Amelia Rossi hanya punya satu impian: panggung dan sepatu baletnya. Tapi dalam satu malam, semuanya runtuh—utang judi sang ayah jatuh ke tangan pria paling ditakuti di Chicago, dan harga yang diminta bukan uang, melainkan seorang pengantin.
Untuk menyelamatkan adiknya, Amelia menyerahkan dirinya sendiri kepada Matteo Salvatore—Don muda berdarah dingin yang menguasai imperium mafia dengan besi dan darah. Ia pikir hanya menandatangani sebuah kontrak. Ia tak menyangka Sang Don akan menagih setiap detiknya… dan tak akan pernah membiarkannya pergi.
"Mulai hari ini, akulah yang memilih segala hal dalam hidupmu."
Tapi Matteo salah menilai satu hal. Gadis balet ini tidak gemetar di hadapan namanya. Ia membalas tatapan iblis dengan dagu terangkat, melawan setiap perintah, dan bersumpah mengubah hidup Sang Don menjadi neraka. Dan justru perlawanan itulah yang menyalakan sesuatu yang berbahaya di dada pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun.
Di antara pernikahan penuh perhitungan, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan pengkhianatan yang mengancam meruntuhkan seluruh imperium, sebuah kontrak dingin perlahan berubah menjadi obsesi yang membara—dan gadis yang seharusnya menjadi tawanan justru menjelma menjadi ratu paling berbahaya di kota itu.
Ketika seorang iblis jatuh cinta, ia tak hanya melindungi. Ia menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Milikku
Setelah membereskan semua detail dengan Vittorio di aula dan mengabari ibuku soal keputusan baru itu, aku kembali ke lorong lantai dua bersama Dante. Ibuku menyusul dari belakang, terkejut oleh betapa cepatnya segalanya bergulir, tetapi tetap menjaga ketenangannya yang tanpa cela.
Ketika kami mendekati pintu ganda kayu ek ruang kerja, suara kedua bersaudari itu bergema samar di sepanjang lorong. Aku berhenti beberapa langkah dari pintu, memberi isyarat agar Dante juga menahan diri.
Kami mendengar keputusasaan dalam suara Analiz dan pembelaan Amelia yang menggebu-gebu. Si bungsu menjelaskan kesalahpahaman itu, terisak sambil menegaskan sejelas mungkin bahwa dirinya memang masih perawan; bahwa peristiwa masa lalu itu tak lebih dari usaha pengecut dan gagal seorang pengawal.
Pengakuan itu jatuh di lorong dengan bobot yang luar biasa. Aku melirik Dante. Kekakuan dingin di wajah saudaraku melunak sepersekian detik, digantikan oleh ekspresi dalam dan penuh perhitungan.
"Perawan…" gumam Dante di sampingku, suaranya berat dan merenung. "Bukannya itu mengubah apa yang sudah kuputuskan… tapi mengetahuinya mengubah segalanya soal bagaimana bajingan Donato itu akan memperlakukannya."
Aku merapikan jasku dan mendorong pintu, memotong percakapan penuh emosi keduanya. Verona masuk bersama kami, mengamati pemandangan itu dengan tatapan yang menenangkan.
"Cukup dengan air mata," perintahku, menjaga suara tetap tegas namun tenang. Aku melangkah menghampiri Amelia dan menyentuh sikunya dengan lembut. "Amelia, ikut aku. Kita harus turun, para tamu sudah mulai berdatangan ke aula utama."
Tunanganku ragu sesaat, pandangannya terpaku pada adiknya, tetapi ia membiarkanku menuntunnya menjauh dari garis depan.
Dante melangkah perlahan ke arah Analiz. Kali ini tak ada jejak ejekan dalam sikapnya, hanya ketegasan yang melindungi dan tak tergoyahkan. Ia berhenti pada jarak yang sopan dari gadis itu, menatapnya dengan serius.
"Dengarkan baik-baik, Analiz," ucap Dante, suaranya terdengar mengejutkan lembut, tetapi mutlak. "Aku baru saja membebaskanmu dari nasib yang kejam. Kau tidak akan kembali ke rumah itu, dan tidak akan diserahkan kepada pria mana pun seperti Moretti. Mulai hari ini, aku yang akan menjaga dirimu dan keselamatanmu."
Analiz mengerjap, terkejut oleh perubahan nada suaranya, menyeka setetes air mata yang tersangkut di pipinya. Vittorio dan Verona mendekat, berdiri di samping gadis itu untuk memberi dukungan dan menenangkannya.
"Tidak perlu terburu-buru atau berlebihan," lanjut Dante, memandang keluarganya lalu kembali menatap gadis itu. "Pernikahanku baru akan dilangsungkan setelah pernikahan Matteo. Dalam beberapa hari ke depan, kita akan menggelar pertunangan resmi dengan penghormatan yang pantas kau terima. Tapi malam ini, kau tinggal di sini, dalam damai dan di bawah perlindunganku, dan nikmatilah pestanya."
Kami meninggalkan Dante yang menjaga Analiz di ruang kerja, lalu melangkah menuju tangga utama yang megah.
Perubahan Amelia di depan mataku sungguh layak diberi tepuk tangan. Sementara kami menuruni anak-anak tangga marmer, tepat di belakang kedua orang tuaku, aku melihat detik persisnya rasa sakit dan kerentanan berganti menjadi cangkang baja. Ia menarik napas dalam, membetulkan postur penari baletnya, mengangkat dagu dengan keanggunan sempurna, dan melukiskan di bibirnya senyum paling memukau sekaligus paling palsu yang pernah kulihat seumur hidup.
