**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat di Meja Pak Camat
Hamdan menyetir mobil pinjaman temannya dengan kecepatan sedang di jalan berliku dari Tanjung Aan menuju Sengkol. Di kursi penumpang, Aina memangku map plastik biru berisi semua yang ia miliki. Buku nikah, Fotokopi kartu keluarga palsu serta amplop cokelat yang belum dibuka. Selain itu, Aina juga masih menyimpan tangkapan layar pesan-pesan Lale Rukmini yang dikirim Sekar ke ponselnya sebelum mereka berpisah.
"Kamu yakin hari ini, Dik?" tanya Hamdan tanpa menoleh. "Kita bisa siapkan dulu satu atau dua hari. Biar suratnya rapi."
"Hari ini Kak." Aina menatap lurus ke depan. "Kalau Ibu Rukmini kenal orang di BKD, setiap jam yang lewat adalah jam yang ia pakai untuk bergerak lebih dulu."
Hamdan mengangguk pelan. Di sebuah lampu merah pertigaan Sengkol, ia meraih tas kerjanya dari jok belakang dan mengeluarkan laptop tua.
"Kalau begitu kita siapkan semuanya sekarang! Di depan kantormu ada warung kopi kan, Kita bicarakan disana!"
Warung kopi Inaq Mus, Sebuah panggilan untuk pemilik warung kopi itu. Suasana warung kopi tersebut masih sepi pagi itu. Hanya ada dua orang tukang ojek yang duduk di bangku luar sambil merokok. Aina dan Hamdan mengambil meja paling dalam, di dekat rak kerupuk.
Selama satu jam, Mereka menyusun surat itu disana. Lalu menulis kalimat demi kalimat laporan. Hamdan mengetik, Aina mendikte kronologi pernikahan sepuluh tahun lalu. Tanggal pernikahan Raka dengan sekar juga tak luput dari catatan Hamdan. Selain itu, Hamdan juga menuliskan tanggal Aina mengetahui kebohongan Raka lengkap dengan cara ia mengetahuinya.Yang Paling penting juga pernyataan bahwa ia tidak pernah tahu dan tidak pernah memberi persetujuan. Semua bukti itu diLampirkan satu per satu.
Sesekali Aina menghentikan ucapannya. Ada beberapa bagian yang sulit diucapkan. Salah satunya tentang bagian pinjaman bank. Selain itu, Bagian tentang kartu keluarga palsu yang selama ini ia simpan di lemari tanpa curiga.
"Tulis saja apa adanya Dik," kata Hamdan dengan lembut. "Kejujuranmu adalah perlindunganmu."
Di kalimat terakhir, Aina menulis sendiri:
"Saya menyampaikan laporan ini atas kesadaran sendiri, karena saya tidak ingin status saya sebagai aparatur sipil negara tercemar oleh kebohongan yang tidak pernah saya buat. Saya siap menjalani pemeriksaan dan menerima keputusan apa pun sesuai aturan yang berlaku".
Hamdan membaca ulang surat itu, lalu menatap adiknya. "Kamu tahu ini belum tentu menyelamatkan pekerjaanmu kan? Pemeriksaan bisa lama. Hasilnya tidak bisa kita tebak."
"Aku tahu, Kak." Aina melipat tangannya di atas meja. "Tapi setidaknya kalau aku jatuh, aku jatuh karena kejujuran. Bukan karena didorong oleh mereka."
Hamdan mencetak surat itu di tempat fotokopi sebelah warung Lalu Aina menandatanganinya di atas meterai, dengan tangan yang tidak lagi gemetar.
Pagi itu Kantor Camat Pujut sudah ramai ketika Aina masuk. Warga terlihat banyak yang mengantri di ruang tunggu. Selain warga yang terlihat mengantri para pegawai kecamatan juga tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masin. Di tengah kesibukannya, Rini seketika berdiri dari loketnya begitu melihat Aina.
"Bu! Ibu sudah sehat?"
"Sudah agak mendingan Rin, Oh iya Pak Camat ada?"
Rini mengerutkan dahi, melihat map di tangan Aina, lalu menatap wajahnya. Ia seolah langsung mengerti. "Ada, Bu. Baru saja selesai rapat dengan kepala desa."
Setelah itu Aina terlihat berjalan ke arah ruangan pak Camat. Sesampainya disana Aini langsung mengetuk pintu ruangan Camat. Kemudian terdengar sebuah suara berat menyahut dari dalam.
Pak Lalu Mahsun, Seornag pria paruh baya yang saat itu menjabat sebagai Camat Pujut. Pria berusia lima puluhan dengan kumis tipis dan kacamata berbingkai cokelat. Ia dikenal tegas tetapi adil, dan selama sepuluh tahun Aina bekerja di sana, beliau tidak pernah sekali pun meninggikan suara kepada stafnya.
"Bu Aina. Silakan duduk!" Kata Pak Camat wilayah Pujut itu, "Ibu sakit beberapa hari ini?"
"Mohon maaf, Pak." Aina duduk di kursi di seberang meja. Ia meletakkan map biru itu di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke depan. "Saya datang untuk menyampaikan laporan tentang diri saya sendiri."
Pak Mahsun mengangkat alis. Ia membuka map itu dan mulai membaca.
Aina memperhatikan wajah atasannya selama ia membaca. Mula-mula datar, Lalu dahinya berkerut. Lalu ia melepas kacamata, mengusap matanya, dan memakainya kembali. Ia membaca lampiran satu per satu, termasuk tangkapan layar pesan Lale Rukmini, dengan kerutan yang semakin dalam.
