa topeng. Tanpa bantuan apa pun. Hanya dengan diriku sendiri.
Aku menatap Shella yang masih menunggunya dengan senyum lembut.
"Sudah selesai," kataku pelan, menutup kotak makan. "Kita pulang?" ajakku lembut.
"Iya. Kita pulang bareng." jawab Shella.
Kami berjalan keluar kantor bersama-sama. Langkahku masih terasa lelah, tapi hatiku ringan. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi jalan pulang yang terasa lebih hangat dari biasanya.
Aku tahu besok Arif akan kembali. Tugas lebih berat. Kata-kata lebih tajam. Tekanan lebih kuat.
Tapi Aku tidak sendirian. Dan Aku tidak akan pergi..