NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SENYUM SANG PENYELAMAT

Keheningan malam di kediaman megah itu terpecah oleh desir angin yang mengetuk dinding-dinding kaca tebal.

Sesil duduk di tepi tempat tidur berselimut sutra abu-abu, menatap cangkir teh herbal yang kini telah mendingin di atas nakas. Dua butir pil tanpa label yang dibawakan Ibu Marta sore tadi masih tersembunyi rapat di balik lipatan kain di bawah kasurnya—sebuah kebohongan kecil pertama yang berhasil ia sembunyikan dari penghuni rumah ini.

Tanpa pengaruh zat kimia penenang itu, pikiran Sesil terasa sedikit lebih tajam, meski rasa nyeri tumpul di belakang kepalanya masih berdenyut berkala.

Ketukan pelan dan berirama menggema di pintu kamar. Tiga ketukan yang teratur—ciri khas yang mulai dibaca Sesil sebagai kehadiran Alden.

"Masuk," bisik Sesil, berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar cukup lemah dan lelah.

Pintu terdorong terbuka. Alden melangkah masuk dengan setelan yang lebih santai: kemeja rajut berwarna abu-abu gelap dengan lengan tergulung rapi dan celana bahan yang pas di tubuhnya yang jangkung.

Pria itu membawa sebuah nampan kayu berisi mangkuk sup hangat dan segelas air putih.

Senyumannya mengembang seketika saat matanya menangkap sosok Sesil—sebuah senyuman yang begitu simetris, begitu hangat, namun di mata Sesil kini terasa seperti topeng kerafian yang sengaja dipahat.

"Bagaimana perasaanmu malam ini, Sayang?" tanya Alden seraya meletakkan nampan di atas meja kecil dekat jendela, lalu menarik kursi kayu berukir untuk duduk tepat di samping tempat tidur Sesil.

"Masih sedikit pusing," jawab Sesil jujur, matanya mengikuti setiap gerak-gerik pria itu. "Tapi jauh lebih baik daripada kemarin."

Alden mengangguk penuh simpati. Jemarinya yang dingin merangkul telapak tangan Sesil, mengusapnya lembut dengan gerakan melingkar yang seolah-olah berniat mengalirkan kehangatan.

"Luka di kepalamu memang membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Dokter menyuruhku memastikan kamu tidak terlalu banyak beraktivitas."

Sesil menatap wajah Alden di bawah remang cahaya lampu tidur. Wajah itu sangat tampan, hampir tanpa cela. Ada garis ketegasan yang memancarkan dominasi alami, namun diimbangi oleh binar mata yang selalu tampak protektif.

"Alden..." panggil Sesil lambat, mencoba memberanikan diri. "Bisakah kamu menceritakan kembali... apa yang sebenarnya terjadi padaku malam itu?"

Alden menghentikan usapan jemarinya sejenak. Sorot matanya meredup, memancarkan penyesalan mendalam yang begitu tertata. "Sesil, bukankah aku sudah bilang? Jangan memaksa otakmu untuk memikirkan—"

"Aku tidak bisa tidur jika kepalaku terus dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban, Alden," potong Sesil pelan, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria itu. Ada getaran ketakutan yang sengaja ia tampilkan agar terasa natural. "Aku merasa asing dengan diriku sendiri. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku berada di gang sempit itu. Tolong... ceritakan padaku. Hanya itu yang aku minta."

Alden menatap Sesil cukup lama. Kesunyian merayap di antara mereka selama beberapa detik yang menegangkan, hanya diisi oleh suara detak jam dinding di sudut ruangan. Akhirnya, Alden helai napas panjang—sebuah hembusan napas kekalahan seorang pria yang tak tega menolak permintaan wanita yang dicintainya.

"Baiklah," ucap Alden halus, suaranya turun satu oktav, bernuansa naratif yang menghipnotis. "Tapi berjanjilah kamu tidak akan cemas. Semua itu sudah berlalu."

Alden menggeser kursinya sedikit lebih dekat, menggenggam kedua tangan Sesil dan membawanya ke pangkuannya.

"Malam itu adalah Sabtu malam," mulai Alden, matanya menerawang seolah sedang memanggil kembali kenangan pahit. "Keluargaku mengadakan jamuan makan malam privat di kediaman utama kami di utara kota. Itu seharusnya menjadi malam yang sangat istimewa bagi kita, Sesil. Malam di mana kita akan mengumumkan tanggal pernikahan kita secara resmi kepada orang tuaku."

Sesil menyimak setiap suku kata, mencatat ketepatan intonasi dan jeda napas Alden.

"Kamu berjanji akan menyusul setelah menyelesaikan urusan kecilmu," lanjut Alden. Suaranya mulai mengencang, mengisyaratkan emosi yang tertahan. "Tapi hingga pukul delapan malam, kamu tak kunjung datang. Teleponmu tidak bisa dihubungi. Aku mulai merasa ada yang tidak beres, jadi aku memutuskan untuk menyusuri rute biasa yang biasa kamu lewati."

Pria itu jeda sejenak, mengusap wajahnya dengan sebelah tangan, menampilkan gestur rasa bersalah yang teramat sangat.

