NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : Titik Terendah Seorang Pria

Kita tinggalkan sejenak Maya yang kini mulai bernapas lega di dalam rumah warisan orang tuanya.

​Di balik dinding dingin itu, haknya telah kembali dan perlahan kepedihan hidupnya mulai terobati.

​Namun sekarang, mari kita simak perjalanan Prasetio pria yang baru saja melangkah keluar membawa puing-puing kehancuran hidupnya.

​Dengan sekuat tenaga, Prasetio memapah tubuh renta Pak Burhan berjalan kaki menyusuri jalanan desa yang basah oleh sisa gerimis.

​Langkah mereka terseok-seok menempuh jarak yang cukup jauh, menjauhi rumah peninggalan orang tua Maya yang telah dinodai oleh kejahatan keluarganya.

​Ketika matahari mulai naik dan tenaga Prasetio hampir habis, ia melihat sebuah bangunan rumah kayu tak berpenghuni di tepi jalan lintas desa.

​Di atas teras rumah kosong itulah Prasetio menghentikan langkah. Ia membaringkan sang ayah dengan hati-hati, lalu terduduk lemas dengan tatapan kosong menatap lurus ke depan.

​Ubin semen tempatnya berpijak tampak kusam berselimut debu.

​Tak ada lagi Prasetio si pengusaha muda yang elok dipandang.

​Pria berdarah manis dengan kulit sawo matang, rambut ikal yang biasa tertata rapi, serta postur tubuh seratus tujuh puluh sentimeter yang selalu tampak gagah berbalut jas mahal puluhan juta itu.

​Hari ini, seluruh kemewahan itu telah menguap tanpa sisa. Jas mewahnya sudah ia buang ke dalam tempat sampah di sudut jalan desa—sebuah simbol bahwa ia enggan lagi menyentuh sedikit pun sisa-sisa kepalsuan hidupnya.

​Kini, ia hanya mengenakan kaos oblong putih polos dan celana kain hitam.

​Di sampingnya, beralaskan kain seadanya, Pak Burhan terbaring lemah.

​Tubuh renta sang ayah yang digerogoti stroke itu masih tertidur lelap dalam kepasrahan. Napasnya terdengar memburu dan berat setelah Prasetio membopongnya berjalan jauh.

​Prasetio menunduk memandangi telapak tangannya yang gemetar.

​Sepanjang hidupnya, ia adalah anak yang tidak pernah membantah. Apa pun perintah orang tuanya—termasuk ketika dijodohkan dengan Prilia, bahkan saat diminta menikahi Maya—semua ia jalani tanpa protes karena rasa bakti yang teramat dalam.

​Namun kini, justru bakti buta itulah yang menyeretnya jatuh ke jurang terdalam. Ibarat sebab nila setitik, rusak susu sebelanga.

​Ia benar-benar berada di titik nol. Uang tunai di saku celananya habis, dan seluruh rekening bank atas namanya telah diblokir akibat pengusutan legalitas izin aset.

​Sebuah bisikan di dalam hatinya sempat melintas untuk menghubungi rekan-rekan bisnis atau teman-teman terpandang nya di Pekanbaru.

​Namun, rasa malu dan sisa harga dirinya sebagai seorang pria menahan jemarinya.

​Ia enggan mengemis. Ia tidak mau belas kasihan. Jika ia harus membayar dosa-dosa masa lalunya, maka ia akan memulainya sebagai manusia baru yang benar-benar berakhlak baik.

​Saat kepalanya kian berat dihantam bingung memikirkan arah melangkah bersama sang ayah, jemari Prasetio merogoh saku celananya.

​Ia menarik keluar dompet kulit miliknya, berharap masih ada sisa lembaran uang kemarin.

​Ternyata nihil. Hanya ada deretan kartu mati tak berguna.

​Wajah Prasetio semakin muram , ia hendak menutupnya kembali. Namun, jemarinya mendadak menyentuh sudut keras di selipan paling dalam.

