Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Yang Tak Bisa Diucapkan Zinnia
Angin malam membawa aroma garam dan sisa asap api unggun. Zinnia berdiri sendirian di tepi pantai, menatap bulan yang sinarnya redup tertutup awan tipis.
Ia tak tahu kenapa matanya menolak terpejam malam itu. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya terus terjaga, seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tetap di sini, di tepi laut yang sepi ini.
Deru mobil tiba-tiba memecah keheningan. Zinnia menoleh.
Sebuah mobil berhenti tak jauh dari bibir pantai. Pintu terbuka kasar. Seorang pria keluar dengan langkah terhuyung, seperti kehilangan keseimbangan setiap dua atau tiga langkah.
Jantung Zinnia berdegup cepat.
Lelaki itu terus berjalan cepat, mengarah lurus ke laut, tidak berhenti, tidak ragu.
Firasat buruk langsung menyergap Zinnia. Ia tidak bisa berteriak memperingatkan, tidak bisa memanggil nama yang bahkan tak ia tahu. Yang bisa ia lakukan hanya berlari.
Air laut sudah menyentuh betis orang itu ketika Zinnia berhasil meraih lengannya, menariknya sekuat tenaga ke arah daratan.
Pria itu meronta sesaat, tapi Zinnia tak melepaskan cengkeramannya, menyeret tubuh yang jauh lebih berat itu menjauh dari air.
Sinar bulan yang redup membuatnya tak bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Hanya siluet, tinggi, dan napas berat yang entah kenapa terasa tidak beraturan.
Zinnia belum sempat menstabilkan napasnya sendiri ketika ia hampir kehilangan keseimbangan karena tubuh pria tersebut mendadak berbalik. Tanpa aba-aba lelaki itu menciumnya penuh hasrat dan memeluknya begitu erat.
Semuanya terjadi begitu cepat. Zinnia tersentak. Tangannya berusaha mendorong pria itu, tetapi tenaganya tidak sebanding. Ia ingin berteriak, tapi yang keluar hanya isakan tanpa suara.
Tubuhnya terbaring dia atas pasir, sesekali air laut menjilat ujung kakinya. Ia berusaha meronta, melepaskan diri dari kungkungan pria itu, namun tenaganya kalah jauh.
Napas Zinnia yang tersengal karena melawan, tenggelam oleh deru ombak.
Ia menggigit bahu pria itu saat rasa sakit yang begitu hebat menderanya. Kuku-kukunya mencengkram punggung laki-laki tersebut, menembus kulitnya. Air bening menetes dari pelupuk matanya. Kesucian yang selama ini ia jaga, kini telah terenggut.
Di bawah cahaya bulan yang redup, wajah laki-laki tersebut masih samar. Yang tersisa bagi Zinnia hanyalah rasa takut dan kebingungan.
Malam yang semula ingin ia gunakan untuk menenangkan diri berubah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.
Ketika kesadaran pria itu perlahan kembali, suasana di sekitar mereka masih sunyi, hanya suara ombak yang terus datang dan pergi, seolah tak peduli apa yang baru saja terjadi.
Lelaki itu memegang kepalanya yang terasa berdenyut. "Aku terpengaruh obat." Ia menatap Zinnia dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf," suaranya serak. "Aku gak seharusnya..." Kalimatnya terputus, ia menarik napas panjang. "Aku bakal tanggung jawab."
Zinnia tidak bergerak. Tubuhnya masih gemetar, matanya menatap kosong ke arah laut.
"Siapa namamu?" tanya pria itu, mendekat.
Zinnia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Lidahnya kelu, seperti selalu, hanya saja malam ini kekeluannya terasa jauh lebih menyakitkan.
Belum sempat laki-laki itu menyadari kenapa Zinnia tak kunjung menjawab, ponsel di dalam mobil berdering, terus-menerus, memaksa untuk segera dijawab.
Ia ragu sesaat, menatap Zinnia yang masih membeku, lalu akhirnya berlari kecil menuju mobil dan mengangkat telepon.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah tegang. Ia segera kembali menghampiri Zinnia.
"Aku... ada urusan mendesak. Harus pergi sekarang."
