Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah Lagi?
"Pak Aditya sudah koma selama enam bulan akibat kecelakaan tabrak lari,” Faisal maju setengah langkah, kedua tangannya terlipat di depan perut seperti sedang membacakan laporan. “Dan Bos saya sendiri yang membebaskan Nyonya Annabella sebulan yang lalu.”
Aditya mengerutkan dahi. Alisnya yang masih pucat bertaut. “Membebaskan?”
Lucian yang sejak tadi bersandar di kusen pintu, menyahut. Ia melipat kedua tangannya ke dada. “Seharusnya dia masih menjalani sembilan tahun penjara. Tapi dia baru menjalani tiga tahun.”
Mata Aditya langsung beralih. Kepalanya menoleh pelan menatap Annabella, penuh selidik.
“Kenapa kau bebaskan dia?”
Lucian terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Dagunya sedikit terangkat, lalu ia melirik Annabella dari ekor mata. Tatapannya dingin, tapi rahangnya mengeras menahan sesuatu yang berat.
Annabella yang ditatap begitu justru salah paham. Ia mengira itu isyarat untuknya bicara. Jemari Annabella meremas ujung bajunya sendiri.
Dengan suara kecil ia menjawab, “Paman... Tuan Lucian bebaskan aku untuk... menikahinya. Sekarang aku adalah istrinya.”
Pengakuan itu membuat ruangan membeku.
Aditya tersentak, punggungnya yang tadinya bersandar langsung terangkat sedikit dari bantal. “Apa?” Suaranya naik satu oktaf. Wajahnya yang masih pucat kini menegang. “Kenapa kau menikahi Annabella? Apa yang kau inginkan darinya?”
Annabella dan Lucian saling bertukar pandang. Lucian masih mematung, Annabella menunduk.
Jantung Annabella berdegup kencang. Tangannya refleks menggenggam selimut Paman Aditya. Jika Pamannya tahu pernikahan ini hanyalah alat Lucian untuk balas dendam, pernikahan ini pasti tidak akan bertahan lama. Bibirnya sudah terbuka, ingin jujur —
Tapi Lucian lebih dulu memotong. Ia melangkah maju, berdiri tepat di belakang Annabella dan meletakkan satu tangan di sandaran kursi Annabella, seolah mengklaim.
“Karena saya menyayanginya,” ucapnya, datar dan mantap. “Saya tidak tega melihatnya terus terpenjara.”
Jawaban itu sukses membuat semuanya mematung.
Faisal yang tadinya menunduk langsung mendongak dan menahan napas. Maya membelalakkan matanya, tangannya spontan membekap mulut Yumna yang ada di gendongannya. Bahkan Yumna ikut menganga, kepalanya mendongak, “Hah?”
Mereka semua tahu persis betapa Lucian sangat membenci Annabella, sampai obsesif. Tapi kalimat itu... terlalu manis untuk keluar dari mulut Lucian Winston.
Maya dan Faisal saling lirik. Apa ini cuma alasan supaya Pak Aditya tidak menghalangi balas dendamnya?
Aditya menatap Annabella cukup lama. Matanya menyipit, mencoba membaca kebohongan di wajah keponakannya. Tiba-tiba, kedua tangannya terangkat memegangi pelipisnya. Kepalanya tertunduk, mengerang pelan. Nyeri tajam menusuk.
“Paman!” Annabella panik. Ia langsung meraih kedua tangan Aditya, menahannya agar tidak memukul kepalanya sendiri.
Faisal melihat situasi itu segera maju selangkah, sengaja memecah ketegangan.
“Pak Aditya, maaf.” Faisal sedikit membungkuk, suaranya ia lembutkan. “Kalau boleh tahu, masih ingatkah Bapak detail tentang kecelakaan malam itu?”
Aditya tersentak. Tangannya yang gemetar berbalik mencengkeram pergelangan tangan Annabella erat-erat.
“Aku ingat,” ucapnya serak.
Annabella berjongkok di sisi ranjang agar sejajar, mengangguk pelan menyuruhnya melanjutkan.
“Malam itu aku ingin mengunjungi Annabella di penjara. Ingin menyampaikan sesuatu. Jalanan sepi. Lalu dari arah berlawanan,” Aditya mengangkat satu tangannya, menggambarkan gerakan truk, “sebuah mobil truk melaju kencang dan menabrakku dengan sengaja.”
