NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Asap itu ternyata bukan asap dapur. Yu Tian mencium baunya lebih dulu, sebelum desa itu tampak di antara batang-batang bambu: jerami terbakar bercampur besi, dan aroma lumbung yang dibuka paksa.

Ia memperlambat langkah, dan dari balik rumpun bambu terdengar tangisan orang yang naik turun, ditimpa bentakan kasar. Lima pria berjubah hitam berdiri di tengah halaman desa. Dua di antaranya menyeret karung-karung gabah dari lumbung, satu menendang pintu sebuah rumah sampai engselnya terlepas, dan seorang lelaki tua berlutut dengan kening berdarah sambil memeluk kaki pria berbadan paling besar.

Pria besar itu menarik kakinya dengan sekali hentak, dan lelaki tua itu tersungkur ke tanah. "Sudah kubilang, Kek. Sembilan karung beras roh sebelum purnama, dan Tuan Muda Zhao tidak suka menunggu. Aku juga tidak suka mengulang."

Lelaki tua itu merangkak, jemarinya mengais debu seperti mencari sesuatu yang sudah lama hilang. "Itu cadangan kami untuk musim dingin... Kalau diambil semua, anak-anak kami makan apa?"

Pria besar itu terkekeh, dan tiga temannya ikut tertawa. "Anak-anak bisa makan rumput."

Seorang gadis menerobos dari kerumunan dengan rambut berantakan dan lengan baju robek. Ia menaruh tubuhnya persis di antara pria besar itu dan si lelaki tua, dagunya terangkat, sementara ruas jarinya yang menggenggam sabit tampak pucat. "Jangan sentuh Kakek Lao lagi."

Pria besar itu menunduk menatapnya, lalu mengangkat sebelah alis seolah baru melihat kucing mengeong pada harimau. Lelaki tua yang dipanggil Kakek Lao itu menarik ujung rok si gadis dengan tangan gemetar. "Lin Yue, mundur! Mereka kultivator, Nak. Mundur!"

Yu Tian menyandarkan bahunya ke batang bambu tanpa suara. 'Jadi namanya Lin Yue, dan lelaki tua itu Kakek Lao. Sabit melawan Penempaan Tubuh tingkat enam atau tujuh. Bodoh, tapi berani.'

Pria besar itu mengayunkan tangan untuk menampar. Tamparan itu tidak pernah sampai.

Yu Tian sudah berdiri di sisi kirinya tanpa ingat kapan ia melangkah. Tubuh barunya bergerak sedikit lebih cepat daripada niatnya, dan ia mencatat hal itu dalam hati dengan rasa ingin tahu yang dingin. Jemarinya menjepit pergelangan pria itu dengan sangat ringan, hampir seperti orang menyentuh cangkir teh. "Perempuan itu tidak melakukan apa pun padamu."

Pria besar itu menarik tangannya dan tidak bisa. Wajahnya mengerut, ia menarik lagi, lalu tulang pergelangannya berbunyi basah ketika Yu Tian memutarnya setengah putaran.

Krak!

Jeritannya membuat burung-burung di rumpun bambu beterbangan. Dua pria lain menerjang dari kanan dengan golok berayun rendah. "Siapa kau, bangsat!"

Yu Tian melangkah mundur setengah tapak dan membiarkan bilah itu lewat sejengkal dari perutnya. Telapak tangannya menghantam siku orang pertama, dan lengan itu menekuk ke arah yang salah. Lutut kirinya naik ke tulang rusuk orang kedua, dan tulang itu patah seperti ranting basah.

Pria ketiga berlari sambil berteriak, tetapi hidungnya remuk di bawah sikut Yu Tian sebelum teriakannya selesai. Darah memancar hangat dan menodai lengan jubah kelabunya. Yang terakhir berdiri kaku dengan karung gabah di bahu, wajahnya pucat seperti kapur.

Yu Tian menggerakkan jari-jarinya yang berdenyut dan menatap buku-bukunya yang memerah.

'Tubuh ini masih lemah. Satu pukulan lagi dan buku jariku mungkin retak. Tapi untuk sampah seperti ini, cukup.' Ia menoleh pada yang masih berdiri. "Ambil teman-temanmu."

Pria yang pergelangannya patah menggeliat di tanah sambil memegangi tangannya yang menggantung. "Kau tahu siapa kami? Kami orang Keluarga Zhao! Tuan Muda Zhao Kui tidak akan membiarkan ini, dan kau akan menyesal!"

Yu Tian menunduk sedikit, menatapnya seperti orang menatap serangga yang baru belajar bicara. "Bawa dia ke sini. Aku ingin lihat apakah dia lebih kuat dari kalian."

Mereka pergi dengan tertatih, saling memapah, meninggalkan jejak darah dan satu golok yang terlupa di tanah. Hening menyusul sejenak, lalu seseorang terisak, disusul yang lain, sampai halaman itu dipenuhi suara napas yang akhirnya berani keluar.

Kakek Lao berusaha bangkit, dan dua orang menahan lengannya, tetapi ia menepis mereka dan berjalan sendiri. Ia berhenti beberapa langkah dari Yu Tian, lalu membungkuk dalam sekali. "Anak muda, kami berutang nyawa padamu. Tapi dengarkan orang tua ini, Keluarga Zhao tidak akan membiarkan ini lewat begitu saja. Kau harus pergi sebelum mereka kembali."

Yu Tian mengusap darah di lengan jubahnya dengan ibu jari, tampak tidak terlalu peduli. "Aku memang tidak berencana tinggal."

Kakek Lao mengangguk ke arah dua pemuda, dan mereka meletakkan sebuah bungkusan kain di tanah. Isinya segenggam kecil batu roh yang kusam, beberapa butir pil gelap dalam botol tanah liat, dan dua potong roti jagung yang masih hangat. "Cuma ini yang kami punya. Setidaknya cukup untuk bekal perjalananmu."

Yu Tian berjongkok dan memeriksanya sekilas. Batu rohnya berkualitas paling rendah, dan pilnya jenis penguat tubuh yang bahkan tak layak disebut obat. Ia mengambil tiga butir batu roh dan satu potong roti. "Cukup."

Kakek Lao mengerutkan dahi sampai keriputnya menumpuk. "Tapi itu terlalu sedikit, Nak..."

Yu Tian berdiri dan menggigit rotinya, yang rasanya hambar dan sedikit gosong, tetapi ia mengunyahnya dengan serius seolah baru pertama kali mengenal makanan. "Kalau aku butuh lebih, aku akan ambil sendiri. Simpan sisanya untuk musim dinginmu."

Gadis tadi berdiri di belakang Kakek Lao, masih menggenggam sabitnya. Matanya menyipit dan menelisik Yu Tian dari ujung rambut hingga ujung sandal. "Kau tidak terlihat seperti kultivator, tapi kau mengalahkan empat orang tanpa terengah-engah."

Sudut bibir Yu Tian terangkat sedikit. "Dan kau memegang sabit seperti orang yang belum pernah menebas apa pun selain rumput."

Gadis itu mengerjap, dan pipinya memerah, tetapi ia tidak menurunkan dagunya. "Namaku Lin Yue. Siapa namamu?"

Yu Tian menepuk remah roti dari tangannya tanpa langsung menjawab, matanya sudah tertuju pada jalan setapak yang menurun ke kaki gunung. "Yu Tian."

'Satu desa sudah kulewati. Sekarang tinggal mencari pintu sekte. Tapi kalau aku pergi sekarang apa desa ini tidak dihancurkan? Ah sial aku terlalu baik aku akan menunggu didekat gunung '

Yu Tian berjalan ke gunung.

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!