NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamzari20

Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Hukuman Lyra

Isabella menatap Arion, pria yang menjadi seorang terkaya di masa depan. Namun, di meninggal pada akhirnya dengan keadaan yang tak biasa. 

"Kau beranggapan aku palsu?" Isabella melipat tangannya di depan dada dengan wajah angkuh. 

"Kalau tidak? Kau selama ini tidak pernah datang walaupun sudah di ancam dengan buruk. Namun, hari ini apa?" dia menelisik dengan mata gelapnya."Datang dengan sukarela walaupun terlambat?" sambungnya. 

"Aku ingin datang, lalu apa urusannya denganmu?" kesal Isabella, wajahnya menantang Arion. 

"Hanya merasa penasaran, tidak ada yang lain," jawab Arion dengn smrik menyebalkan di mata Isabella. 

"Kau—" desisnya. 

Arion hanya memandang penuh selidik dengan wajah yang begitu memuakkan bagi Isabella. 

"Pria kurang ajar!" gumamnya, tangannya terkepal erat dengan wajah kesal. 

Malam semakin larut. Isabella sudah berada dalam mobil dan dia hanya sendiri, tidak ada Lyra di dalamnya. 

Melajukkan mobilnya di jalanan yang mulai lenggang dengan kecepatan tinggi meninggalkan mobil kedua orang tuanya di belakang sana. 

Sedangkan di dalam mobil yang di tumpangi kedua orang tua Isabella, ada Lyra di dalamnya yang duduk anggun bersama Melody. 

"Seharusnya kamu tidak mengatakan hal sembarangan tadi. Lyra! Kenapa malah bicara hal buruk di hadapan keluarga De Luca?" suara dingin Matthew terdengar serak dan penuh penekanan. 

"Pa, ak—"

"Papa tidak mau mendengar alasan apapun!" selanya cepat. "Papa hanya mau kamu lebih bijak lagi saat mengatakan sesuatu!" tegasnya. 

Lyra hanya mengangguk, di balik layar dia hanya setuju, dia dan patuh. Wajah polosnya terlihat begitu penurut. Namun, di belakang layar dia mengutuki kedua orang tuanya angkatnya yang menyebalkan itu. 

'Sialan! Seharusnya mereka mati saja!' batin Lyra, dia berusaha menutupi wajah kesal dan marahnya saat ini. 

Di garasi luas rumah mewah Davis. Isabella sudah memarkirkan mobilnya dan tak lama mobil kedua orang tuanya pun tiba. 

"Bagaimana perjalanannya? Apakah menyenangkan Lyra?" pertanyaan penuh ejek kan saat dia turun membuat Lyra mendongak cepat. 

"Apa maksud Kakak?" tanya Lyra. 

"Menanyakan perjalanan mu dari Restoran sampai rumah. Apa kamu menikmati semuanya?" ulangnya, nada suaranya terdengar biasa. Dan kedua orang tua Isabella merasa itu hanya gurauan Kakak pada adiknya. 

"Ya, aku menikmatinya!" jawabnya, nadanya agak ketus dan itu membuat Isabella tersenyum remeh. 

"Bagus kalau kamu menikmatinya. Aku mau istirahat, selama malam, Ma, Pa!" kata Isabella, mengecup pipi keduanya sebelum benar-benar keluar dari area Garasi. 

Isabella menaiki anak tangga, langkahnya ringan. Namun, sejak tadi dia menyimpan kekesalan pada sosok Arion yang sejak dulu tak pernah berubah. 

"Sial! Kenapa aku selalu di keliling pria-pria gila?" rutuknya. Menyalahkan keadaan dulu dan sekarang yang sama saja. 

Saat akan membuka pintu kamar seseorang mencekal tangannya dengan kasar dan menarik dirinya dengan keras. 

"Kau, ada apa denganmu?" bentak Isabella, dia menepis kasar tangan Lyra. 

"Kak, apa maksud kamu mengatakan itu di restoran tadi. Apa Kakak sengaja mau buat aku malu?" 

Isabella menaikan sebelah alisnya, dia hanya memandang Lyra dengan tatapan tak biasa. 

"Lalu apa kamu beranggapan bisa membuat aku malu?" satu pertanyaan di balik oleh Isabella. 

"Ap—apa maksud Kakak?" 

"Jangan pura-pura bodoh Lyra! Jelas kamu mengatakan aku yang meninggalkan kamu karena mau buat aku malu, kan? Lalu sekarang kenapa kamu malah menyalahkan aku saat aku membela diri sendiri?" mata Isabella memicing penuh curiga. 

"Kak, selama ini kamu yang paling ngerti aku, jadi aku terpaksa berbohong agar Mama dan Papa tidak marah padaku, dan aku pikir Kakak akan mengikuti kode ku. Namun, kakak malah membuka semuanya!" protes Lyra dengan suara serak dan wajah kecewa. 

