Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tercengang
Langit sore Medan mulai berganti jingga keemasan ketika Elena melirik jam di pergelangan tangannya. Percakapan panjang dan jujur di bawah rindangnya pohon itu membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.
Elena mendadak teringat pada operasional kafe kecilnya di kampus yang sebentar lagi harus segera tutup dan disiap-siapkan untuk laporan stok harian.
"Mas Fattah... maaf, aku baru sadar kafenya harus segera tutup," ucap Elena sambil berbenah pelan, raut wajahnya kini jauh lebih tenang dan segar dibanding saat ia melangkah pergi tadi.
"Staf aku pasti lagi nungguin buat rekap laporan."
Fattah mengangguk paham tanpa sedikit pun keberatan. "Mari, saya antar kembali ke kampus sekarang."
Setelah menyelesaikan pembayaran, keduanya bergegas kembali menuju mobil convertible putih milik Fattah. Selama perjalanan menyusuri jalanan kota Medan yang mulai ramai oleh kendaraan jam pulang kerja, atap mobil yang terbuka membiarkan angin sore berhembus menyejukkan.
Keheningan di antara mereka tak lagi terasa canggung atau mencekat, melainkan dipenuhi oleh rasa saling percaya dan aman.
Fattah memegang kendali kemudi dengan santai namun fokus. Tanpa beralih dari pandangan ke depan, pria S2 Teknik itu memecah keheningan dengan suaranya yang rendah dan mantap.
"Elena..." panggil Fattah lembut.
"Soal cerita kamu tadi... kamu nggak perlu khawatir. Rahasia itu sepenuhnya aman bersama saya. Saya bukan tipe orang yang akan mengumbar cerita hidup orang lain, apalagi kepercayaan yang sudah kamu titipkan."
Elena menoleh, menatap garis rahang tegas Fattah dari samping.
Fattah melirik sekilas ke arah Elena, memberikan senyum tipis yang sarat akan kedewasaan dan ketulusan.
"Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu," lanjut Fattah tegas namun hangat.
"Semua cerita masa lalu kamu, pengorbanan kamu, dan kepedihan yang pernah kamu lalui... sama sekali nggak mengubah cara pandang saya ke kamu. Bagi saya, kamu tetap Elena yang cerdas, pekerja keras, berkelas, dan punya hati yang sangat luar biasa. Jangan pernah merasa diri kamu berkurang sedikit pun hanya karena masa lalu."
Kata-kata Fattah yang jujur dan tanpa pretensi itu meresap hangat ke dalam dada Elena, mengikis sisa-sisa rasa takut dan cemas yang selama ini menghantuinya tiap kali membayangkan rahasianya terbongkar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Elena merasa benar-benar dihargai dan dimengerti secara utuh sebagai seorang wanita.
Setibanya di pelataran kampus yang mulai lengang, Fattah memarkirkan mobilnya tak jauh dari area kafe. Tanpa membuang waktu, pria S2 Teknik itu langsung turun dan melangkah sigap mendampingi Elena menuju tenant kafenya.
Melihat staf Elena yang tengah sibuk merapikan meja dan kursi, Fattah tanpa ragu melepas jaketnya, melipat lengan kemejanya hingga siku, dan ikut serta mengemas barang-barang.
Dengan gerak yang terampil dan tenang, ia membantu mengangkat tempat sampah bersih, menggeser bangku-bangku berat, hingga membantu menurunkan serta mengunci pintu gulung (rolling door) kafe kecil tersebut.
Sikap Fattah yang begitu enteng tangan dan tidak gengsi sama sekali membuat para staf Elena sempat berbisik-bisik kagum sebelum akhirnya berpamitan pulang lebih dulu.
Setelah seluruh area kafe benar-benar rapi dan terkunci rapat, Elena memutar tubuhnya menghadap Fattah.
Pria itu menyapu sedikit keringat halus di dahinya dengan ekspresi santai, seolah membantu pekerjaan fisik di kafe bukanlah hal yang berat baginya.
"Terima kasih banyak ya, Mas Fattah... padahal Mas nggak perlu repot-repot ikut turun tangan begini," ucap Elena merasa sungkan sekaligus tersentuh.
"Sama-sama, Elena. Pekerjaan berat kalau dikerjakan berdua kan jadi lebih cepat selesai," sahut Fattah halus. Pria itu kemudian merogoh kunci mobil di sakunya dan menatap Elena hangat. "Ayo, sekalian saya antar pulang."
Elena tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan dengan raut wajah yang teramat sopan.
"Makasih banyak atas tawarannya, Mas. Tapi sepertinya kali ini aku harus tolak secara halus," ujar Elena lembut.