Itulah gambaran sempurna dari calon Donna Salvatore.
"Kau tahu, Don Salvatore…" suaranya keluar dalam nada rendah, selembut beludru sekaligus setajam pisau, hanya terdengar olehku sementara kami menjaga irama langkah. "Kau boleh saja berpura-pura mengendalikan segalanya, tapi kau baru saja kehilangan kartu utamamu dalam permainan ini. Adikku sudah selamat. Kau tak punya apa-apa lagi untuk kaupakai melawanku; aku bisa saja keluar dari pintu itu sekarang juga."
Bisikan dengan keberanian yang begitu wajar itu membuatku melepaskan tawa pendek dan rendah.
Aku memiringkan kepala sedikit ke arahnya, menjaga senyumku tetap mantap sementara kami menyapa dengan tatapan para capo dan pengusaha pertama yang memenuhi aula yang dihias mewah.
"Kau menggemaskan saat mencoba menemukan kemenangan di tempat yang tak ada kemenangannya, mia cara," bisikku di telinganya, tangan turun ke lekuk pinggangnya, meremasnya dengan kepemilikan yang halus namun tak terbantahkan. "Lihat sekelilingmu. Kau ada di sini, mengenakan perhiasanku, bersiap mengumumkan pertunangan kita, dan tersenyum manis kepada para tamuku."
Aku mengalihkan pandangan ke aula lalu kembali menatapnya, nada suara tenang dan sarat keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Adikmu aman di bawah atapku karena aku mengizinkannya. Dan kau terikat di sisiku seumur hidupmu. Katakan padaku, Amelia… siapa yang sebenarnya memenangkan permainan ini?"
Kalangan elite mafia dan masyarakat kelas atas Chicago mengamati kami dengan campuran kekaguman, ketakutan, dan pesona.
Sementara kami membaur ke tengah kerumunan, ucapan selamat mulai mengalir. Para capo tua dan sekutu lama mendekat dengan senyum tulus, menundukkan kepala sebagai penghormatan pada aliansi yang tengah dikukuhkan.
"Langkah brilian untuk keluarga, Don Salvatore. Signorina Rossi adalah permata yang tak ternilai," puji Dominic Cassano, menjabat tanganku dengan erat dan menyampaikan salam hangat kepada Amelia, yang membalasnya dengan keanggunan tanpa cela ala seorang ratu.
Sebaliknya, tatapan para wanita bangsawan setempat memercikkan bunga api. Istri dan putri dari rekan-rekan berpengaruh berbisik-bisik di balik gelas kristal mereka, tak mampu menyembunyikan iri hati yang begitu kentara. Bagaimanapun, banyak dari mereka menghabiskan bertahun-tahun mencoba merebut perhatian sang Don dari Chicago, hanya untuk menyaksikan seorang penari balet muda berdarah Rossi menduduki takhta di sisiku. Amelia menyadari setiap tatapan beracun itu, tetapi menahan senyumnya dengan kesombongan yang membuat mereka memalingkan wajah, terintimidasi.
Riuh percakapan di aula mendadak surut ketika gerakan di puncak tangga menarik perhatian semua orang.
Dante menuruni anak tangga, membawa Analiz di sisinya. Gadis itu tampak seperti sosok rapuh, dilindungi oleh figur gagah saudaraku, yang menuntunnya dengan sikap protektif dan tak tergoyahkan. Seulas senyum penuh kepuasan melengkung di bibirku. Segalanya berjalan sempurna sesuai rencana.
Aku melangkah bersama calon istriku menuju panggung kecil yang didirikan di tengah aula utama, memberi isyarat agar keheningan sempurna menyelimuti ruangan. Semua mata, sorot lampu, dan perhatian tertuju pada kami.
Kuangkat gelas sampanyeku, dan suaraku bergema di ruangan dengan kekuatan serta wibawa yang dituntut oleh nama Salvatore.
"Para hadirin sekalian, selamat datang di rumahku. Malam ini bukan sekadar menandai bersatunya dua insan, melainkan lahirnya babak baru dalam sejarah kita. Bersatunya keluarga Salvatore dengan para pewaris berdarah Rossi menjadi awal sebuah era baru. Era yang berlandaskan kesetiaan yang tak tergoyahkan, kekuatan, dan komitmen yang akan membuat imperium kita berlipat ganda melampaui segala batas."
Kerumunan itu meledak dalam tepuk tangan penuh semangat. Kualihkan pandangan pada Amelia. Di bawah cahaya lampu gantung kristal, mata birunya membara dalam campuran tantangan dan kepasrahan.
Kukeluarkan kotak beludru hitam kecil dari saku jasku. Saat membukanya, cahaya memantul pada perhiasan eksklusif itu: sebuah cincin berlian hitam yang dipahat, dikelilingi butiran-butiran platina kecil yang berkilau. Sepotong perhiasan unik, berbahaya, dan menghipnotis, persis seperti wanita di hadapanku.
Kugenggam tangan mungil Amelia, merasakan kulit halusnya di bawah jari-jariku, lalu kusematkan cincin berlian hitam itu di jari manis kirinya, mengikat takdir kami di hadapan seluruh dunia bawah.
"Kau milikku, Amelia," bisikku dekat sekali dengannya, di bawah gemuruh tepuk tangan yang menggema di seluruh aula. "Selamanya."