***

"Kenapa aku harus melindungi kamu? Kamu bukan lagi anak kecil yang harus aku lindungi. Lyra!" kata Isabella dengan nada dingin. 

"Kak, ak—aku benar-benar tidak bisa menerima kekecewaan Papa dan Mama," elaknya. 

"Apa kamu pikir aku bisa? Jangan suka mencari kambing hitam Lyra! Urus masalahmu sendiri dan jangan bawa-bawa aku!" putusnya tegas. 

Isabella menepis kasar tangan Lyra, dia membuka pintu kamar dan segera masuk meninggalkan Lyra di sana yang sedang marah. 

Merebahkan dirinya di atas ranjang. Isabella tak peduli dengan apa yang Lyra pikirkan tentangnya karena malam ini ia benar-benar lelah lihat drama. 

TING!

Notifikasi masuk dan itu mengejutkan Isabella yang akan memejamkan matanya yang berat. 

Melirik pada ponsel yang menyala dan akhirnya gelap. Isabella memutuskan untuk melihat pesan itu besok pagi saja. 

Sedangkan di sisi lain. 

Arion tengah duduk di balkon kamarnya, dia melihat pada ponselnya dan menunggu balasan dari seseorang dari sebrang sana. Namun, lama menunggu ponsel itu tetap gelap tanpa ada niat menyala. 

"Jadi dia benar-benar tidak membalas?" gumam Arion, menatap lama pada ponsel yang tetap gelap. 

Arion tak lagi menunggu, dia akhirnya pergi tidur karena besok dia akan ada urusan kantor di luar kota. 

Pagi harinya. 

Isabella bangun dalam keadaan segar. Wajahnya menunjukkan rasa nyaman karena dia merasa sudah lama tak merasakan tidur senyaman itu. 

"Menyenangkan sekali!" gumamnya. 

Menoleh pada ponsel di atas meja nakas. Isabella menemukan ponsel nya dan ingat jika semalam ada pesan yang belum ia balas. 

Menyambar cepat ponsel itu. Isabella melihat nama Arion di sana mengirimi pesan yang tak pernah ada di kehidupan dulu. 

Arion : Aku mau mengajak kamu ke pantai di akhir pekan, apa bisa? Kalau tidakk sibuk kabari aku!

Isi pesan yang tak pernah Isabella duga. Sosok dingin dan nyaris tak pernah Isabella kenal tanpa di duga mengirimi dia pesan mengajak kencan? Tanpa sadar senyum Isabella perlahan terbit. Entah kenapa hatinya mendadak jadi hangat setelah membaca pesan itu. 

Namun, Isabella segera sadar saat mengingat siapa yang mengirim pesan itu. Dia itu Arion pria paling menyebalkan selama mereka kenal. 

Di ruang makan. 

"Selamat pagi!" sapa Lyra, melihat kedua orang tuanya sudah ada di sana. 

"Pagi, hari ini kamu mau kemana?" Matthew bertanya, nada suaranya saja dingin. 

"Keluar, pa, aku ada pertemuan sama teman!" jawab Lyra

"Hari ini kamu tetap di rumah! Ini hukuman buat kamu karena masalah semalam," putusnya melarang Lyra keluar dari rumah karena tak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi seperti kejadian semalam. 

"Pa, bagaimana mungkin? Aku sudah janji sama tem—"

"Ini keputusan dan jangan membantah!" selanya cepat. 

Lyra mengepalkan tangannya, di bawah meja dia berusaha menahan amarah yang sudah menumpuk dan dia benar-benar ingin melenyapkan keduanya sekarang juga. 

'Kedua orang tua itu benar-benar sialan!' rutuknya dalam hati. 

Isabella tiba dan dia melihat sekilas ekpresi marah dan benci dari Lyra saat menatap kedua orang tuanya. Wanita itu tersenyum sinis dan tidak mengatakan apa pun sebelum akhirnya memilih duduk di kursinya. 

"Apa ada masalah?" tanya Isabella, pura-pura tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di meja makan. 

"Tidak ada, hanya saja Papa melarang Lyra keluar hari ini sebagai hukuman!" jelas Melody. 

"Hukuman? Memang apa kesalahan Lyra?" tanya, dia benar-benar pintar berakting. 

"Kejadian semalam di restoran, apa kamu lupa?"

Isabella mengingat itu, dan akhirnya dia mengerti. Namun, tidak mengatakan apapun selain melirik Lyra yang terlihat menatap dirinya dengan mata mengiba. 

1
Irsyad layla
ini sebenarnya keluarga de luca apa Marco bingung jadinya
Hamzari20: Marga Marco untuk Darel dan Marga De Luca untuk Arion
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!