"Setelah ini aku nggak langsung pulang ke rumah, tapi harus mampir dulu ke butik buat ngecek laporan dan beberapa sampel bahan baru. Takutnya bakal lama dan justru memperlambat Mas Fattah buat pulang atau rehat."
Mendengar penolakan halus itu, Fattah tidak lantas menyerah atau merasa tersinggung. Pria matang itu justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan dan ketulusan mutlak. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, menatap lurus ke manik mata Elena tanpa ada raut keberatan sedikit pun.
"Elena, mendampingi kamu itu bukan sebuah beban buat saya," tutur Fattah dengan suara beratnya yang mengalun tenang dan menyakinkan.
"Ke manapun tujuan kamu mau ke butik atau ke mana pun saya sama sekali nggak merasa direpotkan. Justru, saya bakal sangat senang dan lega kalau kamu mau menerima tawaran saya. Jadi, biarkan saya antar kamu sampai ke tujuan kamu dengan aman, ya?"
Tatapan persetujuan dan senyum ramah yang terulas di wajah Elena menjadi lampu hijau yang membuat Fattah mengulas senyum leganya. Dengan gestur yang selalu sigap dan penuh penghormatan, Fattah membimbing Elena kembali menuju Mercedes-Benz convertible putih miliknya.
Begitu keduanya berada di dalam kabin dan mesin mobil menderu halus, kendaraan mewah itu meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan komersial ternama tempat butik fesyen tersebut berdiri.
Di sepanjang perjalanan, Fattah sempat mengira bahwa Elena bekerja di butik tersebut sebagai desainer lepas, konsultan fesyen, atau tenaga ahli paruh waktu mengingat kesibukan gadis itu yang juga mengelola tenant kafe di kampus.
Dalam benaknya, Elena adalah sosok pekerja keras yang pandai membagi waktu di antara berbagai kesibukan independennya.
"Butiknya di area fashion district dekat pusat kota, kan?" tanya Fattah memastikan arah sambil tetap fokus pada kemudi.
"Iya, Mas. Yang bangunannya dominan warna krem elegan dengan kanopi hitam di depan," jawab Elena lembut.
Kurang lebih lima belas menit membelah lalu lintas sore, mobil Fattah berbelok masuk ke pelataran parkir sebuah bangunan berdiri sendiri (freestanding building) yang sangat anggun dan eksklusif.
Papan nama bercahaya lembut terpampang di bagian depan dengan desain logo yang sangat familier: Rentaya.
Fattah menghentikan mobilnya tepat di depan area drop-off. Pria S2 Teknik itu mengerutkan dahi sekilas, teringat sesuatu.
Nama butik ini benar-benar tidak asing di telinganya ini adalah label fesyen papan atas yang tempo hari sempat dihebohkan dan dipamerkan Stephany dengan penuh kebanggaan di depan kantin.
“Aku PO langsung dari butik paling hits di kota, harganya jutaan!” gumam batin Fattah mengenang celotehan pamer Stephany waktu itu.
Saat Fattah ikut turun untuk membukakan pintu mobil, para staf butik yang berpenampilan rapi dan profesional yang berada di balik pintu kaca besar langsung membungkuk hormat. Seorang manajer toko bergegas membukakan pintu utama dan menyapa Elena dengan nada yang teramat segan dan patuh.
"Selamat sore, Ibu Elena. Laporan stok bahan dan sampel embellishment untuk koleksi terbaru sudah kami siapkan di ruangan Ibu," panggil manajer toko tersebut dengan sopan..
Fattah yang melangkah tepat di belakang Elena mendadak menghentikan langkahnya sejenak. Manik matanya menatap sekeliling interior butik yang begitu mewah, dipenuhi deretan koleksi busana premium, kebaya modern, hingga gaun-gaun eksklusif berselimut detail payet yang rumit.
Dua titik fakta di kepalanya mendadak terhubung seketika.
Fattah menoleh ke arah Elena yang sedang menyapa stafnya dengan anggun dan tenang. Ada raut terkejut yang tak bisa disembunyikan di wajah matang pria itu, sebelum akhirnya berubah menjadi binar kekaguman yang luar biasa.
"Jadi..." Fattah bersuara rendah, menatap Elena dengan senyum tak percaya sekaligus takjub. "Kamu bukan cuma sekadar desainer lepas di sini, Elena? Kamu... pemilik dan founder dari Rentaya?"
Elena membalikkan badan, mendapati raut terkejut Fattah. Gadis itu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan dan kerendahan hati.
"Iya, Mas Fattah," bisik Elena pelan. "Ini butik yang aku rintis dari nol. Dan ya... ini juga tempat yang sama tempat Stephany sering beli outerwear mahal yang suka dia pamerkan ke aku."
ayo tor lanjutin update nya