Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERAMPOKAN BRANKAS
Lorong di depan ruang hitung terasa sangat sunyi, berbanding terbalik dengan keributan yang baru saja Leo buat di lantai atas. Udara dingin dari ventilasi AC berhembus menerpa tengkuknya, membuat keringat yang menumpuk di balik topeng silikonnya terasa gatal. Leo berlutut di depan pintu baja raksasa itu, menempelkan telinga kirinya ke permukaan logam yang sedingin es.
Tangannya yang sehat memutar roda kuningan perlahan.
Klik. Klik. Klik.
"Tujuh puluh detik lagi, Leo." Elena bersuara dari dalam earpiece, nada bicaranya mulai terdengar tegang. "Sistem keamanan utama mereka terus mencoba melakukan reboot paksa. Aku menahannya secara manual, tapi firewall mereka terus menekan balik."
"Fokus saja ke komputermu, biar aku yang urus pintu ini." Leo membalas dengan bisikan pelan.
Ia memejamkan mata, memanggil kembali memori lama tentang ayahnya. Ayahnya punya kebiasaan unik soal angka. Pria tua itu tidak pernah percaya pada angka acak. Semua kombinasi brankas yang dipasang di properti klan Valenti selalu menggunakan pola yang sama: tanggal lahir ibu Leo, dibalik, lalu dikurangi angka tujuh. Leo memutar tuas itu ke kiri, melewati angka tiga puluh, lalu berhenti di angka dua belas.
Klik ganda yang berat terdengar dari dalam mekanisme pintu.
Leo tersenyum tipis. Ia menarik tuas pembuka dengan satu tarikan kuat. Suara desisan udara keluar saat segel kedap udara brankas itu terlepas. Pintu baja setebal lima belas sentimeter itu mengayun terbuka dengan pelan dan berat.
Begitu pintu terbuka lebar, cahaya lampu sensor gerak di dalam brankas langsung menyala, menerangi ruangan berukuran lima kali lima meter tersebut.
Napas Leo tertahan sejenak. Di depannya, tumpukan uang tunai tersusun rapi di atas rak-rak besi. Pecahan seratus dan lima puluh dolar diikat dalam bendelan tebal, ditumpuk setinggi dada orang dewasa. Ini bukan sekadar uang. Ini adalah darah, keringat, dan hasil perasan Marco dari seluruh penjuru kota selama seminggu terakhir. Jutaan dolar uang kotor yang siap dicuci.
"Pintunya terbuka. Aku masuk sekarang." Leo melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
"Ambil yang paling besar, tinggalkan recehannya. Kau tidak punya waktu untuk membungkus semuanya." Elena memberi instruksi sambil terus mengetik kasar di ujung sana. "Waktumu lima puluh detik!"
Leo langsung menyisir sudut ruangan. Matanya menangkap apa yang ia cari: tumpukan tas kanvas hitam tebal yang biasa digunakan oleh staf kasino untuk memindahkan uang tunai ke mobil lapis baja. Ia menyambar dua buah tas, membuka resletingnya lebar-lebar, dan melemparnya ke lantai.
Dengan gerakan cepat dan kasar, Leo mulai meraup bendelan pecahan seratus dolar dari rak terdekat. Ia memasukkan uang itu ke dalam tas tanpa menyusunnya. Satu raupan tangannya bisa bernilai lima puluh ribu dolar. Ia terus meraup dan melempar, membiarkan beberapa lembar uang terjatuh dan berserakan di lantai.
Rasa sakit di bahu kanannya mulai menjerit minta ampun setiap kali ototnya berkontraksi. Obat penahan sakit yang diberikan Elena sudah tidak mempan lagi. Tapi adrenalin menutupi segalanya. Leo tidak peduli kalau jahitannya robek lagi. Ia membayangkan wajah angkuh Marco setiap kali ia melemparkan tumpukan uang itu ke dalam tas.
"Tiga puluh detik!" Suara Elena terdengar nyaris berteriak sekarang. "Penjaga lantai atas mulai sadar kau tidak ada di toilet. Mereka sedang menyebar mencari Rafael Rossi!"
"Aku butuh sedikit lagi!" Leo menahan rasa ngilunya, memaksa tangan kanannya ikut bekerja meraup tumpukan uang dari rak sebelah kiri.
Tas pertama sudah penuh sesak. Leo beralih ke tas kedua. Tangannya bergerak seperti mesin, mengambil dan melempar. Total uang di dalam kedua tas itu mungkin sudah lebih dari tiga juta dolar. Beratnya sekitar dua puluh hingga tiga puluh kilogram. Bukan beban yang mudah untuk dibawa lari oleh pria yang bahunya berlubang karena peluru.
"Sial, mereka memotong aksesku dari server pusat!" Elena mengumpat kasar, terdengar suara bantingan keras dari ujung earpiece. "Sistemnya hidup lagi dalam sepuluh detik! Sembilan... delapan..."
"Aku selesai!" Leo menarik resleting kedua tas itu dengan kasar hingga tertutup rapat.
"Keluar dari sana sekarang! Lari ke arah pintu bongkar muat di sayap barat. Aku sudah membuka kunci daruratnya. Aku menunggumu di sana!" Elena memutus komunikasi.
Tepat saat Leo menyeret kedua tas raksasa itu keluar dari pintu baja brankas, lampu neon putih di langit-langit lorong berkedip mati sesaat, lalu menyala kembali. Lampu kecil di ujung kamera CCTV berubah menjadi merah terang. Sistem telah kembali *online*.
