Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Awal Kehidupan Sang Murid Luar
Lonceng besar Sekte Awan Surgawi berdentang tiga kali berturut-turut.
Suara agung itu bergema melintasi pegunungan, menyebar ke seluruh penjuru Lembah Ujian dan menandakan bahwa durasi tiga hari masa perburuan telah resmi usai.
Para peserta yang berhasil bertahan hidup mulai berbondong-bondong keluar menuju gerbang titik kumpul. Sebagian berjalan dengan langkah gontai diiringi balutan luka di sekujur tubuh, sementara beberapa lainnya tampak terpincang-pincang harus dipapah oleh rekan seperjuangan.
Di antara barisan kerumunan itu, Wang Dahu melangkah pulang dengan tenang.
Meski sekujur ototnya masih menyimpan rasa ngilu sisa pertarungan maut melawan Beruang Baja Bermata Merah, sirkulasi Qi di dalam dantiannya kini menjaga kestabilan raganya. Tak jauh darinya, para peserta yang sempat ia tolong berjalan beriringan dengan rasa hormat terpancar nyata di wajah mereka.
Begitu mereka tiba di pelataran utama sekte, puluhan Tetua agung sudah berdiri menanti di balik deretan meja panjang pemeriksaan token.
“Kumpulkan semua token yang berhasil kalian kumpulkan di atas meja!” seru seorang penguji senior tegas.
Satu per satu peserta maju menyetorkan hasil buruan mereka. Sebagian meraup banyak token, sebagian hanya membawa secukupnya, dan tak sedikit pula yang terpaksa gigit jari karena gagal memenuhi kuota minimum.
Tibalah giliran Wang Dahu. Ia meletakkan tumpukan token miliknya di atas meja.
“Nama?” tanya seorang Tetua pemeriksa.
“Wang Dahu.”
Tetua itu menghitung cepat jumlah token di hadapannya sebelum mendongak. “Jumlahmu melampaui batas persyaratan. Lolos.”
Dahu mengangguk sopan. Namun sebelum ia sempat bergeser pergi, beberapa peserta yang berdiri di belakangnya serentak maju mendekati meja.
“Lapor para Tetua, kami ingin bersaksi!” seru salah seorang dari mereka.
Mereka lantas menceritakan secara rinci bagaimana kelompok Zhou Tianhe secara licik merampas hak milik peserta lain, serta bagaimana Wang Dahu muncul menghancurkan dominasi Zhou Tianhe sekaligus mengembalikan seluruh token kepada yang berhak.
Beberapa Tetua sontak saling bertukar pandang penuh minat.
“Jadi, pemuda ini bukan sekadar lulus ujian, tapi juga menunjukkan integritas moral di tengah hutan ujian?”
“Benar sekali, Tetua!”
Tak jauh dari sana, Zhou Tianhe yang sedang dipapah oleh dua pengikutnya dengan tubuh penuh lebam mendengar kesaksian itu. Wajahnya pucat pasi. “B-bohong! Jangan dengar perkataan sampah itu!” bentaknya kalap.
Tetua pemeriksa menatap Zhou Tianhe dengan tatapan menusuk. “Ini adalah kawasan suci Sekte Awan Surgawi. Jika kau masih berniat menetap di sini, belajarlah menjaga mulut dan menghormati aturan dasar!”
Zhou Tianhe menggertakkan gigi rapat-rapat hingga nyaris berdarah. Ia tak berani mendebat lebih jauh di hadapan para petinggi.
Tetua itu kembali memandang seisi lapangan. “Pemeriksaan rampung! Seluruh peserta yang memenuhi kuota token resmi diterima sebagai murid luar Sekte Awan Surgawi!”
Seketika! Suara sorak-sorai pecah memenuhi pelataran.
Beberapa peserta bahkan menitikkan air mata haru lantaran impian besar mereka meniti jalan keabadian akhirnya menjadi kenyataan.
Seorang murid senior melangkah maju membawa kotak-kotak besar berisi perlengkapan. “Setiap murid baru berhak menerima dua stel seragam resmi, satu tanda pengenal spiritual, serta kunci kamar asrama di kompleks murid luar.”
Dahu menerima bagian pakaiannya. Kain katun berkualitas tinggi berwarna putih bersih dengan aksen garis biru muda di bagian kerah, serta bordiran lambang awan bergaya elegan di dada kiri.
Ia mengamati lambang itu lekat-lekat.
Akhirnya... setelah melewati jalan yang panjang dan berdarah-darah, aku punya tempat berpijak untuk memulai.
“Mulai detik ini, status kalian adalah murid luar sekte,” suara Tetua kembali bergemerincing tajam. “Tapi jangan lekas berpuas diri. Posisi ini bukan akhir, melainkan garis awal!”
Ia melanjutkannya dengan informasi krusial. “Tiga bulan ke depan, sekte akan menggelar seleksi terbuka untuk promosi menjadi murid dalam. Siapa pun yang menunjukkan progres kultivasi dan kapabilitas bertarung terbaik akan ditarik naik tingkat!”
Sontak, binar ambisi berkilat di mata sebagian besar peserta.
Murid dalam! Status prestisius yang menjamin limpahan sumber daya spiritual jauh lebih baik serta akses teknik bela diri tingkat tinggi.
“Manfaatkan waktu tiga bulan ini dengan disiplin penuh. Sekte tidak akan memanjakan siapa pun hanya karena mereka punya bakat bawaan.”
Dahu merekam setiap detail aturan itu di dalam kepalanya. Tiga bulan. Waktu yang sangat cukup untuk menempa diri.
Saat kerumunan mulai membubarkan diri, seorang Tetua berpenampilan paruh baya dengan jubah abu-abu tampak melangkah mendekati Wang Dahu.