"Aku terlambat, Sesil," bisik Alden dengan nada menyesal. "Saat aku menemukan mobilmu di gang sempit kawasan pinggiran kota, situasi sudah kacau. Kamu menjadi korban perampokan brutal."

Perampokan? Batin Sesil berdesir.

Narasi ini berbeda dengan gambaran samar yang sempat terlintas di kepalanya—tentang pengejaran dan bisikan pria itu di bawah hujan.

"Perampok?" ulang Sesil pendek.

Alden mengangguk mantap. "Area itu terkenal rawan setelah gelap. Dua orang pria bertopeng menghadang mobilmu. Mereka memecahkan kaca jendela, menarikmu keluar secara paksa, dan merebut tas serta perhiasanmu. Saat kamu berusaha melawan, salah satu dari mereka memukul kepalamu dengan batang besi, lalu mendorongmu hingga kepala bagian belakangmu terbentur keras ke sudut trotoar aspal."

Alden mengepalkan tangannya, matanya memancarkan amarah yang dingin. "Aku tiba tepat saat mereka hendak melarikan diri membawa barang-barangmu. Aku mengejar mereka, tapi keselamatan nyawamu adalah prioritasku. Kamu tergeletak di sana, Sesil... basah kuyup disiram hujan, darah mengalir dari kepalamu, dan napasmu sangat lemah."

Pria itu menatap Sesil kembali, kini dengan binar mata yang penuh rasa kepemilikan dan kehangatan yang pekat. "Aku menggendongmu ke mobilku. Aku membawamu langsung ke fasilitas medis privat milik keluargaku agar kamu mendapatkan perawatan terbaik tanpa harus terganggu oleh media atau penyelidikan polisi yang berbelit-belit. Dokter harus melakukan operasi darurat untuk meredakan tekanan di otakmu."

Cerita itu disampaikan dengan begitu mulus. Setiap detailnya—suasana hujan, pemukulan, perampokan, hingga alasan mengapa ia berada di klinik swasta bukannya rumah sakit umum—terstruktur tanpa celah. Itu adalah narasi sempurna untuk menjelaskan luka-lukanya, amnesianya, dan kehilangannya atas seluruh barang pribadinya.

Namun, di dalam dada Sesil, ada sebuah penolakan intuitif yang teramat kuat.

Jika itu adalah perampokan jalanan yang acak, mengapa ia merasa ketakutan yang luar biasa pada Alden saat pertama kali melihatnya? Mengapa bayangan bisikan di bawah hujan itu terasa begitu intim sekaligus mengerikan, seolah-olah pria di hadapannya inilah yang memegang kendali atas nasibnya malam itu?

"Mengapa... kenapa aku melewati gang sempit itu jika hendak ke rumah orang tuamu?" tanya Sesil pelan, sengaja memancing.

Alden tersenyum tipis, sebuah usapan lembut kembali mendarat di pipi Sesil. "Karena kamu selalu suka mengambil jalan pintas untuk menghindari kemacetan kota, Sayang. Kamu selalu berani... kadang terlalu berani untuk keselamatanmu sendiri. Dan sifat itulah yang hampir saja merenggutmu dariku."

Alden mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di bibir Sesil. Sentuhan itu berlangsung beberapa detik—sebuah klaim dominasi yang dibalut kelembutan romantis.

Sesil membeku, menahan napasnya hingga Alden menarik diri kembali.

"Perampok-perampok itu... apakah mereka sudah ditangkap?" tanya Sesil lagi, suaranya hampir tak terdengar.

"Polisi sedang mengurusnya," jawab Alden singkat tanpa ragu sedikit pun. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Tugasmu sekarang hanyalah memercayai aku, membiarkan aku menjagamu, dan membangun kembali masa depan kita."

Pria itu berdiri, merapikan kemejanya. Ia mengambil mangkuk sup dan menyodorkannya pada Sesil. "Makanlah sup ini selagi hangat. Setelah itu, minumlah obatmu dan tidurlah. Aku akan ada di ruang kerja jika kamu membutuhkan sesuatu."

Sesil menerima mangkuk itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Terima kasih, Alden."

Alden menatapnya dengan pandangan penuh kepuasan—pandangan seorang pria yang yakin bahwa arsitektur kebohongannya telah kokoh berdiri di dalam pikiran wanita di hadapannya.

"Tidur yang nyenyak, Sesil," bisik Alden lembut sebelum berbalik menuju pintu. "Ingat, aku selalu ada untuk melindungimu."

Begitu pintu tebal itu tertutup rapat dan terdengar bunyi kunci yang memutar dari luar, Sesil perlahan meletakkan mangkuk sup itu kembali ke meja.

Ia memandangi pantulan dirinya di kaca jendela malam yang gelap. Di balik senyum sang penyelamat dan cerita heroik tentang perampokan itu, Sesil tahu satu hal pasti:

Narasi buatan Alden terlalu rapi untuk sebuah kebenaran. Pria itu tidak sedang menyelamatkannya dari perampok; pria itu sedang mengurungnya dalam sebuah sangkar buatan tempat ia menjadi satu-satunya kebenaran yang boleh dipercaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!