Napasnya mulai memburu. Dada tuanya naik-turun cepat.
“Sebelum aku tak sadarkan diri, aku melihat... pria yang turun dari mobil itu.”
Lucian yang penasaran langsung bergerak. Dari belakang kursi, ia berjalan memutar dan kini berdiri tepat di sebelah Annabella, bahunya hampir bersentuhan. Matanya menatap lurus ke Aditya.
“Siapa?”
Aditya menatap lurus ke depan, matanya menerawang kosong ke dinding putih.
“Pengusaha otomotif itu... Hendra Saputra.”
Mendengar nama itu, darah Annabella berdesir. Tubuhnya menegang, jemarinya mencengkeram selimut lebih kuat.
“Dia ada sangkut pautnya dengan penculikan adikmu, Lucian. Dan juga dengan kehancuran ayah Annabella. Aku yakin itu,” sambung Aditya, tangannya masih belum melepas Annabella.
“Apa maksudmu?” Lucian mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Urat di pelipisnya menegang.
“Jelaskan,” pintanya menuntut, suaranya tertahan.
Aditya kembali menggenggam Lengan Annabella dan menariknya sedikit lebih dekat, menatapnya lekat-lekat. “Bella, kau harus ingat nama itu. Hendra Saputra. Kau pernah bertemu dengannya, kan?”
Annabella mundur selangkah, tumitnya menabrak kaki kursi. Wajahnya pucat.
“Aku... aku memang pernah bertemu dengannya,” ucapnya lirih, kepalanya tertunduk. “Dia orang yang memperkenalkan aku dengan Profesor Sam.”
BRAK!
Lucian menunduk, tinjunya menghantam besi pembatas sisi ranjang dengan keras. Ranjang berderak.
Semua orang terlonjak kaget. Yumna sampai memejamkan mata dan menyembunyikan wajahnya di leher Maya.
“Hentikan kebohongan kalian!” bentak Lucian, dadanya naik-turun. Tatapannya terpancar amarah yang ia tahan mati-matian. “Jangan libatkan orang lain untuk menutupi dosa-dosamu, Annabella!”
Annabella menunduk semakin dalam, menggigit bibir bawahnya sampai memutih. Bahunya bergetar pelan. Percuma ia jujur, Lucian tidak akan pernah mempercayai apa yang ia katakan.
Melihat ibunya dimarahi, Yumna memberontak. Tubuh kecilnya memajukan diri, kakinya menendang-nendang udara ingin turun.
Tapi Maya cepat-cepat menahan. Ia menarik kaus belakang Yumna ke belakang dan langsung berjongkok, membisikkan sesuatu sambil memeluknya dari belakang.
“Yumna, kamu kenal pria itu di masa depan?”
“Ciapa, Onty?” Yumna berbisik balik, matanya masih menatap Lucian yang marah.
“Hendra Saputra.”
“Hendla Capungtela?” Yumna mengernyit, kurang jelas mendengarnya.
“Hendra Saputra, Sayang,” Maya membetulkan, gemas sambil mencubit pipinya pelan.
Yumna tersentak. Matanya membulat. Ia lalu mencondongkan tubuhnya dan berbisik sangat pelan di telinga Maya.
“Yumna tahu! Olangnya celing telihat di tipi. Tapi...”
“Tapi, apa?” Maya ikut mencondongkan kepalanya, penasaran.
Yumna menunduk, memainkan jemarinya sendiri dengan sedih.
“Dia calon meltua Papa. Pultinya mau nikah cama Papa gemblot. Yumna ndak mau punya Ibu tili.”
“Hah? Nikah? Papamu di masa depan nikah lagi?!” Maya spontan berteriak, terlalu syok sampai berdiri setengah jongkok. Suaranya pecah di ruangan yang hening.
Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.
Faisal mengernyitkan dahi. Lucian menoleh tajam. Aditya mengangkat alis.
Annabella yang masih menunduk ikut mendongak, bingung. “Siapa yang nikah lagi, Maya?”
__
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???
doa yg terbaik buat mom semoga. cepat sampai retensi ny ,,
🤗