“Anak muda, tunggu sebentar.”
Dahu menghentikan langkah dan membungkuk hormat. “Salam, Tetua.”
Tetua Han—demikian nama pria itu—mengamati postur tubuh Dahu sejenak sebelum tersenyum tipis. “Namaku Tetua Han. Aku mengawasimu sepanjang ujian di lembah.”
Dahu tetap diam mendengarkan.
“Kau berhadapan dengan monster yang kelas kekuatannya jauh di atasmu, tapi kau tidak bertindak gegabah. Kau menganalisis kelemahan, memanfaatkan kontur alam, dan menyerang di momen paling telak,” puji Tetua Han tulus.
“Dan yang paling menarik hatiku, kau tidak serakah merampas hak orang lain, bahkan memilih menegakkan keadilan kecil bagi yang tertindas.” Ia menepuk pelan bahu Dahu. “Sekte ini selalu kekurangan murid yang punya keberanian sekaligus kepala dingin.”
“Terima kasih atas pujiannya, Tetua. Saya masih banyak kekurangan,” jawab Dahu rendah hati.
“Hahaha! Pintar merendah juga, ya.” Tetua Han tertawa kecil. “Ingat pesanku: jangan terburu-buru silau oleh pangkat. Jika fondasimu matang, kesempatan emas akan datang dengan sendirinya.”
Ia lantas membagikan beberapa informasi administratif. “Sebagai murid luar, hak aksesmu mencakup perpustakaan sekte lantai satu dan lantai dua. Di sana tersimpan literatur dasar seputar kultivasi, botani herbal, alkimia dasar, formasi, hingga histori dunia luar.”
Mendengar kata perpustakaan, mata Dahu seketika berbinar tajam. “Bagaimana dengan lantai tiga dan empat, Tetua?”
“Lantai tiga hanya terbuka untuk murid dalam. Sementara lantai empat... itu wilayah eksklusif murid inti dan para tetua,” jelas Tetua Han. “Koleksi di lantai empat jauh melampaui imajinasimu.”
Dahu mengangguk paham. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun daftar buku apa saja yang wajib ia bedah pertama kali.
“Satu minggu dari sekarang, seluruh murid baru wajib berkumpul di aula utama untuk orientasi perdana, pembagian jatah pil pemula, serta pengaktifan token akses fasilitas sekte.”
Selepas wejangan singkat itu, Tetua Han berpamitan pergi.
Dahu menatap kepergian sang tetua dengan tatapan bersemangat. Ternyata fasilitas sekte besar benar-benar seluas itu.
“Hih!” suara si iblis mendengus sinis di dalam batinnya. “Baru dikasih baju seragam sama tempat berteduh saja lagakmu sudah kayak penguasa dunia.”
Dahu membalas lewat batin, “Setidaknya sekarang aku tidak perlu tidur di bawah kolong batu atau mengeloni tanah basah lagi.”
“Dasar manusia tak berambisi!”
“Daripada jadi arwah penasaran yang cuma bisa ngomel di dalam tubuh orang lain.”
“KAU—!” Dahu menahan senyum tipis mendengar decakan sebal si iblis.
Tak lama kemudian, seorang petugas senior mengantar rombongan murid baru menuju kompleks asrama luar.
Bangunannya berupa barisan rumah kayu berderet rapi yang dibagi menjadi bilik-bilik kamar privat. Tempat itu sederhana, namun bersih, tenang, dan jauh lebih layak ketimbang gubuk reot di Desa Cangmu.
Dahu memilih kamar paling sudut yang sunyi. Begitu melangkah masuk, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu berlapis kasur empuk.
Ugh...
Punggungnya terasa sangat dimanjakan setelah berminggu-minggu terbiasa tidur di atas bebatuan hutan.
“Nyaman sekali...” gumamnya pelan, menarik selimut tipis menutupi tubuhnya.
Si iblis di dalam kesadarannya tertegun sejenak. “Hei! Kau baru saja resmi diterima di sekte raksasa, tapi hal pertama yang kaulakukan malah tidur bermalas-malasan?!”
Dahu memejamkan matanya rapat-rapat. “Tentu saja. Aku sudah terlalu lama kurang tidur nyenyak.”
“Dasar pemalas sejati.”
“Orang yang jasadnya hancur dan tinggal arwahnya saja tidak berhak mengatur jam istirahatku.”
Si iblis kembali mendengus geram, namun Dahu sudah terlanjur melayang ke alam mimpinya.
Meski begitu, bahkan di ambang lelapnya, insting kultivasinya secara otomatis mengatur ritme sirkulasi Qi di dalam dantian. Aliran energi spiritual dari alam sekitar meresap masuk secara lembut lewat pori-pori kulit, memijat lembut sisa-sisa memar di ototnya tanpa ia sadari.
Di dalam dimensi batinnya, padang rumput hitam tampak tenang. Gerbang segel raksasa berdiri kokoh, dibelenggu rantai-rantai besi purba.
Si iblis di balik terali besi mengawasi laju energi Dahu dengan sorot mata terpana. “Anak ini... bahkan saat tidur pulas pun tubuhnya menyerap energi alam secara alami tanpa hambatan...”
Tiba-tiba, salah satu rune di permukaan gerbang hitam berkedip berpendar lembut.
Si iblis terkesiap menoleh. “Ada apa lagi ini...?”
Namun cahaya itu lekas padam tanpa meninggalkan sisa.
Sementara itu, di kamar asrama kayu yang sunyi, Wang Dahu tertidur pulas dengan napas teratur. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia terlelap tanpa dihantui ancaman monster hutan ataupun cemoohan orang lain.