Tangannya bergerak cepat melepas cincin di jarinya, lalu menggenggamkannya ke tangan Zinnia yang masih dingin dan kaku.
"Aku Arvid. Cari aku dengan cincin ini."
Dan pria itu, Arvid, berlari ke mobilnya, meninggalkan Zinnia sendirian di tepi pantai, dengan cincin di tangan dan malam yang telah mengubah segalanya.
Zinnia duduk mematung lama setelah mobil itu menghilang, sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya di antara kedua pahanya. Pikirannya melayang, mencoba mencari sesuatu yang familiar. Sesuatu yang bisa membuatnya merasa masih ada di dunia yang sama seperti beberapa jam lalu.
Beberapa jam sebelumnya...
Api unggun menyala di tengah lingkaran pasir, percikannya naik ke langit setiap kali kayu bakar disodok. Zinnia duduk di antara teman-temannya, merayakan kelulusan yang baru saja diraih bersama-sama. Sosis dan jagung bakar berpindah tangan, sementara tawa dan nyanyian pecah setiap kali salah satu dari mereka salah nada bernyanyi.
Zinnia tak bisa ikut bernyanyi, tapi tangannya terus bergerak, bertepuk mengikuti irama, sesekali membuat gestur lucu yang membuat teman-temannya tertawa lebih keras. Di antara mereka, ia tak pernah merasa kurang. Mereka mengerti caranya berbicara tanpa kata.
"Kamu bahagia, 'kan, Zin?" tanya salah satu temannya lewat bahasa isyarat, sambil tersenyum lebar.
Zinnia mengangguk mantap, matanya berbinar memantulkan cahaya api unggun.
Malam itu terasa sempurna, penutup indah untuk empat tahun perjuangan mereka. Satu per satu mulai menguap, dan ketika api unggun tinggal bara, semua sepakat kembali ke kamar masing-masing.
Zinnia sempat berbaring lama di kasurnya, mengingat wajah-wajah bahagia teman-temannya malam itu, sebelum akhirnya kantuk itu, entah kenapa menghilang begitu saja.
•••
Dan ia berakhir seperti saat ini.
Zinnia menatap cincin di genggamannya lama-lama. Tangannya terangkat, hendak melemparkannya jauh ke tengah laut. Ia ingin membuangnya bersama semua yang terjadi malam ini, seolah dengan begitu ia bisa berpura-pura semuanya tak pernah ada.
Namun jarinya berhenti tepat sebelum melepaskannya.
Bagaimana jika ada akibat dari malam ini?
Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa diundang. Zinnia tak pernah menghendaki apa pun dari malam ini. Bukan sentuhan itu, bukan rasa sakitnya, apalagi kemungkinan yang baru saja terlintas di benaknya. Tetapi ia tahu, sekecil apa pun kemungkinannya, itu tetap bisa saja terjadi.
Tangannya yang tadi terangkat perlahan turun. Cincin itu kembali ia genggam erat. Kali ini bukan karena ingin mengenangnya, melainkan karena ia sadar. Jika kekhawatirannya benar, cincin ini mungkin satu-satunya cara untuk membuat pria itu bertanggung jawab.
Ia mengangkat cincin itu mendekati wajahnya, memutarnya perlahan di bawah cahaya bulan yang mulai pudar. Sesuatu berkilau di bagian dalamnya.
Zinnia mengernyit, mencoba melihat lebih jelas. Ada ukiran kecil di sana, entah huruf atau lambang, terlalu rumit untuk sekadar cincin biasa.
Siapa pun pria itu, ia bukan orang sembarangan.
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada yang hanya bisa dirasakan oleh hati, tetapi tetap pantas untuk didengar, dihargai, dan dipertanggungjawabkan.”...
...“Diam bukan berarti tidak merasa. Tidak mampu bersuara bukan berarti tidak punya hak untuk didengar.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
kasihan Zinnia....semoga dapat Perlakuan istimewa dari Arvid setelah kebebarannya terungkap....
Dan berharap Keluarga Danendra sangat baik tidak memandang sosial media
jangan di urungkan lagi niatnya ya Zinn....