Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suasana di dalam kabin mobil Aston Martin yang melaju kencang meninggalkan area rumah sakit terasa tegang. Marco duduk bersandar di kursi belakang dengan tangan bersedekap, sementara Lia duduk kaku di sebelahnya sambil memangku kardus kecil berisi barang-barangnya.
"Dengar baik-baik, Magnolia," ucap Marco memecah keheningan, suaranya kembali datar dan menuntut.
"Mulai detik ini, Nyonya Brenda sudah tidak ada di kantor. Aku minta kau bersikap seribu kali lebih profesional dan bertanggung jawab."
Lia membetulkan letak kacamata tebalnya. "Saya mengerti, Tuan Maverick. Saya akan mencatat semua instruksi Anda."
"Bukan cuma mencatat!" potong Marco cepat, menoleh menatap Lia dengan mata menyipit. "Aku tidak mau kau bekerja seperti robot yang baru bergerak kalau ditekan tombolnya. Mulai sekarang, segala kebutuhanku harus sudah tersedia di atas meja tanpa aku perlu memintanya. Paham?"
Lia membelalakkan matanya di balik lensa tebal. "T-tapi Tuan... bagaimana bisa begitu? Saya kan tidak punya kemampuan khusus untuk mendeteksi apa yang ada di dalam kepala Anda! Saya ini manusia biasa, bukan dukun atau peramal!"
"Gunakan otakmu!" balas Marco tak mau kalah. "Nyonya Brenda selalu tahu kapan aku butuh kopi hitam, kapan aku butuh dokumen laporan, bahkan kapan aku butuh ditinggal sendiri tanpa aku harus bersuara. Kalau Nyonya Brenda bisa melakukannya, berarti kau juga harus bisa!"
Lia mendengus kesal, lupa pada persona gadis penakutnya. "Nyonya Brenda itu sudah bekerja belasan tahun dengan Anda, Tuan! Beliau sudah hafal luar kepala! Sementara saya baru beberapa minggu! Mana bisa disamakan?!"
"Itu urusanmu, bukan urusanku!" tegas Marco galak. "Kalau kau mau bertahan di posisi ini, latih instingmu! Aku tidak mau dengar kata 'tidak tahu' atau—"
CIIIIIITTTT!
Suara derit ban bergesekan kasar dengan aspal terdengar nyaring. Sopir pribadi Marco tiba-tiba menginjak pedal rem sekuat tenaga untuk menghindari mobil boks yang memotong jalur secara sembarangan.
"Aaaaa!"
Tubuh Lia yang tidak siap seketika terlempar ke depan. Kardus di pangkuannya merosot, dan sebelum dahinya dihantam oleh sandaran kursi depan, dorongan gravitasi membuat tubuhnya berputar dan jatuh telak tepat ke atas pangkuan Marco.
Bugh!
Secara refleks, kedua tangan kekar Marco terangkat dan melingkar di pinggang Lia untuk menahan gadis itu agar tidak terpelanting lebih jauh. Sementara itu, kedua telapak tangan Lia mendarat tepat di dada bidang Marco, mencengkeram kemeja pria itu erat-erat karena panik.
Keheningan yang sangat canggung mendadak mengunci kabin mobil itu. Sopir di depan buru-buru menoleh ke belakang dengan wajah pias.
"M-maafkan saya, Tuan Maverick! Ada mobil boks yang memotong mendadak!" panggil sopir itu ketakutan.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab.
Lia membeku. Jarak di antara wajah mereka kini tak lebih dari lima sentimeter. Hidung mereka nyaris Bersentuhan. Kacamata tebal Lia sedikit melorot ke ujung hidungnya akibat guncangan rem tadi.
Marco menahan napasnya. Sentuhan fisik yang begitu tiba-tiba ini biasanya akan membuat refleks penolakannya bekerja seketika. Namun, aroma wangi alami yang sangat lembut masuk ke indera penciumannya.
Mata Marco bergerak menatap lurus ke depan, menembus bingkai kacamata tebal yang melorot itu.
Tanpa penghalang lensa tebal yang biasanya menyamarkan wajah Lia, Marco bisa melihat dengan sangat jelas sepasang bola mata berwarna cokelat terang milik sekretarisnya. Mata itu jernih, memancarkan kilat kecerdasan yang tajam, dan... terasa sangat familiar.
Jantung Marco berdegup kencang secara tidak wajar.
Mata ini... batin Marco, keningnya berkerut dalam.
Ingatannya mendadak berkelebat cepat. Bayangan wanita bergaun hitam elegan yang mendekapnya di kelab malam kemarin, sekilas melintas di benaknya.
Tunggu. Kenapa sorot mata gadis cupu ini terasa sangat mirip dengan wanita sinting kemarin malam?
Lia yang menyadari perubahan raut wajah Marco dan arah tatapannya yang terlalu intens, langsung tersadar dari keterkejutannya. Kepanikan hebat membakar dadanya.
Sial! Dia memperhatikan mataku! batin Isabel panik setengah mati.
Dengan cepat, Lia menegakkan tubuhnya, mendorong dada Marco, dan melompat kembali ke kursinya sendiri. Tangannya bergerak gemetar membetulkan letak kacamatanya hingga menutupi sebagian besar area matanya lagi.
"M-maafkan saya, Tuan Maverick!" cicit Lia dengan suara bergetar yang sengaja dibuat panik dan penakut. "S-saya tidak sengaja! Remnya terlalu mendadak!"
Marco masih mematung di posisinya. Tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menurunkannya. Matanya masih menatap Lia yang kini sibuk menunduk merapikan kardusnya yang berantakan di lantai mobil.
"T-Tuan... Anda tidak apa-apa?" tanya Lia pelan tanpa berani menatap mata Marco lagi.
Marco berdeham keras, berusaha menguasai dirinya yang mendadak goyah. Ia memutar wajahnya menatap jendela luar, membiarkan angin AC mendinginkan dadanya yang terasa panas.
"Ehem! Aku tidak apa-apa," jawab Marco dingin, meski ada nada ragu yang sangat tipis dalam suaranya. "Bereskan barang-barangmu. Kita sudah hampir sampai di kantor."
Lia mengangguk cepat, namun di balik kacamata tebalnya, matanya berkilat penuh kewaspadaan.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,