Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 10
Batu uji bergetar tipis saat belati berkarat Shen Jue menyentuh permukaannya pada tahap kedua seleksi. Tidak ada dentuman keras atau pendar cahaya keemasan yang membumbung tinggi, hanya riak energi abu-abu kusam yang merambat perlahan sebelum menembus batu tersebut hingga retak halus di bagian dalam. Instruktur Lin Dong memandangnya lama, lalu mengangguk singkat sebelum secara resmi mengumumkan bahwa Shen Jue dan Ruan Xi'er lolos sebagai dua murid terpilih dari Desa Ping-an. Dua keping tanda pengenal dari giok biru berukirkan gelombang laut diserahkan langsung ke tangan mereka, sementara Gao Han hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat dalam kepahitan yang tak terobati.
Sore harinya, desas-desus kelolosan Shen Jue dan Xi'er menyeruak cepat di seluruh pelosok desa. Namun di balik kehebohan warga, ada kesunyian yang pelan-pelan merayap di gubuk kayu milik Paman Ruan, seorang pemburu tua di pinggir barat desa.
Asap tipis mengepul dari tungku batu di sudut dapur. Paman Ruan duduk di atas bangku kayu yang sudah lapuk, mengusap helai demi helai busur kayu kesayangannya dengan kain lusuh. Di sampingnya, Xi'er sibuk melipat dua pasang baju berburu ke dalam tas kain lusuh.
"Xi'er," panggil Paman Ruan dengan suara serak yang berat.
Xi'er menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh dengan nada lembut. "Ya, Ayah?"
Paman Ruan meletakkan busurnya pelan-pelan, lalu merogoh kantong bajunya yang kusam. Ia mengeluarkan sebuah kantong kain rajut kecil berwarna cokelat tua dan meletakkannya di atas meja. Dari aroma yang menguar, kantong itu berisi irisan daging rusa kering dan beberapa keping koin tembaga hasil tabungannya selama bertahun-tahun.
"Kota tempat Akademi Canglan berada itu sangat jauh," gumam Paman Ruan sambil menatap anak perempuan tunggalnya dengan mata yang mulai mengembun. "Warga di sana tidak seperti orang-orang desa kita. Mereka hidup dari persaingan dan gengsi klan. Kamu harus pandai-pandai menjaga diri, jangan gampang percaya pada janji manis orang asing."
Xi'er mendekati ayahnya, lalu duduk melantai di samping lutut pria tua itu. Ia menggenggam jemari ayahnya yang kasar dan penuh kapalan bekas tali busur. "Ayah tidak usah khawatir. Xi'er bukan anak kecil lagi. Lagipula... Xi'er kan tidak sendirian di sana."
"Anak Shen itu..." Paman Ruan menghela napas panjang, mengelus rambut kuncir dua putrinya dengan telapak tangan yang hangat. "Ayah tahu dia anak yang cerdas dan tenang. Tapi dia membawa misteri yang terlalu dalam di dalam matanya. Menempel padanya bisa membawamu pada hal-hal hebat, tapi juga bahaya yang tidak terduga."
"Shen Jue orang baik, Yah," potong Xi'er cepat dengan binar mata yang penuh rasa percaya. "Kalau bukan karena analisisnya di hutan kemarin, aku pasti sudah terkilir dan tidak akan pernah lolos seleksi ini. Dia memang dingin dan selalu menjaga jarak, tapi dia tidak pernah membiarkan orang yang berada di sampingnya terluka."
Paman Ruan terkekeh pelan, rasa haru membasahi sudut matanya. "Baiklah, baiklah. Kalau kamu bilang begitu, Ayah percaya. Jaga dirimu baik-baik di sana, Nak. Buat Ayah bangga."
"Xi'er janji!" pungkasi Xi'er sambil memeluk pinggang ayahnya erat-erat, menyerap kehangatan pelukan itu sebelum perjalanan jauh menanti di esok fajar.
Sementara itu, di sudut timur Desa Ping-an, kesunyian gubuk reyot milik Shen Jue terasa lebih dingin. Cahaya rembulan malam menembus celah atap bambu yang renggang, menyinari altar kayu kecil tempat dua buah papan arwah berdebu bersandar. Papan arwah itu adalah peninggalan orang tua dari tubuh anak sepuluh tahun yang kini ia tempati.
Shen Jue berdiri hening di depan altar tersebut. Ia mengambil selembar kain bersih, membasahinya dengan sedikit air, lalu mengusap debu-debu tebal yang menutupi ukiran nama di atas papan kayu tersebut hingga bersih kembali.