Satu detik kemudian, sirine alarm meraung sejadi-jadinya, memekakkan telinga. Lampu strobo merah berputar di sepanjang lorong, mengubah suasana dingin itu menjadi neraka yang berkedip-kedip.
"Sialan." Leo mendengus kasar.
Ia memegang tali pegangan satu tas di tangan kirinya, dan tas lainnya di tangan kanannya. Menggertakkan gigi menahan sakit luar biasa di bahu, ia mulai berlari menyusuri lorong menjauhi ruang hitung. Beban berat tas kanvas itu memantul-mantul mengenai paha dan lututnya, membuat langkahnya tidak seimbang.
Dari arah tangga servis di belakangnya, terdengar suara langkah kaki berat bersepatu bot menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Ruang hitung! Dia di ruang hitung!" Seseorang berteriak di tengah raungan sirine.
Leo memacu kakinya lebih cepat. Keringat bercucuran membasahi topeng silikonnya, membuat pinggiran di dekat lehernya mulai terasa mengelupas. Ia berbelok tajam di persimpangan lorong, nyaris menabrak kereta dorong berisi handuk kotor yang ditinggalkan petugas kebersihan. Ia menendang kereta itu hingga terguling ke tengah lorong untuk menghalangi jalan para pengejarnya.
Lorong sayap barat terlihat di depannya. Di ujung lorong, terdapat pintu besi ganda bertuliskan 'Loading Dock'. Pintu itu sedikit terbuka, membiarkan udara malam dan rintik hujan masuk ke dalam.
Leo menabrakkan bahu kirinya ke pintu itu hingga terbuka lebar. Ia terhuyung keluar menuju area bongkar muat kasino yang gelap dan basah. Di sana, mobil sedan hitam yang mereka gunakan sudah menyala, mesinnya menggeram pelan.
Elena berdiri di dekat bagasi yang terbuka. Ia sudah melepas sepatu hak tingginya dan melemparnya entah ke mana, berdiri tanpa alas kaki di atas aspal yang basah. Gaun malamnya yang indah kini terlihat kotor di bagian bawahnya.
"Lemparkan tasnya!" Elena berteriak sambil melambaikan tangan, matanya awas menatap ke arah pintu di belakang Leo.
Leo mengerahkan sisa tenaganya, mengayunkan kedua tas berat itu ke dalam bagasi mobil dengan napas tersengal-sengal.
"Berapa banyak yang kau ambil?" Elena bertanya cepat sambil membanting pintu bagasi hingga tertutup rapat.
"Cukup untuk membuat Marco menangis darah," Leo terengah-engah, memegangi bahu kanannya yang kini terasa seperti ditusuk paku panas. Darah segar mulai merembes kembali menembus kemeja dan jas abunya.
"Masuk ke mobil! Cepat!" Elena mendorong Leo ke arah pintu penumpang depan, sementara ia sendiri melompat masuk ke kursi pengemudi.
Baru saja Leo membanting pintu mobil, pintu bongkar muat di belakang mereka didobrak paksa. Tiga orang algojo bertubuh besar dengan seragam penjaga kasino berhamburan keluar. Mereka langsung mengangkat pistol dan mengarahkannya ke sedan hitam itu.
"Berhenti! Jangan bergerak!" Salah satu algojo berteriak.
"Pegangan yang erat, Pangeran." Elena menyeringai tipis, tangannya mencengkeram setir dengan kuat.
Gadis itu menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban mobil berdecit keras bergesekan dengan aspal basah, menghasilkan kepulan asap putih dan percikan air kotor. Sedan hitam itu melesat maju bagaikan peluru, menabrak tumpukan tong sampah plastik hingga terlempar ke udara.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan meletus dari arah belakang. Kaca spion kiri mobil hancur berkeping-keping terkena peluru. Salah satu peluru menghantam bodi belakang mobil dengan bunyi dentingan keras yang memekakkan telinga.
Leo menunduk, secara refleks mencabut pistol polimer kecilnya dari pinggang, meski ia tahu senjata itu sama sekali tidak berguna dalam situasi ini.
Elena memutar setir tajam ke kanan, membawa mobil melayang keluar dari area bongkar muat dan masuk ke jalan raya raya yang masih ramai. Ia menyelip liar di antara dua truk kargo, memaksa pengemudi truk membunyikan klakson panjang bersahut-sahutan.
"Mereka pasti sudah memanggil bala bantuan," Leo menoleh ke belakang, melihat dua buah SUV hitam besar yang biasa digunakan oleh tim keamanan luar Marco kini melaju kencang keluar dari parkiran kasino, menyalakan lampu jauh menyilaukan.
"Biar saja mereka mengejar," Elena mengoper persneling dengan cepat, wajahnya terlihat sangat fokus dan tenang di bawah guyuran cahaya lampu jalan. "Kita lihat seberapa jago anjing-anjing Marco ini mengemudi di jalanan basah."
Di kursi penumpang, Leo bersandar sambil mengatur napasnya. Tiga juta dolar tunai di bagasi, dan identitas aslinya belum terbongkar. Marco mungkin belum tahu siapa yang merampoknya malam ini, tapi Leo yakin, kepanikan pasti sudah menjalar di seluruh markas musuh. Perang gerilya ini baru saja dimulai.