​"Apa ini..." Batinnya.

​Di salah satu selipan dalam dompetnya, berkilau seuntai kalung emas kuning berbobot lima suku perhiasan milik Prilia yang sempat ia masukkan secara tak sengaja sebelum kekacauan di bank kemarin.

​Prasetio menatap kalung emas di telapak tangannya dengan pandangan getir. Meski timbul sedikit harapan untuk bisa bertahan hidup, tetapi hatinya sedih.

​Emas ini... secara tidak langsung adalah milik Maya. Sedangkan apapun yang kami pakai dan kami makan adalah milik wanita itu, batin Prasetio berkata sedih.

​Pria itu memejamkan mata lalu menghirup oksigen sepuasnya, seakan melepaskan sebuah beban berat dalam dadanya, Ia mengepalkan tangannya memandang kalung tersebut.

​"Aku pinjam harta ini hari ini untuk menyelamatkan Ayah, Maya... Demi Allah, suatu hari nanti saat aku sudah berdiri tegak dengan keringatku sendiri, akan ku kembalikan benda ini padamu. Lalu dia memutuskan untuk segera menjual kalung tersebut.

Saat dia akan berdiri melangkah di ​lihat nya sang ayah yang masih terpejam lelap, Prasetio melangkah pelan agar tidak membangunkan Beliau .

​Dengan langkah cepat ia bergegas menuju toko emas di pasar yang tak jauh dari tempat Prasetio dan ayahnya singgah.

Sesampai di toko mas tersebut Prasetio di sambut laki laki seumuran dengannya, berbangsa keturunan Cina.

"Ada yang bisa di bantu bang, mau beli atau jual? " Tanya penjual itu ramah.

"Mau jual ko, tapi saya lupa bawa suarat nya "

"Tidak masalah tapi kalau tidak bersama surat potongannya besar bang, gimana? " Penjual mas tersebut menatap Prasetio.

"Biarlah ko. " Jawab Prasetio singkat.

Lalu Ia mengeluarkan perhiasan tersebut dari saku celananya, meletakkan nya di atas meja kaca. Si penjual mengambil barang tersebut dengan memeriksa kadarnya terlebih dahulu, lalu mengambil kalkulator dan menghitung harga mas di sertai potongan, Ia menunjukkan nominal yang tertera dalam kalkulator tersebut.

Prasetio menatap angka yang tertera di sana, dua puluh juta, dia membaca dalam hati.

"Bagai mana bang? " Tanya penjual itu lagi memastikan.

"Iya bang saya terima. " Ujar Prasetio.

"Ini sudah termasuk semua potong timbangan, dan potong surat. " Penjual tersenyum ramah.

"Iya bang. " Prasetio membalas singkat.

Penjual itu mengeluarkan uang lembaran ratusan yang sudah di necis tiap per sepuluhnya, menghitung kembali di depan Prasetio lalu memberikannya "Nanti kalau mau beli atau jual lagi, kemari ya bang. " Ujarnya tersenyum.

"Iya ko terima kasih. " Jawab Prasetio. Ia mengambil dulu selembaran seratus itu melepaskan necis, memasukkan sisa semua uang ke dalam sakunya, kemudian berlalu dan menghilang dari pandangan si penjual.

​Prasetio berjalan mencari tokoh pakaian, Ia bermaksud membeli sarung buat ayahnya. Tepat depan toko mas itu dia melihat ada warung nasi, dia langsung menuju ke sana memesan dua bungkus nasi dan dua botol air mineral, lalu masuk ke dalam pasar, dia langsung membeli kain sarung yang ada di salah satu toko pakaian itu, lalu melangkah cepat ke arah rumah kosong di pinggir jalan di mana ayahnya sedang tidur tadi.

​"Ayah... Bangun, Yah..." Prasetio menepuk kaki ayahnya perlahan.