Sebagai seorang bekas master tempa yang jiwanya berpindah ke wadah fana ini, Shen Jue sejatinya tidak memiliki hubungan darah langsung dengan pemilik nama di papan tersebut. Namun, darah yang mengalir di dalam pembuluh tubuh kecil ini adalah warisan murni dari mereka.
"Tubuh kalian telah memberiku kesempatan kedua untuk bernapas di dunia ini," bisik Shen Jue sangat pelan, suaranya mengandung wibawa dalam yang bergema di ruangan yang sunyi. "Ibu, Ayah... anak kalian tidak akan lagi menjadi bahan hinaan di desa ini. Nama keluarga ini akan aku bawa melewati gerbang Akademi Canglan, hingga membubung tinggi di atas seluruh Benua Tianwu."
Ia membungkuk tiga kali dengan khidmat di depan altar batu. Saat ia menegakkan badannya, tidak ada lagi keraguan atau penyesalan yang tersisa di matanya. Belati kecil berkarat di dalam jiwa spiritualnya bergetar samar, seolah merespons sumpah yang baru saja diucapkan oleh sang pemilik jiwa.
Keesokan harinya, saat kabut tipis fajar masih menyelimuti tanah basah Desa Ping-an, dua ekor kuda hitam penarik kereta Akademi Canglan sudah meringkik di tepi batas desa. Kereta kayu berukir awan biru itu bersiap melaju kembali menuju Kota Canglan.
Instruktur Lin Dong berdiri di dekat roda kereta, memegang lipatan kain daftar murid baru. Di sekeliling lapangan batas desa, beberapa warga berdiri mengamati dari jauh. Gao Han dan ayahnya menonton dari teras rumah mereka dengan wajah muram tanpa berniat mendekat.
Ruan Xi'er tiba lebih awal bersama ayahnya. Gadis itu menyandang tas kain cokelat di punggungnya. Wajahnya agak sembap bekas tangis semalam, tetapi matanya kembali memancarkan binar keberanian saat melihat sosok Shen Jue melangkah mendekat dari arah jalan setapak.
Shen Jue hanya membawa sebuah buntalan kain ringkas berisi dua stel baju ganti dan kantong koin perunggu hasil taktiknya melawan Zhao Feng. Langkah kakinya begitu mantap, tidak terburu-buru dan tidak ada keraguan.
"Sudah siap?" tanya Shen Jue saat berhenti di depan Xi'er.
Xi'er mengusap hidungnya pelan, lalu menyunggingkan senyum paling manisnya. "Tentu saja! Aku sudah menunggu dari tadi!"
Paman Ruan melangkah maju, menepuk bahu Shen Jue dengan lembut. "Shen Jue... tolong saling menjaga di kota besar nanti, ya."
"Paman Ruan tidak usah khawatir," sahut Shen Jue sopan sambil menundukkan kepala sedikit. "Selama saya ada di samping Xi'er, tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhnya."
Janji yang diucapkan dengan nada datar namun penuh kepastian itu membuat Paman Ruan mengangguk lega.
"Naiklah ke dalam kereta!" seru Instruktur Lin Dong membuyarkan perpisahan hangat tersebut. "Perjalanan menuju kota akan memakan waktu tiga hari dua malam. Kita tidak boleh terlambat tiba sebelum gerbang akademi ditutup!"
Shen Jue dan Xi'er berbalik, menaiki tangga kayu kereta satu per satu. Saat tubuh mereka melangkah masuk ke dalam kabin kereta yang hangat, pintu kayu tebal ditarik rapat dari luar.
Crak! Crak!
Pecut kuda dikibaskan di udara. Kereta kayu besar itu mulai bergerak perlahan, roda-roda kayunya menggilas tanah jalanan desa, meninggalkan jejak alur panjang di tanah basah.
Xi'er menempelkan wajahnya di jendela kaca kecil, melambaikan tangan ke arah bayangan ayahnya yang semakin mengecil di batas desa hingga akhirnya sepenuhnya tertutup oleh belokan bukit dan jajaran pohon pinus. Gadis itu menyandarkan punggungnya di kursi kayu berbusa, menarik napas panjang.
"Desa Ping-an sudah tidak kelihatan lagi," bisik Xi'er pelan, ada nada haru bercampur antusias di suaranya.
Shen Jue duduk bersila di kursi berseberangan, memejamkan matanya pelan untuk mengatur ritme pernapasannya. Cahaya pagi yang menembus tirai jendela membiaskan garis-garis emas di wajahnya yang tenang.
"Ini baru awal," gumam Shen Jue tanpa membuka matanya. "Dunia di luar sana jauh lebih luas daripada yang kau bayangkan."
Roda kereta terus berputar menembus kabut pagi, membawa dua jiwa muda itu keluar dari keterbatasan desa terpencil menuju takdir baru yang telah menanti di Akademi Canglan.