Ketika selesai, ia meletakkan kertas-kertas itu dengan hati-hati, lalu bersandar di kursinya.
Ruangan itu hening lama.
"Bu Aina," kata Pak Mahsun akhirnya, pelan. "Sepuluh tahun Ibu bekerja di sini, Saya kenal Ibu. Semua orang di kantor ini kenal Ibu."
Aina menunduk.
"Saya tidak akan berpura-pura ini bukan masalah kecil. Ini persoalan serius, dan harus diproses sesuai aturan. Saya tetap wajib meneruskannya ke kabupaten untuk diperiksa." Ia mengetuk map itu dengan jarinya. "Tapi satu hal yang bisa saya pastikan. Laporan ini datang dari Ibu sendiri, lebih dulu, lengkap dengan bukti bahwa Ibu ditipu. Itu akan saya tulis dengan jelas dalam pengantar saya."
Aina mengangkat wajah. Matanya mulai basah.
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih dulu." Pak Mahsun menghela napas. "Jalan Ibu masih panjang. Tapi Ibu sudah mengambil langkah yang benar."
Ia meraih telepon di mejanya dan memanggil sekretarisnya untuk mencatat surat masuk. Nomor agenda, Tanggal, serta Jam. Aina melihat sekretaris itu menuliskan semuanya di buku agenda besar bersampul hijau.
Pukul 10.47 WITA.
Angka itu terasa seperti tembok pertama yang berhasil ia bangun untuk melindungi dirinya.
Aina keluar dari ruangan Camat dengan langkah yang terasa lebih ringan sekaligus lebih berat. Ringan karena ia sudah bergerak. Berat karena ia tahu, mulai hari ini, rahasia itu tidak lagi hanya miliknya.
Rini menunggunya di ujung lorong. Tanpa bertanya apa-apa, ia memeluk Aina erat.
"Ibu hebat," bisiknya.
Aina tertawa kecil di sela tangisnya. "Aku tidak merasa hebat Rin, Aku merasa seperti baru saja menelanjangi diriku sendiri di depan atasan."
"Justru itu yang hebat, Bu."
Mereka berdiri di lorong beberapa saat. Lalu Rini melepaskan pelukannya, Seketika wajahnya berubah ragu.
"Bu, tadi sebelum Ibu datang, ada telepon ke kantor. Dari seseorang yang mengaku staf BKD kabupaten. "Dia tanya apakah benar ada pegawai bernama Aina di bagian pelayanan, Bukan hanya itu dia pun menanyakan status perkawinan Ibu."
Aina membeku. "Jam berapa?"
"Sekitar jam sembilan. Saya bilang saya tidak berwenang menjawab, harus lewat surat resmi."
Jam sembilan, Satu jam empat puluh tujuh menit sebelum laporannya tercatat di buku agenda.
Mendengar hal itu dari Rini, Aina yang awalnya meragukan perkataan Sekar menjadi yakin dengan Sekar yang berkata benar bahwa Lale Rukmini tidak menunggu seminggu, bahkan tidak menunggu sehari untuk bertindak.
"Bagus Rin," ucap Aina lalu menarik napas panjang. "Kamu sudah menjawab dengan benar."
Siang harinya, di sebuah parkiran terlihat Hamdan mendengarkan cerita Aina sambil bersandar di pintu mobil.
Mereka bergerak lebih cepat dari dugaan. Selain itu, laporan Aina sudah masuk resmi. Itu yang terpenting. Sekarang mereka tidak bisa berkata jika Aina menyembunyikan semua itu."
Seketika Perutnya Aina terasa mual lagi. Sejak pagi wanita yang tengah hamil muda itu belum makan apa pun selain segelas teh manis di warung Inaq Mus.
"Ayo makan dulu," Ajak Hamdan yang melihat wajah pucat adiknya. " Ingat Kamu tidak sendirian, Ada dua orang yang harus kamu kasih makan sekarang."
Aina tersenyum tipis. Baru saja Aina hendak membuka pintu mobil tiba-tiba terdengar ponselnya berdering.
Aina yang mendengar ponselnya berdering langsung mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Di layar ponsel terlihat nama sekar. Melihat Sekar hubunginya, Aina langsung mengangkatnya.
Ketika panggilan itu tersambung, Bukan Sekarang yang terdengar bicara, Melainkan suara anak kecil yang menangis keras di seberang sana. Bukan hanya itu, Lalu Sekar pun terdengar seperti terengah-engah dan panik.
"Aina… Abang tahu, Dia tahu aku menemuimu tadi pagi. Ibu juga tahu." Suara itu tercekat. "Mereka bertengkar hebat di rumah. Ibu bilang aku pengkhianat. Abang juga langsung pergi membawa mobil."
Jantung Aina berdegup kencang. "Pergi ke mana?"
Hening sebentar. Hanya terdengar isak Arsya di ujung sana.
"Aku tidak tahu pasti," bisik Sekar dari seberang sana" Tapi waktu keluar pintu, dia bilang mau menemuimu. Katanya, Sebelum semuanya terlambat, dia harus bicara dengan Aina. Wajahnya juga… Aina, aku belum pernah melihat Abang seperti itu."
Selesai berbicara di telepon dengan Sekar, Aina tampak menurunkan ponsel perlahan dari telinganya.
Setelah itu Aina tampak mengalihkan pandangannya pada sebuah mobil putih dengan stiker hati di kaca belakang baru saja berhenti mendadak tepat di ujung jalan dekat kantor camat pujut dengan Pintu terbuka.
Dari dalam mobil itu terlihat Lalu Raka baru saja keluar dari mobil itu, Kemudian Ia menyipitkan matanya ke arah Aina.