​Ketika melihat wajah putra nya yang kini duduk di lantai teras hanya beralaskan kaos oblong polos dada Pak Burhan naik turun menahan guncangan emosi.

​"P-Pras..." panggil Pak Burhan parau. Suaranya terputus-putus dan amat sulit keluar dari balik bibirnya yang miring akibat stroke.

​"Maafkan Ayah, Nak... Lihatlah betapa Ayah telah menyeret mu ke dalam penderitaan ini... "

​Air mata Pak Burhan mengalir kian deras, membasahi garis-garis keriput di pipinya.

​Dengan jemarinya yang kaku dan gemetar hebat, Pak Burhan berusaha meraih lengan Prasetio.

​"Dosa Ayah... dosa Ayah sangat besar Pras..." erang Pak Burhan serak, dadanya tercekik oleh penyesalan yang membakar hatinya.

​"Ayah yang serakah... Ayah yang menuruti iblis hingga menyeret mu menjadi anak yang berdosa pada istri .. Harusnya Ayah mati saja semalam, Pras! Harusnya Allah mencabut nyawa Ayah agar kau tidak perlu menderita memikul dosa Ayah seperti ini!

​"Jangan bicara begitu yah, sekarang ayah makan dulu karena kita akan naik mobil" Jawab Prasetio.

​Pak Burhan tak sanggup lagi berkata-kata. Hanya isak tangis dan anggukan lemah yang bisa ia berikan.

​Dengan telaten, Prasetio menyuapkan sendok demi sendok nasi hangat ke mulut ayahnya. Ia merawat sang ayah seperti seorang ibu yang menyuapi bayinya—penuh rasa hormat, tanpa ada sedikit pun kepura-puraan.

​Setelah Pak Burhan selesai makan, dan minum air mineral, Prasetio mem beres kan sisa -sisa makanan yang bercecer menjadikan nya satu dengan bungkus kosong lalu membuang nya.

​Pria bertubuh ideal itu kemudian membentangkan sarung katun sederhana yang baru saja ia beli, menyelimuti tubuh renta sang ayah dengan penuh kehangatan.

​Prasetio berlutut memunggungi ayahnya, dengan perlahan dan lembut membopong tubuh renta Pak Burhan ke atas punggungnya yang bidang.

​Ia menyangga paha sang ayah erat-erat, berjalan keluar dari halaman rumah kosong tersebut menuju tepi jalan lintas.

​Di bawah paparan sinar matahari pagi yang mulai hangat, Prasetio mengangkat tangan kirinya, menyetop sebuah mobil travel antarkota yang sedang melintas lambat.

​Mobil travel itu berhenti di hadapan mereka. Sopirnya sempat tertegun sejenak melihat penampilan Prasetio yang gagah dan penuh wibawa, namun membopong seorang tua renta yang terbungkus sarung sederhana.

​Prasetio membukakan pintu belakang dengan satu tangan, melangkah membungkuk, lalu membaringkan tubuh Pak Burhan dengan sangat hati-hati di atas jok mobil.

​Setelah merapikan kembali sarung yang menyelimuti kaki ayahnya, Prasetio masuk dan duduk di sampingnya.

​"Ke Jambi ya, Pak?" tanya Prasetio tenang namun sarat akan tekad yang tak tergoyahkan.

​"Iya, Mas," jawab sopir travel sembari menginjak pedal gas.

​Di Jambi, ada seorang sahabat masa kecilnya—satu-satunya teman sepermainan yang tidak mengenal Prasetio sebagai pengusaha kaya di Pekanbaru, melainkan sebagai Prasetio biasa yang jujur.

​Ke sanalah ia akan membawa ayahnya, untuk memulai semuanya dari nol.

​Mobil travel itu perlahan melaju membelah jalanan, membawa pergi seorang pria yang telah kehilangan segalanya, namun baru saja menemukan kembali martabat dan kehormatan jiwanya.

​Bersambung

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!