I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Hutan Kabut yang membatasi wilayah *The Outer Pit* dengan area luar Kekaisaran mendadak bergetar hebat. Pohon-pohon kuno bertumbangan, dan tanah batu di bawahnya retak karena hantaman gelombang energi Qi yang masif.
Lima orang ksatria berbaju zirah perak berat mendarat di atas tebing batu dengan kecepatan yang melampaui kecepatan suara. Mereka adalah Satuan Penjaga Perbatasan tingkat *Master* tingkat tinggi. Di semesta ini, seorang *Master* sudah dianggap sebagai manusia setengah dewa oleh rakyat jelata—mereka mampu membelah sungai dengan tebasan pedang aura dan memiliki kecepatan gerak yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang.
"Di mana anomali titik kosong itu?" ucap pemimpin ksatria, matanya bersinar keemasan karena dialiri energi murni. "Radar kristal ibu kota mengatakan riaknya berada tepat di area ini."
"Komandan... lihat ke bawah," bisik salah satu anak buahnya, menunjuk ke arah jalan setapak di bawah tebing.
Di sana, di tengah kabut tebal yang dingin, seorang remaja kurus kering berjalan dengan ritme konstan. Langkah kakinya terdengar normal—tidak ada langkah kaki super yang memicu ledakan udara. Di bahunya yang ringkih, terpikul sebuah taring babi hutan raksasa yang tampak mati dan tidak dialiri energi apa pun.
"Hah? Cuma bocah *Zero-Core* buangan parit?" sang komandan tertawa meremehkan. Suara tawanya memicu getaran frekuensi Qi yang merontokkan dedaunan di sekitarnya. "Apakah radar ibu kota sedang *error*? Makhluk tidak berguna ini yang membuat alarm pertahanan berbunyi? Benar-benar lelucon!"
Ren menghentikan langkah kakinya. Dia mendongak pelan. Di bawah tatapan malas wajah lesunya, sepasang mata abu-abu keperakannya yang didapat dari percikan kesadaran kosmik sang Anomali Absolut mulai memancarkan binar dingin.
Dalam sekejap, seluruh aura keemasan, zirah perak, dan gerakan otot kelima ksatria tingkat *Master* itu langsung terurai menjadi bagan mekanis yang transparan di dalam otak Ren.
* *Ksatria 1 (Komandan): Titik tumpu aliran Qi berada di ulu hati. Jeda aktivasi perisai aura: 0,2 milidetik setelah mengayunkan tangan.*
* *Ksatria 2 & 3: Menggunakan teknik bela diri kecepatan. Otot betis kanan mereka menegang 0,1 detik sebelum melompat.*
* *Kesimpulan taktis: Semua makhluk memiliki mekanisme kaku. Angka kasta mereka tidak valid.*
"Bocah sampah! Karena keberadaanmu merusak statistik di ibu kota, matilah!"
Ksatria kedua dan ketiga melompat dari tebing. Tubuh mereka melesat secepat kilat, memotong udara dan memancarkan tebasan Qi horizontal yang mampu meratakan sebuah desa kecil dalam sekejap. Di mata kuli jagal Lubang Luar, serangan ini adalah kematian mutlak.
Namun, Ren tidak melompat ataupun menangkis.
Dengan presisi yang mengerikan, Ren hanya memiringkan tubuhnya ke belakang sejauh lima sentimeter pada milidetik ke-0,1—tepat di detik ketika otot betis kedua ksatria itu melepaskan daya dorong penuh. Tebasan energi maut itu melesat melewati dada Ren tanpa menyentuh jubah goninya sedikit pun.
Di detik ketika kedua ksatria itu mendarat di tanah dengan momentum yang terlalu besar, Ren bertindak. Dia tidak mengayunkan taring besi raksasanya—karena otot fisiknya terlalu lemah untuk melakukan itu. Ren hanya **menjatuhkan** ujung taring besi seberat tiga puluh kilogram itu tepat ke atas tanah batuan di bawah kaki kanan ksatria kedua.
*KRAK!*
Bukan taringnya yang memotong daging, melainkan kontur tanah yang telah dikalkulasi Ren. Karena taring berat itu jatuh tepat di titik tumpu gravitasi batuan yang sudah retak akibat ledakan lompatan mereka tadi, lempengan batu di bawah kaki ksatria kedua mendadak amblas.
Ksatria kedua kehilangan keseimbangan, membuat tebasan pedang auranya berbelok arah secara tidak sengaja dan langsung memenggal leher ksatria ketiga yang berada di sampingnya. Kepala tingkat *Master* itu menggelinding di tanah dengan mata melotot syok.
"Apa yang terjadi?! Mengapa pedangmu menebas kawan sendiri?!" teriak sang komandan dari atas tebing, kewarasannya mulai terganggu melihat pemandangan tidak masuk akal tersebut.
Sebelum ksatria kedua sempat memulihkan posisinya, Ren melangkah maju satu tapak kasual. Menggunakan sisa kawat besi dari sapu jagalnya yang dia lilitkan di pergelangan tangan, Ren menyangkutkannya pada celah zirah ksatria kedua yang goyah, lalu menariknya dengan memanfaatkan sisa momentum berat tubuh sang ksatria sendiri. Tubuh ksatria kedua terpelanting jatuh, menancap tepat pada patahan tajam pohon kuno di dekat parit hutan hingga menembus jantungnya.
Dua praktisi tingkat *Master* tingkat tinggi... tewas dalam waktu kurang dari tiga detik di tangan seorang remaja yang tidak memiliki inti energi murni.
Ren berdiri tegak kembali, memikul kembali taring besinya yang berlumuran darah asam dan darah manusia di atas bahunya. Binar abu-abu keperakan di matanya menatap tiga ksatria yang tersisa di atas tebing.
Di ruang angkasa yang hampa di luar atmosfer planet, esensi tak berwujud dari sang Anomali Absolut seolah sedang bersandar malas di atas jalinan dimensi, tersenyum sombong melihat bagaimana hitung-hitungan kasta kekuatan Kekaisaran Ortodoks dihancurkan menjadi lelucon oleh si Nol yang dia sentuh.
Sang komandan ksatria gemetar hebat. Pedang emasnya berguncang. Horor psikologis mulai mencengkeram otaknya. Remaja di depannya tidak memiliki mana, tidak memiliki Qi, tapi entah bagaimana... **dia selalu menemukan cara untuk membunuh.**
Ren mengambil satu langkah maju lagi, suaranya terdengar begitu sunyi namun mematikan. "Dua down. Sisa tiga. Kenapa kalian masih berdiri di sana menghitung tingkat kekuatan?"